أنواع البدعة وأحوال أهلها
أنواع البدعة
وأحوال أهلها
« باللغة الإندونيسية »
Muqodimah
Segala puji hanya untuk Allah
Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta
keluarga dan seluruh sahabatnya.
Bid’ah tidak hanya satu jenis, di antaranya ada bid’ah kufur yang
mengeluarkan dari agama, di antaranya ada yang tidak keluar dari agama akan
tetapi pelakunya berada dalam bahaya, di antaranya bid’ah amaliyah (dalam perbuatan), bid’ah
i’tiqadiyah (dalam keyakinan), bid’ah haqiqiyah (sebenarnya), dan bid’ah
idhafiyyah (sandaran).
Seperti inilah berbeda-beda tingkatan bid’ah, dan perbedaan tingkatan
bid’ah karena perbedaan keterkaitannya. Dan kaitan-kaitan ini terbatas pada:
1.
Masalah-masalah ushul (dasar) dan i’tiqad.
2.
Kaidah-kaidah dan dasar-dasar i’tiqad dan amal ibadah.
3.
Kebutuhan, keperluan dan pelengkap.
4.
Kulliyaat dan juz`iyyah.
5.
Bid’ah-bid’ah yang sebenarnya dan idhafiyyah
(sandaran/tambahan).
6.
Bid’ah-bid’ah yang jelas pengambilannya dan yang rumit
tempat pengambilannya.[1]
Dengan
perbedaan kaitan-kaitan ini berbedalah tingkatan bid’ah, berbeda cara
berinteraksi bersama realita dalam bid’ah dan memutuskan atasnya, dan sudah
menjadi keharusan memperhatikan perbedaan-perbedaan dan tingkatan-tingkatan
ini.
Dan dari sisi kaitan-kaitan ini,
bid’ah-bid’ah bisa dibagi menjadi dua: kecil dan besar, dan kembali kepada
penjelasan sebelumnya kepada kondisinya, bisa jadi bid’ah kecil atau bid’ah
besar.
Asy-Syathibi rahimahullah
menetapkan pembagian bid’ah kepada bid’ah kecil dan besar dengan ketetapan
jelas dari beberapa sisi. Ia berkata:
“Dalam ushul bahwa hukum-hukum
syara’ ada lima, kita keluarkan darinya tiga, yaitu wajib, sunnah dan mubah,
maka tersisa hukum makruh dan haram. Maka pemikiran menuntut pembagian bid’ah
kepada dua bagian: di antaranya bid’ah haram dan di antaranya bid’ah makruh.
Dan penjelasan hal itu bahwa ia masuk dalam lingkaran jenis yang dilarang yang
tidak melewati makruh dan haram, maka bid’ah juga seperti itu, ini satu sisi.
Sisi kedua, sesungguhnya
bid’ah-bid’ah apabila direnungkan akan ditemukan tingkatan-tingkatan yang
berbeda-beda:
Di antaranya: ada yang
jelas-jelas kufur seperti bid’ah-bid’ah kaum jahiliyah yang ditegaskan dalam
al-Qur`an, seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala:
﴿
وَجَعَلُوا للهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَاْلأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا
هَذَا للهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَآئِنَا ﴾ [الأنعام: 136]
Dan mereka
memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah
diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan
mereka:"ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami". (QS. al-An’aam:136)
Dan
firman Allah subhanahu wa ta’ala:
﴿ وَقَالُوا مَافِي بُطُونِ هَذِهِ اْلأَنْعَامِ خَالِصَةٌ
لِّذُكُورِنَا مُحَرَّمٌ عَلَى أَزْوَاجِنَا وَإِن يَّكُن مَّيْتَةً فَهُمْ فِيهِ
شُرَكَآءُ ﴾ [الأنعام: 139]
Dan mereka mengatakan:"Apa yang dalam perut binatang ternak ini adalah
khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami," dan jika yang
dalam itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya.
(QS. al-An’aam:139)
Dan
firman-Nya:
﴿وَقَالُوا مَافِي
بُطُونِ هَذِهِ اْلأَنْعَامِ خَالِصَةٌ لِّذُكُورِنَا مُحَرَّمٌ عَلَى
أَزْوَاجِنَا وَإِن يَّكُن مَّيْتَةً فَهُمْ فِيهِ شُرَكَآءُ ﴾ [المائدة: 103]
Allah sekali-kali tidak pernah mensyari'atkan adanya bahiirah, saaibah,
washiilah dan haam. (QS. al-Maidah:103)
Demikian
pula bid’ah orang-orang munafik, di mana mereka menjadikan agama sebagai sarana
untuk menjaga jiwa dan harta, dan yang serupa hal itu tidak diragukan bahwa ia
adalah kufur yang jelas.
Di antaranya ada yang termasuk
maksiat yang tidak termasuk kufur atau diperdebatkan padanya, apakah termasuk
kufur atau tidak? Seperti bid’ah kaum Khawarij, Qadariyah, Murji`ah dan yang
seperti mereka dari golongan-golongan sesat.
Di antaranya ada yang maksiat
(dosa) dan disepakati bahwa ia tidak termasuk kufur, seperti bid’ah tidak mau
menikah (tabattul), puasa berdiri di matahari, mengambil biji pelir
dengan tujuan memutuskan syahwat jima’.
Di antaranya ada yang makruh,
seperti ucapan imam Malik rahimahullah dalam mengiringkan Ramadhan
dengan puasa enam hari bulan Syawal, membaca al-Qur`an berkeliling, berkumpul
untuk berdoa di sore hari Arafah, menyebut para penguasa dalam khutbah Jum’at
–menurut yang dikatakan oleh Ibnu Abdus Salam asy-Syafi’i...dan yang seperti
itu.
Dan sudah jelas diketahui bahwa
bid’ah-bid’ah ini tidak berada dalam satu tingkat.
Sisi ketiga: sesungguhnya
maksiat-maksiat, ada yang kecil dan ada yang besar. Dan hal itu dikenali dengan
terjadinya pada dharuriyat atau kebutuhan atau pelengkap. Jika ia
terjadi pada dharuriyat maka ia termasuk dosa terbesar. Jika terjadi
pada pelengkap maka ia merupakan tingkatan terendah tanpa diragukan. Dan jika
terjadi dalam kebutuhan maka ia berada di pertengahan di antara dua tingkatan.
Kemudian, sesungguhnya setiap
tingkatan dari tingkatan-tingkatan ini ada pelengkap, dan pelengkap tidak mungkin
berada satu tingkatan dengan yang dilengkapi, sesungguhnya pelengkap bersama
yang dilengkapi sama seperti kedudukan sarana bersama tujuan, dan sarana tidak
bisa mencapai tingkatan tujuan, maka sungguh telah jelas tingkatan-tingkatan
maksiat dan kesalahan.
Juga, sesungguhnya dharuriyat,
apabila engkau renungkan tentu engkau dapatkan di atas beberapa tingkatan dalam
penguatan dan tidaknya:
Tingkatan jiwa tidaklah satu
derajat seperti tingkatan agama, dan karena itulah dikecilkan kehormatan jiwa
di sisi kehormatan agama. Maka kufur menghalalkan darah, menjaga terhadap agama
membolehkan jiwa menghadapi resiko pembunuhan dengan berjihad melawan
orang-orang kafir dan orang-orang yang keluar dari agama.
Tingkatan akal dan harta tidak
seperti tingkatan jiwa. Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa pembunuhan
membolehkan qishash, maka pembunuhan berbeda dengan akal dan harta, demikian
pula yang lain.
Apabila engkau memperhatikan
kedudukan jiwa, kedudukan itu berbeda, maka memotong anggota tubuh tidak
seperti menyembelih, dan menggoris tidak sama seperti memotong anggota tubuh.
Apabila seperti itu, maka bid’ah
termasuk jumlah maksiat dan jelas perbedaan dalam maksiat. Demikian pula dalam
masalah bid’ah, di antaranya ada yang terjadi dalam masalah dharuriyat, maksudnya
bahwa ada pelanggaran dengannya. Di antaranya ada yang terjadi dalam tingkatan
kebutuhan. Dan di antaranya ada yang terjadi dalam tingkatan tahsiinaat (pelengkap).[2]
Dan ia berkata pula dari sisi
yang lain:
‘Sesungguhnya bid’ah-bid’ah terbagi kepada: sesuatu yang kulliah
(bersifat umum, menyeluruh) dalam syari’at dan kepada juz’iyah (parsial).
Dan pengertian hal itu: bahwa pelanggaran yang terjadi karena bid’ah secara
umum (menyeluruh/total) dalam syari’at seperti bid’ah tahsin (menganggap
baik) dan taqbih (menganggap buruk) secara akal, bid’ah mengingkari
berita-berita sunnah (hadits) karena merasa cukup terhadap al-Qur`an, bid’ah
kaum Khawarij dalam ucapan mereka ‘Tidak ada hukum selain milik Allah’...dan
yang menyerupai hal itu dari bid’ah-bid’ah yang tidak hanya tertentu satu
cabang dari cabang syari’at tanpa cabang yang lain, bahkan engkau
mendapatkannya tersusun yang tidak terbatas dari cabang-cabang juz`iyah.
Atau pelanggaran yang terjadi secara juz’i (parsial), sesungguhnya ia
datang pada sebagian cabang tanpa yang lainnya, seperti bid’ah tatswiib
(mengulangi) dengan shalat yang dikatakan oleh imam Malik rahimahullah:
‘Tatswib adalah sesat’, bid’ah adzan dan iqamah pada dua shalat ied, bid’ah
bertopang pada satu kaki dalam shalat, dan yang seperti itu. Maka bid’ah dalam
bagian ini tidak akan melewati tempatnya dan tidak tersusun di bawahnya yang
lainnya sehingga menjadi dasar baginya.
Maka bagian pertama, apabila
dianggap termasuk dosa besar jel’alaihissalamah maksudnya. Dan bisa jadi
termasuk di bawah keumuman tujuh puluh dua golongan, dan ancaman yang datang
dalam al-Qur`an dan sunnah dikhususkan dengannya, tidak berlaku umum padanya
dan pada yang lainnya. Dan selain yang demikian itu dari sisi lamam
(dosa kecil) yang diharapkan mendapat maaf yang
tidak terbatas dalam jumlah tersebut, maka tidak ada kepastian bahwa
semuanya berasal dari satu, dan sudah jelas sisi pembagiannya.[3]
Dan ia berkata pula: Namun, kulliyah
(menyeluruh/total) dan juz`i (parsial) terkadang nampak dan
terkadang tidak nampak, sebagaimana ta`wil, terkadang dekat tempat
pengambilannya dan terkadang jauh. Maka terjadilah kesulitan pada contoh-contoh
bagian ini, maka dianggap dosa besar yang sebenarnya termasuk dosa kecil dan
sebaliknya. Maka diserahkan pandangan padanya kepada ijtihad.[4]
Asy-Syathiby rahimahullah
menyebutkan beberapa syarat kondisi bid’ah itu termasuk kecil, apabila kurang
salah satu syaratnya bid’ah ini menjadi besar, ia berkata: ‘Apabila kita
katakan: sesungguhnya di antara bid’ah ada yang kecil, maka hal itu dengan
beberapa syarat:
Salah satunya: bahwa ia
tidak terus menerus atasnya, sesungguhnya dosa kecil bagi orang yang terus
menerus atasnya menjadi besar dibandingkan kepadanya, karena hal itu bersumber
atas terus menerus, dan terus menerus terhadap dosa kecil membuatnya menjadi
dosa besar. Dan karena itu mereka berkata: ‘Tidak ada dosa kecil disertai terus
menerus dan tidak ada dosa besar disertai istighfar’,[5]
demikian pula bid’ah tanpa ada perbedaan.
Syarat kedua: bahwa ia
tidak mengajak kepadanya, sesungguhnya bid’ah terkadang termasuk bid’ah kecil,
kemudian pembuat bid’ah itu mengajak mengucapkannya dan mengamalkan
tuntutannya, maka dosa semua itu atasnya. Sesungguhnya dialah yang
mengenalkannya dan menyebabkan banyak terjadi dan diamalkan dengannya. Maka
sesungguhnya hadits shahih menetapkan bahwa setiap orang yang memberikan contoh
yang buruk niscaya atasnya dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya tanpa
mengurangi dosa mereka sedikit pun juga. Dosa kecil dan besar, sesungguhnya
perbedaannya menurut banyak dan
sedikitnya dosa. Maka terkadang dosa kecil bisa menyamai dosa besar dari sisi
atau melebihi atasnya.
Syarat ketiga: bahwa
tidak dilakukan ditempat berkumpulnya manusia, atau tempat-tempat yang
dilaksanakan padanya sunnah-sunnah dan nampak padanya bendera-bendera syari’at.
Adapun menampakkannya di
perkumpulan orang banyak dari orang yang dijadikan panutan dengannya atau dari
orang yang disangka baik, maka hal itu termasuk yang paling berbahaya terhadap
sunnah Islam.
Syarat keempat: bahwa ia
tidak meremehkannya, dan jika kita menganggapnya kecil maka sesungguhnya hal
itu meremehkannya, dan memandang sepele suatu dosa lebih besar dari dosa itu
sendiri.[6]
Namun yang nampak dari ucapannya
rahimahullah bahwa syarat-syarat ini bergantung dengan ukuran dosa yang
menimpa pelaku bid’ah, dan tidak berbicara tentang ukuran bid’ah itu sendiri.
Dan hukum terhadap pelaku bid’ah
adalah menurut jenis bid’ah yang terjadi padanya dan tingkatannya, disertai
pandangan kepada kondisi orang tersebut, dan syubhat atau takwil yang nampak
baginya. Demikian pula derajat dan tingkatannya dalam ilmu dan sunnah,...
hingga pertimbangan-pertimbangan lain yang mesti diperhatikan ketika menghukum
terhadap orang yang terjerumus dalam bid’ah.
Kapan seseorang atau kelompok
memisahkan diri dari Ahlus Sunnah:
Syaikhul Islam rahimahullah
berkata: ‘Dan bid’ah yang seseorang dipandang termasuk ahli bid’ah: yang
terkenal menurut ulama sunnah menyalahinya terhadap al-Qur`an dan sunnah,
seperti bid’ah kaum Khawarij, Rawafidh, Qadariyah, dan Murji`ah. Sesungguhnya
Abdullah bin Mubarak rahimahullah dan Yusuf bin Asbath rahimahullah
serta selain mereka berkata: ‘Dasar tujuh puluh dua golongan adalah empat
golongan: Khawarij, Rawafidh, Qadariyah dan Murji`ah..[7]
Asy-Syathiby rahimahullah
berkata: ‘Dan penjelasan yang demikian itu, bahwa golongan-golongan ini menjadi
beberapa golongan karena menyalahi kelompok yang selamat dalam pengertian kully
(menyeluruh) dalam agama dan kaidah dari kaidah-kaidah syari’at, bukan pada
satu bagian dari bagian-bagiannya. Karena juz`i (bagian kecil) dan fara’
(cabang) yang langka tidak muncul darinya pelanggaran yang terjadi karenanya
perpecahan beberapa golongan. Perpecahan hanya muncul ketika terjadi
pelanggaran dalam perkara-perkara kulliyah (menyeluruh/umum), karena kulliyah
merupakan nash (dalil) dari juz`iyat dan biasanya tidak hanya
terbatas pada satu tempat dan satu bab saja.
Adapun juz`i maka sangat
berbeda, bahkan dianggap terjadinya hal itu dari pelaku bid’ah sebagai
kekeliruan dan kesalahan, sekalipun kesalahan seorang alim bisa meruntuhkan
agama, di mana Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Tiga
perkara bisa meruntuhkan agama: kesalahan seorang alim, perdebatan orang
munafik dengan al-Qur`an, dan para pemimpin yang menyesatkan.’ Akan tetapi bila
dekat posisi kekeliruan biasanya tidak akan terjadi perpecahan karenanya dan
tidak sampai meruntuhkan agama, berbeda dengan masalah kulliyah.[8]
Syaikhul Islam rahimahullah
berkata: ‘Dan mesti diketahui pula bahwa kelompok-kelompok yang bernisbah (berafiliasi)
kepada yang diikuti (para pemimpin) dalam masalah ushuluddin (aqidah)
dan kalam terbagai beberapa tingkatan. Di antara mereka ada yang
menyalahi sunnah pada dasar yang besar. Di antara mereka ada yang menyalahi
sunnah pada perkara-perkara kecil...hingga ia berkata: ‘Dan seperti mereka,
apabila mereka tidak menjadikan sesuatu yang mereka ciptakan (bid’ah) sebagai
perkataan yang memisahkan dengannya persatuan (jama’ah) kaum muslimin yang
mereka wala` (setia, loyal) dan bara` (berlepas diri, benci)
atasnya niscaya hal itu termasuk jenis kesalahan, dan Allah subhanahu wa
ta’ala mengampuni kesalahan orang-orang beriman dalam perkara seperti
itu...hingga ia berkata: ‘Berbeda dengan orang yang bersikap wala`
(loyal) kepada yang sependapat dengannya dan bara` kepada orang yang
berbeda pendapat, memisahkan persatuan kaum muslimin, mengkafirkan dan
menganggap fasik yang menyalahinya dalam masalah-masalah ijtihad dan pendapat,
dan menghalalkan membunuh orang yang menyalahinya, maka mereka adalah
orang-orang yang menyebabkan perpecahan dan perselisihan. Karena inilah, yang
pertama kali memecah belah persatuan kaum muslimin dari ahli bid’ah adalah kaum
Khawarij...[9]
Riwayat
orang yang menyalahi (ahli bid’ah) dan hukum menerimanya:
Termasuk yang dihubungkan dalam
masalah ini adalah riwayat ahli bid’ah, mayoritas ulama membedakan dalam
masalah ini di antara ahli bid’ah menurut kadar bid’ahnya, menurut kadar
semangat dan aktifitas mereka terhadap bid’ah ini. Mereka membedakan di antara
pelaku bid’ah yang dikafirkan dan pelaku bid’ah yang fasik, dan di antara yang
mengajak kepada bid’ah dan tidak mengajak.
Imam an-Nawawi rahimahullah
berkata: ‘Para ulama dari kalangan ahli hadits, fuqaha, ahli ushul berkata:
‘Ahli bid’ah yang dianggap kafir karena bid’ahnya tidak diterima riwayatnya
dengan ittifaq (konsensus).[10]
Al-Mu’allimy[11]
rahimahullah berkata: ‘Tidak ada syubhat (kesamaran) bahwa jika
ahli bid’ah keluar dengan bid’ahnya dari Islam niscaya tidak diterima
riwayatnya, karena termasuk syarat riwayat adalah Islam.[12]
Kemudian jika bid’ah tersebut
tidak menyebabkan kufur, maka dilihat padanya; dibedakan di antara bid’ah kecil
dan bid’ah besar. Dan dibedakan di antara orang yang bid’ahnya menjerumuskannya
dalam menghalalkan dusta dan di antara orang yang bid’ahnya sangat jauh dari
menghalalkan dusta.
Adz-Dzahaby rahimahullah
berkata dalam biografi Aban bin Taghlib al-Kufy asy-Syi`iy: ‘Aban bin Taghlib
al-Kufy, seorang syi’ah yang kuat, akan tetapi dia shaquq (jujur). Maka
untuk kita kejujurannya dan atasnya bid’ahnya.
Imam Ahmad, Yahya bin Ma’in dan
Abu Hatim rahimahumullah mentsiqahkannya. Dan Ibnu ‘Ady rahimahullah
menyebutkannya dan berkata: ‘Dia seorang yang ghuluw dalam keyakinan
syi’ah.’ As-Sa’dy rahimahullah berkata: ‘Seorang yang menyimpang secara
terang-terangan.’
Seseorang bisa berkata:
‘Bagaimana bisa mentsiqahkan ahli bid’ah, sementara definisi tsiqah adalah ‘adil
dan itqaan? Bagaimana mungkin dianggap ‘adil dari seorang ahli bid’ah?
Jawabannya adalah: sesungguhnya
bid’ah terbagi dua: bid’ah kecil seperti ghuluw tasyayyu`[13]
atau tasyayyu’ tanpa ghuluw dan tahrif. Yang seperti ini banyak pada generasi
tabi’in dan pengikut mereka disertai agama yang kuat, wara` dan jujur. Jika
ditolak hadits mereka niscaya hilanglah sejumlah besar riwayat-riwayat Nabi shallallahu
‘alahi wa sallam, dan ini merupakan kerusakan yang nyata.
Kemudian bid’ah besar seperti
Rafidhah yang sempurna dan ghuluw padanya, merendahkan derajat Abu Bakar radhiyallahu
‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu dan mengajak kepada hal itu. Maka
jenis ini tidak dijadikan hujjah dengan mereka dan tidak ada kemuliaan bagi
mereka. Juga yang ada dalam jenis ini berupa seseorang yang tidak jujur dan
tidak bisa dipercaya, bahkan bohong adalah syi’ar (pakaian luar) mereka,
taqiyah dan nifak adalah pakaian dalam mereka, maka bagaimana bisa
diterima riwayat dari orang yang kondisinya seperti ini? Sekali-kali tidak.
Syi’ah ghuluw yang ada di
masa salaf dan pandangan umum di tengah mereka adalah orang yang berbicara dan
mencela Utsman, Zubair, Thalah, dan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhum ajma’in,
dan golongan yang memerangi Ali radhiyallahu ‘anhu. Semestara syi’ah
ghuluw yang ada di masa kita dan pandangan umum kita adalah orang-orang yang
mengkafirkan mereka dan berlepas diri dari Syaikhain (Abu Bakar dan Umar
radhiyallahu ‘anhu). Ini adalah adalah orang sesat, Aban bin Taghlib
tidak pernah sama sekali berbicara terhadap Syaikhaian (tidak pernah mencela
mereka), akan tetapi ia mungkin meyakini Ali radhiyallahu ‘anhu lebih
utama dari keduanya.[14]
Al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah
berkata: ‘Sekelompok ulama berpendapat untuk menerima berita ahli ahwa (ahli
bid’ah) yang tidak dikenal dari mereka menghalalkan dusta dan bersaksi untuk
orang yang sependapat mereka dengan sesuatu yang tidak ada persaksian di sisi
mereka padanya.[15]
An-Nawawi rahimahullah
berkata: ‘Dan yang tidak kafir, ada yang berkata: Tidak dijadikan hujjah sama
sekali dengannya. Ada yang berkata: Dijadikan hujjah dengannya jika ia tidak
termasuk orang yang menghalalkan dusta dalam membela mazhabnya atau pengikut
mazhabnya.[16]
Syaikhul Islam rahimahullah
berkata: ‘Dan menolak persaksian orang yang dikenal berdusta adalah perkara
yang disepakati di antara fuqaha ( ahli fikih).’ Dan ia berkata: ‘Semua ulama
sepakat bahwa dusta pada kalangan Rafidhah lebih nampak darinya pada semua ahli
qiblat (kaum muslimin).
Sehingga pengarang kitab Shahih
seperti al-Bukhari, tidak meriwayatkan dari seorang pun dari kalangan syi’ah
qudama (terdahulu), seperti Ashim bin Dhamrah, Harits al-A’war, Abdullah bin
Salamah, dan semisal mereka. Padahal mereka termasuk kalangan Syi’ah yang
terbaik. Pengarang kitab Shahih hanya meriwayatkan hadits Ali radhiyallahu
‘anhu dari ahli baitnya, seperti Hasan radhiyallahu ‘anhu, Husain radhiyallahu
‘anhu, Muhammad bin Hanafiyah rahimahullah, dan penulisnya
Ubaidullah bin Abi Rafi’ rahimahullah, atau dari pengikut Abdullah bin
Mas’ud radhiyallahu ‘anhu seperti ‘Ubaidah as-Salmani rahimahullah,
Harits bin Qais rahimahullah, atau dari orang yang serupa mereka. Mereka
adalah para imam dalam riwayat dan ahli naqd (kritik) termasuk manusia
yang paling jauh dari hawa nafsu, paling mengatakan terhadap kebenaran, tidak
takut pada Allah subhanahu wa ta’ala celaan orang yang mencela.
Bid’ah bermacam-macam, kaum Khawarij, kendati mereka
melewati Islam sebagaimana anak panah melewati sasaran (target, hewan buruan),
Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menyuruh memerangi mereka, para
sahabat dan ulama Islam sepakat untuk memerangi mereka, dan shahih hadits pada
mereka dari sepuluh jalur yang diriwayatkan Muslim dalam shahihnya, al-Bukhari
meriwayatkan tiga darinya: mereka tidak termasuk orang yang sengaja berdusta,
bahkan mereka terkenal jujur. Sehingga dikatakan: Sesungguhnya hadits mereka
termasuk hadits paling shahih, akan tetapi mereka bodoh dan tersesat dalam
bid’ah mereka.[17]
Ibnu Hajar rahimahullah
berkata dalam pembicaraannya tentang hukum riwayat ahli bid’ah dan ucapan para
ulama padanya: ‘Dan dikatakan: ‘Diterima
secara mutlak kecuali jika ia meyakini dusta.’[18]
As-Sayuthi rahimahullah
berkata dalam memberi komentar terhadap ucapan an-Nawawi rahimahullah:
‘Dan ada yang berkata: Diambil hujjah dengannya jika ia bukan termasuk orang
yang menghalalkan berdusta dalam membela mazhabnya, sama saja ia berdakwah atau
tidak, dan tidak diterima jika ia menghalalkan hal itu.[19]
Al-Mu’allimy rahimahullah
berkata dalam hukum riwayat ahli bid’ah: ‘...dan sesungguhnya jika ia
menghalalkan dusta, maka bisa jadi ia kufur dengan hal itu dan bisa jadi ia
fasik. Maka jika kita memaafkannya, maka di antara syarat diterima riwayat adalah
jujur, maka tidak bisa diterima riwayatnya.[20]
Jika ahli bid’ah keluar dari
golongan yang terdahulu –artinya bukan termasuk ahli bid’ah besar yang
menyebabkan kufur- dan tidak termasuk orang yang membolehkan dusta, terjadilah
perbedaan pendapat di antara para ulama dalam menerima riwayatnya.
Ibnu Shalah rahimahullah
berkata: ‘Mereka berbeda pendapat dalam menerima riwayat ahli bid’ah yang tidak
kufur dengan bid’ahnya: di antaranya ada yang menolak bid’ahnya karena ia
seorang yang fasik dengan bid’ahnya, sebagaimana sama dalam kufur orang yang
bertakwil dan yang tidak, sama pula dalam fasik orang yang bertakwil dan tidak.
Di antara mereka ada yang menerima riwayat ahli bid’ah apabila ia bukan
termasuk orang yang membolehkan dusta dalam membela mazhabnya atau pengikut
mazhabnya. Sama saja ia mengajak (berdakwah) kepada bid’ahnya atau tidak,
sebagian mereka menyandarkan hal ini kepada imam Syafi’i rahimahullah
karena ucapannya: ‘Aku menerima persaksian ahlil ahwa (pengikut hawa
nafsu/ahli bid’ah) kecuali golongan Khathabiyah dari golongan Rafidhah, karena
mereka membolehkan bersaksi palsu untuk orang yang sepaham mereka.’ Satu kaum
berkata: ‘Diterima riwayatnya apabila tidak mengajak kepada bid’ahnya dan tidak
diterima apabila ia berdakwah.’ Ini adalah mazhab mayoritas ulama. Sebagian
pengikut imam asy-Syafi’i rahimahullah menghikayatkan perbedaan pendapat
di antara mereka dalam menerima riwayat ahli bid’ah apabila tidak mengajak
kepada bid’ahnya dan ia berkata: Adapun bila ia berdakwah maka tidak ada
perbedaan di antara mereka dalam tidak
diterima riwayatnya.
Abu Hatim bin Hibban al-Busty rahimahullah,
salah seorang pengarang dari ulama hadits berkata: ‘Pengajak kepada bid’ah
tidak boleh berhujjah dengannya menurut pendapat semua imam kita, saya tidak
mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara mereka.’
Mazhab yang ketiga ini adalah
yang paling adil dan paling utama. Pendapat pertama sangat jauh karena sudah
tersebar di kalangan para ulama hadits, sesungguhnya kitab-kitab mereka penuh
dengan riwayat dari ahli bid’ah yang bukan pengajak, dan di dalam Shahihain
(Shahih Bukhari dan Muslim) banyak ditemukan hadits-hadits mereka dalam syawahid
(hadits penguat/pendukung) dan ushul. Wallahu A’lam.[21]
Membedakan di antara da’i dan
bukan adalah pendapat mayoritas ulama seperti yang telah dijelaskan, bahkan
Ibnu Hibban rahimahullah mengutip ijma’ atas pendapat ini, sekalipun
pengakuan ijma’ tidaklah benar.
Dan di antara ulama yang dikutip
darinya ucapan ini adalah Abdullah bin Mubarak rahimahullah, berdasarkan
riwayat al-Khathib rahimahullah dengan sanadnya kepada Ali bin Hasan bin
Syaqiq rahimahullah, ia berkata: ‘Aku berkata kepada Abdullah bin
Mubarak: ‘Apakah engkau pernah mendengar dari ‘Amar bin ‘Ubaid? Maka ia
mengisyaratkan dengan tangannya seperti ini, maksudnya banyak. Aku berkata:
‘Kenapa engkau tidak menyebutkannya, sedangkan engkau menyebutkan selainnya
dari golongan Qadariyah? Ia menjawab: ‘Karena sesungguhnya ini termasuk kepala
(pimpinan).’[22]
Ucapan ini juga diriwayatkan
dari Abdurrahman bin Mahdy rahimahullah. Al-Khathib rahimahullah
meriwayatkan darinya bahwa ia berkata: ‘Siapa yang berpendapat satu pendapat
(yang bid’ah) dan tidak mengajak kepadanya ia bisa jadi (diterima riwayatnya)
dan siapa yang berpendapat satu pendapat (bid’ah) dan mengajak kepadanya
sungguh ia berhak ditinggalkan (riwayatnya).[23]
Al-Baihaqi rahimahullah meriwayatkan darinya bahwa ia berkata: ‘Ilmu
ditulis dari pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah) dan boleh persaksian mereka
selama mereka tidak berdakwah. Apabila ia berdakwah kepadanya niscaya tidak
ditulis hadits dari mereka dan tidak boleh persaksian mereka.’[24]
Dan di antara yang mengatakan
hal ini adalah imam Ahmad rahimahullah: al-Khathib rahimahullah
meriwayatkan dengan sanadnya kepada Abu Daud Sulaiman bin As’ts rahimahullah,
ia berkata: ‘Aku berkata kepada Ahmad: ‘Apakah ditulis hadits dari seorang
qadary? Ia menjawab: ‘Apabila ia tidak berdakwah.’[25]
Dalam Thabaqat Hanabilah karya
Abu Ya’la, dari Ja’far bin Muhammad, ia berkata: ‘Wahai Abu Abdillah, apakah
engkau meriwayatkan dari Abu Mu’awiyah sedangkan ia seorang Murji`ah? Ia
menjawab: ‘Ia tidak berdakwah (kepada bid’ahnya).[26]
Al-Baghawi rahimahullah
berkata: ‘Imam Ahmad rahimahullah ditanya: ‘Apakah ditulis (hadits) dari
seorang Murji’ah dan Qadariyah, serta selain mereka dari ahli ahwa`? Ia
menjawab: ‘Apabila ia tidak berdakwah kepadanya dan banyak pembicaraan padanya.
Adapun orang yang berdakwah kepadanya maka tidak (diriwayatkan hadits
darinya).’[27]
Pendapat ini juga diriwayatkan
dari imam Malik rahimahullah, berdasarkan riwayat Ibnu Abdil Barr rahimahullah,
ia berkata: ‘Ilmu tidak diambil dari empat golongan: Orang bodoh yang nyata
kebodohannya, pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah) yang berdakwah kepadanya,
seseorang yang terkenal berdusta dalam pembicaraan di tengah manusia sekalipun
ia tidak berdusta terhadap hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,
dan seseorang yang memiliki keutamaan dan shalih yang tidak mengetahui apa yang
dia riwayatkan’.[28]
Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata: ‘Kami telah menyebutkan berita ini
dari imam Malik rahimahullah dari beberapa jalur dalam at-Tamhid.’
Al-Khathib rahimahullah
menyandarkan kepada imam Malik rahimahullah pendapat menolak riwayat
ahli bid’ah secara mutlak (absolot) seperti yang telah lalu, dan pendapat
menolak pendapat riwayat ahli bid’ah yang berdakwah dan menerima yang tidak
berdakwah adalah yang masyhur darinya menurut para ahli tahqiq.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata: ‘Dan karena inilah imam Ahmad rahimahullah dan mayoritas imam
sesudah dan sebelumnya seperti imam Malik rahimahullah dan yang lainnya
tidak menerima riwayat orang yang berdakwah kepada bid’ah dan tidak duduk
bersamanya, berbeda dengan yang diam.’[29]
Abdurrahman al-Mu’allimy rahimahullah
berkata: ‘Adapun yang tidak berdakwah maka sudah lewat kutipan ijma’ bahwa ia
sama seperti sunny, apabila terbukti ‘adilnya niscaya diterima riwayatnya.’ Dan
diriwayatkan dari Malik rahimahullah yang sama seperti itu. Dan
dikatakan dari Malik rahimahullah: bahwa ia tidak meriwayatkan darinya
juga, dan yang dilakukan adalah yang pertama.[30]
Al-Baghawi rahimahullah
berkata dalam Syarh Sunnah: ‘Demikian pula mereka berbeda pendapat dalam
riwayat ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu, mayoritas ahli hadits menerimanya
apabila mereka jujur padanya. Muhammad bin Ismail telah meriwayatkan dari
‘Abbad bin Ya’qub ar-Rawijini. Dan Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah rahimahullah
berkata: ‘Telah menceritakan kepada kami seseorang yang jujur dalam
riwayatnya, tertuduh dalam agamanya: ‘Abbad bin Ya’qub!!
Al-Bukhari rahimahullah
berhujjah pula dalam Shahih dengan Muhammad bin Ziyad al-Alhani dan Hirriz bin
Utsman ar-Rahby, dan masyhur dari keduanya an-Nashb (golongan yang membenci
Ali bin Abu Thalib, kebalikan dari Syi’ah). al-Bukhari dan Muslim sepakat
berhujjah dengan Abu Mu’awiyah Muhammad bin Hazim adh-Dharir dan Ubaidullah bin
Musa, dan terkenal dari keduanya sikap ghuluw.
Adapun Malik bin Anas rahimahullah,
ia berkata: ‘Tidak diambil hadits Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dari
pengikut hawa nafsu yang mengajak (berdakwah) kepada hawa nafsunya (bid’ahnya),
tidak pula dari pendusta yang berdusta pada hadits Nabi shallallahu ‘alahi
wa sallam, sekalipun engkau tidak menuduhnya berdusta terhadap Nabi shallallahu
‘alahi wa sallam.’ Yang menyebutkan perbedaan pendapat ini adalah al-Hakim
Abu Abdillah dalam kitabnya tentang pembahasan menerima riwayat mereka.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah
ditanya: ‘Apakah ditulis hadits dari seorang Murji`ah dan Qadariyah serta
selain mereka dari ahli bid’ah? Ia menjawab: ‘Ya, apabila ia tidak berdakwah
kepadanya dan tidak banyak pembicaraan atasnya. Adapun bila ia berdakwah
(kepada bid’ahnya) maka tidak.’[31]
Syaikhul Islam rahimahullah
berkata: ‘Karena inilah tidak ada dalam kitab-kitab induk mereka (Ahli Hadits)
seperti Shahih, Sunan, dan Masanid, riwayat dari orang-orang yang terkenal berdakwah kepada bid’ah, sekalipun padanya
ada riwayat dari orang yang padanya jenis bid’ah, seperti Khawarij, Syi’ah,
Murji`ah, dan Qadariyah. Dan penjelasan hal itu karena mereka (para pengarang
kitab hadits) tidak meninggalkan riwayat dari mereka karena fasik yang diduga
oleh sebagian mereka, akan tetapi siapa yang menampakkan bid’ahnya niscaya
wajiblah mengingkarinya, berbeda dengan orang yang menyamarkan dan
menyembunyikannya. Apabila wajib mengingkarinya, niscaya yang termasuk
mengingkarinya adalah menghajrnya (tidak menyapanya) hingga ia berhenti
dari menampakkan bid’ahnya. Dan termasuk menghajrnya adalah tidak
diambil ilmu darinya dan tidak dijadikan syahid (hadits penguat).[32]
Dan demikian pula di antara
cabang pembahasan tentang perbedaan bid’ah dan tingkatan-tingkatannya: bab
hukuman dan ta’zir (efek jera) bagi yang menyalahi Ahlus Sunnah wal
Jama’ah. Sungguh sangat banyak riwayat dari salaf tentang hukuman terhadap ahli
bid’ah dengan berbagai macam hukuman; berupa ditahan, dipukul, dicambuk,
diasingkan, dihinakan, dan dihajr.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu
‘anhu, ia berkata pada Qadariyah: ‘Jika aku melihat salah seorang dari
mereka niscaya aku mengambil rambutnya.[33]
Dan ia berkata: ‘Jika aku melihat salah seorang dari mereka niscaya aku
menggigit hidungnya.’[34]
Dikatakan kepada Nafi’ rahimahullah:
‘Sesungguhnya laki-laki ini berbicara tentang Qadar’...maka ia mengambil
segenggam pasir lalu melemparkan ke wajahnya.[35]
Diriwayatkan dari Salim bin
Abdullah rahimahullah bahwa ia melakukan hal itu terhadap seorang
laki-laki yang datang kepadanya, ia berkata kepadanya: ‘Seorang laki-laki
berzinah.’ Salim rahimahullah berkata: ‘Ia meminta ampun kepada Allah subhanahu
wa ta’ala dan ia bertaubat kepada-Nya.’ Laki-laki itu berkata: ‘Apakah
Allah subhanahu wa ta’ala mentaqdirkan hal itu kepadanya? Salim rahimahullah
berkata: ‘Ya.’ Kemudian ia mengambil segenggam pasir lalu memukulkannya ke wajah laki-laki itu seraya berkata:
‘Berdirilah.’[36]
Dari Malik rahimahullah, ia berkata: ‘Al-Qur`an
adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala.’ Dan ia berkata: ‘Siapa yang
berkata ‘al-Qur`an adalah makhluk’ dia harus dipukul dan ditahan hingga
meninggal dunia.’[37]
Dari Abdullah bin Ahmad bin
Hanbal rahimahullah, ia berkata: ‘Aku bertanya kepada bapakku tentang
seorang laki-laki yang melakukan bid’ah yang dia mengajak kepadanya, ia
mempunyai beberapa penyeru (juru dakwah) kepadanya, apakah engkau berpendapat
bahwa ia harus ditahan? Ia menjawab: ‘Ya, saya berpendapat bahwa ia harus
ditahan, agar bid’ahnya tidak menyebar di tengah kaum muslimin.’[38]
Dari Abul Hasan al-Lakhmy rahimahullah
–dari pemuka mazhab Maliki- ia ditanya tentang kaum Ibadhiyah yang
tinggal di tengah-tengah kaum muslimin dan membangun masjid yang mereka
berkumpul di dalamnya dan mereka menampakkan mazhab mereka. Beliau menjawab:
‘Apabila kaum yang disebutkan menampakkan mazhabnya, mengumumkanya, membangun
masjid yang mereka berkumpul di dalamnya, dan shalat ied berjamaah menjauh dari
kaum muslimin, maka ini adalah pintu besar yang dikhawatirkan nantinya
bertambah kuat, merusak agama kaum muslimin, dan orang-orang bodoh dan yang
tidak bisa membedakan cenderung kepada mereka, maka pemerintah berkewajiban
menyuruh mereka bertaubat dari keyakinan mereka. Maka jika mereka tidak kembali
mereka harus dipukul dan dipenjara. Jika mereka tetap dalam keyakinan mereka,
maka diperselisihkan hukum membunuh mereka. Adapun menghancurkan masjid yang
mereka bangun maka suatu kebenaran dan semua yang mereka berkumpul padanya juga
seperti itu...[39]
Dan sebaliknya, ada beberapa
atsar salaf yang berbeda dari yang telah disebutkan.
Abu Daud rahimahullah
berkata: ‘Aku berkata kepada Ahmad rahimahullah: ‘Kami memiliki beberapa
kerabat yang berpendapat irja` (Murji`ah), bolehkah kami menulis surat
ke Khurasan mengucap salam kepada mereka?
Ia menjawab: ‘Subhanallah, kenapa engkau tidak mengucap salam
kepada mereka?
Dan dalam riwayat lain ia
berkata: ‘Aku berkata kepada Ahmad rahimahullah: ‘Apakah kami berbicara
dengan mereka? Ia menjawab: ‘Ya, kecuali ia berdakwah dan memusuhi padanya.’[40]
Bahkan diriwayatkan dari Imam
Ahmad rahimahullah, sebagaimana Ibnu Muflih al-Hanbaly rahimahullah
membuat satu judul dalam kitabnya ‘Adabus Syar’iyyah’, ia berkata: Pasal
dalam melarang menahan ahli bid’ah karena bid’ah mereka: al-Marudzi rahimahullah
berkata: ‘Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang satu kaum ahli bid’ah yang menentang
dan mengkafirkan? Ia berkata: ‘Janganlah kamu menyentuh mereka.’ Aku berkata:
‘Kenapa engkau tidak suka mereka ditahan? Ia menjawab: ‘Mereka mempunyai ibu
dan saudari.’
Aku berkata: ‘Mereka telah menahan
seseorang dan berbuat aniaya kepadanya. Mereka meminta kepadaku agar aku
berbicara pada perkaranya sehingga ia keluar.’ Ia menjawab: ‘Jika salah seorang
dari mereka ditahan maka tidak.’ Kemudian Abu Abdillah berkata: ‘Ini adalah
tetangga kami, laki-laki itu ditahan dan meninggal di penjara.’ Saya menduga ia
berkata beberapa kali: ‘Bagaimana Abu Bakar bin Khallad rahimahullah
meriwayatkan? Aku berkata kepadanya: ‘Ia (Abu Bakar) berkata: ‘Aku duduk di
sisi Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, lalu datang Fudhail rahimahullah,
ia berkata: ‘Janganlah kalian duduk bersamanya –maksudnya Ibnu Uyainah- engkau
menahan seseorang dalam penjara? Apakah engkau merasa aman apa yang akan
terjadi padanya dalam penjara? Berdiri dan keluarkan dia.’ Abu Abdillah merasa
kagum dan menganggapnya baik.’[41]
Perbedaan sikap dan pendirian salafus shalih dalam menghadapi
ahli bid’ah dari sisi memberikan hukuman kepada mereka kembali kepada perbedaan
bid’ah tersebut dan kondisi para pelakunya.
Syaikhul Islam rahimahullah berkata setelah menyebutkan sebagian
hukuman terhadap ahli bid’ah: ‘Apabila sudah diketahui bahwa ini termasuk sisi
hukuman secara syar’i, niscaya diketahui bahwa ia berbeda tergantung perbedaan
kondisi, dari sedikit bid’ah dan banyaknya, nampak sunnah dan samarnya, dan sesungguhnya yang disyari’atkan terkadang
dengan cara pendekatan dan terkadang dengan cara hajr (tidak disapa),
sebagaimana Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam melakukan pendekatan
terhadap beberapa kaum musyrikin yang baru masuk Islam dan orang yang
dikhawatirkan fitnah terhadapnya, maka beliau shallallahu ‘alahi wa sallam
memberi kepada yang dijinakkan hatinya (mu`allaf) a sesuatu yang tidak
diberikan kepada selain mereka.
Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda dalam hadis shahih:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِنِّي أُعْطِي رِجَالًا وَأَدَعُ
رِجَالاً, وَالَّذِي أَدَعُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الَّذِي أُعْطِي, أَعْطِي
رِجَالاً لِمَا جَعَلَ اللهُ فِى قُلُوْبِهِمْ مِنَ الْهَلَعِ وَالْجَزَعِ
وَأَدَعُ رِجَالاً لِمَا جَعَلَ اللهُ فِى قُلُوْبِهِمْ مِنَ الْغِنَى
وَالْخَيْرِ, مِنْهُمْ عَمْرُو بْنُ تَغْلِب » [ أخرجه البخاري ]
‘Sesungguhnya aku memberikan
kepada beberapa orang dan meninggalkan yang lain, dan yang tidak kuberi lebih
kucintai dari para yang kuberi. Aku memberi kepada beberapa orang laki-laki
karena Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan dalam hati mereka rasa keluh kesah
dan gelisah, dan aku tidak memberi kepada beberapa orang laki-laki karena Allah
subhanahu wa ta’ala telah menjadikan dalam hati mereka berupa rasa kaya dan kebaikan,
di antara mereka adalah Amar bin Taghlib.’[42]
Dan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِنِّي أُعْطِي الرَّجُلَ وَغَيْرُهُ
أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ خَشْيَةَ أَنْ يَكُبَّهُ اللهُ عَلَى وَجْهِهِ النَّارَ »
[ أخرجه أبو داود والنسائي ]
‘Sesungguhnya aku memberi kepada seorang laki-laki dan yang lain lebih
kucintai dari padanya, karena khawatir Allah subhanahu wa ta’ala menjerumuskan
dia di neraka.’[43]
Atau ucapan seperti itu.
Dan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam menghajr sebagian
orang beriman, seperti beliau menghajr tiga orang yang tertinggal dari
perang Tabuk, karena tujuannya adalah mengajak makhluk taat kepada Allah subhanahu
wa ta’ala dengan jalan paling lurus, maka digunakan cara raghbah (dorongan,rangsangan)
di tempat yang paling tepat dan digunakan cara ancaman di tempat yang paling
tepat.
Siapa yang mengetahui hal ini, jel’alaihissalamah baginya bahwa
siapa yang menolak persaksian dan riwayat secara mutlak dari (ahli bid’ah)
orang-orang yang menyalahi Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang bertakwil maka
pendapatnya adalah lemah, karena sesungguhnya salaf telah masuk dengan takwil
dalam berbagai perkara besar. Dan siapa yang menjadikan orang-orang yang
menampakkan bid’ah sebagai imam dalam ilmu dan persaksian yang tidak diingkari
dengan hajr dan rada’, maka pendapatnya juga lemah. Demikian pula
orang yang shalat di belakang orang yang menampakkan bid’ah dan kefasikan tanpa
mengingkari dan tanpa berusaha mengganti dengan yang lebih baik darinya padahal
mampu melakukannya, maka pendapatnya lemah. Dan ini memberikan konsekuensi
membiarkan kemungkaran yang dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan
rasul-Nya, padahal ia mampu mengingkarinya, dan ini tidak boleh. Dan siapa yang
mewajibkan mengulangi shalat bagi yang berjamaah bersama imam yang fasik dan
ahli bid’ah, maka pendapatnya lemah. Karena sesungguhnya kaum salaf, para
pemuka sahabat dan tabi’in shalat di belakang mereka dan hal itu tatkala mereka menjadi pemimpin.
Karena inilah, termasuk dasar akidah Ahlus Sunnah: bahwa shalat yang diimami
oleh pemerintah, dilaksanakan shalat di belakang mereka, bagaimana pun kondisi
mereka, sebagaimana berhaji dan berperang bersama mereka.[44]
Hajr (tidak menyapa) terhadap orang yang menyalahi (ahli bid’ah):
Di antara yang terkait bab ini adalah persoalan penting yang harus
diketahui dengan jelas padanya, terutama di masa sekarang, yaitu persoalan
hajr, yaitu berpaling dari orang yang menyalahi (ahli bid’ah), tidak duduk
bersamanya, tidak menyapanya, tidak memberi salam kepadanya, dan tidak masuk
kepadanya. Persoalan ini adalah persoalan yang harus diketahui tujuannya secara
syar’i, sehingga bisa melakukan interaksi bersamanya dengan cara yang benar.
Disyari’atkan hajr:
Hajar adalah perkara yang disyari’atkan saat dibutuhkan, terkadang hukumnya
sunnah dan terkadang wajib. Dan dalil-dalil disyari’atkan hajr saat dibutuhkan
sangat banyak dari al-Qur`an, Sunnah dan ijma’.
Pertama:
dari al-Qur`an:
1. Firman Allah subhanahu
wa ta’ala:
﴿
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي ءَايَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ
حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلاَ
تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ {68} ﴾ [الأنعام: ٩١]
Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami,
maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika
syaitan menjadikan kamu lupa (maka larangan ini), janganlah kamu duduk bersama
orang. orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). (QS. al-An’aam:68)
Ayat ini
merupakan dalil haramnya duduk-duduk bersama ahli bid’ah, pelaku dosa besar dan
ahli maksiat. Al-Qurthuby rahimahullah berkata: ‘Dalam ayat ini
merupakan bantahan dari al-Qur`an terhadap orang yang menduga bahwa para imam
yang merupakan hujjah dan para pengikut mereka, mereka boleh berkumpul bersama
orang-orang fasik dan membenarkan ucapan mereka secara taqiyyah.
Ath-Thabary rahimahullah menyebutkan riwayat dari Abu Ja’far Muhammad
bin Ali rahimahullah, ia berkata: ‘Janganlah kamu duduk-duduk bersama
orang-orang yang suka bermusuhan (ahli bid’ah), sesungguhnya mereka adalah
orang-orang yang memperolok-olokan ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala.’
Ibnul Araby rahimahullah berkata: ‘Ini merupakan dalil bahwa duduk-duduk
bersama pelaku dosa besar adalah tidak boleh.’ Ibnu Khuwairiz Mandad rahimahullah
berkata: ‘Siapa yang memperolok-olokan ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala
niscaya ditinggalkan majelisnya (tidak boleh duduk bersamanya) dan dihajr,
sama saja ia mukmin atau kafir. Demikian pula para ulama kita (mazhab Maliky)
melarang masuk ke negeri musuh, tempat ibadah mereka, duduk-duduk bersama
orang-orang kafir dan ahli bid’ah, dan jangan sampai mencintai mereka, jangan
didengarkan ucapan mereka dan janganlah berdebat bersama mereka. Kemudian ia
menyebutkan beberapa atsar dari kaum salaf dalam menghajr ahli bid’ah.[45]
2. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
﴿
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ
ءَايَاتِ اللهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُوا مَعَهُمْ
حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ إِنَّ اللهَ
جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا {140}﴾ [النساء: 140]
Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur'an bahwa
apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh
orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka
memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya
(kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya
Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam
jahannam, (QS. an-Nisaa`:140)
Al-Qurthuby
rahimahullah berkata: ‘Hal ini menunjukkan wajibnya menjauhi pelaku
maksiat apabila nampak kemungkaran dari mereka. Karena siapa yang tidak
menjauhi mereka berarti ia ridha (senang) terhadap perbuatan mereka, dan ridha
dengan kekufuran adalah kufur. Firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas
(Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah
kamu serupa dengan mereka.)
maka setiap orang yang duduk di majelis maksiat dan tidak mengingkari mereka,
berarti ia mendapatkan dosa bersama mereka. Seharusnya ia mengingkari mereka
apabila mereka berbicara tentang maksiat dan melakukannya. Maka jika ia tidak
mampu mengingkari perbuatan mereka maka semestinya ia meninggalkan mereka agar
ia tidak termasuk orang yang mendapat ancaman dalam ayat ini.
Apabila sudah jelas kewajiban
menjauhi para pelaku maksiat seperti yang telah kami jelaskan, maka menjauhi
ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu adalah lebih utama..Juwaibir meriwayatkan
dari ad-Dahhak rahimahullah, ia berkata: ‘Masuk dalam ayat ini setiap ahli
bid’ah yang menciptakan yang baru dalam agama hingga hari kiamat.’[46]
3. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
﴿
وَلاَتَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
وَمَالَكُم مِّن دُونِ اللهِ مِنْ أَوْلِيَآءَ ثُمَّ لاَتُنصَرُونَ {113} ﴾ [هود: 113]
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang
menyebabkanmu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang
penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.
(QS. Huud:113)
Al-Qurthuby
rahimahullah berkata: ‘Yang shahih dalam makna ayat tersebut adalah
bahwa ia menunjukkan perintah hajr terhadap orang kafir dan pelaku
maksiat serta selain mereka. Maka sesungguhnya berteman dengan mereka adalah
kufur dan maksiat, karena berteman tidak terjadi kecuali bersumber dari rasa
cinta. Tharafh bin ‘Abd berkata:
Tentang seseorang, janganlah engkau bertanya, dan bertanyalah tentang
temannya,
Maka setiap teman mengikuti orang yang menemaninya
Jika
persahaban itu karena kebutuhan dan taqiyyah, maka sudah dibicarakan
dalam surat Ali Imran dan al-Maidah, dan menemani orang zalim dengan alasan taqiyyah
dikecualikan dari larangan dalam kondisi dharurat.’ Wallahu A’lam.[47]
4. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
﴿
لاَّتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَرِ يُوَآدُّونَ مَنْ
حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ
إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ﴾ [المجادلة: 22]
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari
akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau
saudara-saudara ataupun keluarga mereka. (QS. al-Mujadilah:22)
Al-Qurthuby
rahimahullah berkata: ‘Imam Malik rahimahullah mengambil dalil
dari ayat ini atas memusuhi Qadariyah dan tidak duduk bersama mereka. Asyhab berkata dari Malik rahimahullah:
‘Janganlah engkau duduk bersama Qadariyah dan musuhilah mereka karena Allah subhanahu
wa ta’ala, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
﴿ لاَّتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَرِ
يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ ﴾ [المجادلة: 22]
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman
kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang
menentang Allah dan Rasul-Nya,..)
Dan sama
seperti Qadariyah semua pelaku aniaya dan permusuhan.[48]
Kedua:
dari Sunnah:
- Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, beliau bersabda:
قال
رسول الله صلى الله عليه وسلم: « سَيَكُوْنُ فِى آخِرِ أُمَّتِي نَاسٌ
يحدثُوْنَكُمْ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاءُكُمْ, فَإِيَّاكُمْ
وَإِيَّاهُم » [ أخرجه مسلم]
‘Akan terjadi di akhir umatku orang-orang yang menciptakan yang
baru-baru terhadapmu, sesuatu yang kamu dan bapak-bapakmu tidak pernah
mendengarnya, maka hati-hatilah kalian dan jauhilah mereka.’[49]
- Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لكل أمة مجوس ومجوس أمتي الذين يقولون: لا قدر, إن مرضوا فلا
تعودوهم وإن ماتوا فلاتشهدوهم
» [ أخرجه أحمد وأبو داود ]
“Bagi setiap umat ada golongan majusi, dan majusi dari umatku adalah orang-orang yang berkata: tidak ada
qadar. Jika mereka sakit janganlah engkau menengok mereka dan jika mereka wafat
janganlah kamu menyaksikan mereka.’[50]
- Hadits Hudzaifah lembaran (Shahifah) yang masyhur dari Ali radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « المدينة حرم ما بين عير وثور, فمن أحدث فيها
حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين » [ أخرجه البخاري ومسلم ]
‘Madinah adalah haram di antara Ier dan Tsaur, maka siapa yang
menciptakan yang baru (dalam agama, bid’ah) atau menampung orang yang bid’ah,
maka atasnya kutukan Allah subhanahu wa ta’ala, para malaikat dan semua manusia..”[51]
- Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِى
أُمَّةٍ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُوْنَ وَأَصْحَابٌ,
يَأْخُذُوْنَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُوْنَ بِأَمْرِهِ, ثُمَّ إِنَّهَا تَخَلَّفَ
مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوْفٌ يَقُوْلُوْنَ مَالَايَفْعَلُوْنَ وَيَفْعَلُوْنَ
مَالَايُؤْمَرُوْنَ. فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٍ وَمَنْ
جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ الْإِيْمَانِ
حَبَّةَ خَرْدَلَةٍ» [ أخرجه مسلم ]
“Tidak
ada seorang nabi yang diutus Allah subhanahu wa ta’ala sebelum aku kepada satu
umat kecuali baginya dari umatnya ada hawari dan para sahabat, mereka mengambil
sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian setelah mereka lahirlah generasi
yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan dan melakukan yang tidak
diperintahkan. Maka siapa yang berjihad
kepada mereka dengan tangannya maka ia seorang mukmin, siapa yang berjihad
melawan mereka dengan hatinya maka dia seorang mukmin, dan tidak ada sebiji sawipun
dari iman di belakang itu.[52]
- Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam membaca ayat ini:
﴿
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتُُ
مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتُُ فَأَمَّا الَّذِينَ
فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغُُ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ
الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ
وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِ كُلُُّ مِّنْ عِندِ
رَبِّنَا وَمَايَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ {7} ﴾ [آل عمران: 7]
Dia-lah
yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada
ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Qur'an dan yang lain
(ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong
kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat
untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada
yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam
ilmunya berkata:"Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya
itu dari sisi Rabb kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran
(daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran:7)
Ia
berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِيْنَ
يَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّي اللهُ
فَاحْذَرْهُمْ» [ أخرجه البخاري و مسلم ]
‘Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti
yang samar darinya maka merekalah orang-orang yang disebutkan Allah subhanahu
wa ta’ala, maka hati-hatilah terhadap mereka.’[53]
- Hadits-hadits yang sangat banyak dalam tindakan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menghajr para pelaku maksiat sampai mereka bertaubat. Hal itu banyak diriwayatkan dalam berbagai peristiwa yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat dari Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, di antara mereka: Ka’ab bin Malik, Ibnu ‘Amr meriwayatkan dua hadits, Aisyah, Anas, ‘Ammar, Ali, Abu Sa’id al-Khudry dan selain mereka radhiyallahu ‘anhum.
Nabi shallallahu ‘alahi wa
sallam pernah menghajr Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan
dua temannya tatkala ketinggalan perang Tabuk. Mereka terus dihajr
selama lima puluh malam, sampai Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam
mengabarkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menerima taubat mereka.[54]
Dan beliau shallallahu ‘alahi
wa sallam menghajr Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha
sekitar dua bulan tatkala ia berkata: ‘Aku memberikan kepada wanita Yahudi
tersebut’, maksudnya adalah Shafiyyah radhiyallahu ‘anha.[55]
Dan beliau shallallahu ‘alahi
wa sallam menghajr pemilik kubah yang mencolok dengan berpaling
darinya sampai ia menghancurkannya.[56]
Dan beliau menghajr
‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu dengan tidak memberi salam kepadanya
karena ia memakai pakaian yang diberi wangian za’faran (jenis wewangian khusus
untuk wanita, berwarna antara kuning dan merah) sampai ia mencucinya.[57]
Dan beliau shallallahu ‘alahi
wa sallam menghajr seorang laki-laki tatkala beliau melihat cincin emas di
tangannya sampai ia melemparkannya, dan menghajrnya dengan cara berpaling
darinya.[58]
Dan contoh serupa dari hadits Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu ‘anhu.[59]
Dan beliau menghajr seorang laki-laki dengan cara tidak menjawab salamnya, dan
hal itu disebabkan ia memakai dua pakaian merah.[60]
Penerapan
para sahabat dan generasi sesudahnya terhadap sunnah nabi ini:
Para sahabat telah menerapkan
sunnah hajr dalam beberapa peristiwa:
Umar radhiyallahu ‘anhu
menghajr Ziyad bin Hudair radhiyallahu ‘anhu tatkala melihat pakaian
panjang atasnya dan kumisnya tidak terurus. Apabila Ziyad memberi salam, Umar radhiyallahu
‘anhu tidak menjawab sehingga ia melepaskan pakaian panjangnya dan mencukur
kumisnya.[61]
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
‘anhu menangkap para pemain dadu di waktu pagi dan semisalnya, dan melarang
memberi salam kepada mereka.[62]
Abdullah bin Umar radhiyallahu
‘anhu menghajr seorang laki-laki yang dia melihatnya menghadzaf
(melempar hewan dengan kerikil kecil), setelah ia menyampaikan kepadanya bahwa
Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam melarang hal itu dan ia berkata: ‘Demi
Allah subhanahu wa ta’ala saya tidak akan berbicara denganmu selamanya.’[63]
Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu
‘anhu menghajr seorang laki-laki yang menghadzaf dalam kasus serupa,
dan seorang Syaikh dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam
menghajr seorang pemuda karena menghadzaf.[64]
Ubadah bin Shamit radhiyallahu
‘anhu menghajr Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu dalam perbedaan pendapat
dalam masalah riba, dan ia berkata: ‘Aku menceritakan kepadamu dari Rasulullah shallallahu
‘alahi wa sallam dan engkau menceritakan dari pendapatmu’, sungguh jika
Allah subhanahu wa ta’ala mengeluarkan aku (dari wilayah kepemimpinan
engkau) aku tidak akan tinggal di wilayah yang engkau menjadi amir padanya.’
Dan tatkala ia keluar (dari wilayah itu), ia mengadukannya kepada Umar radhiyallahu
‘anhu. Maka Umar radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepadanya: ‘Tidak
ada kepemimpinan atasmu terhadapnya, dan bawalah manusia terhadap pendapatnya,
sesungguhnya ia adalah perintah.’[65]
Dan kasus serupa terjadi bagi
Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu bersama Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu.[66]
Dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu
‘anhu menghajr seorang laki-laki yang dilihatnya tertawa terhadap jenazah,
ia berkata: ‘Demi Allah, saya tidak akan berbicara denganmu selamanya.’[67]
Ketiga: Ijma’:
Dihikayatkan dari jama’ah, di
antara mereka: al-Qadhy Abu Ya’la, al-Baghawi, al-Ghazali,.
Al-Qadhy Abu Ya’la rahimahullah
berkata: ‘Ia merupakan ijma’ para sahabat dan tabi’in.’[68]
Al-Baghawi rahimahullah
berkata setelah hadits Ka’ab bin Malik rahimahullah: ‘Dan padanya
merupakan dalil bahwa sunnah hajr terhadap ahli bid’ah tetap berlaku untuk
selamanya. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam khawatir sifat nifaq
terhadap Ka’ab radhiyallahu ‘anhu dan temannya ketika mereka tertinggal
keluar bersamanya. Maka beliau shallallahu ‘alahi wa sallam menyuruh
menghajr mereka hingga Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan (al-Qur`an)
tentang taubat mereka dan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam
mengetahui bebasnya mereka (dari sifat nifak). Para sahabat, tabi’in, para
pengikut mereka dan ulama sunnah terus menerapkan hal ini, sepakat untuk
memusuhi ahli bid’ah dan menghajr mereka.[69]
Al-Ghazaly rahimahullah
berkata: ‘Tata cara kaum salaf berbeda-beda dalam menampakkan kemarahan
terhadap pelaku maksiat, dan semuanya sepakat untuk menerapkan kemarahan
terhadap orang-orang zhalim dan pelaku bid’ah, dan kepada setiap pelaku maksiat
yang berpengaruh terhadap orang lain.[70]
Ibnu Abdil Barr rahimahullah
berkata: ‘Sudah ijma’ (para ulama) bahwa tidak boleh menghajr seorang muslim
lebih dari tiga hari, kecuali dikhawatirkan dari bergaul dan berbicara
dengannya sesuatu yang bisa merusak agamanya, atau menyebabkan bahaya terhadap
dirinya pada agama dan dunianya, jika dikhawatirkan seperti itu dibolehkan
baginya menjauhinya. Berapa banyak mendiamkan (menghajr, tidak menyapa)
yang indah lebih baik dari pada bergaul yang menyakiti.’[71]
Dan ia berkata pula dalam
mengambil dalil dari hadits Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan Nabi shallallahu
‘alahi wa sallam mendiamkannya bersama kaum muslimin:
‘Ini merupakan dasar di sisi
para ulama dalam menjauhi orang yang melakukan bid’ah, mendiamkannya dan tidak
berbicara bersamanya. Dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tidak berbicara
terhadap laki-laki yang tertawa pada jenazah.[72]
Tujuan-tujuan
syar’iyah bagi syari’at hajr (mendiamkan):
Bisa
disimpulkan tujuan-tujuan syar’iyah bagi hajr dalam beberapa hal berikut ini:
1.
Sesungguhnya mencela dengan cara mendiamkan merupakan
hukuman secara syar’i bagi yang didiamkan, maka ia termasuk jenis jihad fi
sabilillah agar kalimah Allah subhanahu wa ta’ala tertinggi, menunaikan
kawajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar, karena mendekatkan diri kepada Allah subhanahu
wa ta’ala dengan kewajiban cinta pada-Nya subhanahu wa ta’ala.
2.
Membangkitkan rasa sadar di dalam jiwa kaum muslimin agar
tidak terjerumus dalam bid’ah ini dan mengingatkan mereka.
3.
Membatasi tersebarnya bid’ah.
4.
Menekan pelaku bid’ah dan mencelanya, agar ia menjadi
lemah dari menyebarkan bid’ahnya, karena bila terjadi pemboikotan terhadapnya
dan menjauh darinya jadilah ia seperti musang dalam lobangnya.[73]
5.
Juga di antara tujuan syar’i: mengingatkan pelaku bid’ah
terhadap kesalahannya agar ia merasa perbedaannya bagi kaum muslimin, lalu ia
bertaubat dan kembali dari perbuatan bid’ahnya.
Catatan-catatan
penting mendiamkan (hajr) yang disyari’atkan:
Yang perlu diingatkan dalam
masalah ini bahwa mendiamkan ahli bid’ah adalah dari bab pendekatan diri kepada
Allah subhanahu wa ta’ala dan ibadah, maka harus ada dua syarat
diterimanya, yaitu:
Pertama, ikhlas:
ia adalah timbangan ibadah dalam batinnya. Maka yang mendiamkan ahli bid’ah
harus bertujuan memberi nasihat karena Allah subhanahu wa ta’ala, bagi
kitab-Nya, rasul-Nya, dan bagi semua kaum muslimin, dan bertujuan menutup pintu
bid’ah, dan mencela pelakunya agar
kembali kepada sunnah, tanpa adanya tujuan-tujuan lain dari sisi hawa nafsu
belaka.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata: ‘Apabila hal ini sudah diketahui, maka mendiamkan yang syar’i
merupakan amal ibadah yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala dan
rasul-Nya. Taat harus ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala dan sesuai
perintahnya. Maka siapa yang mendiamkan karena hawa nafsunya atau mendiamkan
yang tidak diperintahkan, berarti ia keluar dari kriteria hal ini.[74]
Kedua:
Mutaba’ah, yaitu
timbangan amal secara lahir:
Mendiamkan ahli bid’ah harus
berdasarkan beberapa catatan yang berdiri di atas kaidah menjaga mashlahat
(kebaikan) dan menolak kerusakan. Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah
berkata: ‘Disyari’atkan hajr adalah dalam lingkaran kriteria-kriteria syar’i
yang dibangun di atas dasar menjaga mashlahat dan menolak kerusakan.’[75]
Sehingga bisa terealisasikan
penyebab yang mengharuskan hajr (mendiamkan), harus dipastikan beberapa
perkara:
1.
Memastikan adanya bid’ah, tidak cukup dengan isu dan
ucapan fulan (si anu), akan tetapi harus dipastikan mendengar ucapannya atau
melihat perbuatannya atau tulisannya.
2.
Bahwa bid’ah itu adalah sesuatu yang dipastikan
bid’ahnya, maka janganlah ia menhajr dalam masalah-masalah yang para
ulama yang berbeda pendapat padanya.
3.
Sampainya hujjah kepada pelaku bid’ah, memahaminya,
hilangnya penghalang kebodohan, tidak adanya syubhat, dan tersingkapnya ghaflah
(lupa, lalai).
Dan bisa
disimpulkan kriteria syar’i bagi hajr dalam dua hal:
Pertama, menjaga mashlahat dan merusakan.
Kedua, hukuman menurut kadar kesalahan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata dalam tata cara yang benar dalam hajr: ‘Sesungguhnya satu kaum
menjadikan hal itu berlaku secara umum, maka mereka melakukan dan mengingkari
sesuatu yang mereka tidak disuruh dengannya, hukumnya tidak wajib dan tidak
sunnah, dan terkadang dengannya mereka meninggalkan kewajiban kewajiban dan
sunnah-sunnah, dan melakukan yang diharamkan dengannya.
Dan yang lain berpaling dari hal
itu secara menyeluruh, maka mereka tidak menghajr sesuatu yang mereka disuruh
menghajrnya dari perbuatan dosa yang bid’ah, bahkan mereka meninggalkannya
karena berpaling, bukan meninggalkan orang yang berhenti lagi membenci, atau
mereka terjerumus padanya. Dan terkadang mereka meninggalkannya seperti
meninggalkan orang yang membenci (perbuatan bid’ah itu) dan tidak melarang
orang lain darinya dan tidak menghukum dengan hajr dan semisalnya, orang yang
pantas mendapat hukuman. Maka mereka telah menyia-nyiakan nahi mungkar yang
mereka disuruh melakukannya dengan perintah wajib atau sunnah. Maka mereka di
antara melakukan yang mungkar atau meninggalkan yang diperintahkan, dan hal itu
melakukan yang mereka dilarang darinya dan meninggalkan yang mereka disuruh
dengannya, maka ini adalah ini. Dan agama Allah subhanahu wa ta’ala
berada di pertengahan di antara yang ghuluw (berlebihan) padanya dan jafi
(yang menjauh, meninggalkan) darinya. Wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam.[76]
Syaikh Nashiruddin al-Albany rahimahullah
berkata: ‘Politik wala` dan bara` tidak mengharuskan memusuhi
satu golongan dari golongan-golongan Islam atau satu kelompok dari
kelompok-kelompok Islam, akan tetapi setiap kelompok darinya harus diperlakukan
dalam batas dekat dan jauhnya dari akidah Islam, atau dari berpegang dengan
Islam yang benar sebagai satu kesatuan utuh. Dan memusuhi tidak datang kecuali
dalam kondisi putus asa dari memperbaiki dan membimbingnya. Maka di sini datang
sesuatu yang dikenal dengan benci/marah karena Allah subhanahu wa ta’ala.
Adapun pada awalnya, tidak sewajarnya seorang muslim memusuhi seseorang dari
kelompok-kelompok Islam, sekalipun menyalahi akidahnya.[77]
Maka dari sudut pandang
perbedaan kedudukan dari sisi dosa, ia terdiri dari beberapa sisi[78]:
·
Dari sisi kondisinya kafir atau tidak kafir.
Maka yang
mengkafirkan seperti Babiyah, Bahaiyyah dan Qadiyaniyyah.
Dan yang
tidak mengkafirkan seperti umumnya bid’ah dalam ibadah, secara hakikat atau
idhafah.
·
Dari sisi pelakunya bersembunyi dengannya atau
menampakkan diri. Jika ia menampakkanya maka ia berhak mendapatkan hukuman,
berbeda orang yang menyembunyikan, maka ia tidak lebih buruk dari pada
orang-orang munafik yang Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menerima yang
mereka nampakkan dan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam menyerahkan
urusan batin mereka kepadanya, ini dan mereka berada di lapisan paling bawah
dari api neraka.[79]
Dalam hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
‘Karena alasan ini dan semisalnya, kaum muslimin berpendapat agar menghajr
orang yang nampak tanda-tanda penyimpangan atasnya dari orang-orang yang
menampakkan bid’ah dan mengajak kepadanya, serta yang menampakkan dosa besar.
Adapun orang yang menyembunyikan maksiatnya atau menyembunyikan bid’ah yang
mengkafirkan, maka sesungguhnya ini tidak dihajr. Sesungguhnya yang dihajr
adalah yang mengajak kepada bid’ah, karena hajr adalah satu jenis hukuman, dan
sesungguhnya yang dihukum adalah yang menampakkan maksiat secara ucapan dan
perbuatan.[80]
·
Dan dari sisi kondisinya hakikat atau idhafah:
Maka bid’ah hakikat adalah bid’ah ibadah yang baru secara menyendiri
seperti shalat raghaib, bukan bid’ah idhafiyah, dan seperti shalat
qadar, shalat alfiyyah di malam nisfu Sya’ban, bid’ah maulid, hari-hari besar
pemerintah, ied Ghadir kham di kalangan Syi’ah...dan seterusnya.
Dan bid’ah idhafiyyah: yaitu perkara bid’ah yang disandarkan kepada
sesuatu yang disyari’atkan pada dasarnya dengan tambahan dan pengurangan.
Contohnya adalah: berdoa secara berjama’ah setelah shalat. Doa adalah sesuatu
yang disyari’atkan dan menjadikannya berjamaah adalah bid’ah yang disandarkan
yang tidak ada nashnya. Dasar semua ibadah adalah tauqif (berdasarkan
wahyu, akal tidak punya peran di dalamnya). Dan sujud syukur secara berjama’ah,
menjadikan tabligh (penyambung takbir imam) di belakang imam sebagai
suatu kebiasaan rutin padahal tidak diperlukan,..dan seterusnya.
·
Dan dari sisi kondisinya jelas atau sulit/rumit:
Maksudnya kondisinya jelas tempat pengambilannya, maka ia adalah bid’ah,
maka ia adalah bid’ah murni seperti bid’ah-bid’ah upacara pemakaman dan maulid,
shalat Raghaib... Atau bid’ah yang padanya ada kemungkinan karena samar tempat
pengambilannya, contohnya: qunut dalam shalat isya` dan subuh. Memang hal itu
pernah terjadi kemudian dinasakh dan tetap disyari’atkan padanya saat peristiwa
tertentu, dan adanya syubhat khilaf (perbedaan pendapat) tidak menjadikannya
disyari’atkan secara rutin.
Pada hakikatnya sesungguhnya
sisi ini hanya pada gambaran saja, bukan pada hakikatnya, karena bid’ah-bid’ah
berbagai macam bentuk pengambilanya bersumber dari isu-isu dan sikap fanatik
buta tidaklah menjadikannya jelas. Wallahu A’lam.[81]
·
Dan dari sisi ijtihadnya padanya atau kondisinya muqallid
(pengikut):
Mujtahid adalah orang yang menciptakan bid’ah, kecenderungan kepada
kesesatan lebih mungkin di hatinya dari pada pengikut, sekalipun keduanya berdosa,
akan tetapi dosa orang yang memberikan contoh yang buruk lebih besar dosanya.
Wallahu A’lam.[82]
·
Dan dari sisi terus menerus melakukannya atau tidak:
Adapun terus menerus melakukannya maka ia menjadikannya dari bab (pintu)
berdakwah kepadanya. Adapun yang tidak terus menerus melakukannya maka ia masuk
dari pintu kekeliruan dan kekhilafan seorang alim, apabila ia melakukan
kemudian tidak pernah mengulanginya lagi.[83]
·
Dan berbeda sesuai perbedaan kondisi orang yang melakukan
kesalahan (ahli bid’ah) dan yang ada padanya berupa kebaikan dan keburukan:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ‘Apabila
tergabung pada seorang laki-laki kebaikan dan keburukan, fasik dan taat,
maksiat, sunnah dan bid’ah: ia berhak mendapatkan perlakukan wala`
(loyal) dan pahala sekadar kebaikan yang ada padanya, dan ia pantas dimusuhi
dan hukuman menurut kadar keburukan yang ada padanya. Maka tergabung pada
seseorang beberapa perkara yang mengharuskan mendapatkan penghormatan dan
penghinaan. Maka tergabung baginya dari ini dan itu, seperti pencuri yang
fakir, dipotong tangannya karena ia mencuri dan diberikan dari baitul mal yang
mencukupi kebutuhannya. Inilah dasar yang disepakati oleh para ulama Ahlus
Sunnah wal Jama’ah...[84]
·
Dan berbeda di antara seorang alim yang jiwanya menyerap
dengan bid’ah akan tetapi ia tidak bergabung/bercambur dengan ulama Ahlus
Sunnah dan tidak mengambil ilmu dari mereka, dan di antara seorang alim yang
mengambil ilmu dari ahli bid’ah, kemudian ia bergabung dengan ahlus sunnah dan
para ulama mereka, berkumpul bersama mereka satu masa yang bisa mendapatkan
keyakinan, bahkan ia bergaul dengan mereka puluhan tahun. Kemudian ia tetap
berada di atas serapan bid’ah yang terus dilakukannya, berdakwah kepadanya,
terus menerus atasnya. Maka orang ini telah berdiri tegak hujjah atasnya lebih
banyak dan jelas bukti-bukti baginya
maka ia tidak lebih melihat. Ia adalah makhluk Allah subhanahu wa ta’ala
yang paling berdosa dan benci terhadap Ahlus Sunnah. Maka yang pertama dalam
menjinakkan hatinya untuk kembali kepada Ahlus Sunnah masih ada harapan. Adapun
yang kedua, maka tidak. Bahkan wajib mendiamkannya dan menjauhinya, dan
memberikan hukuman secara syar’i atasnya, menghajrnya setelah mati sebagaimana
menghajrnya ketika masih hidup. Maka orang shalih tidak menshalatkannya dan
tidak mengikuti jenazahnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata pada sebagian
pelaku maksiat yang menampakkan kefasikan mereka: ‘Adapun bila seseorang
menampakkan kemungkaran tentu wajib mengingkarinya secara terbuka dan tidak
tersisa baginya ghibah (boleh menggunjingnya dalam masalah ini), dan harus
dihukum secara terbuka dengan suatu hukuman yang membuatnya jera dari hal itu
berupa didiamkan dan yang lainnya. Maka tidak boleh diberi salam kepadanya dan
tidak dijawab salamnya, apabila yang melakukan hal itu bisa melakukannya tanpa
berakibat kerusakan yang lebih buruk.
Sudah selayaknya para tokoh agama menghajrnya setelah wafat, sebagaimana
menghajrnya ketika masih hidup, apabila hal itu bisa membuat jera para pelaku
dosa, maka mereka tidak melayat jenazahnya. Sebagaimana Nabi shallallahu
‘alahi wa sallam pernah beberapa kali tidak menshalatkan pelaku dosa. Dan
sebagaimana dikatakan kepada Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu[85]:
Sesungguhnya anakmu meninggal semalam.’ Ia berkata: ‘Jika ia meninggal aku
tidak menshalatkannya.’ Maksudnya, sesungguhnya ia membantu membunuh dirinya
maka ia sama seperti membunuh dirinya, dan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam
tidak menshalatkan orang yang melakukan tindakan bunuh diri. Demikian pula Nabi
shallallahu ‘alahi wa sallam menghajr tiga orang sahabat yang
menampakkan dosa mereka dalam tidak ikut berjihad yang wajib sampai Allah subhanahu
wa ta’ala menerima taubat mereka. Maka bila ia menampakkan taubat niscaya
nampak kebaikan baginya...[86]
·
Dan dibedakan dalam kondisi yang dihajar di antara yang
mempunyai iman yang kuat dan yang lemah padanya. Sesungguhnya yang kuat dihukum
dengan yang lebih berat dari pada yang lemah dalam agama, sebagaimana dalam
cerita Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan dua temannya.[87]
·
Demikian pula menurut kondisi tempat:
Beda di antara tempat-tempat yang banyak bid’ah padanya, sebagaimana banyak
Qadariyah di Bashrah, peramal di Khurasan, Syi’ah di Kufah dan di antara yang
tidak ada yang demikian itu.[88]
Dan ini menurut yang difatwakan imam Ahmad dan yang lainnya, dibangun atas
dasar ini: menjaga mashlahat syar’iyah. ‘Dan berbeda menurut perbedaan
orang yang menghajr dalam kekuatan dan kelemahan mereka, sedikit dan banyaknya
mereka.[89]
Apabila mayoritas dan yang nampak bagi Ahlus Sunnah niscaya disyari’atkan
hajr terhadap ahli bid’ah berdiri menurut asalnya. Dan jika kekuatan dan
mayoritas bagi ahli bid’ah –tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan
Allah subhanahu wa ta’ala- maka ahli bid’ah dan yang lain tidak akan
tersadar dengan tindakan hajr dan tidak bisa diperoleh tujuan syar’i, niscaya
tidak disyari’atkan hajr dan yang terbaik adalah cara pendekatan karena
khawatir bertambah keburukan.
Dan ini seperti kondisi yang disyari’atkan bersama musuh: terkadang
berperang, terkadang berdamai, dan terkadang diambil jizyah. Semua itu
tergantung kondisi dan mashlahat.[90]
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: ‘Adapun
menghajr mereka maka ini menjadi keharusan terhadap bid’ah. Apabila bid’ah itu
menyebabkan kafir wajiblah menghajr. Apabila kurang dari itu, maka sesungguhnya
kita tawaqquf (berhenti) dari menghajrnya, jika dalam menghajrnya adalah
mashlahat maka kita melakukannya dan jika tidak ada mashlahat padanya niscaya
kita menjauhinya. Hal itu dikarenakan bahwa pada dasarnya haram menghajr orang
yang beriman, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «
لَايَحِلُّ لِرَجُلٍ مُؤْمِنٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ » [ أخرجه البخاري ومسلم ]
Maka setiap orang beriman, sekalipun ia fasik, haram menghajrnya selama
tidak ada mashlahat dalam menghajrnya. Jika ada mashlahat dalam menghajrnya
kita menghajrnya, karena hajr dalam kondisi itu menjadi obat. Adapun bila tidak
ada mashlahat padanya atau bertambah maksiat dan pembangkangan padanya, maka
sesungguhnya yang tidak ada mashlahat padanya maka meninggalkannya adalah
mashlahat.[92]
Di masa sekarang, fitnah sangat besar dan bid’ah tersebar luas. Ahli bid’ah
merupakan simbol di sebagian negara...mereka meninggikan bid’ah mereka dan
mempublikasikannya.
Dan di sebagian negara, jika sunnah lemah nampaklah bid’ah dan jika sunnah
kuat niscaya bid’ah mengerucut. Dan tidak samar terhadap orang yang melihat lagi
mengetahui sumber pengambilan mazhab mereka yaitu mereka mengarang buku-buku
propaganda untuk mazhab mereka, sehingga mempengaruhi akidah orang-orang yang
jahil. Sebagaimana diberikan banyak kesempatan terhadap mereka untuk memasukkan
bid’ah-bid’ah mereka di setiap rumah lewat stasiun televisi dan majalah serta
lewat setiap cara yang bisa mereka lakukan.
Realita pada hari ini menjadi saksi terhadap apa yang kami katakan! Apakah
perkaranya dibiarkan dan seolah-olah sesuatu yang tidak pernah terjadi? Ataukah
dakwah kepada kebenaran dan sunnah merupakan suatu keharusan, semua menurut
kadarnya. Kebutuhan yang sangat terhadap amar ma’ruf dan nahi munkar,
meluruskan akidah, dan melakukan segala upaya untuk menghalangi kebatilan dan
pelakunya?!!
Berdialog
dengan ahli bid’ah[93]:
Dekat dari masalah mendiamkan
adalah masalah berdialog dengan orang-orang yang menyimpang (ahli bid’ah) dan
berdebat dengan mereka:
Sesungguhnya berdialog dengan
ahli batil (ahli bid’ah) dan menjelaskan syubhat mereka mendapat pujian dan dorongan
dari Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya, sebagaimana firman-Nya:
﴿ اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ
الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ﴾ [النحل: 125]
Serulah
(manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. (QS. an-Nahl:125)
Dan Allah
subhanahu wa ta’ala memberi karunia kepada nabi Ibrahim ‘alaihissalam
dengan memberikan kemampuan berhujjah kepadanya, sebagaimana firman-Nya:
﴿
وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيْنَاهَآ إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ
دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَآءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ {83} ﴾ [الأنعام: 83]
Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi
kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat.
Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. al-An’aam:83)
Allah subhanahu
wa ta’ala menceritakan beberapa dialog di antara ahli haq dan ahli batil.
Di antaranya, dialog Ibrahim ‘alaihissalam kepada kaumnya sebagaimana
dalam surah al-An’aam, dialog Musa ‘alaihissalam dengan Fir’aun sebagaimana
dalam surah asy-Syu’ara dan yang lainnya.
Dan diriwayatkan dari salaf tentang bolehnya dialog dan debat di saat-saat
tertentu. Banyak kalangan salaf yang berkata: ‘Dialoglah dengan kaum Qadariyah
dengan ilmu, jika mereka mengakui dengannya berarti mereka kalah dan jika
mereka mengingkari berarti mereka kafir.’[94]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ‘Di antara yang
sudah diketahui secara mutawatir bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu
bersikap wala` kepada selain Syi’ah melebihi sikap wala`nya terhadap Syi’ah,
sehingga terhadap kaum Khawarij, ia duduk bersama mereka, memberi fatwa dan
berdialog dengan mereka.[95]
Dan sebaliknya juga diriwayatkan celaan berdebat dan bertengkar dalam
masalah agama. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
﴿ مَايُجَادِلُ فِي ءَايَاتِ اللهِ إِلاَّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَلاَ
يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلاَدِ {4} ﴾ [غافر: 4]
Tidak ada yang
memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir.Karena
itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang
lain memperdayakan kamu. (QS. Ghafir:4)
Dan
firman-Nya:
﴿وَيَعْلَمَ
الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي ءَايَاتِنَا مَالَهُم مِّن مَّحِيصٍ 35 ﴾ [الشورى: 35]
Dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat (kekuasaan) Kami mengetahui
bahwa mereka sekali-kali tidak akan memperoleh jalan ke luar (dari siksaan). (QS. asy-Syura’:35)
Dan banyak pula dalil-dalil dari sunnah, di antaranya: sabda Nabi shallallahu
‘alahi wa sallam dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللّهِ الْأَلَدُّ الْخَصمُ » [أخرجه البخاري ومسلم]
“Laki-laki yang paling dibenci Allah subhanahu wa ta’ala adalah yang sangat
memusuhi lagi suka berdebat.”[96]
An-Nawawi rahimahullah berkata: ‘al-Aladd, yaitu sangat
memusuhi. Diambil dari ladiday wady, yaitu dua sisinya, karena setiap
kali didebat atasnya dengan hujjah ia mengambil dari sisi yang lain. Adapun khashm,
yaitu yang suka bermusuhan. Dan yang dicela adalah permusuhan dengan cara batil
dalam mengangkat hak atau menetapkan kebatilan. Wallahu A’lam.[97]
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu
‘alahi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَاضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا
عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ » [
أخرجه الترمذي وابن ماجه ]
‘Tidak tersesat satu kaum setelah
mendapat petunjuk yang mereka berada di atasnya kecuali mereka suka berdebat,’
kemudian beliau membaca:
﴿
مَاضَرَبُوهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً ﴾ [الزخرف: 58]
Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud
membantah saja,. (QS. az-Zukhruf:58)[98]
Dan diriwayatkan pula dari salaf
yang menunjukkan celaan berdebat dan bertengkar dalam agama.
Abdurrahman bin Mahdy rahimahullah
berkata: ‘Aku mendapatkan manusia, sedangkan mereka berada di atas jumlah,
maksudnya tidak banyak berbicara dan tidak bermusuhan (dalam agama).’[99]
Abdurrahman bin Abu Zinad rahimahullah
berkata: ‘Aku bertemu orang-orang yang utama dan ahli fiqih dari manusia
terpilih; mereka mencela orang yang suka berdebat dan mengambil pendapat
sendiri, melarang kami bertemu dan duduk bersama mereka, serta memperingatkan
kami dari mendekati mereka.[100]
Imam Ahmad rahimahullah
berkata: ‘Dasar-dasar sunnah di sisi kami adalah berpegang teguh dengan sesuatu
yang diperpegangi oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam
dan mengikuti mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat,
meninggalkan perdebatan dan duduk bersama pengikut hawa nafsu, dan meninggalkan
perdebatan dan permusuhan dalam agama.’[101]
Imam al-Baghawi rahimahullah
berkata: ‘Para ulama salaf dari Ahlus Sunnah sepakat melarang perdebatan dan
permusuhan dalam masalah sifat (Allah subhanahu wa ta’ala), dan mencela
mendalami ilmu kalam dan mempelajarinya.’[102]
Akan tetapi semua ini, maksudnya
pujian dan celaan, tidak kembali kepada perdebatan dan dialog itu sendiri, dan
sesungguhnya ia kembali kepada merealisasikan tujuan-tujuan dialog, syarat-syarat
dan adab-adabnya.
Pertama: Tujuan
syar’i untuk berdialog dengan ahli bid’ah dan berdebat dengan mereka:
1.
Berdakwah kepada ahli bid’ah dan menyampaikan kebenaran
kepada mereka, serta menyadarkan mereka dari berbagai macam bid’ah yang ada
pada mereka.
2.
Membela agama dan membersihkannya dari kesamaran yang
dilakukan ahli bid’ah dan sesuatu yang mereka susupkan dengannya nash-nashnya berupa
penyimpangan dan takwil.
3.
Menjaga kalangan awam agar jangan terjerumus dalam
berbagai macam bid’ah, membentengi mereka dari syubhat-syubhat dan
menjelaskannya serta menjelaskan bantahan terhadapnya.
4.
Mempermalukan ahli bid’ah dan membuka kebatilan mereka
agar tidak samar terhadap manusia.
5.
Mengumpulkan manusia di atas satu kalimat, karena kaum
muslimin diperintahkan agar berpegang teguh dengan tali (agama) Allah subhanahu
wa ta’ala, dan tidak mungkin berkumpulnya mereka di atas selainnya. Maka di
dalam menjelaskan kepalsuan bid’ah merupakan kemajuan untuk merealisasikan
tujuan syari’i yang agung ini.
Dan di
atas tujuan-tujuan syar’i ini terbangunlah hukum atas berdialog dan berdebat.
Maka kapan saja terdapat tujuan-tujuan ini dan terealisasi berarti dialog ini
adalah syari’ yang terpuji, dan kapan saja tidak didapatkan tujuan-tujuan ini
dan tidak terealisasi berarti dialog tersebut adalah tercela.
Karena
alasan itu para ulama meletakkan beberapa catatan yang membedakan dialog yang
terpuji dari yang tercela, yaitu yang akan dibicarakan berikut ini:
Kedua: Kriteria-kriteria
dialog:
1.
Ilmu: orang yang berdialog dan berdebat dengan ahli
bid’ah harus mempunyai ilmu. Allah subhanahu wa ta’ala mencela
perdebatan tanpa berdasarkan ilmu, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
قال الله
تعالي: ﴿ وَمِنَ
النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَانٍ
مَّرِيدٍ {3}﴾[الحج: 3]
Di antara
manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti
setiap syaitan yang jahat, (QS. al-Hajj:3)
Dan
firman-Nya:
قال الله تعالي: ﴿ هَاأَنتُمْ
هَاؤُلآءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُم بِهِ عِلْمُُ فَلِمَ تُحَآجُّونَ فِيمَا
لَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمُُ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ {66} ﴾[آل عمران: 66]
Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang
kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu
ketahui; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Ali Imran:66)
Asy-Syathiby
rahimahullah menyebutkan dari Abu Farukh rahimahullah, bahwa ia
menulis kepada Malik bin Anas rahimahullah: Sesungguhnya di kota kami
banyak bid’ah dan sesungguhnya dia mengarang untuk mereka perkataan sebagai
bantahan terhadap mereka. Maka Malik rahimahullah menulis kepadanya:
‘Jika engkau mengira hal itu dengan dirimu sendiri, saya khawatir engkau
tergelincir maka engkau binasa. Tidak bisa/boleh membantah mereka kecuali
seseorang yang dhabith lagi mengenal sesuatu yang dia katakan kepada
mereka, yang mereka tidak mampu membengkokkan atasnya, maka ini tidak mengapa.
Adapun selain yang demikian itu, maka sesungguhnya saya khawatir bahwa ia
berbicara kepada mereka lalu keliru maka mereka meneruskan kesalahannya, atau
mereka mendapat peluang dengan sesuatu darinya, maka mereka menjadi zhalim dan
bertambah ingkar atas hal itu.’[103]
2.
Bahwa tidak melakukan dialog kecuali orang yang
berkeinginan memberi petunjuk dan manfaat kepadanya.
Ibnu ‘Aun
rahimahullah berkata: ‘Aku mendengar Muhammad bin Sirin rahimahullah
melarang berdebat kecuali kepada seseorang yang jika engkau berbicara dengannya
engkau ingin dia kembali (ke jalan sunnah).[104]
Namun, sesungguhnya harus dijaga dalam hal ini beberapa kondisi yang menuntut
dialog, sekalipun tidak bisa diharapkan kembalinya orang yang menyimpang ini.
Dan ini seperti diminta berdialog di hadapan orang banyak, sebagaimana sekarang
terjadi di layar-layar kaca dan internet, dan bila tidak mengikuti debat
berarti kehinaan terhadap sunnah dan nampaknya bid’ah. Dan bisa jadi tidak
melakukan dialog bisa membawa terperdayanya manusia dengannya, dan mereka
mengira bahwa ia berada di atas kebenaran, dan sesungguhnya orang yang tidak
melakukan dialog dengannya berada di atas kebatilan.
Dan termasuk yang itu adalah
yang terjadi di masa imam Abu Bakar Ahmad bin Ibrahim al-Isma’ily al-Hafizh,
ketika seorang Isma’ily al-Bathiniyah berdiri dan berdialog kepada Amir
Wasymakiir, maka Amir menyuruh al-Hafizh Abu Bakar rahimahullah untuk
melakukan dialog. Dan hal itu di hadapan publik, maka al-Hafizh
berdialog/berdebat dengannya dan mengalahkannya.[105]
Imam Ahmad rahimahullah
berkata: ‘Sungguh kami menyuruh diam, maka tatkala kami dipanggil kepada suatu
perkara yang kami tidak ada pilihan lain selain menolak hal itu dan menjelaskan
perkaranya yang membantah apa yang mereka katakan. Kemudian ia berdalil untuk
hal itu dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
﴿
وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ ﴾ [النحل: 125]
dan
bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. (QS. an-Nahl:125)
Imam Ibnu Baththah rahimahullah[106]
ditanya tentang seorang penanya yang bertanya kepada seorang ulama tentang
masalah hawa nafsu yang terjadi/muncul yang dia meminta jawaban, apakah ia
menjawabnya atau tidak? Maka beliau rahimahullah membagi orang-orang
yang bertanya kepada tiga bagian, yang terkait dengan kita dari mereka di sini
adalah bagian kedua yang dia katakan: ‘Dan laki-laki lain yang hadir di satu
majelis yang engkau hadir padanya, engkau merasa aman padanya terhadap dirimu,
banyak orang-orang yang menolong dan membantumu. Lalu ia berbicara padanya
dengan ucapan yang mengandung fitnah dan merupakan bala (cobaan) terhadap hati
orang-orang yang mendengarkannya untuk mencampakkan keraguan di hati, karena ia
termasuk orang yang di hatinya ada kecenderungan (kepada kesesatan), ia
mengikuti yang samar karena mencari fitnah dan bid’ah. Dan hadir bersamamu dari
saudara-saudaramu dan pengikut mazhabmu orang yang mendengar ucapannya, namun
mereka tidak mempunyai hujjah (dalil) untuk menghadapi dan mereka tidak
mempunyai latar belakang pengetahuan tentang keburukan apa yang dibawanya. Jika
ia mendiamkannya niscaya tidak aman dari fitnahnya yaitu merusak hati para
pendengarnya dan memasukkan keraguan terhadap orang-orang yang punya pikiran.
Maka ini termasuk yang engkau harus menolak bid’ahnya dan kekotoran ucapannya,
dan engkau mempublikasikan ilmu dan hikmah yang Allah subhanahu wa ta’ala
mengajarkan kepadamu, dan janganlah tujuanmu dalam pembicaraan itu untuk
memusuhi dan berdebat dengannya. Dan hendaklah tujuanmu dengan ucapannya untuk
melepaskan saudara-saudaramu dari jaringannya. Maka sesungguhnya orang-orang mulhid
(atheis) yang busuk membuka jaringan-jaringan syetan untuk menjaring
orang-orang beriman. Maka hendaklah majunya engkau dengan ucapanmu, menyebarkan
ilmu dan hikmahmu, berserinya wajahmu, dan kefasihan tutur katamu ditujukan
terhadap saudara-sudaramu dan orang yang hadir bersamamu, bukan untuknya (orang
bid’ah). Sehingga mereka terputus darinya dan engkau menghalangi di antara
mereka dan di antara mendengarkan ucapannya. Bahkan jika engkau mampu memotong
ucapannya dengan cara yang hikmah yang bisa memalingkan muka manusia darinya
maka lakukannya.[107]
3.
Hendaklah ia menggunakan metode/cara yang sesuai dan
berhati-hati dari dampak dialog yang bisa membawa ahli bid’ah makin terjerumus
dalam bid’ahnya.
4.
Bahwa tujuan dialog itu adalah mencapai kepada kebenaran
dan menjelaskannya disertai ikhlas kepada Allah subhanahu wa ta’ala
padanya, hendaklah ia menjauhi tujuan-tujuan yang buruk. Dan di antara tujuan
buruk adalah: berdialog dengan tujuan mengekang kebenaran dan menolaknya,
sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:
﴿ وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهَ الْحَقَّ ﴾ [غافر: 5]
dan mereka
membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang
batil itu; (QS. Ghafir:5)
Dan di antaranya (tujuan yang buruk): bahwa tujuannya hanya semata-mata
berdialog dan keingkaran, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala
mengabarkan tentang orang-orang kafir Quraisy dalam firman-Nya:
﴿وَلَمَّا
ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلاً إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ {57} وَقَالُوا
ءَأَلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ مَاضَرَبُوهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً بَلْ هُمْ
قَوْمٌ خَصِمُونَ {58} ﴾ [الزخرف: 57-58]
Dan tatkala putera Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu
(Quraisy) bersorak karenanya. * Dan mereka berkata:"Manakah yang lebih
baik ilah-ilah kami atau dia (Isa)" Mereka tidak memberikan perumpamaan
itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah
kaum yang suka bertengkar. (QS. Zukhruf:57-58)
Dan di
antara tujuan perdebatan yang tercela pula:
bahwa tujuannya adalah menampakkan ilmu, kecerdasan dan kejeniusan serta
kekuatan hujjah karena riya terhadap manusia dan mencari dunia. Maka semua
tujuan ini adalah merusak pahala berdialog, batal pahalanya, sekalipun ia
berada dalam kebenaran, karena ia tidak bertujuan karena Allah subhanahu wa
ta’ala, dan sesungguhnya ia menghendaki bagian hawa nafsu.[108]
5.
Bahwa janganlah dialog ini menjadi penyebab nampaknya
orang-orang menyimpang dan menjadi pembuka pintu bagi mereka menjadi lebih
berani terhadap sunnah dan ahlus sunnah.
Imam al-Lalika`i rahimahullah berkata menjelaskan dampak berdebatan
bersama orang-orang yang menyimpang berupa tindakah kriminal terhadap kaum
muslimin, membandingkan di antara kondisi orang-orang yang menyimpang di masa
salaf yang pertama dan kondisi mereka berupa kehinaan dan kenistaan, dan di
antara kondisi mereka setelah dibukanya pintu dialog bersama mereka menurut
pendapat sebagian ulama mutaakhirin (ulama belakangan) dan hasil yang
mereka dapatkan dari hal itu berupa pujian dan kedudukan, sehingga mereka
menjadi tandingan bagi Ahlus Sunnah dalam pandangan awam, ia rahimahullah
berkata: ‘Tidak ada satu tindakan kriminal (kejahatan) terhadap kaum muslimin yang
lebih besar dari dialog dengan ahli bid’ah, dan tidak ada kehinaan dan
kenistaan bagi mereka yang lebih besar dari pada perlakuan salaf meninggalkan
mereka dalam kondisi itu. Mereka mati dalam kondisi marah dan terhina, mereka
tidak mendapatkan jalan untuk menyebarkan bid’ah mereka. Sehingga datang orang
yang terperdaya lalu membuka jalan untuk mereka, maka jadilah mereka sebagai
penunjuk jalan kepada kehancuran Islam. Sehingga banyak pertengkaran di antara
mereka. Nampak dakwah mereka dengan dialog, dan mengetuk pendengaran orang yang
tidak mengenalnya dari kalangan khusus dan umum. Sehingga berhadapan
syubhat-syubat dalam hujjah dan sampailah mereka dari keterperincian dalam
ketegaran. Maka jadilah mereka sebagai teman dan kawan dan di atas mudahanah
menjadi saudara. Setelah sebelumnya mereka adalah musuh dan lawan karena Allah subhanahu
wa ta’ala. Mereka (salaf) mengkafirkan mereka (orang-orang yang menyimpang)
secara terbuka dan mengutuk mereka secara terang-terangan. Sangat jauh di
antara dua kedudukan dan sangat jauh di antara dua maqam.[109]
[5] Diriwayatkan oleh al-Qadha’iy dalam Musnad Syihab
2/44 dan ad-Dailamy dalam Musnad Firdaus 7994.
[11] Abdurrahman bin Yahya bin Ali bin bin Muhammad
al-Mu’allimy al-‘Atamy, faqih, muhaddits, wafat di Makkah tahun 1386 H.
[13] Maksudnya pada zaman sahabat, orang yang berbicara para
Utsman, Zubair, Thalhah, Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhum, mereka menganggapnya
sebagai syi’ah yang ghuluw.
[51] Al-Bukhari 6/2482, 6374
dan Muslim 2/2053, 2665.
[93] Artikel yang ditulis guru kami Sayyid Hasan Ali al-Baar
di majalah al-Bayan edisi 191 dengan judul ‘Berdialog dengan ahli bid’ah.’
[96] Al-Bukhari (2/867) (4/1644)
(6/2628) (2325) (4251) (6765) dan Muslim 4/2054 (2668).
[98] At-Tirmidzi 5/378, Ibnu Majah 1/19 (48) dan dihasankan
oleh al-Albany dalam Shahih at-Targhib 1/33.
[106] Ubaidullah bin Muhammad bin Muhammad Abu Abdillah al
Akbary, dikenal dengan nama Ibnu Baththah, muhaddits, faqih dari ulama besar
mazhab Hanbaly. Dilahirkan di ‘Akbara dan wafat di sana tahun 387 H. Mengarang
banyak kitab, yang terpenting ‘Ibanah ‘an Ushul Diyanah’.
Post a Comment