Senin, 19 Agustus 2013

Hakikat Syafa'at


Hakikat Syafa'at
Segala puji hanya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada RasulAllah Shubhanahu wa ta’alla ShalAllah Shubhanahu wa ta’allau ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta’ala semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad ShalAllah Shubhanahu wa ta’allau’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba'du.
Termasuk aqidah yang diyakini oleh Ahlu Sunah wal Jama'ah ialah mengimani adanya syafa'at. Adapun syafa'at tersebut bisa diklasifikasi menjadi dua:
Pertama                 : Syafa'at yang batil, tidak benar.
Kedua                     : Syafa'at yang dibenar.

Syafa'at yang batil, tidak benar:
Yaitu suatu benda yang biasa digantungkan oleh kaum musyrikin pada leher patung serta berhala yang biasa mereka sembah dan mengklaim bahwasannya patung-patung tersebut sebagai syafa'at mereka disisi Allah Shubhanahu wa ta’alla tabaraka wa ta'ala. Hal itu sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam firman -Nya:

﴿ وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ ١٨ ﴾ [ يونس : 18]
"Dan mereka menyembah selain daripada Allah Shubhanahu wa ta’alla apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah Shubhanahu wa ta’alla".  (QS Yunus: 18).

Dan pernyataan batil mereka yang diabadikan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla Shubhanahu wa t’alla dalam firman -Nya:

﴿ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ ٣ ﴾ [  الزمر :3]
"(Kaum musyrikin berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan sedekat- dekatnya".  (QS az-Zumar: 3).

Namun, syafa'at yang seperti ini adalah bathil tidak berfaidah sedikitpun, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla azza wa jalla dalam firman -Nya:

﴿ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ٤٨ ﴾ [ المدثر : 48]
"Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at".  (QS al-Muddatstsir: 48).

Syafa'at yang dibenarkan:
Ialah syafa'at yang terpenuhi didalamnya tiga syarat, yaitu:
1.         Ridho Allah Shubhanahu wa ta’alla Shubhanahu wa ta’alla terhadap orang yang memberi syafa'at.
2.         Radhonya Allah Shubhanahu wa ta’alla Shubhanahu wa ta’alla bagi orang yang akan diberi syafa'at. Namun, pada saat terjadi syafa'at 'udhma (syafa'at bagi seluruh orang) kelak dimauqif (tempat berkumpulnya seluruh manusia). Maka syafa'at jenis ini total bagi semua orang baik yang diridhoi oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla maupun tidak diridhoi.
3.         Dan mendapat izinnya Allah Shubhanahu wa ta’alla Shubhanahu wa ta’alla didalam memberi syafa'at. Sedangkan izin ini tidak mungkin diperoleh melainkan setelah terpenuhi dua syarat diatas, ridho Allah Shubhanahu wa ta’alla terhadap orang yang memberi syafa'at dan yang akan dikasih syafa'at. Hal itu berdasarkan nash-nash yang terkandung dalam al-Qur'an dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla ta'ala berfirman:
﴿ وَكَم مِّن مَّلَكٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ لَا تُغۡنِي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡ‍ًٔا إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ أَن يَأۡذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرۡضَىٰٓ ٢٦ ﴾ [ النجم : 26]
"Dan berapa banyaknya Malaikat di langit, syafa'at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah Shubhanahu wa ta’alla mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya)".  (QS an-Najm: 26).

Didalam ayat ini, Allah Shubhanahu wa ta’alla ta'ala tidak mencantumkan bagi orang yang akan memberi syafa'at dan yang akan diberi syafa'at supaya kandungan ayat ini cakupannya lebih luas.
Dalil yang lain, sebuah firman Allah Shubhanahu wa ta’alla ta'ala yang dengan tegas menjelaskan ketiga syarat diatas, yaitu:

﴿ يَوۡمَئِذٖ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنۡ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُۥ قَوۡلٗا ١٠٩  ﴾ [طه : 109]
"Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya". (QS Thahaa: 109).
Dan firman -Nya:

﴿ وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ ٢٨ ﴾ [ الأنبياء : 28] 
"Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah Shubhanahu wa ta’alla".  (QS al-Anbiyaa': 28).

Pada ayat-ayat diatas tadi menjelaskan kepada kita bahwa pada ayat yang pertama terkandung ketiga syarat tersebut, sedangkan pada ayat kedua terkandung dua syarat, dan pada ayat terakhir terkandung satu syarat.

Syafa'at yang dimiliki oleh Nabi Muhammad ShalAllah Shubhanahu wa ta’allau 'alaihi wa allam, dan itu sangat banyak, diantaranya:
Pertama: Syafa'atnya beliau bagi ahli mauqif (orang-orang yang sedang berada dipadang mahsyar) sampai akhirnya mereka diputuskan perkaranya oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla azza wa jalla setelah sebelumnya para Nabi menolak untuk meminta syafa'at kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, mulai dari Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa bin Maryam 'alaihimu shalatu wa sallam, hingga akhirnya sampai kepada beliau.
Inilah yang dinamakan dengan syafa'at kubra, yang tidak mungkin didapat melainkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan inilah syafa'at terbesar, karena dengan syafa'at tersebut manusia bisa istirahat dari kesusahan yang sangat besar dan berat disaat menunggu keputusan Allah Shubhanahu wa ta’alla di mauqif.

Kedua: Syafa'at beliau bagi penduduk surga untuk bisa memasukinya, hal itu terjadi, karena penduduk surga manakala menyeberangi jembatan dan berhenti di qantharah (tempat setelah shirat).  Mereka masing-masing di adili atas perbuatan dhalim yang pernah dilakukan satu sama lainnya. Akan tetapi, tatkala telah selesai dan mereka mendatangi surga ternyata pintunya masih terkunci, sehingga mereka meminta syafa'at kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam supaya mereka bisa masuk kedalamnya.
Di riwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Hudzaifah dan Abu Hurairah radhiallahu 'anhuma, keduanya mengatakan: 'Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَجْمَعُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى النَّاسَ فَيَقُومُ الْمُؤْمِنُونَ حَتَّى تُزْلَفَ لَهُمُ الْجَنَّةُ فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ يَا أَبَانَا اسْتَفْتِحْ لَنَا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُ وَهَلْ أَخْرَجَكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ إِلاَّ خَطِيئَةُ أَبِيكُمْ آدَمَ لَسْتُ بِصَاحِبِ ذَلِكَ. وفي آخر الحديث قال: فَيَأْتُونَ مُحَمَّدًا -صلى الله عليه وسلم- فَيَقُومُ فَيُؤْذَنُ لَهُ » [أخرجه مسلم]
"Kelak Allah Shubhanahu wa ta’alla tabaraka wa ta'ala akan mengumpulkan manusia, lalu orang-orang yang beriman berdiri dan mendekati surga, (namun masih terkunci) kemudian mereka mendatangi  Adam dan mengatakan: 'Duhai bapak kami, mintalah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla supaya dibuka surga untuk kami'. Beliau menjawab: 'Bukankah kalian dikeluarkan dari surga melainkan karena sebab kesalahan bapakmu, aku tidak layak untuk itu'. Maka pada akhir hadits yang panjang ini dijelaskan: "Lantas mereka mendatangi Muhammad, lalu beliau berdiri meminta syafa'at dan di izinkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla".  HR Muslim no: 195.

Ketiga: Dan syafa'at yang ini adalah kekhususan untuk Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa  sallam yaitu syafa'at yang beliau berikan kepada pamannya Abu Thalib, dimana beliau meminta syafa'at untuk pamannya supaya diringankan dari adzabnya.
Dan hal sebagaimana datang sebuah penjelasan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari al-Abas bin Abdul Muthalin radhiyallah 'anhu, bahwasannya dia berkata kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa  sallam: 'Apa yang engkau berikan kepada pamanmu, sesungguhnya dia pernah melindungi dan membelamu? Maka beliau menjawab:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ وَلَوْلَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الْأَسْفَلِ مِنْ النَّارِ » [أخرجه البخاري و مسلم]
"Dia berada dineraka dengan siksa air yang mendidih, kalaulah bukan karena (permintaanku) tentu dia sekarang berada didasar api neraka". HR Bukhari no: 3883. Muslim no: 209.

Keempat:  Syafa'at beliau terhadap orang-orang yang sudah dicap sebagai penghuni neraka supaya tidak jadi masuk, dan jenis syafa'at yang satu ini diberikan kepada beliau dan seluruh Nabi, shidiqin dan orang-orang beriman.
Sebagian para ulama mengatakan: "Kesimpulan ini diambil dari do'anya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bagi kaum mukminin dengan ampunan dan rahmat atas jenazah mereka, maka hal tersebut mengharuskan mereka tidak jadi masuk ke dalam neraka, seperti apa yang diucapkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa  sallam dalam do'anya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَبِى سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِى الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِى عَقِبِهِ فِى الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِى قَبْرِهِ. وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ » [ أخرجه مسلم]
"Ya Allah, ampuni Abu Salamah, angkatlah derajatnya bersama mereka yang mendapat petunjuk. Dan ciptakanlah pengganti dirinya bagi orang-orang yang ditinggalkannya. Ampunilah dosa kami dan dosa-dosanya, wahai Rabb sekalian makhluk. Luaskanlah kuburnya  dan berilah cahaya kepadanya dalam kuburnya". HR Muslim no: 920.

Kelima: Syafa'at yang beliau berikan kepada orang-orang yang sudah masuk ke neraka supaya dikeluarkan darinya. Adapun syafa'at ini juga berlaku untuk dirinya dan seluruh Nabi, shidiqin dan selain mereka. Berdasarkan hadits-hadits mutwatir dalam masalah ini. salah satunya ialah hadits yang di riwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhum, dia menceritakan: 'Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَتَانِي آتٍ مِنْ عِنْدِ رَبِّي فَخَيَّرَنِي بَيْنَ أَنْ يُدْخِلَ نِصْفَ أُمَّتِي الْجَنَّةَ وَبَيْنَ الشَّفَاعَةِ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ وَهِيَ لِمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا » [ أخرجه الترمذي]
"Ada seorang malaikat utusan Allah Shubhanahu wa ta’alla yang mendatangiku, lalu memberi pilihan kepadaku antara dijadikan setengah dari umatku sebagai penduduk surga atau memilih syafa'at. Maka aku memilih syafa'at, yang akan aku berikan kepada orang-orang yang mati dengan tidak menyekutukan Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan sesuatu apapun". HR at-Tirmidzi no: 2441. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih Sunan at-Tirmidzi 2/295 no: 1986.[1]

Keenam: Syafa'at yang beliau berikan kepada kaum yang amalan kebajikan dan kejelekannya seimbang, maka beliau beri mereka syafa'at agar dimasukan kedalam surga.[2]

Ketujuh: Syafa'at yang beliau berikan supaya penduduk surga diangkat derajatnya sesuai dengan kadar dan tingkat amal kebajikannya ketika didunia.

Kedelapan: Syafa'at terhadap golongan dari kalangan umatnya, agar mereka masuk surga tanpa hisab dan adzab, dan mereka sebanyak tujuh puluh ribu.
Kemudian ada golongan dari orang-orang yang Allah Shubhanahu wa ta’alla keluarkan dari neraka tanpa syafa'at namun karena rahmat dan kasih saying -Nya. Sehingga tidak tersisa dineraka melainkan memang penduduk aslinya yang kekal menjadi penghuninya.
Disebutkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallah 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa  sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَفَعَتِ الْمَلاَئِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَلَمْ يَبْقَ إِلاَّ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ فَيُخْرِجُ مِنْهَا قَوْمًا لَمْ يَعْمَلُوا خَيْرًا قَطُّ قَدْ عَادُوا حُمَمًا فَيُلْقِيهِمْ فِى نَهْرٍ فِى أَفْوَاهِ الْجَنَّةِ يُقَالُ لَهُ نَهْرُ الْحَيَاةِ فَيَخْرُجُونَ كَمَا تَخْرُجُ الْحِبَّةُ فِى حَمِيلِ السَّيْلِ أَلاَ تَرَوْنَهَا تَكُونُ إِلَى الْحَجَرِ أَوْ إِلَى الشَّجَرِ مَا يَكُونُ إِلَى الشَّمْسِ أُصَيْفِرُ وَأُخَيْضِرُ وَمَا يَكُونُ مِنْهَا إِلَى الظِّلِّ يَكُونُ أَبْيَضَ ». فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّكَ كُنْتَ تَرْعَى بِالْبَادِيَةِ قَالَ « فَيَخْرُجُونَ كَاللُّؤْلُؤِ فِى رِقَابِهِمُ الْخَوَاتِمُ يَعْرِفُهُمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ هَؤُلاَءِ عُتَقَاءُ اللَّهِ الَّذِينَ أَدْخَلَهُمُ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ عَمَلٍ عَمِلُوهُ وَلاَ خَيْرٍ قَدَّمُوهُ ثُمَّ يَقُولُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ فَمَا رَأَيْتُمُوهُ فَهُوَ لَكُمْ.
فَيَقُولُونَ رَبَّنَا أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ. فَيَقُولُ لَكُمْ عِنْدِى أَفْضَلُ مِنْ هَذَا فَيَقُولُونَ يَا رَبَّنَا أَىُّ شَىْءٍ أَفْضَلُ مِنْ هَذَا. فَيَقُولُ رِضَاىَ فَلاَ أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا » [ أخرجه البخاري و مسلم]

"Allah azza wa jalla berfirman: 'Para malaikat telah memberi syafa'atnya, para Nabi telah selesai memberi syafa'at, orang-orang beriman usai memberi syafa'atnya, tinggal giliran Dzat yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Maka Allah Shubhanahu wa ta’alla menggenggam satu genggaman dari pendudukan neraka lalu dikeluarkan darinya sekelompk kaum yang tidak pernah beramal kebaikan sedikitpun didunia. Mereka sudah menjadi arang, lalu mereka dilempar ke sebuah sungai ditepi surga, yang bernama sungai kehidupan. Kemudian mereka dikeluarkan darinya bagaikan benih tumbuh yang terbawa banjir. Tidakkah kalian pernah melihat benih apakah ia menjadi batu atau menjadi pohon, dan benih yang tersinari oleh sinar matahari terlihat berwarna kekuning-kuningan dan kehijau-hijauan, dan yang tertutupi dari sinar akan berwarna putih.
Para sahabat menyela: 'Ya Rasulullah, seakan-akan engkau hidup dipedalaman sehingga paham betul'. Lantas beliau melanjutkan: "Setelah itu mereka keluar dari sungai tersebut, mereka bagaikan permata dan dileher-leher mereka ada setempelnya yang dikenali oleh penduduk surga kalau mereka adalah orang-orang yang telah dibebaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dari api neraka dan dimasukkan kedalam surga tanpa amalan yang mereka kerjakan, tidak pula kebajikan yang mereka persembahkan.
Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla berkata pada mereka: "Masuklah kalian kedalam surga, engkau akan mendapati kenikmatan yang tidak pernah kalian lihat sebelumnya". mereka menjawab: " wahai Rabb kami, Engkau telah menganugerahi kami sesuatu yang belum pernah diberikan pada seorangpun dari makhluk -Mu. Lalu Allah Shubhanahu wa ta’alla ta'ala berfirman: "Ada (satu lagi) yang lebih baik dari itu semua itu untuk kalian". Merekapun penasaran: 'Wahai Rabb kami, mana lagi yang lebih baik dari ini semua? Allah azza wa jalla menjawab: "Ridho -Ku, Aku tidak akan murka lagi kepada kalian selama-lamanya".  HR Bukhari no: 4581. Muslim no: 183.

Akhirnya kita ucapkan segala puji hanya milik Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shubhanhu  wa ta’alla, keluarga beliau serta para sahabatnya.


 





[1] . Lihat Syarh Aqidah Wasithiyah oleh Syaikh Muhammad bin sholeh al-Utsaimin 2/168-179.
[2] . Mulai dari pembahasan ini penulis meringkas dari kitab syarh aqidah wasithiyah karya Ibnu Abil Izzi. 
Poskan Komentar