Rabu, 21 Mei 2014

Barang Siapa yang Tidak Menyukai Memberi Salam kepada Orang-orang yang Khusus (Istimewa)

 Barang Siapa yang Tidak Menyukai Memberi Salam kepada Orang-orang yang Khusus (Istimewa) 

801/1049. Dari Thariq1 berkata,
كنا عند عبد الله جلوسا فجاء آذنه [فقال:] قد قامت الصلاة فقام وقمنا معه فدخلنا المسجد فرأى الناس ركوعا في مقدم المسجد فكبر وركع ومشينا وفعلنا مثل ما فعل فمر رجل مسرع فقال عليكم السلام يا أبا عبد الرحمن فقال صدق الله وبلغ رسوله فلما صلينا رجع فولج على أهله وجلسنا في مكاننا ننتظره حتى يخرج فقال بعضنا لبعض أيكم يسأله قال طارق أنا أسأله فسأله فقال عن النبي صلى الله عليه وسلم قال بين يدي الساعة تسليم الخاصة وفشو التجارة حتى تعين المرأة زوجها على التجارة وقطع الأرحام وفشو العلم وظهور الشهادة بالزور وكتمان شهادة الحق

"Kami duduk bersama Abdullah, lalu datang seorang muadzdzin (kemudian berkata),2 'Shalat sudah didirikan (Iqamat),' lalu ia bangkit dan kami berdiri mengikutinya, lantas kami masuk masjid. Ia melihat orang-orang sedang ruku' di bagian depan, maka ia bertakbir lalu ruku', dan kami melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya.3 Kemudian seseorang yang sedang terburu-buru lewat4 dan berkata, 'Alaikumussalam (bagimu keselamatan) wahai Abu Abdurrahman!' Ia pun menjawab, 'Maha Benar Allah, dan Rasul-Nya pun telah menyampaikan!' Jadi tatkala kami shalat, ia pulang dan kembali kepada keluarganya. Kami duduk menunggunya di tempat kami sehingga dia keluar, kami saling bertanya, 'Siapakah di antara kalian yang akan bertanya kepadanya?' Thariq menjawab, 'Saya yang akan bertanya kepadanya' lalu dia bertanya dan dijawab, 'Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Di antara tanda-tanda hari kiamat, Memberi salam kepada orang-orang tertentu, menjamurnya perniagaan, sampai-sampai seorang istri membantu suaminya dalam berniaga, memutus tali silaturrahim, tersebarnya pena (tulisan),5 munculnya persaksian palsu dan menyembunyikan persaksian yang benar."

Shahih, di dalam kitab Ash-Shahihah (2767), [Tidak tercantum dalam Kutubus-Sittah, lihat Al Musnad, hadits 3870].



___________
1      Dia adalah putra dari Syihab, sebagaimana dalam riwayat Ahmad. Dia adalah Abu Abdullah Al Ahmasyi Al Kufi, ia melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tetapi tidak pernah mendengar dari beliau shallallahu 'alaihi wasallam.

2      Tambahan kata ini dari Musykilul Atsar, ia meriwayatkannya dari Syaikh (guru) penyusun kitab, dan tambahan ini juga dari Musnad.

3      Yakni mereka semuanya ruku', sebagaimana mereka jauh dari shaf. Lalu mereka berjalan hingga bergabung dengan shaf tersebut, untuk mendapatkan imam yang sedang ruku' agar mereka mendapat hitungan rakaat tersebut. Inilah yang diajarkan Sunnah Nabi dan diamalkan ulama salaf, bahwa orang yang mendapatkan ruku' imam, maka iapun mendapatkan hitungan rakaat tersebut. Dalam masalah ini terdapat hadits shahih Aziz yang termaktub dalam As-Shahihah (nomor :1188), dan banyak pula keterangan dari atsar, yang dapat dijumpai dalam Irwa'ul Ghaliil (2/262-264). Tentang sebagian yang terdapat dalam atsar Ibnu Mas'ud ini mengenai berjalan sambil ruku' menuju shaf, juga terdapat hadits yang sharikh (jelas) tentang hal tersebut, yang dulu saya takhrijkan dalam jilid pertama dari As-Shahihah (229). Hal ini merupakan Sunnah yang dimatikan kaum khalaf (kaum yang akhir), maka pengikut salaf (kaum terdahulu) baik kalangan ulama maupun penuntut ilmunya, hendaknya menghidupkan Sunnah kembali.

4      Dalam teks asal Mutabarri ini salah, tidak bermakna, sedang koreksi ini (yaitu dengan lafazh Musri) didapat dari dua sumber yang telah kami sebut.

5      Fusyuwwul Qalam: demikian yang tertera dalam cetakan India dan Taz, berbeda dengan cetakan Jailani yang tertera (Al Ilmi), sedang yang rajih yang pertama, lihat As-Shahihah (2767). Hadits ini termasuk pertanda kenabiannya shallallahu 'alaihi wasallam, karena hal-hal yang terkandung di dalamnya betul-betul terjadi di masa kita, khususnya memasyarakatkannya pena, yaitu tulisan (Fusymowul Qalam).

Poskan Komentar