Minggu, 01 Juni 2014

Kalian Fakir dan Allah Maha Kaya

Kalian Fakir dan Allah Maha Kaya

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia! Kalian adalah fakir kepada Allah. Adapun Allah, maka Dia Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menerangkan: “Kalian fakir kepada Allah” artinya kalian membutuhkan kepada-Nya. “Adapun Allah, maka Dia Maha Kaya” artinya tidak membutuhkan ibadah kalian. “lagi Maha Terpuji” yaitu senantiasa terpuji di hadapan makhluk-Nya karena segala bentuk ihsan/kebaikan yang dicurahkan-Nya untuk mereka (lihat Zaadul Masir, hal. 1160)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menerangkan: Kebutuhan setiap hamba untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun (baca: kebutuhan terhadap tauhid) adalah kebutuhan yang tidak bisa diserupakan dengan sesuatu apapun. Walaupun hal itu bisa saja diserupakan dari sebagian sisi dengan kebutuhan badan terhadap makanan, minuman, dan nafas (udara). Akan tetapi sebenarnya antara kedua hal ini terdapat perbedaan yang sangat banyak. Karena sesungguhnya jati diri seorang hamba tersimpan di dalam hati dan ruhnya. Sementara tidak akan baik hal itu tanpa pertolongan dari [Allah] sesembahannya yang sejati; yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia. Hatinya tidak akan pernah merasa tenang kecuali dengan dzikir kepada-Nya. Tidak merasakan tentram kecuali dengan mengenal dan mencintai-Nya.

Seorang hamba akan terus senantiasa berjuang, karena kelak dia akan berjumpa dengan-Nya. Perjumpaan dengan-Nya adalah sesuatu yang sudah pasti. Tidak akan baik dirinya kecuali dengan mengesakan Allah dalam hal kecintaan, ibadah, rasa takut, dan harapan. Seandainya seorang hamba bisa merasakan kelezatan dan kesenangan dengan bergantung kepada selain-Nya maka hal itu tidak akan terjadi secara terus-menerus. Akan tetapi kesenangan itu akan berpindah dari suatu perkara kepada perkara yang lain, dari seorang individu kepada individu yang lain. Sehingga dia hanya akan bisa merasakan kenikmatan dengan satu individu dalam satu keadaan dan dengan individu lain dalam keadaan yang lainnya. Dan kebanyakan perkara yang memberikan kesenangan untuknya justru merupakan sebab utama berlabuhnya kepedihan (kesusahan) dan bahaya yang akan menimpanya.

Adapun ilah/sesembahannya yang benar (yaitu Allah), maka dirinya pasti senantiasa membutuhkan-Nya; dalam setiap waktu dan keadaan. Dimana pun dia berada, maka iman kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, ibadah kepada-Nya, pengagungan, dan dzikir kepada-Nya adalah konsumsi bagi hati, sumber kekuatan, jalan kebaikan dan penentu kesehatan jiwanya... (lihat adh-Dhau' al-Munir 'ala at-Tafsir [5/96-97])         

Beliau juga menegaskan, “Bahkan, ibadah kepada Allah, ma'rifat, tauhid, dan syukur kepada-Nya itulah sumber kebahagiaan hati setiap insan. Itulah kelezatan tertinggi bagi hati. Kenikmatan terindah yang hanya akan diraih oleh orang-orang yang memang layak untuk mendapatkannya...” (lihat adh-Dhau' al-Munir 'ala at-Tafsir [5/97])

Benar sekali apa yang diucapkan oleh beliau -rahimahullah-; tauhid itulah kebutuhan terbesar umat manusia. Kebutuhan yang jauh lebih penting untuk dipenuhi daripada kebutuhan tubuh manusia terhadap makanan, minuman, dan udara. Namun, betapa sedikit orang yang menyadarinya. Wallahul musta'aan.



Poskan Komentar