Rabu, 16 Juli 2014

Macam-macam Tauhid

Macam-Macam Tauhid
Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba'du:

MACAM-MACAM TAUHID
Dari pemaparan yang lalu kita menjadi tahu bahwa tauhid itu terbagi menjadi dua:
Yang pertama; Tauhid ma'rifat dan Itsbat. Yaitu yang berkaitan dengan Dzat Allah azza wa jalla, nama-nama, dan sifat serta perbuatan -Nya. Dan jenis tauhid ini terbagi menjadi dua kembali:

Jenis pertama: Tauhid Rububiyah
Dan ulama menjelaskan definisi dari jenis tauhid ini dengan berbagai ungkapan, semisal apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 'Dan tauhid Rububiyah itu ialah (menyakini) tidak ada pencipta selain Allah Shubhanhahu wa ta’alla. (Karena) tidak mungkin ada suatu apapun yang lepas dari -Nya, dalam hal penciptaan suatu benda atau urusan, bahkan, bila -Dia menghendaki pasti terjadi, dan bila tidak menghendaki maka tidak mungkin terjadi'.[1]
Imam Ibnu Qoyim menjelaskan, "Nama Rabb terhimpun padanya makna yang mencakup bagi seluruh makhluk yaitu yang menguasai segala sesuatu dan menciptakan serta maha mampu untuk melakukan hal tersebut. Dan itu semua tidak mungkin bisa luput sedikitpun dari rububiyah -Nya, dan setiap apa yang ada di langit serta di muka bumi adalah hamba yang ada dalam genggaman -Nya serta dibawah kekuasaan -Nya".[2]
Seorang ulama yang bernama Safarini[3] menyebutkan, "Tauhid rububiyah yakni bahwa tidak ada pencipta, tidak ada pemberi rizki, tidak ada yang menghidupkan, tidak ada yang mematikan, tidak ada yang mengadakan sesuatu yang tadinya tidak ada melainkan hanya Allah ta'ala".[4] Dan berkata Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahab[5], didalam penjelasan tentang makna tauhid rububiyah tersebut, "Yaitu menetapkan bahwa Allah ta'ala adalah Rabb segala sesuatu, dan yang menguasainya, menciptakan serta memberinya rizki.
Bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla saja yang menghidupkan dan mematikan, memberi manfaat dan mara bahaya, yang tunggal dalam mengabulkan do'a tatkala terkena musibah, yang bagi -Nya segala urusan diserahkan, ditangan -Nya segala kebaikan berada, yang maha mampu atas segala sesuatu yang di inginkan -Nya, dan tidak ada satupun sekutu bagi -Nya, dan masuk dalam hal itu keimanan terhadap takdir".[6]
Dari sini maka bisa ditarik kesimpulan, bahwa tauhid rububiyah ialah menetapkan serta mengakui bahwa Allah ta'ala semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, yang menciptakan seluruh makhluk yang ada atas maupun di bawah, yang bisa disaksikan maupun tidak.
Bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang mengatur alam semesta ini, tidak ada seorangpun yang bersekutu dengan -Nya, sebagaimana seluruh takdir makhluk berada didalam genggaman        -Nya, dari memberi rizki, mematikan, menghidupkan, seluruh perkaranya makhluk.
Bahwasannya jikalau -Dia menghendaki sesuatu tinggal mengucapkan jadilah, maka terjadilah. Dan tidak ada sekutu pada semua itu dan tidak ada yang sepadan dan tidak pula yang serupa dengan -Nya.   Bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla yang mengurusi seluruh makhluk dengan berbagai macam kenikmatan, dan mengurusi makhluk-makhluk khusus milik -Nya yaitu para nabi dan pengikutnya, yang beriman kepadanya, membenarkan apa yang dibawa olehnya dari sisi Rabb mereka, dengan keyakinan yang benar, dan akhlak yang luhur, serta ilmu yang bermanfaat, dan amal sholeh.
Dan memungkinkan untuk mengetahui tentang tauhid ini dengan sebuah ungkapan yang ringkas seperti yang diucapkan oleh Ibnu Qoyim, yakni meng –Esakan Allah azza wa jalla dalam penciptaan dan menghukumi.[7] Ucapannya, meng –Esakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam penciptaan, maka mencakup dalam hal ini menciptakan pada pertama kalinya, yaitu memulai penciptaan manusia dan yang lainnya. Kemudian pada penciptaan kedua, yaitu kebangkitan dari kubur. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah ta'ala dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿أَفَعَيِينَا بِٱلۡخَلۡقِ ٱلۡأَوَّلِۚ بَلۡ هُمۡ فِي لَبۡس مِّنۡ خَلۡق جَدِيد ١٥ [ ق: 15 ]
"Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru". (QS Qaaf: 15).

Dan ini merupakan kekhususan Allah azza wa jalla.
Dan ucapannya, mengesakan dalam menghukumi, mencakup dalam hal ini menghukumi dalam memberi manfaat dan mara bahaya terhadap makhluk, mengurusi urusan mereka, memberinya rizki, maka Allah azza wa jalla adalah pemberi manfaat dan mara bahaya, yang mengurusi urusan dan memutuskannya, yang memberi rizki, dan inilah yang dinamakan hukum takdir dan kauni yaitu apa yang diputuskan oleh -Nya baik sesuai dengan takdir dan penciptaan.[8]
Demikian pula mencakup hukumnya secara syar'i, yaitu yang Allah Shubhanahu wa ta’alla takdirkan dalam bentuk syari'at.[9] Maka seluruh hukum-hukum Allah Shubhanahu wa ta’alla secara syar'i terhadap ciptaan -Nya adalah termasuk dari kandungan rububiyah     -Nya. Yang memiliki hak mutlak dalam memutuskan, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ قُلۡ إِنِّي عَلَىٰ بَيِّنَة مِّن رَّبِّي وَكَذَّبۡتُم بِهِۦۚ مَا عِندِي مَا تَسۡتَعۡجِلُونَ بِهِۦٓۚ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِۖ يَقُصُّ ٱلۡحَقَّۖ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰصِلِينَ ٥٧ [الأنعام: 57 ]
"Katakanlah: "Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (al-Qur'an) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik". (QS al-An'aam: 57).
Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; "Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah pemutus hukum dan hanya kepada -Nya kembali hukum tersebut".[10]
Kesimpulannya, tauhid rububiyah ialah menetapkan bahwa Allah azza wa jalla adalah rabb segala sesuatu, pencipta dan pemberi rizkinya, yang mematikan dan menghidupkan, memberi manfaat dan mara bahaya, yang maha mampu atas perbuatan yang di inginkan kapanpun waktunya, dan tidak ada sekutu, yang sepadan dan pembantu bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam masalah itu semua.[11] Sebagaimana ditegaskan oleh Allah ta'ala didalam firman     -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ٢١ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآء وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآء فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٢٢ [ البقرة: 21-22 ]
"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui". (QS al-Baqarah: 21-22).

Demikian pula didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ ثُمَّ رَزَقَكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يُحۡيِيكُمۡۖ هَلۡ مِن شُرَكَآئِكُم مَّن يَفۡعَلُ مِن ذَٰلِكُم مِّن شَيۡءۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٤٠ [ الروم: 40]
"Allah -lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rizki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan". (QS ar-Ruum: 40).

Dan ayat-ayat yang semakna dengan ini sangatlah banyak walaupun perlu dipahami bahwa menetapkan tauhdi ini bukan berarti secara otomatis masuk dalam kategori ikhlas didalam beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla semata dan menjadikan pelakunya tidak menyekutukan –Nya dengan yang lain baik secara dhahir maupun batin, dan penetapan tauhid jenis ini tidak serta merta menjadikan seseorang menjadi muslim, karena Allah tabaraka wa ta'ala merekam tentang eksistensi orang musyrik pada zaman dahulu yang telah menetapkan jenis tauhid ini. Sebagaimana disebutkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ ٣١ [ يونس: 31 ]
"Katakanlah: "Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka Katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada  -Nya)?"  (QS Yunus: 31).

Dalam ayat lain Allah ta'ala menyebutkan:
قال الله تعالى: ﴿ وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ٨٧ [ الزخرف: 87 ]
"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah", Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah?". (QS az-Zukhruf: 87).

Dengan penetapan yang mereka lakukan terhadap tauhid ini tidak menjadikan serta merta menjadi seorang muslim, hal tersebut dikarenakan kekosongan mereka dalam keikhlasan ketika beribadah kepada –Nya semata.

Bagian kedua: Tauhid Asma wa Shifat
Yaitu menyakini keesaan Allah ta'ala dengan kesempurnaan mutlak dari semua sisi dengan memberikan sifat-sifat keagungan, kemuliaan dan kesempurnaan[12]. Dan hal itu dengan cara pengakuan dan menetapkan secara pasti dengan segala yang datang dalam al-Qur'an ataupun sunah Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam yang menjelaskan tentang nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla yang indah dan sifat-sifat -Nya yang mulia. Dan metode salaful Umah dalam perkara ini ialah menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla untuk diri nya dan menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Rasul -Nya.  Begitu pula menafikan seperti apa yang telah di nafikan oleh -Nya terhadap dirinya sendiri dan apa yang telah dinafikan oleh Rasul -Nya terhadap Allah Shubhanahu wa ta’alla, tanpa melakukan tahrif (merubah), tidak pula ta'thil (menghilangkan maknanya), tanpa membagaimanakan tidak pula memisalkan.
Mereka semua menyakini bahwa tidak ada sesuatupun yang  menyerupai -Nya tidak pula ada yang semisal dengan -Nya dari kalangan makhluk -Nya, tidak dalam Dzat tidak pula dalam perkara sifat-sifat yang dimiliki -Nya, serta perbuatan -Nya. Maka metode mereka ialah menetapkan tanpa menyerupakan, dan mencusikan tanpa menta'thil (meniadakan makna yang sebenarnya), senantiasa berada diatas qaidah firman Allah tabaraka wa ta'ala:
قال الله تعالى: ﴿ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١ [ الشورى: 11 ]
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia -lah yang Maha mendengar dan melihat". (QS asy-Syuraa: 11).

Dan yang dimaksud dengan Tahrif dalam tinjauan bahasa ialah merubah dan mengganti, merubah harokat dan menggantinya.[13]
Adapun dalam terminologinya ialah berpaling dari ucapan yang sesuai dan benar kepada ucapan yang lain. Dan bila diterapkan dalam perkara asma dan sifat ialah merubah lafad nash yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’alla, atau merubah makna yang terkandung dari apa yang di inginkan oleh Allah azza wa jalla, semisal tahrif  i'rab dalam firman Allah ta'ala[14]:
قال الله تعالى: ﴿ وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكۡلِيما ١٦٤ [ النساء: 164 ]
"Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung". (QS an-Nisaa': 164).
Dengan menjadikan nabi Musa yang mengajak Allah Shubhanahu wa ta’alla berbicara, sedang yang benar ialah Allah Shubhanahu wa ta’alla yang mengajaknya langsung bicara. Dalam gramatika bahasa arab i'rab lafdhul jalalah dengan rafa' (didhamah) sebagai pelaku (objek), kemudian mereka mentahrif (merubah) dengan harakat fathah sebagai subjek. Dan yang senada dengan tahrif dalam masalah ini ialah makna istawa (bersemayam) dengan istaula (menguasai) dalam makna firman Allah ta'ala:
قال الله تعالى: ﴿ ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ ٥ [ طه: 5 ]
"(Yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy". (QS Thahaa: 5).

Adapun yang dimaksud dengan ta'thil secara bahasa ialah dari kata al-'Athal yang bermakna kosong dan tidak berisi dan meninggalkan, sebagaimana tersirat dalam firman Allah ta'ala:
قال الله تعالى: ﴿ وَبِئۡر مُّعَطَّلَة وَقَصۡر مَّشِيدٍ ٤٥   [ الحج: 45 ]
"Dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi". (QS al-Hajj: 45).
Maksudnya disia-siakan oleh pemiliknya dan ditinggalkan tidak lagi diambil airnya[15], adapun menta'thil yang dengan masalah Asma dan Shifat maka maksudnya ialah menafikan nama-nama dan sifat-sfiat atau menafikan sebagian atau menyelewangkan makna yang benar terhadap Allah ta'ala[16].
Sedangkan yang dimaksud dengan takyif ialah menjadikan sesuatu pada hakekat tertentu tanpa mengikatnya dengan yang dipermisalkan[17]. Seperti halnya ucapan sebagian sekte tentang Allah Shubhanahu wa ta’alla, panjangnya seperti lebarnya[18]. Dan makna ucapan ahlu sunah tanpa mengumpamakan dengan perumpamaan yang ada dalam benak manusia, dan ini bukan berarti maksud ucapan mereka, mengumpamakan dengan perumpaan yang menyeluruh secara utuh, sebab segala sesuatu pasti mempunyai hakekat keadaanya. Akan tetapi, yang dimaksud ialah bahwa mereka meniadakan pengetahuan tentang bagaimananya sebab tidak ada yang mengetahui bagaimana keberadaan Dzatnya Allah Shubhanahu wa ta’alla kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla [19].
Dan yang dimaksud dengan tamtsil ialah terambil dari kata al-Mitsal yang bermakan menyerupai dan menyamai[20]. Adapun bila diterapkan dalam masalah Asma dan Shifat maknanya ialah menyakini bahwa didalam sifat-sifat -Nya itu ada yang serupa dengan sifat-sifat makhluk. Maka tauhid Asma dan Shifat ialah mengkosongkan dalam nama-nama dan sifat-sifat yang telah Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya tetapkan pada diri -Nya, dari empat hal ini yakni ta'thil, tahrif, takyif, dan tamtsil. Maka barangsiapa menafikan sifat-sifat Allah jalla wa 'ala dan mengkosongkan maknanya, maka ta'thilnya tadi telah mendustakan tauhidnya, dan barangsiapa yang menyerupakan pencipta dan memisalkan dengan makhluk maka penyerupaan dan permisalan yang diberikan tadi telah membatalkan tauhidnya[21].
Dan diantara dalil-dalil yang menunjukan tentang tauhid ini ialah firman Allah ta'ala:
قال الله تعالى: ﴿ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ ٢٥٥ [ البقرة: 255 ]
"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan -Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)". (QS al-Baqarah: 255).

Dan firman Allah tabaraka wa ta'ala:
قال الله تعالى: ﴿ إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡ‍ًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٨٢ [يس: 82 ]
"Sesungguhnya keadaan -Nya apabila -Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia". (QS Yaasin: 82).

Demikian pula dalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعا ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيم ٢٩ [البقرة: 29 ]
"Dia- lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan -Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu". (QS al-Baqarah: 29).

Dan juga dalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ يَدُ ٱللَّهِ فَوۡقَ أَيۡدِيهِمۡۚ ١٠ [ الفتح: 10 ]
"Tangan Allah di atas tangan mereka". (QS al-Fath: 10).

Begitu juga dalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١١٩ [المائدة: 119 ]
"Allah ridha terhadap -Nya dan mereka pun ridho kepada Allah. Itulah keberuntungan yang paling besar". (QS al-Maa-idah: 119).

Dan dalam firman Allah ta'ala:
قال الله تعالى: ﴿ ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ ٥ [ طه: 5 ]
"(Yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy". (QS Thahaa: 5).

Dan juga firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكۡلِيما ١٦٤ [ النساء: 164 ]
"Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung". (QS an-Nisaa': 164).
Dan lain sebagainya dari ayat-ayat yang semakna dengan ini.

Jenis Kedua dari macam-macam tauhid ialah
Tauhid Thalab dan Qashd (Tuntutan dan Tujuan)
Yang sering diartikan dengan mengesakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dari perilaku hamba, atau biasa juga di ungkapkan dengan tauhid uluhiyah, yaitu mengetahui serta mengakui bahwasannya Allah azza wa jalla pemilik hak uluhiyah dan peribadatan atas seluruh makhluk -Nya, dan mengesakan Allah ta'ala dengan ibadah dan mengikhlaskan agama hanya untuk -Nya semata.[22]
Dan jenis tauhid ini bisa terleasisasi dengan melakukan peribadatan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla semata tanpa menjadikan sekutu bagi -Nya, dan mencintai -Nya, merasa takut kepada -Nya, berharap, dan bertawakal kepada -Nya, takut akan siksa -Nya, penuh harap pada -Nya, dengan mengesakan itu semua pada Allah Shubhanahu wa ta’alla. mendekatkan diri kepada -Nya dengan seluruh jenis peribadatan mahdah maupun harta dan benda, dan lain sebagainya dari jenis dan ragam ibadah yang para makhluk beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, tentunya harus sesuai dengan apa yang telah disyari'atkan serta dijelaskan oleh Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam pada mereka.
Dan jenis tauhid ini merupakan perkara prioritas yang diemban oleh tugas-tugas kerasulan yang harus disampaikan pada umatnya, dan dengan sebab ini pula terjadilah perdebatan, dan di syari'atkan jihad, dengan sebab ini manusia dan jin diciptakan, diturunkan kitab, di utusnya para rasul, dan dengan sebab tauhid ini pula manusia terkelompok menjadi golongan yang celaka dan golongan yang berbahagia, serta diciptakannya surga dan neraka.
Dan Allah ta'ala telah menjelaskan tauhid ini didalam banyak ayat yang bertebaran didalam al-Qur'an yang mulia. Diantaranya ialah:
1.         Sebagaimana terkandung didalam surat al-Kafirun. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan:
قال الله تعالى: ﴿ قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣ وَلَآ أَنَا۠ عَابِد مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦ [ الكافرون: 1-6 ]
"Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku". (QS al-Kafirun: 1-6).
2.         Dalam surat Yunus, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan:
قال الله تعالى: ﴿ قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِي شَكّ مِّن دِينِي فَلَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِينَ تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِنۡ أَعۡبُدُ ٱللَّهَ ٱلَّذِي يَتَوَفَّىٰكُمۡۖ وَأُمِرۡتُ أَنۡ أَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ  ١٠٤ [ يونس: 104 ]
"Katakanlah: "Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya Termasuk orang-orang yang beriman". (QS Yunus: 104).

3.         Demikian pula didalam surat al-Imraan, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan:
قال الله تعالى: ﴿ قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ كَلِمَة سَوَآءِۢ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡ‍ٔا ٦٤ [ آل عمران: 64]
"Katakanlah: "Hai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun". (QS al-Imraan: 64).

4.         Dan dalam surat Yunus, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan:
قال الله تعالى: ﴿ إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّام ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۖ مَا مِن شَفِيعٍ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ إِذۡنِهِۦۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ٣ [ يونس: 3 ]
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin -Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?". (QS Yunus: 3).

5.         Begitu juga dalam surat al-Mukminun, Allah ta'ala berfirman:
قال الله تعالى: ﴿ فَأَرۡسَلۡنَا فِيهِمۡ رَسُولا مِّنۡهُمۡ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ ٣٢ [ المؤمنون: 32 ]
"Lalu Kami utus kepada mereka, seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): "Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya". (QS al-Mukminuun: 32).

6.         Demikian pula dalam surat al-A'raaf, Allah ta'ala menyebutkan:
قال الله تعالى: ﴿ قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا٧٠             [ الأعراف:70 ]
"Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?". (QS al-A'raaf: 70).

7.         Dan dalam surat Yusuf, Allah ta'ala menyebutkan:
قال الله تعالى: ﴿ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُۚ ٤٠
 [ يوسف: 40 ]
"Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia". (QS Yusuf: 40).

8.         Dan dalam surat Maryam, Allah ta'ala berfirman:
قال الله تعالى: ﴿ رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا فَٱعۡبُدۡهُ وَٱصۡطَبِرۡ لِعِبَٰدَتِهِۦۚ هَلۡ تَعۡلَمُ لَهُۥ سَمِيّا ٦٥ [ مريم: 65 ]
"Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada -Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?". (QS Maryam: 65).

9.         Demikian pula dalam surat al-Israa', Allah ta'ala menyebutkan:
قال الله تعالى: ﴿ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ ٢٣
[ الإسراء: 23 ]
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya". (QS al-Israa': 23).

10.      Dan Allah ta'ala menyebutkan ketika menceritakan tentang ucapan seluruh para nabi terhadap kaumnya, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:
قال الله تعالى: ﴿ فَقَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ ٥٩
[ الأعراف: 59 ]
"Lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain -Nya". (QS al-A'raaf: 59, 65, 73, 85).

Dengan ini menjadi jelas akan batilnya persangkaan sebagian ahli kalam yang menyatakan bahwa puncak ketauhidan adalah ketika menyatakan bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah esa di dalam Dzatnya yang tidak memiliki bagian untuk -Nya, demikian pula esa dalam sifat-sifat -Nya yang tidak ada sesuatupun yang menyerupai -Nya, esa dalam perbuatan -Nya yang tidak ada sekutu bagi -Nya. 
Sebab tauhid yang dengannya, Allah Shubhanahu wa ta’alla menurunkan kitab dan mengutus para utusan bukanlah yang dimaksud dalam tiga hal diatas tadi, walaupun ketiga hal tersebut termasuk dalam kategori tauhid yang dibawa oleh para rasul, sehingga barangsiapa yang beribadah kepada -Nya semata tanpa menyekutukan sesuatu apapun dengan -Nya maka dirinya telah bertauhid, dan barangsiapa yang beribadah kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla maka dirinya dinamakan musyrik. Bukan orang yang bertauhid lagi ikhlas didalam menjalan agamanya, walaupun dirinya mengucapkan statmen-statmen diatas tadi yang mereka sangka termasuk ketauhidan yang sempurna.[23]
Dari uraian panjang diatas, maka menjadi jelas bagi kita bahwa tauhid terbagi menjadi tiga macam, yaitu:

1.         Tuhid Rububiyah.
2.         Tauhid Asma wa Shifat. Dan kedua jenis tauhid ini berkaitan dengan ilmu dan pengetahuan.
3.         Tauhid Uluhiyah atau tauhid Ibadah. Yang diungkapkan oleh sebagian ulama dengan nama Tauhid Thalab dan Qashd (Tuntutan dan tujuan).
Dan pengelompokan Tauhid menjadi tiga jenis semacam ini maka argumentasinya ialah dari dua sisi:
Pertama: Riset dan pengamatan dalam nushush (nash)[24].
Dan dapat dipastikan melalui penelitian serta pengamatan secara menyeluruh bahwa tauhid yang diturunkan dengannya kitab suci dan menjadi muatan dakwah pertama para rasul ialah terbatas pada ketiga jenis tauhid ini. Yang tidak sempurna tauhid serta keimanan seseorang melainkan harus menyempurnakan seluruh tauhid tadi.
Dan kami telah bawakan dalil-dalil dari al-Qur'an yang menjelaskan pada pembagian ini, maka ini menunjukan pada kesimpulan dari sesuatu yang melimpah. Bahkan al-Qur'an seluruhnya menjelaskan pada ketiga jenis tauhid ini. Imam Ibnu Qoyim menjelaskan, "Setiap surat dalam al-Qur'an maka terkandung didalamnya masalah tauhid, bahkan bisa kita nyatakan secara menyeluruh, bahwa seluruh ayat yang ada didalam al-Qur'an mengandung masalah tauhid, sebagai saksi bagi masalah tauhid dan mengajak padanya. Sebab al-Qur'an bisa diklasifikasikan menjadi beberap perkara;

1.     Adakalanya berita tentang Allah azza wa jalla, nama-nama dan sifat-sifat -Nya serta perbuatan -Nya, maka itu adalah tauhid ilmu yang berupa berita.
2.     Adakalanya ajakan untuk beribadah kepada Allah semata tanpa berbuat syirik kepada -Nya, dan melepas segala bentuk peribadatan kepada selain -Nya, maka itu adalah tauhid Iradah yang dituntut pada hamba.
3.     Adakalanya berisikan tentang perintah dan larangan, keharusan untuk mentaati Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam larangan dan perintah -Nya. Maka itu merupakan konsekuensi tauhid dan penyempurnanya.
4.     Adakalanya berita tentang kemurahan Allah Shubhanahu wa ta’alla bagi orang yang bertauhid dan berbuat taat pada        -Nya, dan apa yang diperbuat –Nya bagi mereka ketika didunia dan kemuliaan yang diberikan pada mereka ketika diakhirat maka itu merupakan balasan bagi orang yang bertauhid.
5.     Adakalanya berita tentang para pelaku kesyirikan, dan penjelasan adzab dan siksa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla berikan pada mereka didunia.
Maka itu semua menjelaskan kalau al-Qur'an seluruhnya berbicara tentang tauhid[25].
Berkata Syaikh Husain bin Mahdi an-Na'imi[26], "Sungguh kami telah meneliti didalam kitabullah pasal-pasal yang berkaitan tentang pembentukan kalimat, dan pasal-pasal yang berkaitan dengan gaya bahasa, maka kami tidak pernah menjumpai Allah ta'ala mengkisahkan tentang kaum musyrikin yang menyebutkan bahwa aqidah mereka terhadap tuhan-tuhan mereka dan sekutu yang mereka buat dari selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, bahwa sesembahan dan sekutu tersebut yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, menurunkan hujan dari langit, mengeluarkan orang yang sudah mati, mematikan orang yang hidup dan seterusnya.
Namun, apabila mereka di timpa suatu musibah dan kondisinya semakin genting maka mereka langsung meminta pertolongan kepada Allah ta'ala semata. Dan apabila mereka ditanya tentang hakekat agamanya, 'Apakah termasuk kesyirikan dalam rububiyah? Mereka segera mendekat dan tunduk bagi Rabb semesta alam, murni dengan memberikan kekhususan bagi Allah dalam masalah hak rububiyah. Dan ini merupakan perkara yang sangat gamblang bagi siapa saja yang dikasih pendengaran oleh al-Qur'an tentang kisah mereka, dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menukil ucapan mereka, diantaranya:
قال الله تعالى: ﴿ قُل لِّمَنِ ٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهَآ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٨٤ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ قُلۡ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ٨٥ قُلۡ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ٱلسَّبۡعِ وَرَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ ٨٦ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ قُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ ٨٧ [ المؤمنون: 84-87 ]
"Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka Apakah kamu tidak ingat? Katakanlah: "Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya 'Arsy yang besar? Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka Apakah kamu tidak bertakwa?". (QS al-Mukminuun: 84-87).

Apakah anda melihat dari semua yang dikisahkan oleh Allah ta'ala tentang mereka diatas tadi, bahwasannya mereka mengira dari Allah Shubhanahu wa ta’alla sedikit ataupun banyak, dengan anggapan remeh ataupun kondisi genting terhadap ilah-ilah mereka yang mereka rela menyembahnya, dan duduk disekitarnya punya andil dari itu semua? Bahkan, mereka mencabut sifat-sifat tersebut dari tuhan-tuhan yang mereka patuhi dan enggan memisahkan diri, dan mengharuskan untuk rela menjadikan ilah-ilahnya berada dibelakang (Allah Shubhanahu wa ta’alla), masih bergantung pada -Nya, menyatu dalam ketauhidan dan menyendirikan -Nya, sehingga mereka tidak menjadikan sekutu dan tandingan ketika berdo'a dan berdiam disekelilingnya serta mendekatkan diri dan ibadah lainnya.
Dan kesyirikan kaum tersebut dan pengambilan ilah-ilah yang menyebabkan rabb mereka mencatat kekuasaan penuh terhadap para hamba -Nya, dengan kesyirikan, kesesatan, kerancuan, kekufuran, kelaliman, dan kebodohan".[27] Dengan tegas an-Na'imi menyatakan bahwa barangsiapa yang meneliti kitabullah maka dirinya akan mendapati didalamnya dua hal dari jenis tauhid dan dirinya juga akan menjumpai bahwa kesyirikan itu berada pada peribadatan bukan pada rububiyah.
Syaikh Muhammad al-Amin asy—Syinqithi[28] menjelaskan, "Hasil riset dari al-Qur'an yang agung menunjukan bahwa tauhid kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla itu terbagi menjadi tiga:
Pertama: Mengesakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam masalah rububiyah -Nya. Dan jenis tauhid ini termasuk dari jenis tauhid yang diakui oleh seluruh akal serta fitrah manusia yang masih lurus. Sebagaimana Allah Shubhanahu wa ta’alla tegaskan didalam firman    -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ٨٧
[ الزخرف: 87 ]
"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah", Maka Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?". (QS az-Zukhruf: 87).

Kedua: Mengesakan Allah azza wa jalla dalam peribadatan. Dan barometernya dalam masalah tauhid ini ialah merealisasikan makna laa ilaha ilallah, yaitu yang tersusun dalam kalimat ini dua hal yaitu menafikan dan menetapkan.
Dan makna menafikan ialah menghilangkan seluruh jenis peribadatan kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla pada semua jenis ibadah yang ada. Adapun makna menetapkan ialah mengesakan Allah azza wa jalla semata yang berhak untuk mendapatkan seluruh peribadatan secara ikhlas. Sesuai dengan syari'at yang telah dijelaskan melalui lisan para rasul -Nya.
Dan kebanyakan ayat didalam al-Qur'an isinya berkaitan dengan jenis tauhid ini, yang merupakan faktor terjadinya gesekan antara para Rasul dan umat-umatnya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan didalam firman -Nya:
 قال الله تعالى: ﴿ أَجَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰها وَٰحِدًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عُجَاب ٥ [ص: 5 ]
"Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan". (QS Shaad: 5).

Ketiga: Mengesakan Allah ta'ala dalam Asma dan Shifat -Nya[29].
Beliau mengingatkan pada kita bahwa pembagian tauhid menjadi tiga itu diambil melalui penelitian dari nash al-Qur'an yang mulia. Sehingga itu merupakan hakekat hukum syar'i yang bersandar pada al-Qur'an bukan perkara baru yang diistilahkan dan di bikin-bikin oleh segelintir ulama.
Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid menyebutkan, "Pembagian (tauhid) ini melalui tahap penelitian (yang sangat jeli) dari para ulama-ulama terdahulu dari kalangan salaf, kemudian beliau mencontohkan semisal Ibnu Hajar dan Ibnu Mandah[30] serta lainnya.  Itu adalah hasil penelitian secara teliti dari nash-nash syar'i, yang terus berkelanjutan dilakukan oleh setiap ulama yang pakar pada bidangnya, sebagaimana penelitian yang dilakukan dalam ilmu nahwu, yang menjadikan pembagian kata menjadi tiga, Isim, Fi'il dan Huruf. Dan orang Arab tidak meremehkan hal tersebut. Dan ketika pembagian tersebut ada pada ilmu nahwu dan tidak ada seorangpun yang mencelanya, demikian pula dari hasil penelitian ini[31].
Berkata Ustad Abdul Fatah Abu Ghadah[32], "Adapun pembagian tauhid menjadi seperti apa yang disebutkan oleh mereka-mereka para Imam, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan muridnya Ibnu Qoyim, dan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab rahimahumullah, menjadi tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah, maka pembagian ini adalah pembagian dalam bentuk istilah yang dikumpulkan oleh para ulama dari apa yang datang dari al-Qur'an dan Sunah pada tempat yang begitu banyak. Dari bantahan Allah Shubhanahu wa ta’alla terhadap orang-orang musyrik yang mereka mengimani dengan adanya tauhid Rububiyah namun tidak mengimani tauhid Uluhiyah. Dan didalam surat al-Fatihah sendiri yang dibaca oleh jutaan muslim didalam sholatnya sehari semalam, sebagi bukti akan kebenaran hal itu".[33]
Sehingga tidaklah dinyatakan telah beriman, tauhid seseorang yang tidak mengimani dengan adanya macam-macam tauhid yang bersandarkan pada nash-nash syar'i. disebabkan tauhid yang dituntut secara syar'i ialah mengimani dengan ke Esa- an Allah Shubhanahu wa ta’alla didalam rububiyah dan uluhiyah -Nya serta Asma dan Shifat -Nya.  Maka siapapun yang tidak menyempurnakan ini semua tidak dikatakan sebagai orang yang muwahid (yang bertauhid).
Dan hal ini adalah suatu perkara yang telah ditetapkan melalui penelitian, sedang penelitian ini adalah argumentasi yang mengantarkan pada sebuah keyakinan apabila dilakukan secara sempurna.  Maka dari sini kita telah melakukan penelitian secara mendalam terhadap nash-nash syar'iyah semuanya, dan kami tidak menemukan melainkan tiga macam jenis tauhid ini serta yang berkaitan dengan ketiganya, yang semakin membuktikan akan kebenaran pembagian ini, dan pembagian ini membentuk dengan gabungan seluruhnya, dalam sisi keimanan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla yang kita namakan dengan tauhid[34].
Sehingga tidak benar tauhidnya seseorang melainkan jika terkumpul ketiga macam jenis tauhid tadi, yang merupakan satu kesatuan yang memiliki keterkaitan satu sama lain, yang tidak mungkin hanya mencukupkan satu dengan lainnya. Maka tidak berguna tauhid rububiyah tanpa dibarengi dengan tauhid uluhiyah, begitu pula tidak sah dan tidak tegak tauhid uluhiyah tanpa adanya tauhid Rububiyah, demikian pula mentauhidkan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam masalah rububiyah dan uluhiyah -Nya tidak mungkin menjadi lurus tanpa disertai mentauhidkan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam masalah Asma dan Shifat -Nya. Sehingga ketika ada kekurangan dan penyelewengan diantara salah satunya akan menyebabkan ketimpangan pada semuanya. Dan ma'rifat kepada       -Nya tidak mungkin bisa tercapai tanpa disertai dengan beribadah kepada -Nya, dan ibadah tidak bisa terlaksana tanpa adanya ma'rifat kepada Allah ta'ala, karena keduanya merupakan dua sejoli, yang saling memiliki keterkaitan[35].

Syubhat Tentang Pembagian Tauhid serta Bantahannya
Syubhat pertama: Mereka menyebutkan, "Sesungguhnya para ulama berselisih ketika mendefinisikan pembagian tauhid, itu ditandai dengan ungkapan yang berbeda-beda diantara mereka[36] ada yang menyebutkan tauhid hanya terbagi menjadi dua; Tauhid dalam Ma'rifat dan penetapan, yang kedua, Tauhid dalam tuntutan dan tujuan.
Diantaranya ada yang menyebutkan tauhid terbagi menjadi dua, yaitu, Tauhid ilmu yang berkaitan dengan kabar, dan Tauhid iradah yang dituntut untuk dikerjakan[37].  Ada lagi yang menyebutkan tauhid menjadi dua, yaitu Tauhid Qauli (Ucapan) dan Tauhid Amali (perbuatan)[38]. Ada juga yang membagi dua menjadi, Tauhid Sayadah (Kekuasaan) dan Tauhid Ibadah (peribadatan)[39].
Dan sebagian ulama ada yang menyebutkan tauhid terbagi menjadi tiga, sebagaimana telah lewat penjelasannya, kalau seandainya penelitian dan pengamatan yang anda lakukan itu benar niscaya tidak mungkin ada pertentangan disana.

Bantahan atas syubhat tersebut: Sesungguhnya perbedaan cara mengungkapkan tentang macam-macam tauhid tidak menunjukan adanya kontradiksi disana, namun, kesemuanya bersepakat secara garis besarnya. Misal, tauhid ilmu dan khabari, dan tauhid ma'rifat dan isbat, dan tauhid qauli, begitu juga tauhid sayadah, seluruhnya bersatu pada makna tauhid Asma dan Shifat dan tauhid Rububiyah.
Sedangkan tauhid qasd (Tujuan) dan thalab (tuntutan), dan tauhid iradah thalabi dan tauhid ilmi dan tauhid Ibadah semuanya bersatu pada makna tauhid uluhiyah.
Syubhat kedua: Sesungguhnya sebagian ulama, mereka tidak menyebut tauhid melainkan hanya dua macam; Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah.
Dan sebagian menambah pembagian tauhid lalu mereka menjadikan menjadi tiga, dengan menambahkan Tauhid Asma wa Shifat. Bukankah ini membuktikan tidak adanya penelitian secara mendalam dan sempurna?
Bantahan; Pembagian tauhid menjadi dua, dan ini biasanya seringkali diucapkan oleh para ulama terdahulu, disebabkan mereka menggabungkan antara tauhid rububiyah dengan tauhid asma wa shifat. Hal tersebut karena mereka melihat bahwa keduanya memiliki kemiripan secara garis besar terhadap sisi ilmu kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan pengetahuan tentang -Nya, sehingga mereka menggabungkan keduanya menjadi satu, adapun tauhid uluhiyah maka itu menggambarkan pada sisi pengamalan hamba untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sehingga pembagian tauhid menjadi tiga macam kembali pada istilah pengungkapan yang berkaitan dengan tauhidnya, sedangkan pembagian tauhid menjadi dua maka kembali pada istilah pengungkapan yang wajib dikerjakan oleh orang yang bertauhid[40].

Syubhat ketiga: Penelitian ini tidak sempurna, sebab disana ada sebagian ulama yang menambah tauhid yang keempat, yaitu Tauhid Itiba' atau Tauhdi Hakimiyyah (artinya berhukum kepada al-Qur'an dan Sunah)[41].
Bantahannya: Bila dicermati secara seksama dari penyebutan pembagian tauhid ini, maka pada hakekatnya jenis tauhid ini masuk dalam kandungan tauhid Uluhiyah, sebab ibadah tidak mungkin diterima melainkan bila terpenuhi dua syarat yakni ikhlas dan itiba' mengikuti Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana disinggung oleh Allah tabaraka wa ta'ala didalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلا صَٰلِحا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا ١١٠ [ الكهف: 110 ]
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS al-Kahfi: 110).

Dan ini apabila amalan terpaku pada sisi mencontoh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam saja, adapun apabila menyakini bolehnya membikin syari'at selain Allah azza wa jalla, seperti halnya yang membolehkan untuk membuat hukum-hukum buatan manusia, lalu menggantikan posisi hukum-hukum syar'i yang suci, atau dirinya mencoba menyamakan dan memutuskan dengan hukum tersebut maka pada saat itu dirinya telah menafikan tauhid Rububiyah. Sebab membuat hukum syari'at termasuk dari perkara Rububiyah, sehingga berhukum dengan selain dari al-Qur'an dan Sunah, dan mematuhi selain dari keduanya, maka sama saja pelakunya sedang menafikan tauhid Uluhiyah.
Dan tatkala menyakini bolehnya berhukum dengan hukum buatan tersebut atau menempatkan pada posisi hukum syari'at yang Allah Shubhanahu wa ta’alla buat atau hukum syari'at sama seperti hukum buatan manusia, sehingga ada pilihan baginya boleh menggunakannya, atau menempatkan sama posisinya dengan syari'at -Nya maka itu semua menafikan tauhid Rububiyah[42].
Sebagian ulama yang mencoba untuk menggabungkan tambahan tauhid semacam ini menyebutkan, 'Barangkali maksud (mereka) menjadikan Itiba' dan Hakimiyyah menjadi bagian tauhid secara tersendiri, hanyalah ingin menjelaskan akan urgennya dan pentingnya masalah ini, dengan melihat banyaknya manusia yang berpaling darinya. Wallahu a'lam".[43]
Akan tetapi, yang nampak jelas -wallahu a'lam- bahwa tambahan tauhid Hakimiyyah –walaupun hanya ingin menampakkan pentingnya sisi ini- maka didalamnya mengandung beberapa kerancuan. Sebab akan membuka pintu bid'ah dalam masalah aqidah dan dalam manhaj salafi yang bersih. Misalkan, salah seorang diantara mereka datang lalu memberi tambahan pada tauhid Khaliqiyah (yang mencipta) dan tauhid Razqiyyah (pemberi rizki) dan tauhid Itiba' dan seterusnya[44]. Dari bagian-bagian tauhid Uluhiyah dan tauhid Rububiyah.
Adapun, jika yang dimaksud dalam penambahan yang mereka namakan dengan tauhid Hakimiyyah ini, bahwa salaf ketika mereka menyebutkan bagian-bagian tauhid tersebut, mereka lupa pada sebagian sisi tauhid, maka sungguh mereka telah tergelincir dalam kesalahan yang buruk dan nyata. Bahkan bisa menyebabkan pelakunya kehilangan hakekat ilmu dalam memahami dan menggambarkan ucapan-ucapan para salaf serta pendapat mereka.
Demikian pula kalau seandainya yang mereka inginkan dengan penyataannya tersebut untuk menjelaskan bahwa urusan terpenting yang dimiliki oleh para Rasul hanyalah tauhid Hakimiyyah saja, maka mengharuskan dari ucapannya itu persangkaan buruk terhadap dakwahnya para Rasul yang tidak mampu menegakkan secuilpun negeri Islam, tidak pula mampu menegakkan hukum syar'i didalamnya. Sehingga pada akhirnya ucapan tersebut tertolak berdasarkan nash dari al-Qur'an dan Sunah.
Adapun bila yang diinginkan –sebagaimana nampak dari tulisan-tulisan sebagian penulis kontemporer- bahwasannya kalau seandainya telah tegak hukum Islam dan suatu negeri telah berhasil berhukum dengan syari'at Islam, maka yang namanya perbuatan bid'ah, khurafat dan perilaku perbuatan syirik dengan sendirinya akan musnah setelahnya. Kesimpulannya pendapat ini merupakan buah dari rusaknya pemikiran pencetusnya dan tidak pahamnya dia tentang manhaj dakwah para Nabi dan Rasul serta manhajnya para pendahulu kita dari kalangan para ulama salaf dalam masalah berdakwah kepada Allah azza wa jalla[45].
Adanya negeri Islam yang menerapkan syari'at Islam, maka padanya memiliki peranan penting didalam memberantas kemungkaran dan praktek-praktek kesyirikan -sebagaimana yang bisa kita lihat bersama pada negeri Saudi yang berbarokah ini, yang di dirikan dengan pijakan Tauhid dan memberangus kesyirikan-, akan tetapi, hanya sekedar menegakkan negeri Islam lalu tidak  ada usaha untuk meluruskan aqidah orang banyak, sebagai bukti nyata yang terbaik akan hal ini, sebagaimana kita saksikan bahwa disana ada sebagian negeri pada zaman kita sekarang ini yang merasa bangga bahwa negerinya telah mampu menegakkan negeri Islam, namun, aqidah yang dimiliki oleh masyarakat negeri tersebut aqidah paganisme yang penuh dengan hal-hal khurafat dan perdukunan. Hal itu terjadi karena mereka menyelisihi petunjuk para Nabi dan Rasul didalam berdakwah kepada Allah azza wa jalla.
Para Nabi seperti kita ketahui mereka memulai dakwahnya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan mengajak kaumnya untuk mengikhlaskan ibadah kepada –Nya dan memerangi kesyirikan –sebagaimana diketahui oleh orang yang pernah mencium bau ilmu tentang metode dakwah yang di lakukan oleh para Nabi dalam mengajak orang kepada Allah-, dan setelah selesai meluruskan aqidah umat manusia baru mereka menerapkan syari'at Allah Shubhanahu wa ta’alla dan memutuskan dengan hukum -Nya tatkala menjumpai ada yang menyelisihinya.
Dan bukan berarti bahwa kami meremehkan tentang pentingnya untuk mendirikan negeri Islam atau menerapkan syari'at Islam disuatu negeri. Maka perkara tersebut sangat urgen, sebab tidak mungkin bisa memutuskan hukum pada kebanyakan perbuatan bid'ah dan kesyirikan yang nampak melainkan dengan adanya kekuasaan. Dan ini jelas, alhamdulillah. Akan tetapi, menghukumi perbuatan syirik yang ada pada dada-dada manusia tidaklah mungkin bisa terleasisasi melainkan dengan memulai dakwah kepada tauhid Rububiyah dan Uluhiyah untuk pertama kalinya dan memerangi perkara-perkara yang menyelisihi keduanya.

Sisi Kedua Dari Sisi Pembagian Tauhid
Munculnya pembagian ini dalam beberapa ungkapan salaf baik secara gamblang ataupun isyarat dan implisit, maka pada paragraf berikut ini akan kami nukil ucapan-ucapan mereka yang menunjukan pada peneguhan pembagian tauhid menjadi dua, dengan urutan sebagai berikut:
1.         Sahabat Ibnu Abas radhiyallahu 'anhuma. Dimana beliau menjelaskan tatkala menafsirkan firman Allah ta'ala:
قال الله تعالى: ﴿ وَمَا يُؤۡمِنُ أَكۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ ١٠٦
[ يوسف: 106 ]
"Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)". (QS Yusuf: 106).

Beliau menyebutkan, "Termasuk keimanan mereka apabila dikatakan padanya, siapa yang menciptakan langit, siapa yang menciptakan bumi, siapa yang menciptakan gunung? Mereka pasti akan menjawab, 'Allah'. Sedangkan mereka tetap mempersekutukan –Nya dengan ilah-ilah yang lain".[46]
Beliau juga menjelaskan ketika menafsirkan ayat yang sama, "Dan bila mereka ditanya, siapa yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka benar-benar akan menyebutkan, 'Allah'. dan jika mereka ditanya siapa yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sedang mereka dengan keyakinannya tersebut dalam keadaan mempersekutukan -Nya, menyembah selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan sujud terhadap tandingan-tandingan yang mereka ambil selain Allah".[47]
2.         Seorang Tabi'in yang bernama Mujahid, beliau menjelaskan ketika menafsirkan firman Allah diatas tadi, "Keimanan mereka ialah tatkala mereka menyebutkan, 'Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah yang menciptakan kami, memberi rizki pada kami, mematikan kita'. Dan keimanan ini yang disertai dengan kesyirikan yaitu manakala mereka beribadah kepada selain         -Nya".[48]
Dalam kesempatan lain beliau menerangkan, "Tidak ada seorangpun melainkan pasti dirinya mengetahui bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah penciptanya, dan yang menciptakan langit dan bumi. Inilah keimanannya mereka, namun, bersamaan dengan itu mereka mengingkari pada yang lainnya".[49]
3.         Imam Qatadah[50], tatkala beliau berkata menafsirkan firman Allah Shubhanahu wa ta’alla diatas, "Mereka mempersekutukan Allah Shubhanahu wa ta’alla didalam keimanannya ini. Sesungguhnya jika seandainya engkau bertemu dengan salah seorang diantara mereka kecuali pasti mereka akan menyebutkan padamu bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla lah Rabbnya, yang menciptakan dirinya serta memberinya rizki, namun, bersamaan dengan itu dia mempersekutukan Allah Shubhanahu wa ta’alla didalam peribadatan -Nya".[51]
4.         Imam ahli tafsir lainnya yang bernama Atha[52], menyebutkan tatkala menafsirkan ayat tersebut diatas, "Mereka mengetahui. secara pasti bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah rabb mereka, Sedangkan mereka tetap mempersekutukan -Nya setelah itu".[53]
Dalam teks yang lain, beliau menyebutkan, "Mereka mengetahui bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah pencipta mereka, pemberi rizki mereka, namun, dengan itu mereka mempersekutukan -Nya dengan yang lain".[54]
5.         Sa'id bin Jubair[55] menjelaskan tatkala menafsirkan makna ayat diatas, "Diantara bentuk keimanan mereka apabila dikatakan padanya, siapa yang menciptakan langit, siapa yang menciptakan bumi, siapa yang menciptakan gunung? Mereka serempak akan menjawab, Allah. namun, dengan itu mereka mempersekutukan -Nya".[56]
6.         Seorang ulama tafsir lainnya, Ikrimah[57] menjelaskan ketika menafsirkan ayat tadi, "Tanyalah mereka siapa yang menciptakan dirinya, siapa yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka akan menjawab, Allah, itulah keimanannya mereka kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, akan tetapi, mereka beribadah kepada selain -Nya".[58]
Dalam redaksi lain, beliau menyebutkan, "Diantara bentuk keimanan mereka ialah apabila mereka ditanya, siapakah yang menciptakan langit? Mereka menjawab, Allah. dan jika mereka ditanya, siapa yang menciptakan kalian? Mereka akan menjawab, Allah. kemudian setelahnya mereka  mempersekutukan -Nya".[59]
7.         Amir asy-Sya'bi[60] menjelaskan, "Mereka mengetahui bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah Rabb mereka, yang menciptakan mereka, dan mereka mempersekutukan dengan yang lainnya".
Dalam teks lain, beliau juga menyebutkan, "Tidak ada seorangpun melainkan dirinya mengetahui bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla penciptanya, dan pencipta langit dan bumi. Dan inilah bentuk keimanan mereka, kemudian mereka mengingkari hak Allah yang lainnya".[61]
8.         Adapun Ibnu Zaid beliau menyebutkan, "Tidak ada seorangpun yang menyembah sesembahan bersama Allah Shubhanahu wa ta’alla melainkan dirinya beriman kepada –Nya, mengetahui bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabbnya, bahwa      –Dia lah yang menciptakannya, memberinya rizki, namun, dengan keberadaanya diawal tadi dirinya sedang mempersekutukan Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan yang lain. Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Ibrahim berkata, seperti dinukil oleh Allah dalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ قَالَ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ ٧٥ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ ٧٦ [ الشعراء: 75-76 ]
"Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?". (QS asy-Syu'araa': 75-76).

     Nabi Ibrahim mengetahui bahwa mereka beribadah kepada Rabb semesta alam bersamaan dengan peribadatan pada yang lain -Nya. Beliau menandaskan, "Tidak ada seorangpun yang menyekutukan Allah Shubhanahu wa ta’alla melainkan dirinya beriman pada -Nya, tidakkah engkau melihat bagaimana orang-orang Arab dahulu mengucapkan talbiyah dalam hajinya, 'Aku penuhi panggilan -Mu, aku penuhi panggilan -Mu, aku penuhi panggilan -Mu, tidak ada sekutu bagi -Mu, melainkan sekutu yang Engkau miliki, Engkau menguasainya dan apa yang ada padanya". Orang-orang musyrik mereka biasa mengucapkan ucapan ini".[62]
Bisa dipahami dari ucapan-ucapan mereka tadi, bahwa para ulama dari imam-imam Salaf mereka mendefinisikan dua macam tauhid, dimana mereka menyebutkan didalam tafsir ayat tersebut diatas bahwa orang-orang musyrik mereka mengakui dengan salah satu jenis tauhid. Yaitu tauhid Rububiyah atau dalam istilah yang mereka gunakan mentauhidkan Allah Shubhanahu wa ta’alla bahwa  -Dia adalah Rabb yang menciptakan, yang memberinya rizki, yang menghidupkan serta yang mematikan. Akan tetapi, pengakuan mereka terhadap jenis tauhid ini belum cukup memasukan mereka ke dalam tauhid yang diinginkan, tidak pula memasukan mereka dalam barisan orang-orang yang beriman. Dimana pada  kenyataanya Allah Shubhanahu wa ta’alla menamai mereka dengan stempel kesyirikan, kemudian Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam juga memerangi mereka akan hal tersebut. Maka ini menunjukan bahwasannya mereka belum mendatangi apa yang telah diperintahkan Allah Shubhanahu wa ta’alla terhadap mereka. Dan pemisahan ini merupakan masalah yang menjadi kesepakatan dikalangan ulama Salaf.
Jenis-jenis tauhid ini merupakan perkara yang telah dikenal dengan baik oleh para ulama salaf, hingga orang Arab, mereka mengetahui tentang tauhid ini dengan tabiat yang mereka miliki, sehingga mereka tidak menuntut untuk di jelaskan lebih rinci tentang pembagian tauhid ini dengan batasan tertentu, bahkan setiap orang mengetahui tauhid, dan dirinya tahu pembagiannya, kandungan serta penyempurnanya. Oleh karena itu, mereka menyelisihi Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam dan memerangi beliau dengan kebencian yang dalam.
Kalau seandainya tauhid itu hanya sekedar mengetahui bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah Rabb kita dan pencipta kita, tentu tidak mungkin terjadi pertentangan antara para Rasul dan umatnya. Sebab mereka semua mengakui dengan tauhid seperti ini. Akan tetapi, pertentangan yang terjadi diantara mereka dan Rasulnya pada bagian terakhir yang merupakan keharusan dari jenis tauhid ini yaitu beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla semata tanpa menyekutukan -Nya, oleh karena itu orang Arab menyebutkan dalam bentuk pengingkaran, seperti dinukil oleh Allah dalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ أَجَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰها وَٰحِدًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عُجَاب ٥
[ ص: 5 ]
"Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan". (QS Shaad: 5).
Artinya apakah engkau akan menjadikan sesembahan yang banyak ini menjadi satu saja?

Maka pertarungan yang terjadi antara mereka dan para Rasul serta para pengikutnya, hanyalah terjadi karena faktor tauhid Ibadah yaitu mengesakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam ibadah. Sebab orang Arab mengetahui hal tersebut melalui lisan mereka yang fasih dan penguasaan mereka terhadap bahasa serta tabiat yang masih murni. Oleh karenanya mereka enggan untuk mengucapkan kalimat laa ilaha ilallah, karena sesungguhnya mereka tahu kalau makna kalimat tersebut ialah mengikhlaskan ibadah untuk Sang pencipta yang telah kita akui bersama keberadaanya.
Sehingga engkau akan jumpai para salaf dari kalangan Sahabat mereka tidak merinci penjelasan tentang pembagian tauhid ini, bukan karena mereka tidak paham, akan tetapi, karena perkaranya sudah di ketahui oleh seluruh muslim, hingga orang-orang non Arab masuk Islam, baru kemudian mereka merusak bahasa yang dikuasai oleh orang Arab asli, sehingga mereka menjadi tidak lagi paham terhadap bahasanya, tidak pula kandungannya baik secara lafadh maupun balaghahnya.
Maka tatkala sebagian ulama Salaf melihat tergerusnya pemahaman syar'iyah, mulai dari lafadh-lafadh serta nash-nash syar'iyah, maka mereka berusaha untuk menjaga pemahaman-pemahaman shahih ini sesuai dengan apa yang di ketahui oleh orang Arab pada zamannya Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam dan sebelum terkontaminasinya bahasa mereka bersama orang non Arab, lalu mereka memperbaiki dan meletakan di dalam buku-buku mereka, dan mereka rekam hal tersebut dalam tulisan-tulisan mereka hingga istilah-istilah syar'i tetap terjaga dengan benar.
Atas pijakan inilah akhirnya mereka membagi atau dengan ungkapan yang lebih dalam menampakkan pembagian tauhid kepada khalayak umat agar mereka tidak terperdaya dan tidak lupa terhadap kandungan dan tanda-tanda syari'at dengan berlalunya zaman. Maka anda akan lihat hal tersebut secara jelas dalam ucapan-ucapan mereka para Imam yang menulis buku-buku Aqidah ataupun Syari'at. Sebagaimana akan kami jelaskan dalam paragraf berikut ini:
1.         Berkata Imam Abu Hanifah[63] rahimahullah didalam bukunya yang dinisbatkan pada beliau al-Fiqhul Abshat, "Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla mengajak dari arah atas bukan dari arah bawah, sebab arah bawah tidak termasuk dari sifat Rububiyah dan Uluhiyah sedikitpun".[64]
Ucapan beliau, "Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla mengajak dari arah atas bukan dari arah bawah". Didalam ucapannya beliau ini menunjukan penetapan pada ketinggian Allah azza wa jalla, dan itu adalah tauhid Shifat. Adapun ucapanya beliau, "tidak termasuk dari sifat Rububiyah". Disini beliau menetapkan tentang Tauhid Rububiyah. Dan ucapan beliau yang terakhir, " Dan Uluhiyah". Maka disini beliau sedang menetapkan adanya Tauhid Uluhiyah.
2.         Berkata Imam Abu Yusuf[65] rahimahullah, "Tauhid di tetapkan melalui Qiyas, tidakkah engkau mendengar pada firman Allah azza wa jalla didalam banyak ayat yang Allah Shubhanahu wa ta’alla mensifati diri -Nya, bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah Maha mengetahui, Maha mampu, Maha kuat, dan Maha kuasa.    Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak menyebutkan, "Sesungguhnya Aku mampu lagi mengetahui, kalau ada alasan seperti ini baru aku mampu, bila ada sebab ini saya baru tahu, dengan makna ini saya menguasai.
Oleh karena itu tidak boleh menganalogikan dalam bab Tauhid, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak diketahui melainkan dengan nama-nama -Nya dan tidak di sifati melainkan dengan sifat-sifat -Nya.
Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak menyebutkan, 'Lihatlah bagaimana Aku mengetahui, dan bagaimana aku mampu, dan bagaimana aku menciptakan, akan tetapi Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan, 'Lihatlah bagaimana  aku menciptakan, kemudian Allah menyebutkan:
"Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu". (QS an-Nahl: 70).

Dan dalam ayat lain Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan:
قال الله تعالى: ﴿ وَفِيٓ أَنفُسِكُمۡۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ ٢١ [ الذريات: 21]
"Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS adz-Dzariyaat: 21).

Yakni engkau tahu bahwa semua yang ada disekelilingmu mempunyai Rabb, yang membolak-balik keadaannya, menciptakan dengan penuh keajaiban, serta mengembalikan seperti semula. Sedangkan dirimu bagian dari alam tersebut dan engkau adalah salah satunya.
Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla menunjukan ciptaan     -Nya kepada makhluk yang dicipta -Nya, agar mereka menyadari bahwa mereka hakekatnya mempunyai Rabb yang wajib untuk di sembah, di taati, dan di esakan. Supaya mereka mengetahui bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla yang menggabungkan bagian dan partikel alam ini menjadi satu bukan mereka sendiri yang menjadikan itu semua…oleh karenanya ketahuilah Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan ayat-ayat -Nya, dengan tanda-tanda ciptaan -Nya, dan sifatilah Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan sifat-sifat yang mulia, dan namakanlah Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan nama-nama sebagaimana Allah Shubhanahu wa ta’alla mensifati diri -Nya didalam kitab -Nya dan apa yang telah disampaikan oleh Rasul kepada umatnya.
Hingga ucapan beliau yang menyebutkan, "Sesungguhnya Allah azza wa jalla yang menciptakan dirimu lalu menjadikan padamu panca indera dan anggota tubuh, kemudian pada akhirnya anggota badanmu akan melemah satu persatu, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla membawamu dari satu kondisi pada kondisi yang lain agar sekiranya engkau menyadari bahwa dirimu mempunyai Rabb, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla juga menjadikan pada dirimu hujah yang bisa engkau gunakan untuk mengetahui penciptamu, setelah itu Allah Shubhanahu wa ta’alla mensifati diri -Nya sendiri dengan menyebutkan, "Aku adalah Rabb, Aku adalah Maha penyayang, Aku lah Allah Shubhanahu wa ta’alla, Aku Maha mampu, Aku Maha menguasai seluruh makhluk". Allah ta'ala telah mensifati dirinya sendiri dan memberinya nama untuk dirinya sendiri.
Dan sungguh Allah Shubhanahu wa ta’alla telah memerintahkan pada kita supaya kita mengesakan -Nya, dan keberadaan tauhid tidak bisa dilakukan dengan cara analogi, sebab yang namanya analogi hanya berlaku pada sesuatu yang memiliki kesamaan dan keserupaan. Sedangkan Allah azza wa jalla, Maha suci Dirinya dari permisalan dan keserupaan.
Begitu pula Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menyuruhmu agar selalu mengikuti -Nya, mendengar -Nya, dan mentaati -Nya, dan jika seandainya umat manusia ini diberi keleluasaan untuk mencari hakekat tauhid dan mencari kebenaran iman melalui akal, analogi, dan menurut metodenya sendiri niscaya mereka akan tersesat. Tidakkah engkau mendengar firman Allah azza wa jalla yang menyebutkan, seperti didalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلۡحَقُّ أَهۡوَآءَهُمۡ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ٧١ [ المؤمنون: 71 ]
"Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya". (QS al-Mukminuun: 71).

Beliau menegaskan, "Maka pahamilah baik-baik penafsiran Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam ayat ini"[66]. Ini adalah ucapan yang sangat berharga dari beliau, Abu Yusuf didalam bab Tauhid yang nampak jelas didalam masalah Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiiyah serta Tauhid Asma dan Shifat.
3.         Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata tatkala menjelaskan tafsir firman Allah tabaraka wa ta'ala:
قال الله تعالى: ﴿ وَمَا يُؤۡمِنُ أَكۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ ١٠٦ [يوسف: 106 ]
"Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)". (QS Yusuf: 106).

Beliau menegaskan, "Dan Allah ta'ala menyebutkan, -Dan betapa banyak dikalangan mereka yang tidak membacanya-, yaitu orang-orang yang mensifati Allah azza wa jalla dengan sifat-sifat mereka, dengan firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ وَكَأَيِّن مِّنۡ ءَايَة فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡهَا وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُونَ ١٠٥ [ يوسف: 105 ]
"Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya". (QS Yusuf: 105).

Demi Allah, bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah penciptanya, pemberi rizki baginya, pencipta segala sesuatu, namun, dengan keyakinannya tersebut mereka mempersekutukan -Nya didalam peribadatan bersama patung dan berhala, dan menjadikan tandingan-tandingan selain Allah Shubhanahu wa ta’alla. dengan persangkaan mereka bahwa Allah memiliki anak, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan".[67]

Nampak jelas dari ucapannya Ibnu Jarir, bahwa beliau ingin menegaskan didalam perealisasian iman dan tauhid hendaknya seseorang itu mengesakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam ibadah dan uluhiyah sebagaimana beliau juga menjelaskan tentang Rububiyah Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan penciptaan Allah Shubhanahu wa ta’alla, serta pemberian rizki dari -Nya, jika dirinya tidak melakukan hal tersebut maka dirinya masih tergolong musyrik dan terhitung perbuatannya perbuatan syirik yang merupakan lawan dari tauhid.
Dan hal ini, tidak mungkin bisa terlealisasi melainkan dengan menetapkan pembagian tauhid menjadi tauhid Ma'rifah dan Isbat dengan macamnya, dan tauhid Asma dan Shifat, serta tauhid Thalab dan Qashd.
4.         Imam Abu Ja'far ath-Thahawi[68] menyebutkan didalam muqodimah matannya dalam aqidah yang mashur dengan sebutan Aqidah Thahawiyah, "Kami nyatakan dalam mentauhidkan Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan keyakinan yang kami pegangi dengan taufik dari Allah Shubhanahu wa ta’alla, sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla itu esa tidak ada sekutu bagi -Nya, dan tidak ada sesuatupun yang membuatnya tidak mampu, serta tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan diri -Nya"[69].
Tidak diragukan lagi bahwa didalam ucapan beliau diatas tadi ada penjelasan yang gamblang pada pembagian tauhid menjadi tiga.
5.         Imam Ibnu Bathah al-Ukburi[70] menjelaskan, "Yang demikian itu, karena pokok keimanan kepada Allah azza wa jalla yang wajib di imani oleh setiap makhluk didalam menetapkan keimanan pada -Nya ada tiga pokok:
                I.      Seorang hamba menyakini Rububiyah -Nya supaya dirinya bisa membedakan dengan madzhab ahli Ta'thil yang tidak menetapkan adanya pencipta.
               II.      Meyakini ke esaan Allah Shubhanahu wa ta’alla supaya dirinya bisa membedakan dengan ahli syirik yang menetapkan adanya pencipta namun mereka mempersekutukan bersama yang lain manakala beribadah.
             III.      Meyakini sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’alla, dengan sifat-sifat yang tidak boleh melainkan dengan sifat yang telah disandarkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan -Nya didalam kitab -Nya seperti ilmu, kemampuan, hikmah dan seluruh sifat-sifat yang telah Allah Shubhanahu wa ta’alla tetapkan untuk diri -Nya sendiri.
Sebab kita telah mengetahui bahwa kebanyakan orang yang telah menetapkan hal tersebut, yakni mentauhidkan Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan ucapan yang bebas tanpa mengikat makna, pada kenyataannya dia telah menyimpang didalam mensifati -Nya, sehingga penyimpangannya didalam mensifati Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadi cela pada tauhid yang diyakininya. Karena kita dapati bahwa Allah ta'ala telah mengajak bicara pada hamba -Nya dengan ajakan pada mereka untuk menyakini setiap hal dari tiga macam ini dan mengimaninya".[71]
Apakah ada yang lebih gamblang lagi  dari ucapan beliau didalam pembagian tauhid sehingga perlu penjelasan kembali, dan Ibnu Bathah termasuk ulama Salaf yang mashur dan termasuk dari ulama generasi pertama.
6.         Al-Hafidh Ibnu Mandah, beliau menulis sebuah kitab yang berjudul 'Kitabut Tauhid wa Ma'rifatu Asma'illah azza wa jalla wa Shifatihi 'alal Itifaq wat Tafarud' (Kitab Tauhid dan pengetahuan nama-nama dan sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’alla bila digabungkan dan bila sendirian). Beliau menyebut didalamnya pembagian tauhid lalu memaparkan argumentasinya didalam kitab tersebut dari al-Qur'an dan Sunah dengan penjabaran yang luas dan rinci yang sudah mencukupi untuk itu semua.[72]
7.         Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyyah al-Harrani. Sangat beragam ungkapan Syaikhul Islam didalam bab ini diantaranya sebagai misal, beliau menyebutkan:
a.     Tauhid yang Allah Shubhanahu wa ta’alla mengutus bersama Rasul -Nya ada dua, ucapan dan perbuatan. Adapun tauhid Qauli (ucapan), semisal yang terkandung dalam surat al-Ikhlas, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan dalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١ [ الإخلاص:1 ]
"Katakanlah: "Dia -lah Allah". (QS al-ikhlas: 1).

Sedangkan tauhid al-Amali yaitu dalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١   [ الكافرون: 1 ]
"Katakanlah: "Hai orang-orang kafir". (QS al-Kafiruun: 1).

Oleh karena itu Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dua surat ini pada dua rakaat sebelum shubuh, dua rakaat seusai thowaf dan lainnya.[73]
b.     Beliau menyebutkan tatkala menjelaskan sabda Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam:"Dan tidak berguna kekayaan dan kemulian bagi pemiliknya, hanya dari -Mu kekayaan dan kemulian".[74]
Maknanya bahwa orang yang memiliki kekayaan tidak berguna kekayaannya yakni tidak akan sanggup menyelamatkan, tidak pula menolongnya, sebab yang akan menyelamatkan dirinya hanyalah amal sholeh. Dan yang dimaksud dengan al-Jadu adalah kekayaan, dan yang terbesar dalam hal ini ialah harta. Dari hadits yang mulia ini tersirat dua pondasi yang agung yaitu:
Pertama: Tauhid Rububiyah, yaitu yang terkumpul dalam sabdanya, 'Tidak ada yang sanggup memberi dari sesuatu yang Allah Shubhanahu wa ta’alla cegah, dan tidak ada yang sanggup mencegah apa yang –Dia beri, dan tidak boleh bertawakal kecuali kepada -Nya, begitu pula tidak boleh meminta melainkan kepada -Nya.
Kedua: Tauhid Ilahiyyah. Yaitu penjelasan apa yang bermanfaat dan apa yang tidak bermanfaat. Bahwa tidak semua orang yang diberi harta, agama, kekuasaan, hal tersebut bisa bermanfaat baginya disisi Allah Shubhanahu wa ta’alla yang akan menyelamatkan dirinya dari adzab –Nya.
Dan tauhid Uluhiyyah ialah menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla dan tidak menjadikan sekutu bersama -Nya, mentaati -Nya, dan mentaati Rasul -Nya, mengerjakan apa yang dicintai dan di ridhoi oleh -Nya.
Adapun Tauhid Rububiyah masuk dalam hal ini, apa yang ditentukan dan di takdirkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, walaupun bukan termasuk yang diperintahkan, diwajibkan ataupun di ridhoi oleh -Nya. Dan seorang hamba diperintah untuk beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, mengerjakan apa yang diperintah oleh -Nya, yaitu mengesakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam uluhiyah     -Nya, dan memohon pertolongan pada Allah Shubhanahu wa ta’alla akan hal tersebut, itulah yang dimaksud mentauhidkan -Nya. Tatkala dirinya mengucapkan: 'Hanya kepada Mu kami menyembah dan hanya kepada Mu kami meminta pertolongan'.[75]

c.     Beliau juga menjelaskan pada pembicaraan tentang tauhidnya ahli kalam, 'Sesungguhnya mereka telah keluar dari tauhid dengan keberadaanya, seperti halnya tauhid ilahiyah, dan penetapan hakekat nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla dan sifat-sifat -Nya. Mereka tidak menjelaskan dari tauhid melainkan tauhid Rububiyah, yaitu menetapkan bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah pencipta segala sesuatu. Dan tauhid semacam ini dahulu telah diakui oleh orang-orang musyrik, yang Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menyebutkan tentang mereka didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۚ ٢٥ [لقمان: 25]
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" tentu mereka akan menjawab: "Allah". (QS Luqman: 25).

Adapun tauhid yang Allah ta'ala perintahkan untuk di imani oleh hamba -Nya ialah tauhid Uluhiyah yang sudah terkandung didalamnya tauhid Rububiyah, sehingga dengan ini agama semuanya hanya milik Allah[76].
d.     Dalam kesempatan lain beliau juga menyebutkan, "Bukan maksud dengan tauhid itu hanya sekedar mentauhidkan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam Rububiyah, yaitu menyakini bahwa –Dia adalah Maha Esa di dalam menciptakan alam semesta, sebagaimana di sangka oleh ahli kalam dan orang-orang tasawuf. Mereka mengira apabila sudah menetapkan hal tersebut dengan di sertai dalil maka mereka telah sempurna didalam menetapkan puncak ketauhidan. Mereka juga menyangka apabila sudah bersaksi dan paham akan hal tersebut maka mereka sudah mencapai puncak tauhid yang sempurna. Hal itu, dikarenakan seseorang kalau seandainya menetapkan yang menjadi haknya Allah ta'ala dari sifat-sifat yang dimiliki serta mensucikan dari segala aib dan cela, serta menetapkan bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla satu-satunya pencipta segala sesuatu, maka dirinya belum dinamakan telah bertauhid, bahkan, belum dikatakan beriman hingga dirinya bersaksi bahwasannya tidak ada Ilah yang berhak di sembah melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla. Dirinya menetapkan bahwasannya –Dia adalah tunggal, dan -Dia adalah Ilah yang berhak untuk di ibadahi. Sehingga melazimkan dengan ibadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla semata tidak menyekutukan -Nya"[77].
Beliau menegaskan kembali, "Maka persaksian bahwa tidak ada Ilah yang berhak di sembah melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla terkumpul didalamnya tiga pondasi yaitu tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah dan tauhid Asma dan Shifat. Dan ketiga pondasi ini berkisar diatasnya agama para Rasul dan apa yang diturunkan pada ajaran yang mereka bawa, dan ketiga pondasi ini merupakan pokok yang besar yang menunjukan padanya serta mempersaksikan denganya akal dan fitrah manusia"[78].
8.         Imam Ibnu Qoyim rahimahullah, beliau juga telah menjelaskan masalah ini dalam beberapa tempat, diantaranya:
a.      Penjelasan beliau didalam kitab Syarh al-Manazil, beliau menyebutkan, "Pasal yang terkandung pada surat ini (surat al-Fatihah)  ada tiga macam tauhid yang telah di sepakati oleh semua Rasul.
Tauhid ada dua macam, jenis pertama dalam ilmu dan keyakinan, yang kedua dalam keinginan dan tujuan. Yang pertama dinamakan dengan tauhid Ilmi, yang kedua dinamakan tauhid Qashdi dan Iradi. Disebabkan yang pertama berkaitan erat dengan kabar dan pengetahuan, dan yang kedua berkaitan erat dengan tujuan dan kehendak.
Dan kedua jenis tauhid ini juga terbagi menjadi kedua, tauhid dalam Rububiyah dan tauhid dalam Ilahiyah. Maka inilah tiga jenis tauhid.
Adapun tauhid Ilmu maka berkisar pada penetapan sifat-sifat yang sempurna dan menafikan tasybih (penyerupaan) dan tamtsil (permisalan) terhadap Allah, serta mensucikan Allah Shubhanahu wa ta’alla dari cela dan kekurangan"[79].
b.     Dalam kesempatan lain beliau menjelaskan, "Adapun tauhid yang di serukan oleh para Rasul dan diturunkan kitab suci oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, maka dibelakang itu semua, ada dua macam tauhid, tauhid dalam pengetahuan dan penetapan, dan tauhid dalam tujuan dan harapan.
Yang pertama, adalah tauhid yang menjelaskan hakekat Dzatnya Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan nama-nama serta sifat-sifat -Nya, perbuatan -Nya dan keberadaan -Nya yang berada di atas langit yaitu diatas arsy -Nya. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman didalam kitab-kitab -Nya, serta mengajak bicara pada siapa yang -Dia kehendaki dari kalangan hamba -Nya, dan menetapkan keumuman ketentuan dan takdir serta hukum -Nya.
Dan dalam hal ini al-Qur'an adalah perkara yang paling fasih menjelaskan tentang masalah ini dengan bahasa yang sangat jelas. Sebagaimana diterangkan di awal surat al-Hadid dan surat Thahaa, akhir surta al-Hasyr, awal surat as-Sajdah, dan surat al-Imraan, surat al-Ikhlas secara keseluruhan, dan surat-surat lainnya.
Yang kedua: Semisal yang terkandung di dalam surat al-Kafiruun, demikian pula didalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ كَلِمَة سَوَآءِۢ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡ‍ٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابا مِّن دُونِ ٱللَّهِۚ ٦٤ [ آل عمران: 64 ]
"Katakanlah: "Hai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah".  (QS al-Imraan: 64).

Dan didalam awal surat as-Sajdah dan bagian akhirnya, sebagian surat al-An'aam, dan secara garis besar dalam surat-surat al-Qur'an lainnya, bahkan setiap surat yang ada didalam al-Qur'an maka terkandung didalamnya masalah tauhid, sebagai bukti akan kebenarannya serta mengajak pada perkara tauhid tersebut".[80]
Secara menyeluruh, Imam Ibnu Qoyim memiliki beberapa ungkapan yang semuanya berkisar tentang pembagian tauhid menjadi tauhid Ilahiyah, Rububiyah, dan Asma wa Shifat. Semisal ucapan beliau, bahwa tauhid terbagi menjadi dua:
1.          Tauhid dalam ilmu dan keyakinan, maka yang dimaksud ialah Tauhid Asma dan Shifat.
2.          Tauhid dalam kehendak dan tujuan, maka yang dimaksud ialah Tauhid Uluhiyah dan Rububiyah.

Dalam kesempatan lain beliau menegaskan: Tauhid terbagi menjadi dua:
1.     Tauhid dalam pengetahuan dan penetapan, dan tauhid ucapan. Maka yang beliau maksud ialah Tauhid Rububiyah dan Asma dan Shifat.
2.     Tauhid dalam permohonan dan tujuan, dan tauhid amal, maka yang beliau maksud ialah tauhid Uluhiyah[81].
Terkadang beliau juga mengungkapkan, Tauhid terbagi menjadi dua, Umum dan Khusus[82]. Yang beliau inginkan dengan tauhid umum adalah Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma dan Shifat. Dan yang beliau inginkan dengan tauhid khusus ialah Tauhid Uluhiyah.
9.         Al-Allamah al-Miqrizi, beliau menjelaskan dalam kitabnya Tajridut Tauhid al-Mufid, sebagai berikut, "Ketahuilah bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah Rabb segala sesuatu, penguasa dan Ilahnya. Maka kalimat ar-Rabb dari mashdar rabb, yarabbu, rabban, Raabun. Sehingga makna firman Allah ta'ala:
قال الله تعالى: ﴿ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢   [ الفاتحة: 2 ]
"Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam". (QS al-Faatihah: 2).

Maknanya ialah Penguasa semesta alam. Sebab Rabb adalah penicpta, yang menjadikan manusia menjadi ada, yang mengurusi dan membimbing urusan mereka, menjamin segala kebutuhan mereka, dari mencipta, memberi rizki, memberi kesehatan, menjadikan baik agama dan dunia.
Dan Ilahiyah artinya ialah keberadaan manusia yang menjadikan Allah azza wa jalla sebagai Dzat yang ia cintai, dan dia sembah, mengesakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam kecintaan, takut, berharap, inabah, bertaubat, nadzar, taat, memohon, tawakal dan lain sebagainya yang semisal dengan hal ini.
Hingga ucapan beliau yang menegaskan, "Dan tauhid ini merupakan kedudukan orang-orang yang jujur. Tidak diragukan lagi bahwa Tauhid Rububiyah adalah sesuatu yang tidak pernah di ingkari oleh kaum musyrikin, bahkan mereka menetapkan bahwasannya Allah azza wa jalla adalah esa yang menciptakan mereka, yang menciptakan langit dan bumi, yang mengurusi kebutuhan alam semesta seluruhnya. Akan tetapi, yang di ingkari oleh mereka adalah tauhid Uluhiyah dan kecintaan sampai akhir perkataan beliau[83].
10.      Al-Allamah Ibnu Abul Izzi al-Hanafi[84], beliau menyebutkan dalam Syarh Aqidah Thahawiyah, "Tauhid yang pertama dan terakhir yakni Tauhid Ilahiyah. Sesungguhnya tauhid terkandung menjadi tiga bagian, salah satunya, masalah sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’alla, kedua, tauhid Rububiyah, serta penjelasan bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla dalah Dzat tunggal yang mencipta segala sesuatu, ketiga, tauhid Uluhiyah, yaitu kepemilikan hak mutlak bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla untuk di sembah dan tidak dipersekutukan dengan lain -Nya"[85].
Ucapan senada juga dikatakan oleh Mulla Ali Qori[86] dalam bukunya Syarh Fiqhul Akbar karya Imam Abu Hanifah, sebagaimana di ceritakan oleh Syaikh Waliyullah ad-Dahlawi[87] dalam bukunya al-Fauzul Kabir fii Ushulit Tafsir.
11.      Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah, dimana beliau sangat jarang sekali dalam tulisan-tulisan beliau yang berkaitan dengan masalah Tauhid melainkan beliau pasti menyebut pembagian tauhid tersebut. Bahkan beliau mengajak untuk menonjolkan dengan dua jenis tauhid secara jelas[88].
Inilah sebagian ucapan para ulama terdahulu dan belakangan yang semuanya menegaskan adanya dua pembagian tauhid yakni Rububiyah dan Uluhiyah, dan mereka-mereka adalah ulama panutan dalam umat ini. Dan apa yang kami paparkan disini bukan sebagai pembatasan, akan tetapi yang kami maksud adalah penjelasan sebagai contoh apa yang disebutkan oleh para ulama, sehingga tidak ada masalah yang lebih gamblang dari permisalan yang kami sebutkan, maka orang yang mengingkari dan tetap bersikukuh menolaknya maka tidak memiliki sandaran syar'i yang kuat tidak pula penukilan dari para ulama salaf yang kapabel, namun, kesombongan dan penentangan dalam hatinya, wallahu a'lam.

Kaitan Erat Pembagian Tauhid
Pembagian ini bila di gabungkan akan membentuk konsep keimanan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla yang kita namakan dengan Tauhid, maka tidak sempurna ketauhidan seseorang melainkan bila terkumpul dalam keyakinannya ketiga jenis tauhid di muka, karena tiga hal tadi mempunyai keterkaitan yang sangat erat satu sama lain, yang tidak mungkin dirasa cukup satu dengan lainnya.
Dan tidak akan bermanfaat tauhid Rububiyah tanpa di sertai tauhid Uluhiyah, demikian pula tidak sah, tidak pula tegak tauhid Uluhiyah tanpa adanya tauhid Rububiyah, begitu juga tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah tidak akan lurus tanpa dibarengi dengan tauhid Asma dan Shifat[89]. Sehingga kekurangan dan penyelewengan pada salah satu dari ketiga jenis tauhid tadi merupakan kekurangan dalam masalah tauhid secara total.
Bahkan sebagian ulama menjelaskan hubungan erat dari pembagian ini, dengan ucapannya, "Dalam ketiganya mempunyai hubungan yang lazim, memiliki kandungan serta keumuman yang mencakup satu sama lain. Maka tauhid Rububiyah melazimkan adanya tauhid Uluhiyah, dan adanya tauhid Uluhiyah terkandung didalamnya tauhid Rububiyah[90], sedangkan tauhid Asma dan Shifat mencakup bagi kedua jenis tauhid tadi secara bersamaan[91].
Penjabarannya, bahwa bagi orang yang telah menetapkan dengan tauhid Rububiyah serta mengetahui bahwasannya Allah ta'ala ada Rabb tunggal yang tidak ada sekutu bagi -Nya dalam rububiyah    -Nya, maka melazimkan penetapannya tersebut untuk mengesakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam peribadatan hanya kepada -Nya semata. Sebab tidak patut menyembah kecuali Rabb sejati yang mencipta, menguasai, dan mengurusi, dan selagi semua itu hanya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla semata maka wajib untuk menjadikan Allah Shubhanahu wa ta’alla sebagai sesembahan yang berhak untuk diibadahi.
Oleh karena itu, kebiasaan yang di informasikan dalam al-Qur'an tatkala menyebut ayat-ayat yang berkaitan dengan rububiyahnya Allah Shubhanahu wa ta’alla selalu di gandeng dengan ayat-ayat yang mengajak untuk mentauhidkan –Nya dalam uluhiyah  -Nya, diantaranya ialah firman Allah tabaraka wa ta'ala:
قال الله تعالى: ﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ٢١ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآء وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآء فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٢٢ [ البقرة: 21-22 ]
"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui". (QS al-Baqarah: 21-22).

Adapun tauhid Uluhiyah maka terkandungan di dalamnya tauhid Rububiyah. Sebab orang yang menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla dan tidak menyekutukan -Nya dengan sesuatu apapun, maka sejatinya sedang menunjukan pada kandungan yang diyakininya yang meyakini bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah Rabbnya, yang menguasainya, yang tidak ada Rabb selain -Dia.
Dan ini merupakan perkara yang bisa di rasakan oleh seorang yang bertauhid pada dirinya sendiri, manakala dirinya mengesakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam peribadatan dengan tidak memalingkan ibadah tersebut kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, maka tidak lain perilaku tersebut kecuali sebagai penegasan dirinya sedang menetapkan dengan tauhid Rububiyah, bahwasannya dia tidak mempunyai Rabb, penguasa, tidak pula yang mengatur alam semesta melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata.
Sedangkan tauhid Asma dan Sifat maka terdapat dalam cakupan kedua jenis tauhid tersebut secara bersamaan, hal tersebut dikarenakan dirinya telah menegakan dalam pengesaan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan semua yang di miliki -Nya, dari nama-nama yang indah serta sifat-sifat -Nya yang mulia, yang selayaknya tidak di miliki kecuali oleh Allah Shubhanahu wa ta'ala. Dan diantaranya adalah nama ar-Rabb, al-Khaliq, ar-Razzaq, al-Malik, yang merupakan inti dari tauhid Rububiyah. Diantaranya pula sifat Allah Shubhanahu wa ta’alla, seperti maha pengampun, maha penyayang, maha menerima taubat, yang ini merupakan inti dari tauhid Uluhiyah.[92]
Dengan kata lain, bahwa tauhid ilmu dan i'tiqod, dan tauhid amal thalabi, maka tauhid amal terkandung didalamnya tauhid ilmu. Maka apabila seorang hamba mengilmui bahwa Rabbnya tidak ada sekutu bagi -Nya dalam penciptaan, perintah, nama dan sifat -Nya, akan menghasilkan bagi seseorang tersebut untuk mengerjakan ketaatan dan peribadatan hanya kepada -Nya.
Dan barangsiapa yang menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla serta mengesakan -Nya, yang diawali terlebih dahulu pemahaman bahwa tidak ada rabb yang ikut serta dalam penciptaan dan perintah -Nya, yang tidak boleh sebaliknya, dikarenakan hati sangat bergantung kepada tauhid Rububiyah, maka baru setelahnya naik menuju tauhid Uluhiyah[93].
Imam Ibnu Qoyim menjelaskan, "al-Ilahiyah yang di serukan oleh para Rasul terhadap umatnya ialah mentauhidkan Rabb dengan ilahiyah yaitu peribadatan dan penyembahan. Dan kelaziman dari pada ilahiyah ini ialah tauhid Rububiyah yang diperintahkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla untuk menyeru orang-orang musyrik, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla telah berhujah pada mereka dengan tauhid rububiyah ini, maka sesungguhnya melazimkan dari penetapan dengan tauhid Rububiyah untuk menetapkan tauhid Uluhiyah".[94]
Berpijak pada apa yang kami paparkan diawal, kita memahami bahwa adanya tauhid Rububiyah dan tauhid Asma dan Sifat semata, tidak mencukupi untuk memasukan pelakunya didalam Islam dan tidak akan menyelamatkan dirinya dari siksa Neraka, serta tidak menjamin keamanan harta dan darahnya, sebagaimana telah lewat penjelasannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, "Kalimat syahadat yang di seru oleh para Rasul yakni kalimat laa ilaha ilallah, mencakup didalamnya ketiga jenis tauhid. Dan kalimat tersebut menunjukan pada tauhid Ibadah karena maknanya adalah tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla. Maka di dalam makna kalimat ini terkandung penetapan peribadatan hanya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla serta  menafikan peribadatan pada selain -Nya.
Dan kalimat itu, juga menunjukan adanya tauhid Rububiyah, dikarenakan sesuatu yang tidak mampu berbuat tidak mungkin menjadi tuhan, sebab sesembahan tersebut harus mampu dirinya untuk menciptakan serta mengurusi ciptaanya. Dan menunjukan pada tauhid Asma dan Shifat, dikarenakan sesuatu yang tidak memiliki nama-nama yang indah serta sifat-sifat sempurna, dan demikian keadaanya maka tidak layak untuk dijadikan sebagai ilah dan pencipta".[95]
Untuk lebih jelas nya, dalam bab ini maka akan saya sebutkan disini perbedaan antara dua jenis tauhid tersebut, maka kesimpulannya antara kedua tauhid tersebut memiliki beberapa perbedaan dari beberapa sisi:
i.           Perselisihan yang terjadi berada pada pecahan kata, kata Rububiyah pecahan dari nama Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb sedang kata Uluhiyah pecahan dari lafadh al-Ilah.
ii.          Bahwa hubungan rububiyah itu berada para perkara-perkara yang ada di alam semesta, semisal, mencipta, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, dan semisalnya. Adapun hubungan tauhid Uluhiyah berada pada perintah dan larangan, dari perkara yang wajib, haram maupun makruh.
iii.        Bahwa tauhid Rububiyah pada dasarnya di akui oleh orang-orang musyrik, adapun tauhid Uluhiyah maka mereka menolaknya, seperti di rekam oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla tentang hal itu dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ ٣ [ الزمر: 3 ]
"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya".  (QS az-Zumar: 3).

Demikian pula yang terdapat dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ أَجَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰها وَٰحِدًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عُجَاب ٥ [ ص: 5 ]
"Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan". (QS Shaad: 5).

iv.        Tauhid Rububiyah terambil dari pendalilan ilmu sedang tauhid Uluhiyah terambil dari pendalilan amal.
v.          Tauhid Rububiyah melazimkan adanya tauhid Uluhiyah, maknanya bahwa tauhid Uluhiyah berada di luar pendalilan tauhid Rububiyah, akan tetapi, tidak bisa terlealisasi tauhid Rububbiyah melainkan dengan tauhid Uluhiyah. Dan tauhid Uluhiyah terkandung didalamnya tauhid Rububiyah, maknanya bahwa tauhid Rububiyah bagian dari makna tauhid Uluhiyah.
vi.        Tauhid Rububiyah tidak serta merta memasukan orang yang mengimaninya masuk ke agama Islam, berbeda dengan sebaliknya yakni tauhid Uluhiyah, maka orang yang mengimaniya secara otomatis memasukan dirinya kedalam Islam.
vii.       Tauhid Rububiyah seringpula dikatakan dengan tauhid ma'rifat dan Itsbat, adapun tauhid Uluhiyah dengan tauhid Iradah dan al-Qashd.

Syubhat dan Bantahan Bagi Pengingkar Pembagian Tauhid
Sekalipun masalah ini sudah jelas seterang matahari disiang hari, namun masih saja ada yang mengingkarinya, dan mereka mencoba menampilkan syubhat-syubhat yang banyak, berusaha untuk mendebat dan mengingkari adanya pembagian tauhid menjadi tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah, mereka membikin statmen kalau kedua tauhid tadi, tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah adalah sinonim dari satu tauhid, dan kelompok  yang mencoba mengingkari hal tersebut ada dua:
1.         Ahli kalam dari kelompok Maturidiyah dan Asy'ariyah. Mereka mengklaim bahwa tauhid Uluhiyah sejatinya adalah tauhid Rububiyah[96].
2.         Kalangan pengagung kubur dari kelompokTasawuf. Yang mana mereka menyangkal kalau tauhid Uluhiyah sejatinya sama dengan tauhid Rububiyah yang tidak ada bedanya sama sekali, keduanya adalah dua hal yang satu tanpa ada perbedaan[97]
Berikut akan saya globalkan syubhat-syubhat mereka yang kemudian datang bantahan atas syubhat-syubhat tersebut:
Syubhat pertama: Mereka menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan al-Ilah adalah Rabb dan Rabb itu ialah al-Ilah. Sehingga tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah menjadi dua makna sejoli yang tidak mungkin terpisahkan satu sama lainnya dalam hal keberadaan dan keyakinan terhadapnya.
Bantahan terhadap syubhat tadi: Telah lewat penjelasan kami di muka tentang makna Ilah dan juga makna Rabb ditinjau dari terminologi maupun etimologi. Dan menjadi jelas bagi kami bahwa lafadh Ilah maknanya bukan Rabb, sebab makna Ilah baik secara etimologi maupun terminologi itu sudah dikenal secara baik oleh generasi salaf (terdahulu) dari kalangan umat ini.[98]
Tinggal kami isyaratkan disini sebuah kaidah penting untuk memupus syubhat yang sudah terlanjur mengena, yaitu; Bahwa nama-nama Allah itu a'laam (menunjukan pada Dzat yang dinamai) dan juga Aushaaf (menunjukan pada Dzat yang disifati)[99]. Yakni ditinjau dari sisi pendalilan terhadap Dzat maka menunjukan pada nama, dan bila di tinjau dari sisi pendalilan makna maka menunjukan pada Dzat yang di sifati.
Dari tinjaun pertama maka menunjukan pada sebuah sinonim dari segi pendalilan terhadap satu nama, dalam hal ini yaitu Allah azza wa jalla. Dan bila dilihat dari tinjaun kedua maka keduanya memiliki dua hal yang berlawanan karena salah satu dari keduanya mempunyai makna khusus yang dimiliki, sehingga barangsiapa yang menyatakan bahwa tinjauan yang kedua merupakan bentuk sinonim maka dirinya jahil, karena dirinya tidak dapat membedakan antara makna Ilah dan Rabb, dan membuktikan jika dirinya belum sempurna didalam meneliti buku-buku induk bahasa Arab serta ucapannya para ulama yang bisa melihat perbedaan yang sangat jelas.

Syubhat kedua: Apabila kafir Makah, mereka dengan jelas telah mengakui adanya tauhid Rububiyah, maka apakah tauhidnya mereka dalam hal ini benar? Apakah orang kafir mempunyai tauhid yang benar? Dan apabila tauhid mereka tidak benar maknanya bahwa mereka belum mengakui dengan tauhid ini, sehingga kesimpulannya pembagian ini tidak dianggap![100]
Bantahan: Belum pernah ada seorang ulamapun yang mensifati bagi orang yang mengakui adanya tauhid Rububiyah bahwasannya orang tersebut dikatakan sebagai orang yang bertauhid secara mutlak, akan tetapi, mereka mensifati orang yang bertauhid apabila dirinya telah mengakui dengan tiga tauhid diawal.
Namun, yang jelas dari ucapan para ulama, bagi orang yang telah menetapkan rububiyahnya Allah Shubhanahu wa ta’alla yakni dirinya telah mengesakan -Nya, yang maha mencipta, memberi rizki, menguasai, dan mengaturnya dengan keyakinan bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak memiliki sekutu dalam hal  itu, kemudian dirinya tidak mengesakan dalam peribadatan, dirinya hanya mengakui dengan tauhid Rububiyah atau menetapkan dengan tauhid Rububiyah atau yang semakna dengannya, maka para ulama tidak memandang hal tersebut suatu hal yang akan menyelamatkan pelakunya dari siksa Allah Shubhanahu wa ta’alla atau mengeluarkan mereka dari kekafiran.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, "Adapun tauhid Rububiyah yang telah diakui oleh seluruh makhluk demikian pula diakui oleh ahli kalam, maka itu saja belum mencukupi, bahkan, itu merupakan hujah atas mereka".[101] Imam Ibnu Qoyim menyebutkan, "Adapun tauhid Rububiyah yang telah ditetapkan oleh muslim dan kafir, demikian pula ditetapkan oleh ahli kalam dalam buku-buku mereka, maka itu saja belum mencukupi, bahkan itu merupakan hujah atas mereka sebagaimana telah di jelaskan oleh Allah ta'ala didalam kitab -Nya dalam banyak tempat".[102]
Imam Shan'ani[103] menyebutkan dalam muqodimah kitabnya[104], "Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla yang tidak menerima tauhid Rububiyah dari para hamba hingga dirinya secara individu mengesakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam tauhid Uluhiyah...". Kemudian para ulama mengambil hukum umum bagi tiap orang yang menetapkan Rububiyah Allah Shubhanahu wa ta’alla bahwasannya –Dia adalah pencipta, pemberi rizki dan seterusnya. Bahwa pelakunya telah mengakui adanya tauhid Rububiyah walaupun dirinya seorang musyrik dalam peribadatan maka perkataan mereka selaras dengan yang dijelaskan oleh al-Qur'an, yakni dalam firman Allah tabaraka wa ta'ala:

قال الله تعالى: ﴿ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٢٢ [ البقرة: 22 ]
"Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui". (QS al-Baqarah: 22).

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan, "Maknanya janganlah kalian mengambil sekutu-sekutu bagi -Nya, dari tandingan-tandingan yang kalian buat, yang tidak mampu memberi manfaat tidak pula memberi mara bahaya sedangkan dirimu mengetahui bahwa tidak ada Rabb yang kalian miliki yang memberimu rizki, dan kalian mengetahui bahwa ajakan Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam pada kalian adalah mengesakan Allah Shubhanahu wa ta’alla yang benar".[105]
Qatadah menjelaskan, "Maknanya kalian mengetahui bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla yang menciptakan kalian, menciptakan langit dan bumi, kemudian kalian membuat tandingan-tandingan bagi -Nya".[106] Imam Ibnu Jarir menyebutkan dalam tafsir ayat diatas, "Akan tetapi Allah azza wa jalla telah mengabarkan didalam kitab        -Nya tentang mereka (yakni kaum Jahiliyah) bahwa mereka telah mengakui dengan keesaan Allah Shubhanahu wa ta’alla, namun, mereka berbuat kesyirikan dalam beribadah kepada -Nya yang tidak mereka lakukan dalam mengesakan -Nya, Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabarkan tentang mereka dalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ وَمَا يُؤۡمِنُ أَكۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ ١٠٦
[يوسف: 106]
"Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)". (QS Yusuf: 106).[107]

Telah lewat ucapan ulama Salaf tentang tafsir ayat ini, yang menunjukan bahwasannya para ulama menghukumi secara umum jika ada orang yang mengakui bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah pencipta lalu menyembah -Nya bersama sekutu yang lain, maka pelakunya dihukumi telah mengakui dengan tauhid Rububiyah, namun, dirinya masih dihukumi sebagai seorang musyrik tatkala beribadah kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, oleh karena itu Imam Shan'ani menandaskan, "Lafadh mempersekutukan memberi implisit terhadap penetapan adanya Allah azza wa jalla".[108] 
Kemudian di sini ada perkara yang harus dijelaskan yaitu bahwa ucapan para ulama tentang kaum musyrikin bahwasannya mereka mengakui adanya tauhid Rububiyah bukanlah yang dimaksud bahwa mereka telah mengakui adanya pembagian tauhid ini secara lengkap dan sempurna. Maka dalam hal ini tidak ada seorang pun dari ulama yang menyebutkan seperti itu, namun, yang mereka maksud ialah menetapkan apa yang telah ditetapkan dalam al-Qur'an tentang keadaan orang-orang musyrik dari pengakuan mereka terhadap beberapa sifat Rububiyah dan kekhususannya.
Selanjutnya hal itu bukan termasuk hukum umum bagi seluruh orang musyrik, bahkan, mereka sebagaimana dinyatakan oleh Syaikhul Islam, "Bahwa kebanyakan para pelaku kesyirikan dan kesesatan dirinya menyandarkan adanya kemungkinan serta kejadian yang terjadi dalam fenomena alam kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, maka bagi setiap orang yang berpendapat semacam ini melazimkan terjadinya suatu kejadian tanpa adanya sebab, dan mereka bersama kesyirikannya serta kelaziman mereka yang mengharuskan adanya sedikit menghilangkan makna Rububiyah, dengan itu mereka tidak menetapkan  adanya sekutu yang menyamai Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam sifat dan perbuatan -Nya".
Dari situ kita mengetahui bahwasannya tidak ada seorang pun dari ulama ahlu Sunah yang menyebutkan bahwa orang yang berbuat kesyirikan dalam Uluhiyah dan telah menetapkan adanya Rububiyah menjadi seorang yang tauhidnya benar, yang mengharuskan dirinya masuk surga, bagaimana mungkin sedangkan Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَار ٧٢ [ المائدة: 72 ]
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun". (QS al-Maa-idah: 72).

Didalam ayat ini Allah Shubhanahu wa ta’alla menghukumi secara umum, yakni barangsiapa yang berbuat kesyirikan besar didalam Uluhiyah atau Rububiyah, maka dirinya akan masuk ke neraka. Adapun ucapan mereka yang menyebutkan bahwa bagi orang yang telah mengakui Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan tauhid Rububiyah dirinya telah bertauhid dengan benar, maka ini merupakan pokok aqidah Asy'ariyah dan Maturidiyah dan kekasih mereka dalam kalangan Sufiyah. Karena tauhid Rububiyah merupakan puncak tertinggi bagi mereka, namun, tidak bagi kami Ahlu Sunah.
Syubhat ketiga: Apakah kaum muslimin pernah mendengar dalam hadits maupun sejarah yang menerangkan bahwa Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam apabila datang utusan pembesar suatu kaum untuk menyatakan ke islamannya dihadapan beliau, lalu beliau menjelaskan pada mereka tentang tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah? Lantas beliau mengabarkan pada mereka bahwa tauhid Uluhiyah adalah faktor yang menjadikan mereka masuk Islam?

Sanggahan atas syubhat ini bisa dari dua sisi:
Pertama: Kita katakan sebagai bentuk sanggahan, apakah Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa keesaan terjadi pada Dzat, Sifat dan juga perbuatan, seperti yang dinyatakan oleh sekte Asy'ariyah, walapun ketiganya merupakan jenis tauhid yang berbeda? Demikian pula sebagaimana di klaim oleh para ulama pengagung kubur?
Kedua: Syubhat ini –seperti yang dipahami dari soal yang bernada mengingkari- bahwa belum pernah dinukil Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam yang menjelaskan bagi utusan delegasi Arab yang ingin masuk Islam dengan dua jenis tauhid. Maka jawaban atas hal itu bisa di klasifikasikan menjadi dua kemungkinan:
1.         Apa yang mereka katakan dalam ucapannya tadi yang menyatakan kalau Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah menjelaskan pada mereka makna tauhid, maka jelas ini adalah batil, kebatilannya bisa terendus secara pasti dari agama Islam.
Dan memungkinkan untuk bisa mengetahui tentang penjelasan Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam terhadap tauhid bisa dari pelarangan beliau terhadap perbuatan syirik dan juga peringatan beliau akan hal tersebut, dan juga penjelasan beliau akan bahaya kesyirikan dan kejelekannya –sebagaimana akan datang penjelasannya-.
Demikian pula dapat diketahui dari hujah dan dalil yang beliau tegakkan atas kewajiban mengesakan Allah ta'ala dalam ibadah dengan berbagai macam dalil, seperti penjelasan tentang Rububiyah Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan kenikmatan yang diakui oleh orang-orang kafir pada saat itu, dan juga penjelasan akan lemah dan tidak kuasanya orang yang menyembah selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan penjelasan beliau akan bahayanya sarana-sarana kesyirikan, larangan, peringatan, dan tindakan preventif lainya. Dari itu semua, bagaimana mungkin dikatakan bahwa Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah menjelaskan makna tauhid?
2.         Atau kemungkinan kedua mereka menginginkan atas syubhat tadi, bahwa Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah menyebutkan secara harfiah bahwa tauhid terbagi menjadi Rububiyah dan Uluhiyah, maka kemungkinan terakhir ini benar adanya. Namun, tidak mengharuskan hal tersebut, dengan tidak adanya penjelasan tentang makna tauhid.
Dan perkara ini, jikalau memang perkara istilahi semata sebagaimana di istilahkan oleh sekte Asy'ariyah atas pembagian yang cekak terhadap tauhid, tentu tidak ada hujah sedikitpun atas mereka atas pengingkaran yang mereka lakukan, apalagi, tentang pembagian ini termasuk dari hakekat syar'iyah yang bersandarkan pada al-Qur'an, maka hal tersebut bukan istilah yang dibuat-buat oleh sebagian ulama, dan dalil-dalil yang ada menunjukan akan ke universalan pembagian tauhid yang dilakukan oleh ahlu sunah.

Syubhat keempat: Bahwa pendapat yang menyebutkan adanya tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah dan tauhid Asma dan Shifat adalah perkara jelek, bid'ah yang diada-adakan oleh Salafiyah, bahkan, tidak kita jumpai ada agama selain agama Nashrani, yang menetapkan bagi Allah konsep trinitas, makanya pembagian tauhid menjadi tiga serupa dengan trinitas milik orang-orang Nashrani.[109]
Jawaban atas syubhat ini: Bahwa trinitas merupakan keyakinan orang Nashrani yang tegak di atas pilar menjadikan tuhan tiga, yaitu bapak, anak dan ruh kudus. Dan aqidah semacam ini telah ditegaskan kekafirannya oleh Allah ta'ala didalam kitab -Nya.
Adapun pembagian tauhid menjadi tiga, tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma dan Shifat, atau dibagi menjadi dua tauhid ma'rifat dan itsbat dan tauhid iradah dan thalab, maka ini merupakan keyakinan kaum muslimin berdasarkan al-Qur'an dan sunah Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam bukan perkara bid'ah yang menyesatkan, sebagaimana telah lewat pemaparan dalil-dalil dari al-Qur'an maupun hadits tentang penetapan adanya ketiga tauhid tersebut, yang kami rasa tidak perlu disebutkan kembali.
Selanjutkan kita katakan pada mereka, bukankah kalian juga menyebutkan, Allah  Shubhanahu wa ta’alla esa dalam Dzatnya tidak terbagi, -Dia esa dalam sifat azali tidak ada yang semisal dengan -Nya, Allah Shubhanahu wa ta’alla esa dalam perbuatan yang tidak ada sekutu bagi -Nya.
Kalian sendiri telah menetapkan konsep trinitas yang kalian tidak bisa lari darinya kemudian setelah itu kalian melempar tuduhan tersebut kepada kami, apa yang kalian jawab maka kami juga lebih berhak untuk menjawabnya. Lalu, pembagian tauhid menjadi tiga macam, maka dari itu merupakan pembagian yang hak yang Allah Shubhanahu wa ta’alla miliki, bukan pembagian tuhan sebagaimana aqidah trinitas yang dimiliki oleh orang Nashrani.

Syubhat kelima: Adanya pembagian tauhid semacam ini maka tidak kami diketahui ada seorang ulamapun sebelum Ibnu Taimiyah, namun, yang ada dialah yang membuat inovasi tersebut.
Bantahan atas syubhat tersebut: Syubhat ini menunjukan dangkalnya pengetahuan mereka serta sedikitnya bekal ilmu dan pemahaman mereka terhadap buku-buku salafu sholeh. Yang mana, banyak sekali dijumpai secara gamblang, baik dengan isyarat atau langsung pada pembagian ini. Kalau seandainya saya nukil semua ucapan mereka tentu akan menambah jumlah halaman, akan tetapi, saya telah menukil beberapa perkataan mereka yang mencakup penyebutan pembagian tauhid menjadi tiga dari sebagian ulama yang hidup sebelum Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, agar nampak jelas kedustaan mereka yang menuduh beliau dengan tuduhan keji semacam ini, dimana sebelumnya saya telah bawakan ucapan sebagian ulama semisal Ibnu Bathah, Ibnu Mandah, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Ibnu Jarir ath-Thabari dan selain mereka rahimahumullah.
Masalah: Jika ada yang menyanggah, lantas kenapa kebanyakan dari ulama yang menulis buku-buku yang berkaitan dengan ilmu filsafat dari kalangan ahli kalam, mereka berpaling dari penjelasan pembagian tauhid, bahkan, sebagian besar mereka berusaha semampu mungkin hanya untuk menjelaskan bagian pertama saja dari tauhid, kemudian mereka tidak memaparkan bagian-bagian lainnya.
Apakah disana ada faktor yang mendorong mereka untuk enggan menjabarkan tentang tauhid Uluhiyah? Atau hal itu buah dari ketidak pahaman mereka terhada nas al-Qur'an dan sunah yang shahih. Apakah mungkin semuanya, dari para pendahulu demikian pula orang yang datang belakangan, terisolir secara sempurna dari pengetahuan pembagian tauhid?
Sanggahan atas masalah tadi:  Jelas tidak, namun, bisa jadi kalangan pendahulu mereka ada yang mengetahui pembagian tersebut, hanya saja mereka tidak mencantumkan dalam karya mereka secara khusus tentang hakekat tauhid Uluhiyah serta lawan-lawannya dari kesyirikan, praktek-prakteknya, sarana serta pendorong kesyirikan tersebut, disebabkan belum nampak secara terang-terangan sebagaimana yang terjadi dikebanyakan kaum muslimin pada hari ini.
Dan yang menguatkan hal ini, bahwa para ulama dari kalangan Ahlu Sunah wal Jama'ah yang berusaha untuk membantah sekte Asy'ariyah dan lainnya mereka tidak menyebutkan -sepengetahuan kami- permasalahan-permasalahan tauhid Uluhiyah yang menjadi ajang perdebatan diantara mereka, kalaupun seandainya mempunyai sedikit perbedaan niscaya mereka akan menyebutkan serta membantahnya.
Secara menyeluruh, maka hal ini semakin menguatkan bahwa para pendahulu berbagai kelompok serta pendahulu Asya'irah dan Maturidiyah mereka sama sekali tidak mempersoalkan dalam permasalahan jika meminta perlindungan kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla maka itu jelas tidak dibolehkan, begitu pula berdo'a, istighotsah kepada sesuatu yang tidak mampu selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, bersumpah dan lain sebagainya. Sebagaimana perbedaan yang terjadi dikalangan belakangan diantara mereka seperti ahli filsafat, dan tasawuf. Maka hal itu bisa dipahami dari dua sisi:
Pertama: Penegasan secara jelas dari sebagian ulama pendahulu Asya'irah terhadap tauhid Uluhiyah, diantaranya; pernyataan al-Baqalani[110] yang menyebutkan tentang tauhid menurut pengertian beliau adalah, 'Menetapkan bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla benar dan ada sebagai Ilah yang satu, esa yang harus disembah, tidak ada sesuatupun yang semisal dengan -Nya'.[111]
Dalam kesempatan lain beliau menjelaskan, 'Sesungguhnya tidak ada bersama Allah, Ilah yang lain dan tidak ada yang berhak disembah melainkan diri -Nya'.[112]
Diantara ulama mereka yang terang-terangan menyatakan hal tersebut ialah al-Bajuri[113], dimana beliau menegaskan tatkala mendefinisikan tauhid, 'Tauhid ialah mengesakan sesembahan dalam ibadah sambil dibarengi keyakinan akan ke Esa-annya serta membenarkan dengan itu dalam Dzat Allah Shubhanahu wa ta’alla, sifat, dan perbuatan -Nya'[114]. Definisi ini, biarpun disebut secara global dalam masalah Asma dan Shifat, namun, mencakup bagi pendalilan seluruh jenis tauhid.
Diantara perkara yang menegaskan lagi, bahwa kalangan pendahulu mereka telah mengetahui apa yang tidak banyak diketahui oleh kalangan belakangan diantara mereka, khususnya pada zaman ini, bahwa berdo'a, raghbah, rahbah, dan takut adalah perkara yang tidak dibolehkan kecuali bila ditujukan hanya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan dari -Nya. Yang menguatkan hal tersebut adalah ucapan-ucapan ulama terdahulu yang memperingatkan bagi sebagian praktek kesyirikan sebagai tindakan preventif agar tidak terjerumus kedalamnya. Seperti diantaranya;
1.         Ucapan al-Hulaimi[115] yang menyebutkan, "Berdo'a secara garis besar termasuk bagian ibadah yang memperlihatkan kekhusyu'an dan merendahkan diri. Sebab tiap orang yang memohon dan meminta, dirinya telah memperlihatkan kebutuhannya, dengan memelas dan menyadari akan kerendahan, kefakiran serta kebutuhan terhadap Dzat yang dia berdo'a dan meminta padanya. Sehingga jika hal tersebut dilakukan oleh seorang hamba maka berubah menjadi bentuk ibadah yang bisa dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah jalla wa 'ala. Oleh karenanya, Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan hal itu dalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠ [ غافر: 60]
"Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada -Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah -Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS Ghafir: 60).

Dari ayat ini jelas sekali jika berdo'a adalah ibadah, sebab orang yang merasa takut sebagaimana kami sifati, dirinya akan berharap, sebab jika dirinya merasa takut dia akan khusyu dan merendahkan diri terhadap orang yang ditakutinya dan menundukan diri padanya dalam rangka supaya diampuni"[116].
Dalam kesempatan lain dirinya juga menyebutkan, "Tidak sepantasnya menjadikan rasa harap kepada selain Allah azza wa jalla, yang mempunyai ke Esa- an, kekuasaan dan agama. Dimana tidak ada suatu dzatpun selain –Dia yang mampu memberi manfaat tidak pula memberi mara bahaya".[117]

2.         ar-Razi[118] menyebutkan, "Mayoritas para pembesar cendekia menyebutkan, bahwa do'a adalah termasuk perkara terpenting dalam kedudukan ubudiyah (peribadatan), sebagaimana ditunjukan oleh banyak dalil baik naql (nash) maupun aql (analogi)". Kemudian dirinya menyebutkan satu persatu[119].
Dalam kesempatan lain, dia juga menyebutkan, "Sesungguhnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan, "Do'a adalah ibadah". Maka sabdanya, 'Do'a adalah ibadah'. Artinya ialah, do'a merupakan ibadah yang paling utama dan sari pati dari ibadah".[120]
Dia juga menyebutkan, "Tiap orang yang menjadikan sekutu bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla maka mengharuskan dirinya untuk mendahulukan peribadatan terhadap sekutu tersebut dari beberapa sisi, baik dalam hal memohon manfaat atau lari dari mara bahaya.
Adapun orang-orang yang tegak diatas tauhid dan membatalkan ucapan yang membolehkan sekutu dan tandingan bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, maka mereka tidak beribadah kecuali kepada -Nya, mereka tidak berpaling sedikitpun dari selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, rasa harap mereka tujukan hanya pada -Nya, rasa takut dan raghbah hanya pada Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan rahbah (berharap) hanya pada         -Nya. Mereka bersih, sama sekali tidak menyembah melainkan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, tidak meminta pertolongan kepada selain -Nya, oleh karena itu mereka semuanya menyebutkan (dalam sholatnya).
قال الله تعالى: ﴿ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥ [ الفاتحة: 5 ]
"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan". (QS al-Faatihah: 5).

Sehingga ucapannya mereka, "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan". Sama kedudukannya dengan ucapan, 'Laa ilaha ilallah".[121]
Ungkapan-ungkapan diatas secara tidak langsung membantah atas persangkaan kebanyakan generasi belakangan yang membolehkan untuk berdo'a kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla secara mutlak. Dengan argumentasi yang mereka klaim, bahwa hal tersebut tidaklah syirik kecuali apabila diyakini oleh orang yang sedang berdo'a adanya pengaruh dari yang didoai selain Allah azza wa jalla. 

Sisi kedua, yang juga menunjukan bahwa perkara tauhid Uluhiyah adalah perkara yang sudah dikenal dengan baik disebagian ulama mereka, bahwa tatkala mereka berbicara tentang sebagian tindakan preventif dari kesyirikan serta praktek-prakteknya dalam masalah tauhid Uluhiyah yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, maka sebagian ulama ahli kalam mengingkari dengan keras akan hal tersebut, diantaranya ialah, ar-Razi, tatkala dirinya menafsirkan firman Allah tabaraka wa ta'ala:

قال الله تعالى: ﴿ وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ  ١٨ [ يونس: 18 ]
"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada Kami di sisi Allah". (QS Yunus: 18).

Dirinya menukil dalam penjelasannya bagaimana kaum musyrikin menjadikan sesembahan-sesembahannya sebagai pemberi syafa'at, beliau menyebutkan para ulama berbeda pendapat dalam hal itu setidaknya ada enam pendapat. Lalu dirinya menjelaskan setelah menyebutkan tiga pendapat sebelumnya, "Dan pendapat yang keempat, "Bahwa kaum musyrikin membikin patung-patung dan berhala sesuai dengan bentuk para nabi dan pembesar mereka, dan mereka mengira bahwa ketika mereka menyibukan diri dengan beribadah pada patung-patung tadi, maka pembesar berhala-berhala tersebut akan menjadi pemberi syafa'at bagi mereka di sisi Allah ta'ala. Dan yang hampir mirip dengan ini pada zaman (kita) sekarang, perbuatan yang dilakukan oleh kebanyakan orang dengan mengagungkan kuburan orang sholeh dengan keyakinan bahwasannya mereka apabila telah diagungkan kuburannya akan menjadi pemberi syafa'at di sisi Allah Shubhanahu wa ta’alla kelak".[122]
Ulama mereka lainnya, yang bernama Abu Syamah[123] menyebutkan, "Telah menjadi musibah yang merebak, yakni sikap mengesampingkan syari'at, dari perkara yang di hiasi oleh setan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin ialah membikin tembok, tiang dan lentera pada tempat-tempat khusus di seluruh negeri, dengan alasan ada yang mengkisahkan pada mereka bahwa dirinya melihat dalam mimpi bertemu dengan seseorang yang telah terkenal dengan kesholehannya yang melakukan hal tersebut, sehingga merekapun mengikutinya, melakukan hal yang sama, dan begitu menjaga tradisi tersebut, dengan kondisi mereka yang melalaikan kewajiban-kewajiban Allah Shubhanahu wa ta’alla serta sunah-sunah -Nya, dengan persangkaan mereka lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla.
Kemudian perkaranya menjadi lebih parah lagi, hingga ada yang sampai mengagungkan tempat-tempat tersebut didalam hati mereka, dan dilanjutkan dalam praktek nyata dalam perbuatan, mereka mengharap kesembuhan terhadap penyakit mereka, meminta supaya dikabulkan kebutuhannya, bernadzar padanya, dan mereka melakukan hal tersebut pada tempat-tempat, seperti mata air, pohon, tembok, dan batu. Dan lain sebagainya sama persis seperti Dzatu Anwath yang dijelaskan dalam hadits".[124]     





[1] . Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyah 10/331. 14/380.
[2] . Madarijus Salikin 1/34.
[3] . Beliau adalah Muhammad bin Ahmad bin Salim bin Sulaiman as-Safarini, an-Nablusi, al-Hanbali. Abul Aun, Syamsudin. Ahli hadits, fakih, ahli ushul, sejarahwan, ikut serta dalam ilmu pengetahuan yang banyak. Lahir pada tahun 1114 H, dan meninggal pada tahun 1188 H. Diantara karya tulisnya yang sangat banyak ialah al-Buhur Zaakhirah fii Ulumil Akhirah. Lawami'ul Anwaril Bahiyah li Syarh Mandhumah ad-Durah Madhiyah fii Aqidah Firqotun Najiyah dan yang lainnya. Lihat biografinya dalam Mu'jamul Mu'alifiin 8/262.
[4] . Lawami'ul Anwaril 1/128-129.
[5] . Beliau adalah Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdul Wahab, dari keluarga Alu Syaikh. Fakih ahli Nejed, lahir Di Dir'iyah pada tahun 1200 H. beliau termasuk ulama besar dalam ilmu Tafsir, hadits dan fikih. Pernah diadukan dengan kejelekan oleh sebagian orang munafik kepada Ibrahim Basya setelah masuk dan mampu menguasai Dir'iyah. Kemudian Ibrahim Basya memanggilnya dan menyuruh tentaranya untuk menembak dirinya secara bersama-sama, kemudian beliaupun tersungkur meninggal, inalillahi wa ina ilahi raji'un, dan kejadian itu bertepatan pada tahun 1233 H. diantara karya tulisnya ialah Taisirul Azizil Hamid fii Syarh Kitabut Tauhid. Lihat biografinya dalam al-A'lam karya Zarkali 3/129.
[6] . Taisirul Azizil Hamid fii Syarh Kitabut Tauhid hal: 17.
[7] . Madarijus Salikin 1/410.
[8] . Syarh Aqidah Washitiyah karya Ibnu Utsaimin hal: 15.
[9] . Ibid .
[10] . HR Abu Dawud no: 4955. Nasa'i 8/226. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam al-Irwa' no: 2615.
[11] . Lihat dalam Taisirul Azizil Hamid hal: 33. Syarh Thahawiyah 1/25, Syarh Fiqhul Akbar hal: 15, Dha'ul Ma'ali hal: 10-11, Qaulus Sadid hal: 13, al-Kasyaaful Jaliyah hal: 417, Majmu' Fatawa Ibnu Baz 1/34-35, 2/34, 74.
[12] . al-Kasyaaful Jaliyah Abdul Aziz Salman hal: 417.
[13] . Lisanul Arab 3/128.
[14] . Sebagaiman di nukil oleh Ibnu Qoyim dari ucapan sebagian sekte Jahmiyah dalam kitabnya Shawa'iqul Mursalah 1/218.
[15] . Lisanul Arab 9/271. Syarh Wasithiyah oleh Khalil Haras hal: 20.
[16] . Lihat dalam Syarh Wasithiyah oleh Khalil Haras hal: 20.
[17] . al-Qowa'idul Mutsla Ibnu Utsaimin hal: 28.
[18] . Dinukil oleh al-Asy'ari dalam Maqalaat Islamiyah hal: 31.
[19] . Syarh Aqidah Wasithiyah oleh Khalil Haras hal: 21.
[20] . Mu'jamul Wasith hal: 854.
[21] . Lihat dalam Ijtima'ul Juyush Islamiyah oleh Ibnu Qoyim hal: 28. D. Muhammad at-Taimi dalam kitabnya Mu'taqad Ahli Sunah wal Jama'ah fii Tauhid Asma wa Shifat hal: 70-86.
[22] . Madarijus Salikin Ibnu Qoyim 3/510. Ijtima' Juyusy 93. Qaulus Sadid Ibnu Sa'di hal: 14. al-Kasyaaful Jaliyyah Syaikh Abdul Aziz Salman hal: 418. Syarh Fiqh Akbar Ali Qori hal: 19. Quratu Uyuun Muwahidin Syaikh Abdurahman bin Hasan hal: 15-16. Taisir Azizil Hamid Syaikh Sulaiman bin Abdillah, Fathul Majid Syaikh Abdurahman bin Hasan hal: 17-18. Taudhihul Kaafiyah asy-Syaafiyyah Ibnu Sa'di hal: 134. Majmu' Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin Baz 1/15.
[23] . Lihat penjelasannya dalam Bayan Talbisul Jahmiyah oleh Ibnu Taimiyah 1/478.
[24] . Yang dimaksud penelitian secara menyeluruh baik secara parsial maupun universal untuk mencapai sebuah hukum umum yang mencakup seluruhnya. Atau memindahkan konsep dasar dari hukum parsial menjadi hukum universal yang masuk hukum parsial didalamnya. Lihat penjelasannya dalam kitab Dhawabithul Ma'rifah oleh al-Midani hal: 188.
Dan penelitian terhadap nash itu terbagi menjadi dua:
1.          Secara sempurna, Yaitu melakukan penelitian secara menyeluruh dari semua cabang atau cabang tertentu yang menjadi inti pembahasan dengan cara memeriksa mempelajarinya secara ilmiah selaras dengan tuntutan studi ilmiah yang mengantarkan pada ilmu yang pasti.
2.          Kurang, yaitu penelitian pada pembahasan yang ada pada sebagian cabangnya saja, yang hanya mengantarkan pada persangkaan saja.
Lihat penjelasannya dalam kitab Dhawabithul Ma'rifah oleh al-Midani hal: 193-195.
[25] . Madarijus Salikin Ibnu Qoyim 3/449-450.
[26] . Beliau adalah al-Alamah an-Nabil at-Taqi al-Fahamah. Al-Husain bin Mahdi an-Na'imi at-Tuhami kemudian ash-Shan'ani. Beliau hijrah ke Shan'a lalu menikah disana. Tatkala Imam Mahdi al-Abbasi membangun masjid Qubah, beliau dijadikan imam disana, beliau meninggal pada tahun 1187 H. lihat muqodimah kitabnya Ma'arijul alBaab fii Minhaajil Haq wa ash-Shawab karya Muhammad Hamid al-Faqi ha;: 17-19. Lihat biografinya dalam al-A'laam oleh az-Zarkali 2/160.
[27] . Ma'arjul al-Baab 226-228 oleh an-Na'imi secara ringkas.
[28] . Beliau adalah guru dari guru-guru kami. Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar, berakhir nisbatnya kepada kabilah Jakniyyin yang merupakan kabilah besar di Mauritania. Lahir pada tahun 1325 H. Di Mudiriyah Kifa Mauritania. Belajar pada ayahnya dan keluarganya. Datang ke negeri Suadi pada tahun 1367 H untuk menunaikan ibadah haji, kemudian tinggal disana. Beliau menjadi staf pengajar di Masjid Nabawi, dosen di Unversitas Islam Madinah mulai pertama kali di buka pada tahun 1381 H. dan beliau memiliki banyak karya tulis, diantaranya Adhwa'ul Bayyaan fii Tafsiril Qur'an bil Qur'an. Adaabul Bahts wal Munadharah dan lainnya. Meninggal pada tahun 1393 H. lihat biografinya yang ditulis oleh Syaikh Athiyah Muhammad Salim di akhir kitanya al-Mashaalihul Mursalah hal: 25.
[29] . Adhwa'ul Bayaan 3/410-414.
[30] . Beliau adalah Imam, Hafidh, ahli Hadits Islam. Muhammad bin Ishaq bin Muhammad bin Yahya bin Mandah. Lahir pada tahun 310 H di Asfahan, dan meninggal pada tahun 395 H. Lihat biografinya oleh al-Hafidh Dzahabi dalam Mizanul I'tidal 3/479. Ibnu Katsir dalam Bidayah wa Nihayah 11/336.
[31] . at-Tahdzir min Mukhtasharaat ash-Shaabuni fii Tafsir hal:  30. karya Bakar bin Abdillah Abu Zaid.
[32] . Ucapannya ini, walaupun dirinya punya hubungan yang sangat mesra dengan Quburiyun (pengagung kubur) dan menisbatkan dirinya pada ustadnya al-Kautsari, penentang dan pencela Ahlu Sunah, secara insaf kita mengakui hakekat kebenaran ucapannya ini. saya nukil ucapannya dari kitab dia sebagai argumentasi yang benar terhadap penyimpangan para pengagung kubur dan pengekor al-Kautsari. Terkadang kebenaran keluar dari pelaku yang menjadi hujah untuk dirinya sendiri.
[33] . Kalimaat fii Kasyfi Abaathiil wa Iftiraat hal: 37. karya Abdul Fatah Abu Ghadah.
[34] . Oleh karenanya Fairuz Abadi mendefinisikan tauhid dengan pernyataannya, tauhid adalah beriman kepada Allah semata. Lihat dalam Qamus Muhith 1/344.
[35] . Tahdzir Ahlil Iman fii al-Hukmi Bi Ghairi maa Anzallarahman karya Isma'il bin Ibrahim al-Khatib 1/140. Yang terkumpul dalam Rasail Muniriyyah.
[36] . Diantaranya Ibnu Qoyim dalam Madarijus Salikin 3/449.
[37] . Madarijus Salikin Ibnu Qoyim 3/450.
[38] . Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 1/367.
[39] . Mu'taqad Ahli Sunah wal Jama'ah fii Tauhidil Asma wa Ash-Shifat 1/46. Karya Muhammad bin Khalifah at-Tamimi.
[40] . Mu'taqad Ahli Sunah wal Jama'ah fii Tauhidil Asma wa Ash-Shifat 1/43-44. Karya Muhammad bin Khalifah at-Tamimi.
[41] . Lihat ucapan seperti ini dalam Kitabaat Sayid Quthub oleh Muhammad Quthub. Dan tulisan Muhammad Ja'far as-Subhani dalam kitabnya Tauhid wa Asy-Syirku fiil Qur'anil Karim hal: 33.
[42] . Hasyiyah Shiyanatul Insan hal: 440. oleh Muhammad Rasyid Ridho
[43] . Mu'taqad Ahli Sunah wal Jama'ah fii Tauhidil Asma wa Ash-Shifat 1/43. Karya Muhammad bin Khalifah at-Tamimi.
[44] . Sebagaimana yang dilakukan oleh seorang syi'ah yang bernama Ja'far as-Subhani dalam bukunya yang berjudul Tauhid wa asy-Syirku fiil Qur'anil Karim. Dimana ia membagi tauhid menjadi enam macam bersamaan dengan keberadaannya serta kelompoknya yang merupakan manusia yang paling jauh dari yang namanya tauhid yang Allah mengutus dengan sebab itu para RasulNya dan menurunkan kitab suci dengannya.
[45] . Lihatlah buku yang ditulis oleh guru kami Syaik Rabi' bin Hadi bin Amir al-Madkhali dalam kitabnya Manhaaj al-Anbiyaa' fii ad-Da'wah Ilallah fiihi al-Hikmah wal Aql.
[46] . Tafsir ath-Thabari 7/13/50.
[47] . Ibid  7/13/51.
[48] . Tafsir ath-Thabari  7/13/51.
[49] . Tafsir ath-Thabari  7/13/51.
[50] . Beliau adalah Qotadah bin Da'amah as-Sudusi, Abul Khathab, al-Bashari al-Akmah. Seorang ulama besar, Hafidh, sering melakukan tadlis (penyamaran hadits), yang meriwayatkan hadits darinya Anas bin Malik, Ibnu Musayib, Ibnu Sirin dan lainnya. Dan juga Ayub, Humaid, Husain, al-Mu'alim, al-Auza'i, Syu'bah, dan Alqomah. Berkata Ibnu Musayib memuji beliau, "Belum pernah ada yang mendatangi kami penduduk Irak yang lebih hafidh dari pada Qotadah". Berkata Ibnu Sirin, "Qotadah adalah orang yang paling hafal hadits". Berkata Ibnu Mahdi, "Qotadah hafal hadits lima ribu seperti Humaid". Hamad bin Zaid mengatakan, 'Beliau meninggal pada tahun 117 H". dan riwayat beliau banyak dijadikan referensi oleh para penyusun buku-buku hadits shahih. Lihat biografinya dalam kitab Khulashatul Khazraji 315.
[51] . Tafsir ath-Thabari  7/13/51.
[52] . Beliau adalah Atha bin Abi Rabah, lahir dari seorang tentara, ibunya orang yang berkulit hitam bernama Barakah. Beliau tumbuh besar di makah, dan mengajar al-Qur'an disana. Beliau bekas budak Bani Fihr, berkun'yah Abu Muhammad. Beliau berkulit hitam, buta, berhidung pesek, tangannya lumpuh, pincang, kemudian beliau buta total setelahnya. Kemudian tangannya dipotoang oleh Ibnu Zubair. Meninggal pada tahun 115 H. Lihat biografinya dalam kitab al-Ma'arif hal: 253, karya Ibnu Qutaibah
[53] . Tafsir ath-Thabari  7/13/51.
[54]. Ibid 7/13/51.
[55] . Beliau adalah Bekas budak Bani Walibah dari Bani Asad, berkun'yah Abu Abdullah. Beliau berkulit hitam, keluar bersama Ibnul Asy'asy dalam sebuah pemberontakan. Dan tatkala pasukan Ibnul Asy'asy terpukul mundur, dan dirinya adalah gembong pemberontakan tersebut, dirinya ditawan oleh Khalid bin Abdillah al-Qusary lantas di gelandang untuk dihadapkan pada Hajaj bin Yusuf, kejadian tersebut terjadi pada tahun 95 H. lihat Biografinya oleh Ibnu Qutaibah dalam al-Maa'arif hal: 253, 254. dan oleh Imam Dzahabi dalam Siyar a'lamu Nubala 4/341.
[56] . Tafsir ath-Thabari  7/13/51.
[57] . Beliau bekas budaknya Ibnu Abas, dan Ibnu Abas meninggal dirinya masih sebagai status budaknya, kemudian dijual oleh Ali bin Abdullah bin Abas pada Khalid bin Zaid bin Mu'awiyah senilai empat ribu dinar. Lalu Ikrimah mendatangi Ali, dan berkata padanya, "Tidak ada kebaikan bagimu takala engkau membuang ilmu ayahmu hanya dengan empat ribu dinar". Kemudian beliau minta dispensasi, lalu dibebaskan. Beliau mempunyai kun'yah Abu Abdillah. Meninggal pada tahun 105 H. pada hari yang bertepatan dengan  banyaknya orang besar meninggal waktu itu. Lihat biografinya dalam al-Maa'arif hal: 209.
[58] . Tafsir ath-Thabari  7/13/50.
[59] . Tafsir ath-Thabari  7/13/51.
[60] . Beliau bernama Amir bin Syarahil bin Abdu asy-Sya'bi, beliau dari Himyar, dan menisbatkan pada sebuah gunung di Yaman. Mempunyai kun'yah Abu Umar. Bertubuh kurus, kerempeng, lahir tidak lama setelah kekhalifahan Utsman bin Affan. Beliau senang bersendau gurau. Al-Waqidi menyatakan, "Dirinya meninggal pada tahun 105 H, dalam usia tujuh puluh tujuh tahun". Lihat biografinya oleh Ibnu Qutaibah dalam al-Maa'arif hal: 256.
[61]. Tafsir ath-Thabari  7/13/50,51.
[62].  Ibid  7/13/51, 52.
[63] . Beliau adalah Nu'man bin Tsabit al-Farisi, Abu Hanifah, Imam ahli Irak, Faqihul Umat. Meriwayatkan dari Atha, Nafi', A'raaj, dan yang lainya. Lalu yang meriwayatkan dari beliau Hamad, anaknya, Zafir, Abu Yusuf, Muhammad, dan lainnya. Di tsiqohkan oleh Ibnu Ma'in, berkata Ibnu Mubarak, "Belum pernah aku melihat dalam fiqh yang lebih pandai dari pada Abu Hanifah". Berkata Makki, "Abu Hanifah orang yang paling tahu ilmu pada zamannya". Berkata al-Qathan, "Kami tidak mendustakan Allah, demi Allah kami belum pernah mendengar yang lebih baik dari pada pendapatnya Abu Hanifah". Ibnu Mubarak mengatakan, "Aku belum pernah melihat orang yang lebih wara' dari pada beliau". Meninggal pada tahun 150 H. Lihat biografinya didalam Khulashah Tadzhib wa Thadzibul Kamal hal: 402. Oleh al-Khazraji.
[64] . al-Fiqhul Abshat hal: 51, Imam Abu Hanifah.
[65] . Beliau adalah Imam, Mujtahid, al-Allamah, ahli hadits, pembesar Qadhi, Abu Yusuf, Ya'qub bin Ibrahim al-Anshari, al-Kufi. Menemani Abu Hanifah selama tujuh belas tahun, dan berguru padanya, beliau termasuk muridnya yang paling cerdas dan yang paling tahu pendapatnya, meninggal pada tahun 182 H. Lihat biografinya dalam Siyar a'lamu Nubala 8/353-539 oleh adz-Dzahabi.  
[66] . Tauhid wa Isbat Shifaat ar-Rabb 3/304-306 oleh Ibnu Mandah. Al-Hujjah fii Bayaanil Mahajah wa Syarh Tauhid wa Madzhab Ahli Sunnah 1/111-113 oleh Abul Qosim Isma'il at-Taimi.
[67] . Tafsir ath-Thabari 7/13/50.
[68] . Beliau adalah Imam Abu Ja'far, Ahmad bin Muhammad bin Salamah al-Azdi, ath-Thahawi. Lahir pada tahun 239 H. dan meninggal pada tahun 321 H, ada lagi yang mengatakan meninggal pada tahun 322 H. Hidup pada zaman para imam dan penghafal hadits dari para penulis enam buku induk, dan hidup dalam thabaqahnya serta ikut serta dalam periwayatan-periwayatan mereka. Diantara guru-guru beliau adalah al-Muzani, Isma'il bin Yahya, Abu Hazim Abdul Humaid, Imam Nasa'i, Rabi' muridnya Imam Syafi'i, Abu Zur'ah ad-Dimasyqi, Abu Bakar bin Abi Dawud as-Sijistani. Dan diantara murid-murid beliau adalah al-Hafidh Thabarani, ad-Damighani, Abu Utsman al-Azdi, dan selain mereka. Diantara peninggalan karya tulisnya Bayan as-Sunah, Aqidahnya (yang dikenal dengan Aqidah Thahawiyah), Syarh Ma'anil Atsar, Syarh Musykilil Atsar, dan yang lainnya. Lihat biografi beliau dalam Siyar a'lamu Nubala 15/27 oleh Imam Dzahabi, dan dalam kitab Tadzkirah hal: 808, Imam Dzhabai, serta dalam al-Waafi 8/9 oleh ash-Shufdi.
[69] . Aqidah Thahawiyah 1.
[70] . Beliau adalah Imam, suri tauladan, ahli Ibadah, fakih, ahli hadits, Syaikhnya penduduk Irak, Abu Abdullah, Ubaidullah bin Muhammad bin Muhammad bin Hamdan al-Ukburi, al-Hambali, Ibnu Bathah. Penulis al-Ibanah al-kubra wa Shughra. Meriwayatkan dari al-Baghawi, Ibnu Sha'id, al-Baghandi, dan yang lainnya. Dan yang meriwayatkan darinya Abu Nu'aim al-Ahsfahani, Abu Ishaq al-Burmuki, dan yang lainnya. Lahir pada tahun 304 H, dan meninggal pada tahun 398 H. lihat biografinya oleh Imam Dzahabi dalam Mizanul I'tidal 3/15. Siyar a'lamu Nubala 16/529. dan dalam kitab al-I'bar 3/35. Oleh Ibnu Katsir dalam Bidayah wa Nihayah 11/321-322.
[71] . Ibnu Bathah, al-Ibanah 'an Syar'iyah al-Firqathul Najiyyah wa Mujaniyyah al-Firaq al-Madzmumah (al-Kubra), buku ketiga dengan Tahqiq Yusuf al-Wabil 2/172-173.
[72] . Kitab Tauhid Ibnu Mandah 1/61-116. Dan 2/14-46. Dan 3/7 sampai akhir kitab.
[73] . Majmu' Fatawa 1/367-368. Iqtidha Shiratol Mustaqim hal: 465.
[74] . HR Bukhari no: 844. Muslim no: 477, 478.
[75] . Majmu Fatawa 22/447-448. Dan 10/283-284. Kemudian beliau menambahkan, "Walaupun didalam tauhid Ilahiyah terkandung tauhid rububiyah, dan Rububiyah mengharuskan adanya tauhid Uluhiyah. Maka sesungguhnya apabila salah satu dari keduanya mengandung yang lainnya tatkala di pisahkan maka tidak mengapa memberikan makna yang lebih khusus apabila digandengkan".
[76] . Minhajus Sunah, Ibnu Taimiyyah 2/26.
[77] . Dar'u Ta'arudh Aql wa Naql 1/224-226, Ibnu Taimiyyah.
[78] . Lihat ucapan Ibnu Taimiyah ini yang di nukil oleh Syaikh Abdul Aziz bin Nashir ar-Rasyid dalam kitab Tanbihaat as-Sunah hal: 9.
[79] . Lihat pula dalam Madarijus Salikin 1/24, 25. Ijtima' Juyusy Islamiyah hal: 27. Bada'i al-Fawaid 1/156.
[80] . Madarijus Salikin 3/449-445.
[81] . Qashidah an-Nuniyah 2/51-52. 
[82] . Thariq al-Hijratain hal: 30.
[83] . Tajridut Tauhid al-Mufid hal: 5-6, Taqiyudin Ahmad al-Miqrizi.
[84] . Beliau adalah Imam al-Allamah, Shadarudin, Abul Hasan, Ali bin Ala'udin Ali bin Syamsudin, Abu Abdillah, Muhammad bin Syarafudin, Abul Barakat, Muhammad bin Izudin Abul Izzi al-Adzra'i, ad-Dimasyqi, al- Hanafi. Lahir pada tahun 721 H di kota Damaskus, di antara karya tulis beliau adalah al-Itiba', Syarh Aqidah at-Thahawiyah, dan at-Tanbih 'ala Musykilaatil Hidayah. Meninggal pada tahun 792 H. lihat biografi beliau dalam Anba'ul Ghamr bii Anba'il Umr 2/95-98. ad-Durarul Kaminah 3/87 Ibnu Hajar.
[85] . Syarh Aqidah Thahawiyah 1/24.
[86] . Beliau adalah Ali bin Sulthan Muhammad, Abul Hasan al-Harawi, al-Makki. Termasuk ulama besar dari kalangan madzhab Hanafiyah, yang menggabungkan antara Hadits dan Fikih. Meninggal pada tahun 1014 H. Lihat biografi beliau seperti yang disebutkan oleh Umar Ridha Kahalah 7/100. dan oleh al-Kahnawi dalam Hasyiyah al-Fawaid al-Bahiyah hal: 7.
[87] . Beliau bernama Waliyullah Ahmad bin Abdurahim al-Umri, ad-Dahlawi. Ahli Hadits, ahli tafsir, fakih, ahli Ushul. Lahir di kota Dehli India pada 4 Syawal tahun 1114 H, dan tumbuh besar di sana, berangkat ibadah haji ke tanah suci lalu tinggal beberapa waktu disana, banyak mengambil ilmu dari ulama-ulamanya, kemudian kembali ke India, dan mengajar di sana hingga meninggal pada tahun 1176 H. diantara peninggalan beliau, al-Irsyaad ila Muhimati Ilmil Isnaad, Insanul A'in fii Masyayikh al-Haramain, A'qdul Jizad fii Ahkamil Ijtihad wat Taqlid, al-Fauzul Kabir fii Ushuli Tafsir, Hujatullahi Balighah. Lihat biografinya dalam Hidayatul A'rifiin oleh al-Baghdadi 2/500. Mu'jamul Mu'alifiin 13/169.
[88] . Lihat dalam Majmu'ah tulisan-tulisan beliau.
[89] . Abdul Aziz bin Muhammad Salman dalam al-Kasyaaf al-Jaliyah hal: 422.
[90] . Syarh Aqidah Thahawiyah 1/40.
[91] . Dar'u Ta'arudh al-Aql wan Naql 9/344-345, Minhajus Sunah 2/22 oleh Ibnu Taimiyah. Syarh Aqidah Thahawiyah 1/41.
[92] . al-Kasyaaf al-Jaliyah 'an Ma'anil Wasithiyah hal: 421-422. Abdul Aziz Muhammad as-Salman.
[93] . al-Ubudiyah hal: 49, Ibnu Taimiyah. Madarijus Salikin 1/411 Ibnu Qoyim. Shiyanatul Insan hal: 47, as-Sahwani. Da'watut Tauhid hal: 73-74, al-Haras.
[94] . Ighatsatul Lahfan 2/135, Ibnu Qoyim.
[95] . Lihat apa yang dinukil oleh Abdul Aziz bin Nashir ar-Rasyid dalam Tanbihaat as-Saniyah hal: 9, dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
[96] . Lihat ucapan tersebut seperti yang di nukil oleh al-Kastali dalam Hasyiyah 'ala Syarh Aqa'id an-Nasfiyah oleh Tafatazaani hal: 63. dan oleh al-Khayali dalam Hasyiyah kitab yang sama hal: 51. dan al-Jundi dalam hasyiyah masih dalam kitab yang sama hal: 87.
[97] . Lihat perkataan ini seperti yang di nukil oleh Ibnu Jarjis dalam Shalahul Ikhwan hal: 124, 127. dalam Sa'adatul Daarayain 2/20, 21,23. oleh al-Hadaad dalam Misbahul Anam hal: 17. oleh Dahlan dalam Durarus Saniyah fii Radd 'ala Wahabiyyah hal: 40-41. oleh al-Qudha'I dalam al-Baraahin hal: 378-381. asy-Syijli dalam Tadzkiratul Ghautsiyah hal: 134. ad-Dajwi dalam al-Maqalaat 1/249-261. Ibnu Marzuq dalam Tawasul bii Nabi hal: 29, 30, 97. Bara'atul Asy'ariyiin hal: 98-99. an-Nuri dalam ar-Rudud hal: 242. al-Amili dalam Kasyful Irtiyaab hal: 140-141.
[98] . Lihat Baraahin Saathi'ah oleh al-Qadha'i hal: 375-383.
[99] . Lihat Bada'i al-Fawaid Ibnu Qoyim 1/162. Qawa'idul Mutsla Ibnu Utsaimin hal: 8-9.
[100] . Lihat al-Maqalaat oleh ad-Dajawi 1/162. Tandid liman Adada Tauhid Hasan Tsaqaf hal: 6. dan lihat bantahan bukunya ini oleh Syaikh Abdurazzaq bin Abdul Muhsin al-Badar dalam Qaulus Sadid fii Radd 'ala Man 'Ankara Taqsiim at-Tauhid hal: 50-52.
[101] . Majmu' Fatawa 1/23.
[102] . Ighatsatul Lahfan 1/47.
[103] . Beliau adalah Muhammad bin Isma'il, Amir, al-Allamah al-Hasyimi, al-Fathimi, al-Kahlani, lahir pada tahun 1099 H. ahli hadits, fakih, ahli ushul, mujtahid, ahli kalam, termasuk ulama Yaman, tumbuh besar di negeri Yaman, kemudian mengembara ke Makah dan Madinah, meninggal pada tahun 1182 H. diantara peninggalan karya tulisnya yaitu Subulus Salam Syarh Bulughul Maram, Tathirul I'tiqad 'an Adranil Ilhad, Taudihul Afkar. Lihat biografinya dalam Mu'jamul Mu'alifiiin 9/56.
[104] . Tathirul I'tiqad 'an Adranil Ilhad oleh Shan'ani.
[105] . Tafsir ath-Thabari 1/127.
[106] . Ibid 1/127.
[107] . Tafsir ath-Thabari 8/77-79.
[108] . Tathirul I'tiqad oleh Shan'ani hal: 13.
[109] . Muhammad Nuri Rasyid dalam bukunya Rudud 'ala Syubhaatis Salafiyah hal: 237-238. 254-255. Hasan bin Ali Saqaf dalam bukunya Tandiid liman Adadat Tauhid hal: 1.
[110] . Beliau adalah Muhammad bin at-Tiib bin Muhammad bin Ja'far bin al-Qosim, al-Bashari, lebih dikenal dengan nama al-Baqalani. Lahir pada tahun 338 H, dan meninggal pada tahun 403 H. ahli filsafat dari sekte Asya'irah. Diantara karya tulisnya ialah Tamhidul Awail wa Talkhisul Dalail, I'jaazul Qur'an. Lihat biografinya dalam Mu'jamul Mu'alifiin 10/109-110.
[111] . Baqalani, al-Inshaaf hal: 34.
[112] . Ibid.
[113] . Beliau adalah Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri, lahir pada tahun 1198 H, dan meninggal pada tahun 1277 H. Syaikh Azhar, diantara karya tulisnya yang sangat banyak, Tuhfatul Murid 'ala Jauharit Tauhid. Lihat biografinya dalam Mu'jamul Mu'alifiin 1/84.
[114] . Bajuri, Tuhfatul Murid 'ala Jauharit Tauhid hal: 10. 
[115] . Beliau adalah Abu Abdullah al-Hasan bin al-Hasan al-Bukhari, asy-Syafi'i. lahir pada tahun 338 H. penulis al-Minhaaj fii Syu'abil Iman. Meninggal pada tahun 403 H. lihat biografinya dalm Siyar a'lamu Nubala 17/231 oleh Imam Dzahabi, dan juga dalam Thabaqat asy-Syafi'iyah 4/333 oleh Imam Subki.
[116] . al-Hulaimi, al-Minhaaj fii Syu'abil Iman 1/517.
[117] . al-Hulaimi, al-Minhaaj fii Syu'abil Iman 1/517.
[118] . Beliau adalah Muhammad bin Umar bin al-Hasan bin al-Husain bin Ali at-Taimi, al-Bukri, ar-Razi, asy-Syafi'i, yang lebih dikenal dengan Ibnul Khatib dan Fakhrurazi. Ahli Tafsir, ahli filsafat, fakih, ahli ushul, dan pandai dalam banyak disiplin ilmu. Beliau memiliki karya tulis lebih dari seratus judul. Diantara yang paling terkenal ialah Tafsir Mafatihul Ghaib fii Tafsiril Qur'an. Lahir pada tahun 543 H, dan meninggal pada tahun 606. Lihat biografinya dalam Mu'jamul Mu'alifiin 11/79.
[119] . ar-Razi, Mafatihul Ghaib 5/105.
[120] . Ibid 5/106.
[121] . Ibid 1/249.
[122] . Fakhrurazi dalam tafsirnya 17/60.
[123] . Beliau adalah Abul Qosim, Abdurahman bin Isma'il bin Ibrahim al-Maqdisi, yang lebih dikenal dengan Abu Syamah, bermadzhab Syafi'i. lahir pada tahun 599 H, dan meninggal pada tahun 655 H. menulis sebuah kitab tentang tafsir mimpi sejalan dengan pemikiran Asya'irah. Dan beliau memiliki kitab yang berjudul al-Baits 'ala Inkaril Bida' wal Hawadits. Lihat biografinya dalam tadzkiratul Hufaadh 4/1460. dan dalam Thabaqaat Syafi'iyyah 8/165.
[124] . Abu Syamah, al-Baits 'ala Inkaril Bida' wal Hawadits hal: 40-42. 
Poskan Komentar