Rabu, 27 Agustus 2014

Meraih Kejayaan Umat Bersama al-Qur'an



Meraih Kejayaan Umat Bersama al-Qur'an
Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba'du:
Diantara bentuk kasih sayang Allah Shubhanahu wa ta’alla terhadap para hamba -Nya ialah diutusnya pada mereka para Rasul, dengan membekali masing-masing kitab suci sebagai pedoman mereka, tujuannya tidak lain agar supaya mereka bisa keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Hal itu sebagaimana ditegaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla melalui firman -Nya:
﴿ ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَوۡلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخۡرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِۗ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٢٥٧﴾ [ البقرة: 257]
"Allah pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya". (QS al-Baqarah: 257).

Selanjutnya Allah tabaraka wa ta'ala memilih para Rasul tersebut dari kalangan manusia yang –Dia muliakan mereka dengan tugas untuk menyebarkan risalah, kemudian -Dia juga memberi kekhususan pada mereka dengan kemuliaan seluruh umat manusia. Demikian yang Allah Shubhanahu wa ta’alla jelaskan dalam firman -Nya:
﴿ ٱللَّهُ يَصۡطَفِي مِنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلا وَمِنَ ٱلنَّاسِۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِير ٧٥ ﴾ [الحج: 75]
"Allah memilih utusan-utusan -(Nya) dari Malaikat dan dari manusia, sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat".  (QS al-Hajj: 75).

Kemudian Allah ta'ala mengutus pada setiap umat seorang Rasul yang bertugas mengajak mereka untuk memurnikan ibadah kepada -Nya semata. Berdasarkan firman Allah Shubhanahu wa ta’alla:
﴿ ôs)s9ur $uZ÷Wyèt/ Îû Èe@à2 7p¨Bé& »wqߧ Âcr& (#rßç6ôã$# ©!$# (#qç7Ï^tGô_$#ur |Nqäó»©Ü9$# ( Nßg÷YÏJsù ô`¨B yyd ª!$# Nßg÷YÏBur ïƨB ôM¤)ym Ïmøn=tã ä's#»n=žÒ9$# 4 (#r玍šsù Îû ÇÚöF{$# (#rãÝàR$$sù y#øx. šc%x. èpt7É)»tã šúüÎ/Éjs3ßJø9$#   [النحل: 36]
"Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)". (QS an-Nahl: 36).

Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla memilih para Nabi dan Rasul dari kalangan umatnya sendiri, agar mereka bisa dijadikan sebagai suri teladan yang baik bagi umat-umatnya, dalam segala kondisi, baik yang berkaitan dengan hukum, budi pekerti atau pun etika. Baik dalam masalah ibadah, atau mu'amalah, dalam ucapan maupun perbuatan, ketika minum maupun makan, tatkala sholat atau puasa, ketika tidur maupun terjaga, ketika menikah atau berjihad, dan seterusnya dari semua kondisi. Dan itu ditegaskan oleh Allah ta'ala melalui firman -Nya:
﴿ لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَة لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرا ٢١ ﴾ [ الأحزاب: 21]
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah".  (QS al-Ahzab: 21).

Maka didapati para Rasul dan Nabi merupakan manusia terbaik dari segi penciptaan dan akhlak, paling bagus tabiatnya, paling bersih hatinya, dan paling jujur didalam ucapannya. Para medis mengatakan, "Diantara sisi kesamaan antara tabiat hewan dan manusia maka yang terbaik ialah tabiat yang dimiliki manusia, dan yang terbaik diantara tabiat manusia adalah tabiat yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman, dan diantara tabiat terbaik yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman ialah yang dimiliki oleh para Nabi dan Rasul, dan yang terbaik tabiat yang dimiliki oleh para Nabi dan Rasul ialah yang dimiliki oleh penghulu para Rasul, dan tabiat terbaik yang dimiliki oleh penghulu para Rasul ialah yang dimiliki oleh nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan manusia terbaik dari segi akhlak serta tabiatnya, seperti dinyatakan oleh Allah ta'ala didalam firman -Nya:
﴿ وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيم ٤ ﴾ [ القلم: 4]
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung".  (QS al-Qolam: 4).

Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya tentang akhlak Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau mengatakan, "Sesungguhnya akhlak yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-Qur'an". HR Muslim no: 646. Yang mana Allah ta'ala mengutus Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi semesta alam, sebagaimana disebutkan hal itu didalam firman -Nya:
﴿ وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَة لِّلۡعَٰلَمِينَ ١٠٧ ﴾ [ الأنبياء: 107]
"Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam". (QS al-Anbiyaa': 107).

Lalu Allah Shubhanahu wa ta’alla mensucikan hati dan akalnya, lisan dan juga ucapannya. Allah Shubhanahu wa ta’alla mengatakan didalam firman -Nya:

﴿ وَٱلنَّجۡمِ إِذَا هَوَىٰ ١ مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمۡ وَمَا غَوَىٰ ٢ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ٣ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡي يُوحَىٰ ٤ ﴾ [ النجم: 1-4]
"Demi bintang ketika terbenam. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tidaklah yang diucapkannya itu (al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)". (QS an-Najm: 1-4).

Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla menurunkan padanya sebuah kitab yang mengandung didalamnya penjelas dan petunjuk, rahmat dan kabar gembira. Sebagaimana yang Allah Shubhanahu wa ta’alla jelaskan melalui firman -Nya:
"Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri".  (QS an-Nahl: 89).

Maka Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadi nabi dan rasul terbaik dan penutup bagi kalangan para nabi dan rasul.
Dan al-Qur'an yang agung adalah kitab suci yang paling mulia diantara kitab-kitab yang lain. Sedangkan umat nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam merupakan umat yang paling utama dibanding umat-umat yang lainnya. Allah Shubhanahu wa ta’alla yang menyatakan hal tersebut didalam firman -Nya:
﴿ كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ١١٠ ﴾ [ آل عمران: 110]
"Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik". (QS al-Imraan: 110).

                                Dan Allah ta'ala telah menantang ahli balaghah (sastra) dan bahasa untuk membuat al-Qur'an yang mulia, bukan hanya itu bahkan tantangannya Allah Shubhanahu wa ta’alla juga layangkan pada seluruh manusia dan jin untuk mendatangkan yang semisal dengan al-Qur'an. Maka didapati tidak ada seorangpun dikalangan mereka yang sanggup, dan tidak akan ada yang sanggup untuk membuatnya hingga hari kiamat nanti. Seperti Allah Shubhanahu wa ta’alla tegaskan dalam firman -Nya:

﴿ قُل لَّئِنِ ٱجۡتَمَعَتِ ٱلۡإِنسُ وَٱلۡجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأۡتُواْ بِمِثۡلِ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ لَا يَأۡتُونَ بِمِثۡلِهِۦ وَلَوۡ كَانَ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡض ظَهِيرا ٨٨ ﴾ [ الإسراء: 88]
"Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (QS al-Israa': 88).

Kenapa mereka tidak sanggup? Karena al-Qur'an adalah firman Rabb semesta alam. Firman yang mencakup segala ilmu, tidak ada kebatilan dari sisi manapun jua. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:
﴿ ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحۡسَنَ ٱلۡحَدِيثِ كِتَٰبا مُّتَشَٰبِها مَّثَانِيَ تَقۡشَعِرُّ مِنۡهُ جُلُودُ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُمۡ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمۡ وَقُلُوبُهُمۡ إِلَىٰ ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهۡدِي بِهِۦ مَن يَشَآءُۚ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٍ ٢٣ ﴾ [ الزمر: 23]
"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulan, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu -Dia menunjuki siapa yang dikehendaki -Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun". (QS az-Zumar: 23).

Turun dengan cara terpisah-pisah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam selama dua puluh tiga tahun, karena sebagai pemberi solusi bagi segenap problematika kehidupan tanpa terkecuali, sehingga dibutuhkan waktu, agar mudah dihafalnya dan penerapan pada setiap lini kehidupan baik secara aqidah maupun syari'at, ibadah maupun sosial, hukum mapun adab, kisah maupun berita, dalam kondisi aman maupun perang, ketika tinggal maupun bepergian.
Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya mengamalkan isi kandungan al-Qur'an tersebut, maka keadaan mereka berubah seratus delapan puluh derajat dari rendah dan hina menjadi penuh kemuliaan, dari sedikit menjadi banyak, dari perpecahan menjadi persatuan, dari permusuhan menjadi cinta damai, bahkan dari kesyirikan menjadi keimanan, dari kesesatan menjadi mendapat petunjuk, dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:
﴿ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآء فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَة مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣ ﴾ [ آل عمران: 103]
"Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat -Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk". (QS al-Imraan: 103).

Kehidupan mereka berbuah dari generasi yang paling buruk menjadi generasi yang paling baik, lalu Allah Shubhanahu wa ta’alla meridhoi mereka dan mereka pun ridho terhadap Allah azza wa jalla. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:
﴿ وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰن رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰت تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَداۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠ ﴾ [ التوبة: 100]
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar". (QS at-Taubah: 100).

Dan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat dengan meninggalkan pada umat ini dalam keadaan terang benderang malamnya seperti siang hari, tidak ada yang berpaling darinya melainkan binasa.
Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla menyempurnakan agama, dan menyempurnakan nikmat terhadap umat ini, serta ridho Islam sebagai agama mereka. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firmanNya:
﴿ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِيناۚ ٣ ﴾ [ المائدة: 3]
"Pada hari ini telah -Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat -Ku, dan telah Ku- ridhai Islam itu jadi agama bagimu". (QS al-Maa-idah: 3).

Dan tinggal tersisa tugas umat ini untuk mengamalkan kitab suci al-Qur'an dan sunah Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam, berpegang teguh dengan petunjuk yang dibawa oleh keduanya, sehingga mereka tidak tersesat. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:
 ﴿ وَٱلَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِٱلۡكِتَٰبِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُصۡلِحِينَ ١٧٠  ﴾ [ الأعراف: 170]
"Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan". (QS al-A'raaf: 170).

Dan diperkuat dengan sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan didalam sabdanya:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللَّهِ » [أخرجه مسلم]
"Aku tinggalkan pada kalian yang tidak akan tersesat selagi kalian mau berpegang teguh dengannya yaitu kitabullah". HR Muslim no: 1218.

Kalau sekiranya umat ini berpegang teguh dengan keduanya niscaya kejayaan yang akan mereka raih, namun, bila tidak maka keadaan mereka akan berbalik seperti keadaan para pendahulunya dari kalangan ahli Jahiliyah, kehidupan mereka berubah, keadaannya berubah dari kemulian menjadi kehinaan, dari banyak menjadi sedikit, dari persatuan menuju perpecahan, dari cinta menjadi saling bermusuhan, dari iman menjadi kafir, dari memperoleh petunjuk menjadi tersesat, dari mendapat cahaya menuju kegelapan. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:
 ﴿ فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ ١٢٣ وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَة ضَنكا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ ١٢٤ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِيٓ أَعۡمَىٰ وَقَدۡ كُنتُ بَصِيرا ١٢٥ قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتۡكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَاۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمَ تُنسَىٰ ١٢٦  ﴾ [ طه: 123-126]
"Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada -Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk -Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. dan barangsiapa berpaling dari peringatan -Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan".  (QS Thahaa: 123-126).

Dan Allah ta'ala juga menyatakan didalam firman -Nya:

﴿سُنَّةَ ٱللَّهِ فِي ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلُۖ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ ٱللَّهِ تَبۡدِيلا٦٢﴾ [الأحزاب: 62]
"Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah". (QS al-Ahzab: 62).




Poskan Komentar