Senin, 08 September 2014

Mengapa Kita Shalat?

 Mengapa Kita Shalat?
Dalam  sebuah  percakapan,  Alan  berkata  keheranan  kepada  Fulan,  "Aneh  sekali  tingkah
lakumu!  Terlalu  banyak  kritikan  yang  kamu  lontarkan.  Alangkah  tajam  sorotanmu!"  Alan
melanjutkan  perkataannya,  "Sekarang  coba  renungkan, apakah  aneh  bagimu  bila  ada  dua
orang saling berbagi, seia sekata, yang satu berandai dapat mencurahkan isi hatinya kepada
temannya  itu  dan  yang  satu  lagi  ingin  berkorban  untuk  temannya  walau  dengan  nyawanya
sekalipun."
"Tahukah kamu siapa kedua orang itu? Keduanya tidaklain adalah ayah dan anak. Sang ayah
begitu  mengasihi  sang  anak,  sementara  sang  anak  begitu  berbakti  kepada  sang  ayah.
Tidakkah hubungan antara keduanya membuatmu senang?"
Fulan menyahut, "Tentu, demi  Rabb-ku! Tiada  yang lebih agung dari pada hubungan  yang
membuat hati saling terkait, kekuatan tergalang dannikmat, serta karunia tersyukuri. Apakah
di  dalam  kehidupan  ini,  manusia  bisa  hidup  terputus dari  kontak  dengan  kaum  kerabat,
tetangga, teman dan rekan? Bukankah pada asalnya iadiciptakan sebagai makhluk sosial?"
Alan lantas berkata,  "Aku melihat dirimu begitu  meyakini akan pentingnya interaksi sosial
antar  manusia  yang  dibangun  di  atas  pondasi  kasih  sayang,  saling  tolong-menolong,
pengakuan atas jasa baik dan kebaikan."
Fulan menimpali, "Benar."
"Bagaimana jika ada orang yang mengingkari kebaikandan jasa baik?" tanya Alan.
"Apakah  ada  seorang  yang  memiliki  sedikit  rasa  malu atau  memiliki  perasaan  akan
melakukan tindakan seperti itu?" tanya Fulan keheranan.
"Ya. Itu adalah kamu!" tandas Alan.
Seketika  itu  juga  Fulan  marah  dan  ingin  menghajar  Alan  karena  ucapannya  itu.  Namun
kemudian, ia berpikir ulang dan meredam dirinya seraya berkata, "Apa maksudmu?"
Alan  menjawab,  "Karena  kamu  mengingkari  anugerah  dan  nikmat  Allah  Subhaanahu
Wata'alaatasmu."
"Bagaimana hal itu bisa terjadi?" tanya Fulan.
Alan berkata, "Bukankah Allah Subhaanahu Wata'alaPemberi karunia dan anugerah?"
"Benar," jawab Fulan.
"Adakah Dia berhak disyukuri atas hal itu?" tandas Alan.
"Tentu," jawab Fulan.
"Jika demikian, bagaimana cara bersyukur kepada-Nya?" kejar Alan.
Fulan  terdiam  sejenak  seraya  memeras  otaknya  namun  tidak  menemukan  jawaban,  lalu
berkata dengan lirih, "Aku tidak tahu."
Tampaknya  ia  malu,  kemudian  diam  sejenak  seraya  berkata,  "Tolong  tunjukkan  kepadaku
jalan untuk bersyukur kepada-Nya!"
Alan berkata, "Untuk merealisasikan rasa syukur, harus melakukan dua hal secara bersamasama,  yaitu:  Pertama, Kamu  mengakui  anugerah  dan  ihsan  (kebaikan)-Nya  dari  lubuk
hatimu  yang  paling  dalam,  bukan  dengan  lisanmu  saja.  Untuk  menunjukkan  hal  itu,  harus
kamu buktikan dengan meletakkan dahimu di tanah seraya bersujud dan tunduk kepada-Nya.
Kedua,Kamu menjaga nikmat-nikmat tersebut dengan menempatkannya pada posisi-posisi
yang Dia ridhai."
Fulan menimpali, "Ucapanmu ini benar-benar tulus. Aku berjanji padamu di hadapan Allah
Subhaanahu  Wata'ala untuk  tidak  meninggalkan  shalat  selama  hayat  dikandung  badan.
Tetapi aku juga punya teman yang dalam masalah shalat sama seperti kondisiku ini. Sudikah
kamu  menorehkan  untukku  untaian  kata  mengenai  hal  ini  yang  akan  aku  sampaikan
kepadanya?  Semoga  saja  Allah  Subhaanahu  Wata'ala menganugerahinya  hidayah
melaluimu,  sehingga  dengan  shalatnya  itu  ia  menyambung  kembali  hubungannya  yang
terputus dengan Allah  Subhaanahu Wata'ala. Dan hal ini adalah lebih baik bagimu daripada
unta merah (harta yang paling berharga, pen.).
"Dengan  senang  hati  dan  merupakan  kehormatan  serta  nikmat  tiada  tara  bagiku  (bila
memenuhi permintaanmu)", sambut Alan.
Lalu ia pun menulis kepadanya, "Saudara tercinta, -semoga Allah Subhaanahu Wata'ala
senantiasa memberikan keselamatan untukmu-, aku pernah mendengar suatu perkataan baik,
yang ingin aku rangkai menjadi beberapa kata di atas kertas ini. Harapanku semoga
mendapatkan tempat di dalam hatimu sebagaimana ia mendapatkan tempat di dalam hatiku.
Salam."
PERTANYAAN-PERTANYAAN
Di zaman kontemporer ini, banyak orang meremehkan shalat dan melihatnya sebagai beban
yang  berat  bagi  mereka.  Bila  engkau  mengingatkan  mereka,  sebagian  mereka  mencari-cari
alasan pribadi bahwa ia sekarang ini sedang sibuk dengan urusan-urusan penting. Sebagian
mereka ada yang beralasan pakaiannya sudah tidak suci, sehingga tidak sah digunakan untuk
shalat. Bila pulang ke rumah, ia harus melepaskan pakaiannya itu terlebih dahulu, setelah itu
baru  melaksanakan  shalat.  Ini  sebenarnya  adalah  dusta.  Sebagian  yang  lain  mengaku  telah
berbuat  kurang  optimal  dan  mulai  mengulang-ulang  ucapan,  "Semoga  Allah  Subhaanahu
Wata'alamenganugerahi hidayah kepada kita."
Sementara di sana, ada lagi segolongan orang yang berperilaku buruk dengan terang-terangan
melakukan  maksiat,  menukar  nikmat  Allah  Subhaanahu  Wata'ala dengan  kekafiran,
melecehkan  shalat  dan  orang-orang  yang  mengerjakannya,  kemudian  mengaku-aku  dirinya
seorang Muslim. Bila semata Allah  Subhaanahu Wata'alayang disebut, kenapa hati mereka
begitu  jijik?  Dan  bila  diajak  kembali  kepada  Allah  Subhaanahu  Wata'ala,  kenapa  mereka
mengatakan, "Kami mendengar tapi kami menentang!"
"Maka  mengapa  mereka  berpaling  dari  peringatan  (Allah  Subhaanahu  Wata'ala),  seakanakan mereka itu keledai liar yang lari terkejut. Lari dari seekor singa."(Al-Muddatstsir: 49-51)
Kemarilah, wahai saudaraku, mari kita kritisi sikap-sikap mereka itu dan kita cari tahu faktorfaktor yang mendorong mereka meninggalkan shalat.
1.  Apakah shalat itu denda yang harus dibayar seseorang seperti halnya membayar
sebagian pajak secara zalim?
2.  Apakah shalat hanya sekedar membuang-buang waktu, sedang seseorang tidak
memiliki sisa waktu dari aktivitasnya hanya sekedaruntuk dibuang percuma?
3.  Apakah shalat itu prinsip paksaan, yang seseorang dipaksa melakukannya seperti
dipaksa menerima prinsip-prinsip politik di negara-negara diktator?
4.  Apakah shalat itu mengekang kebebasan mutlak seseorang dan melarang mereka
menjalankan kebebasannya?
5.  Apakah shalat itu perkara mubah(boleh); sehingga siapa yang mau, boleh
melakukannya namun tidak diberi pahala, dan siapa yang mau, boleh pula
meninggalkannya namun juga tidak mendapatkan dosa?
6.  Apakah shalat merupakan suatu kebutuhan bagi kita, sehingga kita harus
melaksanakannya?
7.  Apakah Allah Subhaanahu Wata'alamembutuhkan shalat kita?
8.  Apa manfaat yang akan diraih seseorang dari shalat?Apa pula kerugian yang dia
tanggung jika meninggalkannya? Apakah…? Kenapa…?

Sekian  banyak  pertanyaan  yang  terlintas  di  dalam  pikiran  manusia,  didiktekan  oleh  hawa
nafsu, setan dan syahwatnya. Jika ia tidak mampu untuk menjawabnya, maka hawa nafsunya
mengemukakan  dan  menegakkan  argumen  kepadanya  sehingga  ia  merasa  tenang,  namun
(sebenarnya  ia)  terhinakan.  Lalu  hawa  nafsunya  melakukan  perbuatan  busuk  berupa  suatu
pemikiran  sehingga  membuatnya  sesat,  menghiasi  perbuatan  buruknya  sehingga  ia
melihatnya  baik,  membenarkan  pendapatnya  yang  rusak sehingga  ia  senantiasa  berpegang
dengannya,  membekalinya  dengan  perdebatan-perdebatan  rumit  dan  membuainya  dengan
angan-angan jauh hingga ia tercampak ke dalam api neraka sedalam tujuh puluh tahun tanpa
ia  sadari.  Namun  jika  ia  dapat  menjawab  pertanyaan-pertanyaan  tersebut  dengan  baik,
mementahkan  syubhat-syubhat (kerancuan,  ed.),  menjadikan  akal  dan  logika  sebagai
pemutus, maka ia telah menegakkan hujjah(berargumen) terhadapnya sehingga membuatnya
diam membisu dan bersembunyi.
Kini, mari kita tuntaskan pertanyaan-pertanyaan di atas satu persatu, kemudian menjawabnya
dengan  jawaban  yang  tidak  menyisakan  keraguan  bagi  si  peragu.  Maka,  siapa  saja  yang
berpaling setelah itu, maka mereka adalah orang-orang yang berbuat zalim.

JAWABAN PERTANYAAN PERTAMA
“Apakah shalat itu denda yang harus dibayar seseorang
seperti halnya membayar sebagian pajak secara zalim?”
Jawaban  Pertama, Tidak,  wahai  sahabatku!  Shalat  bukanlah  denda  materil  yang  harus
dibayar,  bukan  pula  pajak  harta  yang  harus  dipungut,  tetapi  ia  adalah  amanah  (yang  ada
padamu)  dan  dilihat  Pemiliknya  setiap  hari  sebanyak lima  kali.  Lalu  Dia  bersaksi  bahwa
kamu setia, jujur, ikhlas dan menjaga hak-hak-Nya,  kemudian memberimu imbalan sebesarbesar pahala, karena sudah merawatnya dengan baik.
Benar, ia bukanlah pajak, denda atau pun upeti. Ia hanyalah pengakuan terhadap hak, refleksi
syukur  terhadap  suatu  kebaikan,  bukti  kejernihan  jiwa  dengan  berlaku  taat  terhadap  para
pemimpin dan melaksanakan perintah-perintah  mereka  [Maksudnya adalah simbol ketaatan
kepada pemimpin, di-mana seorang makmum senantiasa  mengikuti gerakan imam di dalam
shalat, dan tidak sekalipun menyelisihinya, ed.] serta ungkapan rasa cinta dan penghargaan
(terhadap sesama Muslim) -semata karena Allah  Subhaanahu Wata'ala- yang telah berpadu
di dalam hati.
Bagaimana  pendapatmu,  wahai  teman,  andaikata  ada  seseorang  menyodorkan  kepadamu
sebuah permen, membantu mengangkat barang-barangmu,menunjukan jalan, membantumu
mendorong mobilmu yang mogok, atau mengambilkan sesuatu yang jatuh darimu? Bukankah
kamu  akan  mengatakan,  'Terima  kasih,'  menghormatinya,  menghargai  perbuatannya  dan
berharap  dapat  membalas  kebaikannya  dengan  sebaik  mungkin?  Benar,  aku  juga  manusia
sepertimu, senantiasa mengingat dan tidak mengingkari jasa baik (seseorang kepadaku), serta
berterima kasih atas hadiah yang (aku terima). Semakin besar jasa baik yang aku dapatkan,
semakin besar pula rasa terimakasihku.
Siapakah  yang  sanggup  memberikan  nikmat  seperti  Allah  Subhaanahu  Wata'ala?  Yang
menganugerahiku  akal  dan  panca  indera,  melimpahkan  rezeki  yang  baik  bagiku,
menganugerahkan  kesehatan  dan  keselamatan,  memberiku  petunjuk  kepada  agama  yang
benar, memberiku anak dan keluarga, dan menempatkanku di ladang kebaikan di tengah para
sahabat yang mulia dan tetangga yang baik?
Tidak,  sekali-kali  tidak  ada  di  dalam  kehidupan  ini yang  berbuat  baik  kepadaku  seperti
kebaikan  Allah  Subhaanahu  Wata'ala.  Tidakkah  seharusnya  aku  harus  mensyukuri  semua
nikmat-nikmat ini, karena selama ini pun aku juga berterima kasih kepada selain-Nya yang
memberikan kebaikan yang jauh lebih sedikit dari itu kepadaku? Tidak diragukan lagi, kamu
pasti setuju dan mendukungku tentang rasa syukurku  kepada-Nya, bahkan memaksaku bila
aku  berbuat  kurang  optimal  dalam  melakukannya.  Sebab  kamu  tidak  menginginkanku
menjadi manusia yang tidak pandai membalas budi danmengingkari kebaikan.
Sesungguhnya, rasa syukur secara umum selaras dengan nilai sebuah hadiah dan kedudukan
pemberi  hadiah.  Rasa  terima  kasihku  kepada  orang  yang  menyodorkan  sebuah  permen
kepadaku,  tidaklah  sama  dengan  rasa  terima  kasihku  kepada  orang  yang  menyodorkan
kepadaku sekaleng permen. Ucapanku kepada anak kecil  yang mengambilkan penaku  yang

terjatuh  dariku  tidak  sama  dengan  ucapanku  kepada  seorang  pembesar  yang
mengambilkannya untukku.
Sifat  yang  dicintai  Allah  Subhaanahu  Wata'ala dariku  dalam  mensyukuri-Nya  atas  segala
nikmat-Nya  adalah  dengan  cara  meletakkan  dahiku  di  atas  tanah,  sebagai  pengakuan  atas
Rububiyah-Nya  (keberadaan-Nya  sebagai  Sang  Pencipta),  penyucian  atas  Uluhiyah-Nya
(keberadaan-Nya  sebagai  satu-satunya  sesembahan  yang  haq)  dan  pengakuan  atas  Ihsan
(kebaikan)-Nya. Sesungguhnya manusia menundukkan diri di hadapan thaghut-thaghut yang
menjadi berhala mereka, padahal realitanya tidak memiliki jasa baik apapun terhadap mereka,
bahkan thaghut-thaghut itu ia menyesatkan mereka dari kebenaran dan petunjuk.
Kebanyakan mereka membungkuk di hadapan para pemimpin mereka sebagai penghormatan
dan pengagungan, padahal bisa jadi mereka itu adalah makhluk Allah  Subhaanahu Wata'ala
yang  paling  buruk.  Lalu  kenapa  aku  tidak  merundukkan  badan  kepada  Allah  Subhaanahu
Wata'ala,  Pemilik  kekuasaan,  Pencipta  alam  semesta,  Rabb langit  dan  bumi,  Yang
memberikan  manfaat  dan  menimpakan  mudharat,  Yang  memberi  dan  mencegah,  Yang
menghidupkan dan mematikan, dan Yang mengadakan perhitungan terhadap hal yang sekecil
dan sebesar apapun?

JAWABAN PERTANYAAN KEDUA
“Apakah shalat hanya sekedar membuang-buang waktu,
sedang seseorang tidak memiliki sisa waktu dari aktivitasnya
hanya sekedar untuk dibuang percuma?”
Jawaban Kedua,Shalat juga bukan membuang-buang waktu. Ketika seseorang terlepas dari
kesibukan kerja dan hiruk-pikuk orang-orang yang datang dan pergi, menyelinap dari
kepenatan mengambil dan memberi, menjual dan membeli, percekcokan dan negosiasi,
belajar dan mengajar dan menyelesaikan perkara orang-orang yang menghadap kepadanya,
kemudian ia berdiri di tempat shalatnya, melepaskandiri dari setiap gangguan-gangguan
tersebut, maka jiwanya menjadi tenang, hatinya berubah tenteram, badannya dapat
beristirahat, kemarahannya mereda, hawa nafsunya terkekang dan diam barang beberapa
menit guna bermunajat kepada Zat yang ia cintai.
Rasa cinta akan mencapai puncaknya
Kala berdua dengan yang kamu cinta
Selanjutnya memohon pertolongan dan dukungan kepada-Nya, meminta diberikan kekuatan
dalam berbuat baik, sabar di atas mujahadah (perjuangan), meminta maaf bila berbuat jahat
kepada makhluk manapun, baik berupa pandangan sinis, maupun ucapan atau tindakan kasar.
Maka,  (aktifitas  pada)  menit-menit  tersebut  bagaikan  mengisi  baterai  dan  mendinginkan
mesin.
Dari  titik  tolak  yang  mulia  inilah,  bila  Rasulullah  shallallahu  'alaihi  wasallam dirundung
suatu  perkara,  maka  ia  bersegera  shalat.  Bila  beliau  kembali  dalam  keadaan  lelah  setelah
memerangi  para  musuh,  maka  ia  berkata,  "Wahai  Bilal,  nyamankan  kami  dengan  shalat!"
Yakni  kumandangkanlah  azan  shalat  agar  shalat  membuat  kami  beristirahat  dari  derita
kehidupan dan problematikanya.
Manusia  adalah  makhluk  yang  lemah  dan  terbatas  kekuatannya,  tidak  mampu  melakukan
pekerjaan  secara  maraton.  Karena  itu,  perlu  istirahat  jasmani  dan  akal.  Dan  tidaklah  ada
kesempatan untuk melakukan hal itu melainkan di dalam shalat. Istirahat mewakili separuh
kehidupannya.  Karena  itu,  Allah  Subhaanahu  Wata'ala menjadikan  malam  sebagai
ketenangan, dan tidur sebagai istirahat.
Berapa  lama  orang  menghabiskan  waktunya  untuk  shalat?  Sesungguhnya  jika  dia
melakukannya  dengan  lama,  itu  pun  tidak  akan  mencapai  seperempat  jam.  Apakah  kamu
kikir  kepada  dirimu,  wahai  orang  yang  berakal,  sehingga  enggan  meluangkan  menit-menit
yang  tidak  seberapa  itu,  dari  waktu  ke  waktu  dari  harimu  untuk  mendapatkan  berbagai
manfaat  tersebut,  sementara  kamu  rela  mendermakan  waktu  yang  panjang  hanya  sekadar
untuk membuangnya dengan sia-sia? Sekadar berkunjung dan begadang malam?

JAWABAN PERTANYAAN KETIGA
“Apakah shalat itu prinsip paksaan, yang seseorang dipaksa
melakukannya seperti dipaksa menerima prinsip-prinsip
politik di negara-negara diktator?”
Jawaban  Ketiga, Shalat  juga  bukanlah  prinsip  politik  bagi  penguasa diktator  zalim,  yang
membebani  rakyatnya  dengan  pemikiran-pemikirannya,  secara  sukarela  maupun  paksa.
Tetapi shalat adalah praktik bagi agama  yang diyakini seseorang dengan  qana'ah(sepenuh
hati),  rela  tanpa  paksaan  dan  pemaksaan  karena  -tidak  ada  paksaan  dalam  agama-.  Ia  juga
bukan  prinsip  politik  yang  berubah  seiring  dengan  perubahan  kondisi  atau  mengikuti
pandangan-pandangan  para  penguasa.  Ia  juga  bukan  undang-undang  buatan  manusia  yang
pada  hari  ini  ditulis  klausul  pertamanya,  lalu  esok harinya  didiskusikan  secara  final,
kemudian  tiba-tiba  lusanya  terjadi  perubahan,  lantas  sama  sekali  dihapus  karena  kondisi
darurat  atau  ditunda  pelaksanaannya  sambil  menunggu proporsi  para  pejabat  dalam
menyepakatinya.  Atau  kesepakatannya  malah  ditunda  hingga  menanti  disahkan  oleh
pemegang kekuasaan tertinggi di dalam negeri.
Sesungguhnya  ia  adalah  salah  satu  rukun  Islam,  bahkan  rukun  Islam  yang  paling  agung
setelah dua kalimat syahadah.
Wahai Muslim,
Selama  kamu  telah  rela  terhadap  agama  ini  dengan  sepenuh  hati  dan  tidak  dibebankan  ke
pundakmu  secara  paksa,  maka  hendaknya  kamu  melaksanakan  semua  hukum-hukumnya
secara  keseluruhan.  Bukankah  kamu  sependapat  denganku  bahwa  seorang  penduduk  di
negeri  manapun  diharuskan  menerapkan  peraturan-peraturan  negerinya.  Jika  jiwanya
memberontak,  maka  dia  akan  dihadapkan  pada  dua  pilihan;  (merasa)  terhinakan  dan
(terpaksa)  mengikutinya,  atau  melepaskan  loyalitas  nasionalismenya,  lalu  pergi
meninggalkan negeri itu.
Saya  tidak  tahu,  kenapa  ada  orang  yang  takut  kepada polisi  dan  tidak  takut  kepada  Sang
Pencipta  bumi  dan  langit?  Kemudian  lihatlah  dari  sisi  lain,  tidakkah  kamu  melihat  bahwa
rambu jalan bila memancarkan cahaya berwarna merah,maka ia akan menghentikan puluhan
bahkan ratusan mobil di tempatnya. Tidak ada yang dapat melewatinya sekalipun di tengah
para  sopir  itu  ada  orang  yang  paling  tinggi  kedudukannya.  Kenapa  manusia  tidak  berani
melanggar  rambu  merah  tetapi  berani  melanggar  perintah-perintah  Allah  Subhaanahu
Wata'ala,  menantang-Nya  dengan  melakukan  perbuatan-perbuatan  maksiat  dan  mungkar
serta melanggar batasan-batasan yang telah Dia gariskan untuk mereka? Apakah ini sebagai
bukti  kesempurnaan  akal  mereka  atau  kekurangannya?  Coba  putuskan  sendiri  jika  kamu
memang termasuk orang-orang yang objektif.
JAWABAN PERTANYAAN KEEMPAT
“Apakah shalat itu mengekang kebebasan mutlak seseorang
dan melarang mereka menjalankan kebebasannya?”
Jawaban  Keempat, Shalat  juga  bukan  pengekang  kebebasan  pribadi  dan  bukan  pula
penghalang seseorang menjalankan kebebasannya.
Sesungguhnya  orang-orang  yang  hidup  di  tengah  komunitas  manusia  secara  keseluruhan
sepakat  bahwa  mereka  bukanlah  binatang  yang  hidup  di  muka  bumi,  layaknya  kehidupan
para binatang di hutan-hutan. Tetapi mereka memiliki kebebasan dan kebebasan itu bersifat
mutlak dalam hal keyakinan, ucapan maupun perbuatan, namun terikat oleh peraturan umum
dan  undang-undang  yang  berlaku.  Andaikata  bukan  karena  ikatan  ini,  tentu  umat  manusia
tidak akan teratur dan tidak akan lahir sebuah bangsa, serta sudah barang tentu pula, urusanurusan  tidak  akan  berjalan  lancar  dalam  proses  saling  bertukar  manfaat  di  antara  sesama
individu, bahkan sudah tentu pula tidak akan berlangsung ras manusia.
Sesungguhnya kaum Hippiesyang melakukan setiap apa yang terbersit dalam pikiran mereka
dan  hidup  di  jalan-jalan  layaknya  kehidupan  anjing-anjing  liar  tidak  mampu  menyelisihi
kebijakan-kebijakan  penguasa  atau  undang-undang  yang  berlaku.  Bahkan  saudara-saudara
mereka, binatang-binatang di hutan memiliki peraturan yang mereka jalani. Andaikata kamu
tanyakan salah salah se-orang ilmuan biologi, pastiia akan menjelaskan kepadamu kebenaran
apa yang aku katakan. Barangkali contoh paling dekat yang bisa aku berikan adalah apa yang
kamu saksikan dengan mata kepala kamu sendiri tentang kerjasama para anggota sekelompok
lebah, dan juga bagaimana sekelompok semut saling membantu di dalam menyeret sisa-sisa
makanan yang ia temukan.
Kamu,  wahai  Muslim,  bebas  dalam  melakukan  urusan-urusan  pribadimu,  makan  dan
berpuasa,  tidur  atau  jaga,  menetap  atau  pergi,  menjual  atau  membeli.  Kebebasan  ini  diikat
oleh aturan Ilahi dan dibatasi dengan batasan-batasan syariat. Adalah termasuk kebebasanmu,
lari  dari  pekerjaan  agar  dapat  duduk  beberapa  menit di  masjid  guna  memulihkan  kembali
vitalitas  dan  kekuatanmu.  Kemudian  kamu  keluar  dari situ  dalam  kondisi  telah  dibekali
dengan paket pertolongan ilahi terbaru, lalu melaksanakan kembali pekerjaan dan kiprahmu.
Adalah  termasuk  kebebasanmu,  menaati  aturan  Ilahi  yang  telah  mempersiapkan  bagimu
semua faktor-faktor kebahagiaan dan kesenangan di dunia dan akhiratmu.
Adalah termasuk kebebasanmu, mengatakan apa yang kamu mau, melakukan apa yang kamu
suka, menulis apa yang berkenan bagimu dan berbisnis dalam hal yang kamu minati, asalkan
tidak  melampaui  batasan-batasan  yang  telah  ditentukan  bagimu,  sebab  bila  kamu
melampauinya, berarti kamu telah melanggar hak-hak orang lain dan batasan-batasan mereka.
Dan ini termasuk hal yang diharamkan Islam dan diancam oleh peraturan-peraturan manusia.

JAWABAN PERTANYAAN KELIMA
“Apakah shalat itu perkara mubah (boleh); sehingga siapa
yang mau, boleh melakukannya namun tidak diberi pahala,
dan siapa yang mau, boleh pula meninggalkannya namun
juga tidak mendapatkan dosa?”
Jawaban  Kelima, Shalat  juga  bukan  perkara  mubah  seperti  urusan  kehidupan;  siapa  yang
mau,  boleh  melakukannya  tapi  tidak  diberi  ganjaran, dan  siapa  yang  tidak  melakukannya,
maka  tidak  berdosa.  Tetapi  ia  adalah  perintah  tegas dan  pasti,  memiliki  waktu  tertentu,
gerakan  khusus,  cara  yang  spesial  dan  langkah  yang  terencana.  Kamu  tidak  berhak
mengubahnya,  baik  dengan  menambahi  atau  menguranginya.  Saya  tidak  melihat  perlu
menggantinya dengan mendahulukan atau mengakhirkannya. Ia seperti sesuap makanan yang
jalur masuknya dari mulut, bukan telinga. Dan juga seperti udara yang masuk ke dalam paruparu dari mulut atau hidung, bukan dari lekuk telapak kedua kaki. Bila kamu memiliki hak
berpendapat  tentang  mengempis  atau  mengembangnya  jantungmu,  atau  memiliki  hak
intervensi dalam mengembang atau menyempitnya paru-parumu, maka ketika itu boleh kamu
memiliki pandangan dalam perkara shalat.
Shalat  adalah  seperti  aktivitasmu  dalam  melakukan  pekerjaanmu  -jika  kamu  seorang
karyawan-,  ataupun  seperti  transaksi  jual-belimu,  bila  kamu  seorang  pedagang.  Bila  kamu
konsisten dengan pekerjaanmu dan menunaikan kewajiban, maka kamu akan diupah di akhir
bulan dengan menerima gajimu atau kamu akan mengisikantongmu dengan keuntungan yang
teraih.  Dan  jika  kamu  absen  dari  pekerjaanmu  dan  melalaikan  kewajibanmu,  maka  gajimu
akan dipotong sesuai dengan jumlah absenmu dan tingkat kelalaianmu, dan kamu akan rugi
karena tidak meraih keuntungan yang sebelumnya kamuangan-angankan.
Seringkali  orang  memperhitungkan  hal  yang  mubah  seperti  memperhitungkan  hal  yang
wajib. Bagaimana pendapatmu bila setelah pertengahan malam, kamu mengambil radio, lalu
kamu  putar  volumenya  hingga  terdengar  sangat  kencang  suaranya,  atau  kamu  bernyanyi
dengan  suara  sekeras  mungkin,  pastilah  para  tetangga  akan  terganggu,  mengumpatimu  dan
mengetuk  pintumu,  memintamu  mengecilkan  volume  radio  atau  mengurangi  volume
suaramu.  Jika  tidak,  pasti  kamu  akan  mendapat  sanksi.  Bukankah  aktivitasmu  mendengar
radio merupakan hal yang mubah bagimu di mana kamu boleh mendengarkannya kapan mau
dan bagaimana pun caranya? Kalau begitu, kenapa kamu kekang kebebasanmu?.
Jawabannya adalah, karena kamu telah diikat dengan  peraturan khusus ataupun umum yang
tidak boleh kamu langgar, maka apalagi dengan apa yang telah diwajibkan Allah Subhaanahu
Wata'alakepada para hamba-Nya yang beriman kepada  Uluhiyahdan  Rububiyah-Nya serta
ridha terhadap syariat dan dien (agama)-Nya? Apakahmereka itu adalah orang-orang  yang
bebas dalam melakukan ibadah dan shalat kepada-Nya?Ataukah mereka orang-orang  yang
terikat dengan perintah-perintah-Nya dan harus melaksanakannya?

JAWABAN PERTANYAAN KEENAM
“Apakah shalat merupakan suatu kebutuhan bagi kita,
sehingga kita harus melaksanakannya?”
Jawaban  Keenam, Benar,  shalat  adalah  kebutuhan  esensial,  yang  dibutuhkan  dalam
kehidupan  manusia  seperti  kebutuhan  terhadap  makanan  dan  minuman.  Hal  ini  karena
makanan  dan  minuman  adalah  pilar  tubuh  dan  materi  kehidupan.  Sedangkan  shalat  adalah
pilar ruh dan materi ketenteraman, yang mengangkat  pelakunya dari perkara-perkara sepele
sehingga menjadi lurus dalam semua urusannya, sama  seperti tegak lurusnya ia di hadapan
Rabbnya dalam shalat.
Shalat adalah batas pemisah antara keimanan dan kekufuran. Terdapat hadits mengenainya,
yang berbunyi,
"(Batas) antara kekufuran dan iman adalah meninggalkan shalat."(H.R. at-Tirmidzi)
Apa  manfaat  yang  didapat  Islam  dari  orang-orang  Islam  gadungan  bila  mereka  menentang
perintah-perintah-Nya? Bukankah mereka seperti anakdurhaka, yang nasabnya sesuai dengan
keluarganya  namun  perilakunya  bertentangan  dengan  mereka?  Apakah  kebaikan  dapat
diharapkan dari orang yang tidak berharap kebaikan bagi dirinya sendiri?
Kita, kaum Muslimin, tidak ingin menjadi seperti buih-buih  yang terseret air bah, dihitung
berjumlah  ratusan  juta  padahal  orang-orang  shalih  hanya  berjumlah  puluhan  jutanya  saja.
Satu butir peluru  yang terisi mesiu dan dapat membunuh seorang musuh adalah lebih baik
daripada setumpuk selongsong peluru kosong. Apakah kemah dapat berdiri sekalipun dengan
seribu pasak jika tidak memiliki tiang di tengahnya? Sementara tiang Islam itu adalah shalat.
Shalat adalah kebutuhan yang esensial sekali bagi manusia, sebab shalat dapat memperbaiki
akhlaknya,  merapikan  tabiatnya,  menghalangi  dirinya dari  lubang-lubang  kerusakan  dan
kesesatan  serta  mencegahnya  dari  perbuatan  keji  dan mungkar.  Bagaimana  mungkin
seseorang  melakukan  dosa,  sementara  dia  mengetahui  bahwa  sebentar  lagi  dirinya  akan
berdiri di hadapan  Rabb Subhaanahu Wata'aladi mana Dia tidak menerima hal itu darinya
kecuali  bila  hati,  jiwa  dan  anggota  badannya  suci?  Apakah  kamu  tidak  memperhatikan
bagaimana  kebanyakan  kaum  Muslimin  dapat  menahan  diri  dari  meminum  miras  tatkala
turun firman-Nya,

"Janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk."(An-Nisa': 43)
Bagaimana  mereka  dapat  melakukan  shalat,  sementara  mereka  terlibat  dalam  aksi  mabukmabukan? Tetapi mereka harus melakukannya sebab halitu terulang bagi mereka setiap hari
sebanyak  lima  kali.  Kalau  begitu,  tidak  ada  cara  lain  kecuali  miras  itu  ditinggalkan  secara
total,  agar  mereka  tetap  dalam  kondisi  siap  untuk  bertemu  dengan  Allah  Subhaanahu
Wata'ala.
Shalat, wahai temanku, adalah timbangan yang digunakan manusia untuk menakar perbuatanperbuatan  yang dilakukannya di antara dua shalat, seperti halnya seorang dokter mengukur
suhu panas badan seorang pasien dari waktu ke waktu. Jika perbuatannya shalih (baik), maka
perbuatan itu berkata kepadanya, "Tetaplah dan majulah." Dan jika tidak demikian, maka ia
berkata,  "Kembali  dan  tetaplah  lurus!"  Dan  bila  mendengar  muadzin  mengumandangkan,
"Allahu  Akbar,"  ia  ingat  dengan  kondisinya  dan  menyadari  bahwa  Allah  Subhaanahu
Wata'ala  adalah  Mahabesar  dari  apa  yang  sedang  ia  lakukan.  Sehingga  dengan  begitu,  ia
melepaskan urusan duniawinya dan memenuhi panggilanAllah Subhaanahu Wata'ala.
Percayalah sepenuhnya bahwa orang yang shalat adalah manusia yang diharapkan kebaikan
dan kelurusannya sekalipun kamu mendapati dalam banyak kondisinya menyimpang -sebab
shalatnya suatu hari pasti dapat membuatnya jera dari melakukan penyimpangan ini- karena
dalam shalatnya, ia membaca Alquran. Betapa pun ia  lalai, pasti ada saat-saat ia merenungi
makna-makna  apa  yang  dibacanya  sehingga  'senar-senar'  hatinya  akan  bergetar,  sentimensentimen positifnya akan bangkit. Hal ini didukung oleh firman-Nya,
"Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."(Al- 'Ankabut:
45)
Sedangkan orang yang tidak shalat, maka tidak akan membaca Alquran dan tidak mengambil
manfaat  sedikit  pun  darinya  sementara  ia  tetap  akan terpedaya  dalam  kesesatannya  dan
melangkah dalam dosa-dosanya.

JAWABAN PERTANYAAN KETUJUH
“Apakah Allah Subhaanahu Wata'ala membutuhkan shalat
kita?”
Jawaban  Ketujuh, Allah  Subhaanahu  Wata'ala tidak  membutuhkan  shalat  kita,  tetapi
kitalah  yang  butuh  untuk  shalat  kepada-Nya.  Sesungguhnya  Dia  tidak  membutuhkan
makhluk-Nya, namun makhlukNya lah yang membutuhkan-Nya.
Allah Subhaanahu Wata'alaberfirman,

"Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Mahakaya
(tidak  memerlukan  sesuatu)  lagi  Maha  Terpuji.  Jika  Dia  mengendaki,  niscaya  Dia
memusnahkan  kamu  dan  mendatangkan  makhluk  yang  baru (untuk  menggantikan  kamu).
Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah."(Fathir: 15-17)
Dia telah menciptakan mereka telanjang tanpa pakaian maupun alas kaki, tidak memiliki apaapa, tubuh yang lemah, pikiran kaku, tidak dapat membedakan antara makanan dan bara api
dan  tidak  mampu  memberikan  manfaat  maupun  menyebabkan  mudharat bagi  diri  mereka
sendiri.  Lalu  Allah  Subhaanahu  Wata'ala memberi  mereka  makanan,  menguatkan  dan
memberikan kesehatan, akal dan harta. Dia menundukkan bagi mereka apa yang di langit dan
bumi dan menyempurnakan nikmat-Nya kepada mereka, lahir dan batin. Setelah pemberian
yang  banyak  ini,  -sementara  Dia  adalah  Pemilik  kekuasaan  dan  di  tangan-Nya
perbendaharaan langit dan bumi- apakah kamu melihat-Nya membutuhkan shalat kita?
Tidak, shalat kita hanyalah ungkapan tegas tentang rasa cinta kita kepada-Nya dan pengakuan
terhadap karunia-Nya serta rasa syukur terhadap nikmat-Nya.
Sesungguhnya  orang-orang  yang  meremehkan  perkara  shalat,  dikaruniai  oleh  Allah
Subhaanahu  Wata'ala berfirman  dengan  beragam  nikmat  seperti  yang  dikaruniakan-Nya
kepada kita, bahkan boleh jadi Dia memberikan lebihbanyak kepada mereka dari apa yang
diberikan  kepada  kita.  Hanya  saja  kita  mengakui  karuniaNya  itu,  sementara  mereka
mengingkarinya.  Mereka  lupa  hari  kelahiran  mereka,  hari  di  mana  mereka  tidak  memiliki
sesuatu pun. Dan mereka lalai hari kematian mereka,hari di mana mereka meninggalkan apa
yang  telah  mereka  kumpulkan  bagi  para  ahli  waris  mereka  agar  dapat  bersenang-senang
dengannya sementara mereka akan dihisab atas hal itu. Mereka telah berani terhadap Allah
Subhaanahu Wata'aladan menyombongkan diri serta enggan beribadah kepada-Nya. Mereka
kelak akan menemui kesesatan.

Allah Subhaanahu Wata'alaberfirman,
"Sesungguhnya  orang-orang  yang  menyombongkan  diri  dari  menyembah-Ku  akan  masuk
neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."(Ghafir: 60)
Kenapa  kamu  paksakan  dirimu  dengan  memeluk  Islam,  wahai  orang  yang  meninggalkan
shalat, jika kamu tidak membutuhkannya? Kenapa kamutidak shalat jika kamu meyakininya?
Apakah kamu tidak enak hati bila dikatakan, 'Kamu seorang religius yang takut kepada Allah
Subhaanahu Wata'ala?' Apakah kamu senang bila dikatakan, 'Kamu adalah orang fasik yang
menentang  Allah  Subhaanahu  Wata'ala?'  Bagaimana  kamu  dapat  menaati  perintah  para
pemimpinmu  sementara  kamu  menentang  perintah  Allah  Subhaanahu  Wata'ala?  Apakah
para  pemimpinmu  itu  bagimu  pangkatnya  jauh  lebih  tinggi  dan  agung  daripada  Allah
Subhaanahu Wata'ala? Allah-lah Yang Mahatinggi Lagi Mahamulia.
Hushain  bin  'Ubaid  pernah  menemui  Rasulullah  shallallahu  'alaihi  wasallam seraya
mengumpati  dan  mencelanya  karena  beliau  shallallahu  'alaihi  wasallammenentang  orangorang  kafir  Quraisy,  menganggap  bodoh  angan-angan  mereka  dan  mencela  tuhan-tuhan
mereka,  lalu  Rasulullah  shallallahu  'alaihi  wasallam menegakkan  hujjah  terhadapnya  dan
menolak  kebatilannya  dengan  kalimat  kebenaran,  lalu ia  mendengar  dan  beriman  padahal
hatinya lebih keras daripada batu. Rasulullah  shallallahu 'alaihi wasallambersabda, "Wahai
Hushain, berapa banyak tuhan yang kamu sembah? Ia menjawab, 'Tujuh di bumi dan satu di
langit.' Beliau berkata, 'Bila kamu ditimpa suatu kesulitan, kepada siapa kamu meminta?' Ia
menjawab,  'Yang  ada  di  langit.'  Beliau  berkata,  'Bila  hartamu  binasa,  kepada  siapa  kamu
meminta?'  Ia  menjawab,  'Yang  ada  di  langit.'  Beliau berkata,  'Hanya  Dia  semata  yang
mengabulkan  permohonanmu,  sementara  kamu  mempersekutukan  mereka  bersamaNya?'
Wahai Hushain, masuk Islamlah, pasti kamu selamat."(Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, II/87).
Saya katakan kepadamu, wahai Muslim yang meninggalkan shalat, yang lalai terhadap  Rabb
Yang  mengawasimu  dan  menunggumu,  shalatlah,  pasti  kamu  selamat  dari  azab  Allah
Subhaanahu  Wata'ala yang  pedih.  Sungguh  tercela  kamu  jika  meminta  kepada  Allah
Subhaanahu  Wata'ala saat  ditimpa  bencana  sementara  kamu  melalaikan-Nya saat
mendapatkan kesenangan.

JAWABAN PERTANYAAN KEDELAPAN
“Apa manfaat yang akan diraih seseorang dari shalat? Apa
pula kerugian yang dia tanggung jika meninggalkannya?
Apakah…? Kenapa…?”
Jawaban  Kedelapan, Adapun  apa  yang  kamu  dapatkan  dari  shalatmu,  maka  semuanya
adalah  baik.  Kamu  dan  saudara-saudaramu,  kaum  Muslimin  mendapatkan  manfaatnya.
Bukankah  kamu  suka  Allah  Subhaanahu  Wata'ala mengampuni  dosa-dosa  yang  kamu
lakukan?  Rasulullah  shallallahu  'alaihi  wasallam bersabda,  "Maukah  aku  tunjukkan
kepadamu  apa  yang  dapat  menghapus  dosa-dosa  dan  meninggikan  derajat?'  Mereka
menjawab,  'Tentu,  wahai  Rasulullah.'  Beliau  n  bersabda,  'Menyempurnakan  wudhu  dalam
kondisi  tidak  suka,  memperbanyak  langkah  menuju  masjid-masjid,  menunggu  (datangnya
waktu) shalat selepas (menunaikan) shalat. Itulah ribath!"(H.R. Muslim)
Bila  Allah  Subhaanahu  Wata'ala mengampuni  dosamu,  maka  saudara-saudaramu,  kaum
Muslimin juga senang sebab mereka menyukai (kebaikan) untukmu sebagaimana menyukai
(kebaikan) untuk diri mereka sendiri.
Sesungguhnya manfaat shalat jauh lebih agung daripada yang dapat dihitung oleh seseorang
atau dicatat dengan pena. Karena ia adalah perintahIlahi, dengannya kamu menyembah Allah
Subhaanahu Wata'alasebagai suatu ibadah.
Allah Subhaanahu Wata'alaberfirman,
"Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman, 'Hendaklah mereka mendirikan
shalat."(Ibrahim: 31)
Sebagaimana  Allah  Subhaanahu  Wata'ala juga  menggabungkan  semua  kebaikan  di  dalam
shalat  dengan  perkataan  yang  sangat  menyentuh  dan  ungkapan  yang  sangat  ringkas.  Dia
Subhaanahu Wata'alaberfirman,
"Sesungguhnya shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar."(Al-'Ankabut: 45)
Seseorang boleh menghitung-hitung keistimewaan shalat sekehendak hatinya dalam batasan
ini, dan jika tidak mampu menghitungnya secara sempurna, maka paling tidak, menyebutkan
sebagiannya.

Bila kamu berhasil mengatasi penyakit keji dari dirimu dan memangkas habis akar-akarnya
dari  tingkah  lakumu,  maka  dien (agama)mu  akan  menjadi  bersih,  jiwamu  menjadi  suci,
hatimu menjadi baik, seluruh anggota badanmu menjadi sehat dan urusanmu menjadi lurus.
Dan  bila  kamu  hilangkan  kemungkaran  dan  memutus  tali-talinya,  berarti  kamu  telah
menghabisi  virus  mematikan  di  dalam  bangunan  masyarakatmu.  Sehingga  dengan  begitu,
kamu telah mengamankan dienmu, diri dan keluargamu.
Shalat adalah penolongmu di kala dalam kesulitan dan pengurai belenggu berbagai rintangan.
Allah Subhaanahu Wata'alaberfirman,
"Jadikanlah  sabar  dan  shalat  sebagai  penolongmu.  Dan  sesungguhnya  yang  demikian  itu
sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu."(Al-Baqarah: 45).
Shalat  adalah  ketenangan  bagi  pikiran  dan  jasmanimu dari  berbagai  kesibukan  hidup  dan
kepenatan kerja. Ia adalah faktor utama penguat hubungan antar sesama Muslim, persamaan
hak antar sesama manusia, terjaganya peraturan, timbulnya rasa tinggi di atas segala yang ada
di dunia, kosongnya hati dari hawa nafsu, sucinya jiwa dari rasa permusuhan dan tipu daya,
terjaganya  lisan,  terpeliharanya  mata  dan  pendengaran,  sikap  rendah  hati  dan  sopan,
terbiasanya  diri  menunaikan  hak-hak,  dan  melakukan  kewajiban  dalam  kondisi  semangat
maupun terpaksa.
Tidak diragukan lagi, shalat memiliki banyak manfaat secara medis, yang direfleksikan dari
gerakannya yang spesial, baik ketika berdiri,  ruku', sujud dan duduk, sesuai dengan cara kita
beribadah  kepada  Allah  Subhaanahu  Wata'ala,  sekalipun  faidah-faidah  ini  luput  dari
pengetahuan kita.
Kaum  Muslimin  terdahulu  menerima  perintah-perintah  Allah  Subhaanahu  Wata'ala tanpa
mencari apa alasannya dan apa yang mewajibkannya. Mereka menunaikannya dengan tanpa
bertanya dan meminta penjelasan. Akan tetapi lemahnya iman di dalam jiwa mendorong para
penyuluh  agama  dalam  rangka  membimbing  para  pemula  dan  menunjukkan  jalan  hidayah
kepada  mereka  untuk  memberdayakan  pikiran  dan  memaksakan  diri  dalam  menggali
keutamaan-keutamaan  dan  keistimewaan-keistimewaan  yang  tersimpan  dalam  agama  Islam
dan  meletakkannya  di  hadapan  mata  mereka  ibarat  meletakkan  uang  di  telapak  tangan
mereka. Sekalipun begitu, hanya sedikit yang mau mengambil pelajaran dan mau bersyukur.

NASIHATKU KEPADAMU WAHAI MUSLIM
Wahai Muslim,
Nasehatku  kepadamu  hendaklah  kamu  senantiasa  mendirikan  shalat  dan  menjaga  shalatshalatmu pada waktunya. Demi Allah, tidak ada seorang pun yang dapat melindungimu dari
siksa  Allah  Subhaanahu  Wata'ala.  Ia  tidak  dapat  menanggung  dosamu,  tidak  pula  dapat
berbantahan dengan Allah Subhaanahu Wata'aladalam rangka membelamu, juga tidak dapat
menolak  siksa-Nya  bila  menimpamu,  hartamu  tidak  bermanfaat  bagimu,  tidak  juga  anakanakmu, kedudukanmu tidak akan bertahan lama bersamamu, demikian juga masa mudamu.
Kamu  akan  menyesali  keteledoranmu  di  hari  di  mana  penyesalan  tiada  lagi  berguna.  Mati
akan  menyergapmu  secara  tiba-tiba  di  saat  kamu  lengah  darinya.  Karena  itu,  ambillah
perbekalanmu, renungi masalahmu dan ambil pelajarandari pendahulumu.
Ketahuilah,  bahwa  hal  pertama  yang  kelak  dipertanyakan  kepada  seorang  hamba  di  hari
Kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka setelahnya ditanya tentang zakat, puasa dan
haji. Jika shalatnya ditolak, tidak sesuatu pun dari kebaikan yang akan ditanyakan setelahnya,
sekalipun ia membayar zakat, berpuasa dan melaksanakan haji. Ketahuilah, bahwa siapa yang
meninggalkan  kewajiban  shalat  secara  sengaja,  maka  jaminan  dan  tanggungan  Allah
Subhaanahu Wata'aladan Rasul-Nya terlepas darinya.
Berhati-hatilah,  jangan  sampai  kamu  termasuk  orang-orang  Islam  gadungan  yang  hanya
shalat  dalam  satu  waktu  sementara  di  waktu-waktu  lainnya  dia  meninggalkannya.  Juga
jangan sampai kamu termasuk orang-orang munafik  yang bila mendirikan shalat bermalasmalasan,  minta  dilihat  orang  lain  (berbuat  riya')  dan  tidak  mengingat  Allah  Subhaanahu
Wata'alakecuali hanya sedikit.
Berhati-hatilah, jangan sampai setan menguasai lisanmu sebagaimana menguasai lisan-lisan
kebanyakan  kaum  Muslimin  gadungan  yang  mengatakan,  'Yang  menjadi  tolok  ukur  bukan
shalat, tetapi kejernihan hati dan tidak menipu orang lain.' Mereka mengklaim tidak pernah
menyakiti seorang pun sekalipun tidak pernah shalat. Demi Allah, mereka itu dusta! Mereka
bahkan telah menyakiti Allah Subhaanahu Wata'ala, Rasul-Nya dan orang-orang beriman.
"Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan  Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya
di  dunia  dan  di  akhirat,  dan  menyediakan  baginya  siksa  yang  menghinakan.  Dan  orangorang  yang  menyakiti  orang-orang  mu'min  dan  mu'minat  tanpa  kesalahan  yang  mereka
perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata."(AlAhzab: 57-58).
Bentuk  menyakiti  Allah  Subhaanahu  Wata'ala macam  apalagi  yang  lebih  besar  daripada
berbuat  maksiat  terhadap-Nya?  Bentuk  menyakiti  Rasulullah  shallallahu  'alaihi  wasallam
apalagi  yang  lebih  besar  daripada  menentangnya?  Bentuk  menyakiti  orang-orang  beriman
macam  apalagi  yang  lebih  besar  daripada  melecehkan  agama  mereka  dan  mengikuti  selain
jalan mereka?
Bila kamu melihat sekelompok orang melakukan shalatnamun mereka melakukan perbuatan
maksiat,  maka  ketahuilah,  bahwa  mereka  tidaklah  terjaga  dari  melakukan  kekeliruan.
Kemaksiatan yang mereka lakukan tidak ada kaitannyadengan shalat mereka. Kamu tidaklah
dalam posisi sebagai pemberi sanksi kepada mereka maupun mewakili mereka. Percayalah,
bahwa suatu hari mereka akan jera dengan tingkah laku buruk mereka.  Jadilah kamu lebih
baik  daripada  mereka,  panutan  dan  pemberi  nasehat  bagi  mereka.  Jadilah  kamu  termasuk
orang-orang  yang shalatnya mencegahnya dari kemungkaran dan janganlah termasuk orang
yang shalatnya tidak membuatnya selain makin jauh dari Allah Subhaanahu Wata'ala.
Shalatlah,  jika  kamu  berakal.  Demi  Allah,  orang  yang  berakal  sehat  tidak  akan  pernah
meninggalkan shalat.  Berhati-hatilah, jangan sampaikamu menjadi orang-orang  yang tidak
menggunakan akal dan  panca indera dalam hal yang bermanfaat, bahkan justeru mengikuti
hawa nafsu dan setan! Sesungguhnya Allah  Subhaanahu  Wata'alamengecam dan mencela
kelalaian mereka dengan firman-Nya,

"Mereka  mempunyai  hati,  tetapi  tidak  dipergukan  untuk  memahami  (ayat-ayat  Allah)  dan
mereka  mempunyai  mata  (tetapi)  tidak  dipergunakannya  untuk  melihat  (tanda-tanda
kekuasaan  Allah),  dan  mereka  mempunyai  telinga  (tetapi)  tidak  dipergunakannya  untuk
mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat
lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."(Al-A'raf: 179).
Shalatlah, jika kamu orang  yang merdeka dan terhormat! Janganlah mengikuti orang-orang
yang keluar dari agama (murtad) dan janganlah terperdaya dengan banyaknya jumlah orangorang yang celaka.
Shalatlah,  jika  kamu  termasuk  orang  yang  pandai  mengingat  jasa  baik  dan  berterimakasih
atas perbuatan baik.
Shalatlah,  jika  kamu  tulus  dalam  keislamanmu  dan  janganlah  perbuatanmu  bertentangan
dengan perkataanmu sehingga kamu termasuk orang-orang munafik.
Shalatlah,  jika  kamu  mencintai  dirimu  agar  kelak  selamat  dari  azab  yang  pedih.  Berhatihatilah, jangan sampai kamu membangkang dan berlarut-larut di atas kesalahanmu sehingga
setan  mempecundangimu,  lalu  membuatmu  lupa  mengingat  Allah  Subhaanahu  Wata'ala,
sehingga kamu termasuk orang-orang yang merugi.

Shalatlah, jika kamu seorang yang berbakti kepada kedua orang-tua agar Allah  Subhaanahu
Wata'alamenerima doamu dan permintaan ampunanmu untuk keduanya.
Shalatlah,  jika  kamu  mencintai  anak-anakmu  dan  jadilah  teladan  yang  baik  bagi  mereka.
Bagaimana  mungkin  kamu  bercita-cita  menumbuh  kembangkan  mereka  di  atas  Islam  jika
kamu  sendiri  tidak  mempraktikkannya?  Apakah  kamu  rela  melihat  mereka  kelak  terbolakbalik di api neraka?
Shalatlah  kamu,  jika  kamu  setia  kepada  isterimu,  menginginkan  kebaikan  untuknya  dan
berharap  keselamatan  baginya.  Tidakkah  kamu  melihatnya  shalat  sekalipun  kamu  tidak
shalat?  Apakah  kamu  merasa  terhormat  bila  ia  menjadi  wanita  yang  shalih  dan  bertakwa
sementara  kamu  hidup  bersamanya  sebagai  seorang  yang  durhaka?  Bagaimana  ia  bisa
percaya terhadap kesetiaanmu, jika kamu sendiri tidak pernah setia terhadap kedua orang-tua
dan anak-anakmu?
Shalatlah, jika kamu tulus mengabdi kepada negerimu. Orang  yang tidak dapat diharapkan
kebaikannya  bagi  agamanya,  tidak  akan  mungkin  dapat diharapkan  kebaikannya  untuk
negerinya.  Bagaimana  Allah  Subhaanahu  Wata'ala akan  menjaga  negeri-negeri  bilamana
penduduknya  berbuat  maksiat  kepadaNya  dan  mengingkari  nikmat-nikmat-Nya?  Tidaklah
orang-orang Yahudi dapat menguasai mereka melainkankarena mereka meninggalkan shalat
dan melakukan perbuatan keji dan mungkar?
Shalatlah,  jika  kamu  mencintai  Allah  Subhaanahu  Wata'ala.  Sebab  orang  yang  mencintai
tidak akan merasa bahagia kecuali dengan berbisik berdua dengan yang dia cintai. Karena itu,
hendaklah shalatmu menjadi bagian dari bisikan (munajat) mu.
Shalatlah, jika kamu takut kepada  Allah Subhaanahu  Wata'alaYang Mahabesar sebab Dia
Subhaanahu  Wata'ala telah  mengancam  orang  yang  tidak  mendirikan  shalat dengan
memasukkannya ke dalam api neraka. Sedangkan kamu, wahai orang yang patut dikasihani,
tidak  dapat  menahan  panasnya  matahari,  maka  apalagi menahan  panas  api  neraka?  Api  di
dunia  merupakan  satu  bagian  dari  tiga  puluh  bagian  api  di  akhirat,  sedang  api  di  akhirat
berwarna  hitam  legam.  Manusia  yang  terjerumus  ke  dalam  api  Nereka  memerlukan  waktu
tujuh puluh tahun hingga mencapai dasarnya.
Apakah  menyenangkanmu,  wahai  sahabatku,  pada  hari  Kiamat  kelak  dikatakan,  "Kamu
termasuk  orang-orang  yang  berbuat  kejahatan  karena  tidak  shalat?" Apakah
menyenangkanmu  bila  Allah  Subhaanahu  Wata'ala Yang  Maha  Pembalas  mengatakan
kepada para malaikat yang bengis,
"Peganglah  dia  lalu  belenggulah  tangannya  ke  lehernya.  Kemudian  masukkanlah  dia  ke
dalam  api  neraka  yang  menyala-nyala.  Kemudian  belitlah  dia  dengan  rantai  yang
panjangnya tujuh puluh hasta."(Al-Haqqah: 30-32)
Bukankah  kamu  sepakat  denganku  bahwa  meninggalkan  shalat  adalah  perbuatan  maksiat?
Lalu,  kenapa  kamu  meninggalkannya?  Apakah  kamu  memiliki  jaminan  dari  Allah
Subhaanahu  Wata'ala bahwa  Dia  akan  mengampunimu?  Tidakkah  kamu  mendengar  pesan
Allah  Subhaanahu  Wata'ala kepada  Rasul-Nya,  Artinya,  "Katakanlah,  'Sesungguhnya  aku
takut akan azab hari yang besar (hari Kiamat), jikaaku mendurhakai Rabbku'."?(Al-An'am:
15)
Apakah kamu lebih mulia di hadapan Allah Subhaanahu Wata'alaataukah Rasul-Nya? Bila
Rasul-Nya  menurut  pandanganmu  lebih  mulia  -dan  inilah  yang  benar-,  maka  mengapa  dia
bisa takut kepada Rabb-nya sedang kamu tidak?
Wahai  teman,  andaikata  seorang  polisi  mengancammu,  pastilah  kamu  amat
memperhitungkannya.  Andaikata  seorang  gubernur  mengancammu,  pastilah  kamu  tidak
dapat  memejamkan  mata  saking  takutnya.  Andaikata  penguasa  tertinggi  di  negeri
mengancammu, pastilah punggungmu akan terputus saking takut dan cemasnya kamu. Nah,
bagaimana  bila  yang  mengancammu  itu  adalah  Zat  Yang Maha  Pembalas  Lagi  Perkasa,
kemana kamu akan pergi dan siapa yang akan menyelamatkanmu dariNya?
Apakah  penyesalan  dan  tangismu  dapat  menyelamatkanmu  bila  telah  berhadapan  langsung
dengan api neraka? Manfaat mana yang dapat kamu kumpulkan di dalam kehidupan dunia ini
untuk  menyongsong  kehidupan  akhirat  bila  kamu  tidak shalat?  Apa  kerugian  yang  kamu
alami bila shalat? Mana di antara dua hal yang paling kamu sukai: bersama orang-orang yang
bahagia di surga atau bersama orang-orang yang sengsara di neraka?
Shalatlah, karena sesungguhnya kamu butuh pada (pertolongan) Allah  Subhaanahu Wata'ala
Yang  Mahaagung.  Kenalilah  Allah  Subhaanahu  Wata'ala di  saat  engkau  dalam  kondisi
mudah, niscaya Dia akan mengenalmu di saat engkau dalam kondisi sulit.
Shalatlah, dan janganlah kamu menjadi seorang Muslim keturunan yang mengklaim
berafiliasi pada Islam padahal Islam berlepas diri darimu. Berhati-hatilah, jangan sampai
kamu menjadi alat pendongkel yang menghancurkan danmerobohkan Islam. Berbanggalah
dengan keislamanmu seperti kebanggaan sang penyair,
Islam adalah ayahku, tidak ada ayah bagiku selainnya
Disaat pada Qais atau pun Tamim mereka berbangga
Shalatlah, pasti kamu menjadi pelindung bagi saudara-saudaramu sesama Muslim yang baik.
Kamu  menyebabkan  jumlah  mereka  banyak,  memperkuat  mereka,  mengalahkan  musuh
mereka, mengurangi jumlah orang-orang munafik.
Shalatlah,  pasti  kamu  membuat  ridha  Sang  Maha  Pengasih,  membuat  jengkel  setan  dan
mementahkan tipu daya para penipu.
Shalatlah,  sebab  shalat  adalah  cahaya  yang  dapat  menghilangkan  gelapnya  kesesatan  dan
kebatilan, menanamkan petunjuk dan kebenaran ke dalam hati, menyinari gelapnya kuburmu
dan bergemerlapan pada dahimu dengan terang benderang pada hari Kiamat.
Mengapa Kita Shalat
Shalatlah,  sebab  shalat  merupakan  faktor  paling  besar  yang  dapat  menghalangimu  dari
melakukan maksiat dan belenggu paling keras bagi setan dan hawa nafsu.
Shalatlah,  sebab  perkara  hisab  (perhitungan  amal  perbuatan)  amatlah  sulit,  sedang  yang
berwenang  melakukan  hisab  adalah  Mahakuasa.  Ketahuilah,  bahwa  bila  binatang  ternak
melihat kesengsaraan-kesengsaraan dan prahara-prahara yang disediakan bagi manusia pada
hari  Kiamat  kelak,  pastilah  akan  mengatakan,  "Wahai sekalian  manusia,  segala  puji  bagi
Allah yang tidak menjadikan kami seperti kalian. Surga tidak kami harapkan dan siksaan pun
tidak  kami  takutkan."  Sementara  pelaku  kejahatan  pada  hari  itu  berangan-angan  kiranya
menjadi debu.
Sebagai penutup, shalatlah wahai saudaraku sesama Muslim! Aku melaksanakan shalat dan
mengharapkan kebaikan bagimu sama seperti halnya mengharapkannya untuk diriku selama
kamu adalah saudaraku sesama Muslim.
Shalatlah sebagai ungkapan ketaatan kepada Allah Subhaanahu Wata'alayang berfirman,"Peliharalah segala Shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wusthaa (Ashar). Berdirilah karena
Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu."(Al-Baqarah: 238)
Dan juga karena rasa khawatir kelak dikumpulkan dalam kelompok orang-orang kafir. Sebab
telah  diriwayatkan  sebuah  hadits  yang  shahih  dari  Rasulullah  shallallahu 'alaihi  wasallam,
beliau bersabda,
"Perjanjian  antara  kami  dan  mereka  (orang-orang  munafik)  adalah  shalat;  siapa  yang
meninggalkannya, maka ia telah kafir." (H.R. at-Tirmidzi)
Shalatlah! Sebab aku, demi Allah yang tiada tuhan -yang berhak disembah- selain Dia, adalah
termasuk orang-orang yang menginginkan kebaikan bagimu.
Semoga  Allah  Subhaanahu  Wata'ala  menjadikanku  dan  kamu  termasuk  orang-orang  yang
mendengarkan perkataan, lalu mengikuti (pesan) yangpaling baik darinya.
Semoga  shalawat  dan  salam  senantiasa  tercurahkan  kepada  Nabi  kita  Muhammad,
keluarganya dan para sahabatnya.
Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.
Poskan Komentar