Jumat, 21 November 2014

Barometer Kehidupan



Barometer Kehidupan
Muqodimah
Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba'du:
Manakala seseorang mencoba untuk melepas pandangan matanya, melihat pada alam semesta nan luas ini, dirinya akan menyaksikan partikel hidup yang menakjubkan, perilaku asing yang ada pada sisi kehidupan sekelompok manusia, baik lelaki maupun perempuan, tua dan muda. Dan kalau seandainya mata kita buka lebar-lebar, barulah kita bisa menyaksikan, telinga pun mendengar, akal pikiran pun bisa menghukumi tentang kondisi yang sedang terjadi pada umat kita, benar-benar kita dihadapan pada problematika yang tidak mudah, benar-benar telinga kita akan mendengar sesuatu yang kita benci, kita baru menyadari pada kenyataan, ternyata kita sedang berada dibadai fitnah yang mendorong kita untuk bisa lebih bersikap bijak dalam kebingungan.
Ketika diriku melihat kenyataan, adanya standar ganda yang menakjubkan pada sebagian orang, sikap kontradiktif yang aneh, didalam menerapkan hukum-hukum Allah pada individu umat ini, baik laki maupun perempuan, besar dan kecil, sungguh hal itu membuat diriku tidak nyaman untuk memejamkan mata dan menyita waktuku untuk mencoba menelitinya. Bahkan perkaranya justru bertambah mengerikan dan mengenaskan, menambah duka dan lara, apabila menyaksikan kekacauan dan kontradiksi semacam ini yang terjadi pada sisi kehidupan pribadi seseorang secara khusus, baik dari segi penampilan, akhlak serta gaya hidupnya.
Kita yakin, sesungguhnya Rabb kita adalah satu, kitab yang kita jadikan sebagai panutan juga satu, rasul kita satu, kiblat kita pun satu, dan kebenaran pun cuma ada satu, lantas kenapa harus ada pertikaian dan perpecahan? Kenapa kita tidak mencoba mengambil air yang jernih langsung dari sumbernya, lalu kita berpaling dari sumber yang lainnya?
Bukankah dihadapan kita ada cahaya kebenaran? Kenapa kita justru lebih rela tenggelam dalam kegelapan yang banyak? Bukanlah kita diberi akal pikiran untuk menuai kemuliaan pada pribadi kita? Lalu kenapa kita jatuh dalam kebinasaan hingga sampai pada kedudukan seperti binatang ternak?
     Sungguh menyedihkan sekali kondisi umat ini, karena generasi umat yang ada telah berubah menjadi golongan dan kelompok yang berbeda-beda, mereka telah terpecah belah oleh hawa nafsu, syahwat dan syubhat hingga menjadi seperti apa yang telah disinggung oleh Allah Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba'du:
dalam firman -Nya:
﴿ كُلُّ حِزۡبِۢ بِمَا لَدَيۡهِمۡ فَرِحُونَ  ﴾ [ المؤمنون: 53]
"Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)". (QS al-Mu'minuun: 53).

Tidakkah engkau coba memperhatikan tingkah laku perbuatan yang ada pada tiap pribadi individu umat, atau yang terjadi pada individu dalam ruang lingkup sebuah keluarga, begitu beragam kepribadian mereka, yang ini menunjukan pada tabiat yang telah rusak, pemahaman yang timpang, dan lemah dalam cara pandang, akibat dari mengikuti hawa nafsu dan mengekor pada setan, dan Allah ta'ala telah memperingatkan hal tersebut melalui firman -Nya:

﴿ وَمَن يَكُنِ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَهُۥ قَرِينا فَسَآءَ قَرِينا ٣٨ ﴾ [ النساء: 38]
"Barangsiapa yang mengambil setan itu menjadi temannya, maka setan itu adalah teman yang paling buruk". (QS an-Nisaa': 38).

Jikalau engkau memperhatikan pada pribadi individu yang ada pada keluargamu, atau pribadi yang ada pada sebuah keluarga, niscaya engkau menyaksikan hal itu secara jelas yang terjadi pada pribadi setiap keluarga kecuali yang dirahmati oleh Allah ta'ala. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firmanNya:

﴿وَلَقَدۡ صَدَّقَ عَلَيۡهِمۡ إِبۡلِيسُ ظَنَّهُۥ فَٱتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقا مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢٠﴾ [ سبأ: 20]
"Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman". (QS Saba': 20).

Ambil contoh nyata dalam hal ini, fenomena yang membikin keringat bercucuran, membuat setan tertawa, dan membikin Rabb semesta alam murka. Dimana ada sebagian keluarga, ayahnya adalah seorang yang sholeh dan bertakwa, akan tetapi, anaknya nakal, fasik dan hanyut dalam kubangan maksiat!.
Ada lagi, ayahnya seorang muadzin, namun, anaknya menjadi penyanyi!
Terkadang ayahnya terlihat memelihara jenggot, akan tetapi, anaknya memotongnya bersih! Ada lagi yang bisa kita lihat, seorang ayah yang bekerja di bidang pendidikan, namun, anaknya bekerja di bank konvesional!. Terkadang ada seorang ayah yang sangat memperhatikan makanan yang dimakan, memilih yang halal, akan tetapi, anaknya terjatuh mengkonsumsi barang haram, narkotika dan minuman keras!
Belum lagi, ada seorang ibu yang sangat memperhatikan adab, etika dan agama, akan tetapi, anak perempuannya justru bersolek membangkitkan fitnah, dalam berpakaian, cara berbicara dan ketika berjalannya, senang melakukan perbuatan jelek, mencemooh kehormatan, kadang bernyanyi terkadang berjoged, atau sebaliknya. 
Demikianlah keadaan gelombang fitnah yang sedang menerjang kondisi umat ini, gelombangnya kadang pasang dan surut, kontradiktif antara sifat mulia dan sifat rendah lagi hina. Antara kebenaran dan kebatilan, umat yang sedang hidup dalam kekacauan dan bercerai berai, berada dinaungan perselisihan dan perceraian, tidur panjang dalam kerusakan dan kelalaian. Duhai apakah ini yang dinamakan tubuh tanpa akal pikiran, khayalan tanpa makna. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:
 ﴿ مُّذَبۡذَبِينَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ لَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ وَلَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ ١٤٣ ﴾ [ المساء: 143]
 "Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir)". (QS an-Nisaa': 143).

Apabila fenomena yang terjadi memang demikian adanya, keadaannya kontradiktif dalam kebaikan dan kejelekan, benar dan salah, pada pribadi seseorang, maka ini merupakan musibah yang membuat kening berkeringat, membikin bingung akal pikiran, serta membuat hati terasa tersayat-yayat. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:

﴿ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ٤٦﴾[الحج: 46]
"Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada". (QS al-Hajj: 46).
Bukankah engkau pernah melihat seseorang, yang bisa jadi adalah anggota keluargamu, atau termasuk saudara kerabatmu, atau tetangga, atau teman kerja, tidakkah engkau perhatikan mereka dalam fenomena yang menakjubkan, yang memiliki standar ganda dalam kehidupannya; Terkadang bersama kaum muslimin mengerjakan sholat berjama'ah, namun, terkadang berkumpul bersama para penyanyi. Kadang dirinya selalu berada di masjid, tapi, kadang ia berada ditempat hiburan. Kadang mensucikan dirinya dengan istri, tapi, terkadang dia juga mensucikan pandangan pada wanita lain. Terkadang siwak tergenggam manis ditangannya, namun, tidak lama kemudian berganti menjadi sepuntung rokok yang menyelip dijarinya. Kadang dirinya memilih untuk mengkonsumsi makanan halal, akan tetapi, tidak jarang dirinya memakan makanan yang haram. Terkadang dirinya senang mendengarkan bacaan al-Qur'an, tapi, terkadang suaranya berganti suara nyanyian. Kadang dirinya mencium hajar aswad, akan tetapi, sungguh mengerikan dirinya juga terkadang mencium serbuk putih yang memabukan.
Apakah engkau tidak memperhatikan, bahwa Allah azza wa jalla telah berfirman dalam ayat -Nya:
﴿ أَفَتُؤۡمِنُونَ بِبَعۡضِ ٱلۡكِتَٰبِ وَتَكۡفُرُونَ بِبَعۡضۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفۡعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمۡ إِلَّا خِزۡي فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلۡعَذَابِۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ٨٥ ﴾ [ البقرة: 85]
"Apakah kamu beriman kepada sebagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? tidaklah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat". (QS al-Baqarah: 85).

Apa sebetulnya musibah yang sedang menimpa umat sehingga terjatuh dalam lubang mencampur  adukan keadaan sedemikian rupa? Bukankah setiap pemimpin akan dimintai pertangungjawaban atas kepemimpinannya? Kenapa tidak kita coba berkeliling ketempat-tempat yang membawa obat mujarab barangkali kita bisa menemukan sebagai penawarnya?
Kita seringkali hanya tersibukan untuk mengobati penyakit bila menimpa pada tubuh, akan tetapi, apakah kita sudah mencoba untuk mengobati mata hati yang telah akut terkena penyakit? Imam Hasan Bashri menuturkan, "Pokok kejelekan itu ada pada tiga perkara; kesombongan, ketamakan dan hasad (iri dan dengki), dengan kesombongan membikin iblis enggan untuk sujud kepada nabi Adam, dan ketamakan membuat Adam dikeluarkan dari surga nan nikmat, sedangkan iri dan dengki yang menjadikan anak Adam nekat untuk mengakhiri nyawa saudaranya sendiri".
Inilah penyakit hati yang paling berbahaya, mari coba kita obati hati-hati kita, mudah-mudahan menjadi pulih dari penyakit yang di idapnya? Karena dengan baiknya hati akan membuat baik seluruh jasad seorang insan, sebaliknya ketika hati sudah rusak maka seluruh jasad akan terkena imbas kerusakannya. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan akan hal itu dalam sabdanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ » [أخرجه البخاري ومسلم ]
"Ketahuilah sesungguhnya didalam tubuh ada segumpal daging, yang apabila baik dirinya maka akan baik seluruh tubuh, dan bila jelek segumpal daging tersebut maka akan membikin rusak seluruh tubuh. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah hati". HR Bukhari no: 52. Muslim no: 1599.
Apabila hati telah menjadi baik maka akan menjadikan tangan berbuat kebaikan, tidak mencuri atau menyakiti orang lain, baiknya kemaluan akan menjadikan dirinya tidak berani berzina, baiknya lidah membuat dirinya tidak berkata melainkan yang baik, ketika kedua kaki sudah baik maka tidak akan digunangkan untuk berjalan kecuali pada tempat yang baik, manakala telinga sudah baik maka tidak digunakan untuk mendengar nyanyian dan musik, ghibah dan mengadu domba, dan dengan baiknya penglihatan maka tidak terjerumus pada perkara yang diharamkan oleh Allah azza wa jalla.
Namun, apabila hatinya telah rusak maka akan membikin rusak seluruh tubuh, sehingga menimbulkan dampak pada seluruh anggota dan perilakunya. Tidak ia gunakan melainkan pada kerusakan, membawa pemiliknya pada perbuatan maksiat, dari maksiat kecil menjerumus pada perbuatan maksiat yang lebih besar, dan perkara yang dibenci menuju perkara yang dilarang. Adapun baiknya perkara hati maka dengan tauhid, yang apabila hati telah bersinar dengan cahaya tauhid dirinya akan mengetahui Rabbnya dan sesembahannya, apa yang diwajibkan pada dirinya, memahami apa yang membawa manfaat dan membahayakan, sehingga hatipun terasa tenang manakala digunakan untuk mengingat Allah jalla wa 'ala. Allah ta'ala berfirman dalam salah satu ayat -Nya:

﴿ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨﴾ [الرعد: 28]
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram". (QS ar-Ra'du: 28).

Maka berikut ini untaian nasehat yang terjadi pada beberapa fenomena dalam kehidupan nyata kita, sebagai contoh bukan pembatasan.







SHOLAT
Sholat adalah pertemuan rutinitas setiap hari yang dilakukan antara makhluk dengan sang Pencipta. Allah ta'ala telah memuliakan orang yang beriman dengan sebuah ibadah yang bernama sholat, yang Allah Shubhanahu wa ta’alla jadikan sebagai sarana penghubung antara mereka bersama Rabbnya, sehingga mereka dapat mendekatkan diri melalui ibadah sholat tersebut kepada Allah azza wa jalla.
Dimulai dengan mengucapkan takbir, lalu membaca ayat-ayat -Nya, memuji Allah Shubhanahu wa ta’alla atas limpahan nikmat yang telah dianugerahkan, memohon ampunan atas segala dosa dan salah, meminta limpahan karunia -Nya. Maka Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabulkan do'a mereka, menambah karunia -Nya, dan mengampuni dosa-dosa mereka.
Oleh karena itu, barangsiapa tidak mengetahui kedudukan ibadah sholat maka dirinya akan menjadi orang yang paling jauh dari dirinya sendiri, plus ditambah jauh dari Rabb yang menciptakannya, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan kewajiban sholat ini dalam firman -Nya:
﴿ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِۚ ذَٰلِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ ١١٤ ﴾ [ هود: 114]

"Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat". (QS Huud: 114).

Saya pernah melihat seorang apabila suara adzan berkumandang sebagai tanda panggilan untuk sholat berjama'ah, hatinya bagaikan terhimpit dunia, kemudian melakukan gerakan umpatan dengan hentakan kaki ketanah bagaikan orang yang kebingungan, pandangan matanya menyapu kekanan dan kekiri, mencoba untuk mencari tempat untuk berlindung, entah ruangan kosong, ataupun dibawah pohon nan rindang, atau diatas mobil, lalu ia nyalakan sepuntung rokok, dia hisap dalam-dalam melalui mulutnya, musik pun mulai terdengar menembus lubang telinganya, mencemooh hamba Allah Shubhanahu wa ta’alla yang mengerjakan sholat dengan bibir dan sanubarinya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya bagi orang yang semacam ini:
﴿ وَإِذَا نَادَيۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ ٱتَّخَذُوهَا هُزُوا وَلَعِباۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡم لَّا يَعۡقِلُونَ ٥٨ ﴾
[ المائدة: 58]
"Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sholat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal". (QS al-Maa'idah: 58).

Sungguh terkumpul pada diri orang itu berbagai sisi kejelekan, dirinya telah memisahkan sanubarinya dari anggota tubuhnya, pada waktu yang diberkahi, manakala orang-orang sedang mengerjakan sholat, didalam masjid. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan para hamba -Nya yang rajin mengerjakan sholat dengan firman -Nya:
﴿ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعا سُجَّدا يَبۡتَغُونَ فَضۡلا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰناۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ ٢٩ ﴾ [ الفتح: 29]
"Kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan        -Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud".  (QS al-Fath: 29).

Badan mereka dibalut dengan kesucian, hati dan jiwa mereka tenggelam dalam kekhusyu'an, mata merekapun menitikan air mata menangis, bibir mereka basah dengan dzikir kepada -Nya, membaca ayat-ayat -Nya, dan merekalah orang-orang yang sedang mengerjakan kewajiban yang Allah Shubhanahu wa ta’alla bebankan. Allah ta'ala menyatakan tentang mereka:
﴿ قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ ٣ ﴾ [ المؤمنون: 1-3]
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna". (QS al-Mukminuun: 1-3).

Selanjutnya seusai menuntaskan ibadah sholat, mereka pun kembali beraktivitas sibuk dengan pekerjaan, dengan penuh motivasi, semangat yang menggebu, dan penuh dedikasi. 
Akan tetapi, lihat pada orang tadi, mereka kembali dengan pakain lusuh lagi berdebu dari pengungsiannya, seusai melarikan diri dari panggilan adzan yang mengejutkan dirinya, dari sholat yang bagaikan momok baginya, kembali dengan perubahan menjadi teman duduk setan yang terkutuk, dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan jati diri setan sebagai teman yang paling buruk, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan:
﴿ وَمَن يَكُنِ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَهُۥ قَرِينا فَسَآءَ قَرِينا ٣٨ ﴾ [ النساء: 38]
"Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya". (QS an-Nisaa': 38).

Saya pun bergumam: "Apakah mungkin orang seperti ini tahu jalan yang lurus, mendapati  pentingnya kedudukan ibadah sholat, merasa senang berkumpul bersama untuk mengerjakan sholat berjama'ah, pada suatu zaman modern yang semakin banyak sarana untuk memperoleh ilmu pengetahuan, baik melalui bacaan, pendengaran maupun gambar?. Kenapa harus lari, kenapa harus beralih pada suara nyanyian, kenapa harus berperangai buruk, kenapa harus takut?
Kemudian aku mencoba mendekatinya, saya ucapkan salam, lalu duduk disampingnya, dengan harapan dengan dekatnya badan akan menambah kedekatan hati. Saya lalu bertanya padanya, kenapa tidak sholat. Dia menjawab, "Aku memang tidak sholat". Kenapa? Tanyaku penasaran. Karena Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak membutuhkan ibadah sholat kita, kenapa harus susah-susah kita mengerjakan sholat lima kali dalam sehari di masjid. Jawabnya tukas.
Maka terjadilah obrolan ringan antara diriku bersamanya, berikut obrolan tersebut: Aku berkata padanya: "Tidakkah engkau sadar bahwa bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla perbendaharaan yang ada dilangit dan bumi, sedangkan kita adalah fakir, -Dia lah yang Maha Kaya lagi Terpuji, Allah Shubhanahu wa ta’alla menciptakan kita dalam keadaan telanjang dada dan kaki, lahir dalam keadaan tidak membawa apa-apa, badan lemas terkulai, tidak mampu memberi manfaat tidak pula mampu mencegah mara bahaya, tidak bisa memberi hidayah serta tidak membawa ilmu.
Kemudian dengan karunia serta rahmat -Nya, Maha suci Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi kita makanan, melimpahkan segala kenikmatan kepada kita yang tersembunyi maupun yang nampak. Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah Maha Kaya sedangkan kita adalah hamba yang fakir, sangat butuh kepada -Nya, sebagaimana dikatakan dalam firman -Nya:

﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ١٥ ﴾ [ فاطر: 15]
"Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji". (QS Faathir: 15).

Orang tersebut menjawab; "Dan ayat ini menunjukan bahwa Allah ta'ala memang tidak membutuhkan ibadah sholat kita. Karena –Dia Maha Kaya, maha memberi pada seluruh hamba, dan semua nikmat yang ada datang dari sisi -Nya".
Aku berkata; "Bagaimana menurutmu kalau seandainya ada orang yang memberimu hadiah jam tangan misalkan, atau memberimu petunjuk ketika dirimu tersesat, atau memberimu air minum dikala engkau sedang kehausan, tidakkah engkau akan berterima kasih padanya? Tidakkah akan timbul kecintaan dalam dadamu pada orang tersebut? Dia menjawab, "Tentu, dan aku berharap seandainya terjadi aku mampu membalas budi baiknya dengan yang lebih baik darinya, bukankah itu termasuk dari kebaikan di balas dengan kebaikan".
Aku bertanya; "Apabila pada suatu ketika ada orang yang datang kepadamu, tiba-tiba dengan  memberimu sebuah mobil mewah dan rumah megah, lengkap bersama perabotan dan makanan yang engkau inginkan, lantas bagaimana sikap dan perasaanmu ketika itu? Dia menjawab, "Kalau benar apa yang kamu katakan, tidak diragukan lagi kalau dirinya telah berbuat sangat baik padaku, memberiku harta yang berlimpah, tentu saja hatiku akan langsung mencintainya, dan saya berharap semoga ucapan terima kasihku dengan bibir dan kedua tanganku bisa membalas budi baiknya".
Aku bertanya padanya, "Kalau demikian beritahu padaku, siapa yang menciptakanmu? Siapa yang memberimu rupa seperti sekarang? Siapa yang memberi tempat tinggal yang nyaman dimuka bumi ini? siapa yang memberimu makan setiap hari? Siapa yang memberimu minum tiap waktu? Siapa yang memberimu pakain, sehingga engkau bisa menutupi auratmu? Siapa yang menciptakan pendengaran serta penglihatanmu, lalu engkau masih dikasih dua tangan serta kaki, memberimu lidah sehingga engkau bisa berbicara, akal sehingga engkau mampu berpikir, engkau diberi rizki yang dirimu bisa menikmatinya?
Dia menjawab, "Yang memberi itu semua ialah Rabbku, tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah melainkan Dia, yang telah menciptakan segala sesuatu". Aku pun bertanya kembali, "Lalu siapa yang membimbing, memberimu taufik dan hidayah untuk beriman padaNya? Dia menjawab, "Allah Yang Maha suci, yang menyatakan dalam firman -Nya:
﴿مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيّا مُّرۡشِدا١٧﴾[الكهف:17]
"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dia lah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan -Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya". (QS al-Kahfi: 17).

Aku bertanya kembali, "Bagaimana menurutmu jikalau seandainya Allah Shubhanahu wa ta’alla mengusirmu dari bumi ciptaan -Nya ini, dimana engkau akan tinggal? Atau menahan rizki -Nya, lantas apa yang akan engkau makan? Atau menjadikan air meresap kebumi sehingga engkau kekeringan, dari mana engkau akan minum? Atau mengambil udara yang kita hirup, dengan apa engkau akan bernafas? Atau membiarkan dirimu dari keadaan tersesat, siapa yang memberimu petunjuk? Apabila dirimu kelaparan, pada siapa engkau memohon? Jikalau sakit, pada siapa engkau berdo'a? apabila keperkasaanmu semakin lemah, pada siapa engka meminta kekuatan? Jikalau dirimu tertimpa gundah gelisah, kepada siapa engkau berdo'a? padahal Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:
﴿ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦ ﴾ [ البقرة: 186]
"Dan apabila hamba-hamba -Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada -Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah -Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada -Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran". (QS al-Baqarah: 186).

Siapakah pemberi nikmat hakiki yang senantiasa memberimu? Siapa orang terkaya yang tidak pernah habis perbendaharaan hartanya? Siapa sang pemberi nikmat bagi semua orang, yang kaya dan miskin serta orang yang butuh? Siapakah Dzat yang memberi makan dan tidak butuh pada makanan? Dialah Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang menyatakan dalam firman -Nya:



﴿ $tBur Nä3Î/ `ÏiB 7pyJ÷èÏoR z`ÏJsù «!$# ( ¢OèO #sŒÎ) ãNä3¡¡tB ŽØ9$# Ïmøs9Î*sù tbrãt«øgrB     [النحل:53]
"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah -lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka hanya kepada –Nya lah kamu meminta pertolongan". (QS an-Nahl: 53).

Lalu siapa yang tidak pernah berbuat dzalim walau hanya sebesar biji sawi? Siapa yang menjadikan dunia ini sebagai tempat tinggal, lalu menjadikan ditengah-tengah mereka sungai-sungai yang mengalir? Ia menjadikan padanya gunung-gunung yang menjulang tinggi? Siapakah yang menjadikan antara dua lautan ada penghalang, yang satu tawar sedangkan satunya lagi berasa asin?
Siapakah yang mengangkat langit tanpa ada tiang penyangganya? Siapakah yang menghiasi langit dengan jutaan bintang ? Siapakah yang menciptakan matahari nan besar dan bulan yang elok? Siapakah yang menciptakan makhluk kemudian menjamin rizkinya? Siapakah yang membagi rizki penghidupan diantara mereka? Siapakah Dzat yang tidak terserang rasa kantuk tidak pula tertidur sedikitpun? Siapakah yang padanya hak mencipta serta mengatur? Siapakah Dzat yang tidak ada sesuatu apapun dimuka bumi ini serta dilangit sana yang membikin -Nya lemah?
Diapun menjawab lirih; "Semuanya Allah Shubhanahu wa ta’alla, Dzat yang tidak ada sekutu. Bagi -Nya kekuasaan, sanjungan, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla lah yang maha mampu atas segala sesuatu". Aku bertanya kembali, "Jika sifat Allah Shubhanahu wa ta’alla demikian, dan engkau menyakini ini ciptaan -Nya, Allah Shubhanahu wa ta’alla maha mampu, dengan keagungan yang dimiliki -Nya, lantas kenapa dirimu masih bermaksiat pada -Nya.
Tahukah anda siapa? Sadarkah kepada siapa engkau sedang bermaksiat? Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla memberimu taufik. Jangan engkau remehkan besarnya maksiat, akan tetapi, lihatlah keagungan Dzat yang telah engkau maksiati, dengan limpahan nikmat yang engkau rasakan, memberimu kekayaan, dan kebutuhan, lalu engkau balas dengan maksiat. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan bagi orang yang sadar akan keagungan -Nya:
﴿ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٦٧ ﴾ [ الزمر: 67]
"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman -Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan -Nya. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan". (QS az-Zumar: 67).

Tidakkah engkau sadari, betapa lembutnya Allah Shubhanahu wa ta’alla memperlakukan hamba -Nya, betapa luas kasih saying -Nya terhadap orang-orang yang berbuat maksiat padan -Nya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:
﴿ ٱللَّهُ لَطِيفُۢ بِعِبَادِهِۦ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُۖ وَهُوَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡعَزِيزُ ١٩ ﴾ [ الشورى: 19]
"Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba -Nya; Dia memberi rezki kepada yang di kehendaki -Nya dan Dialah yang Maha kuat lagi Maha Perkasa". (QS asy-Syuura: 19).

Ketahuilah termasuk keindahan dalam membalas ialah kita mengakui siapa sang pemberi karunia tersebut, kemudian berterima kasih atas kebaikannya. Apakah engkau mengetahui kalau kegiatan berdiri didepan Sang pencipta, yang dilakukan rutin lima kali dalam sehari? Apakah engkau paham ada pencipta yang mengumpulkan seluruh ciptaan -Nya setiap hari lima kali, supaya mereka merasa kehilangan, merasakan ketenangan, rela mengerjakan tugasnya dikehidupan ini sebaik mungkin. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya bagi mereka yang khusyu didalam sholat:
﴿ قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢ ﴾ [ المؤمنون: 1-2]
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya". (QS al-Mukminuun: 1-2).

Sesungguhnya Tuhanmu sedang memanggilmu setiap hari lima kali, lima waktu dalam sehari, supaya engkau mau berdiri dihadapan -Nya, berdirinya makhluk yang kecil dihadapan Dzat yang Maha besar, engkau memuji akan ke Maha suciannya, engkau tuangkan rasa syukurmu atas karunia -Nya, engkau mengharap kasih sayang -Nya, memohon anugerah serta pemberian -Nya, engkau bersimpuh memohon ampun atas segala dosa yang engkau pernah perbuat, engkau memohon pertolongan dan meminta agar selalu diberi petunjuk pada jalan yang lurus.
Demi Allah, sesungguhnya pekerjaan berdiri dihadapan Dzat yang menciptakannya setiap hari lima kali, tidak ada kerugian sedikitpun, atau terlantarkan, atau menyebabkan ketakutan dan kesedihan. Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan bagi mereka-mereka yang duduk tersimpuh dihadapan -Nya:

﴿ إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠ نَحۡنُ أَوۡلِيَآؤُكُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَشۡتَهِيٓ أَنفُسُكُمۡ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ٣١ نُزُلا مِّنۡ غَفُور رَّحِيم ٣٢ ﴾ [ فصلت: 30-32]
"Sesungguhnya orang-orang yang menyatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan menyatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS Fushshilat: 30-32).

Sesungguhnya apabila dirimu mentaati perintah atasanmu, maka mereka hanya beraksi kalau dirimu telah menunaikan kewajiban dengan suka rela, kemudian kamu mengambil upah sesuai dengan perjanjian, kemudian upah tersebutpun sirna tidak mungkin bisa kamu simpan sepanjang hayat. Sungguh berdirimu ketika sholat, bermunajatmu kepada Rabbmu sebagai bukti akan ketaatanmu pada yang menciptakan dirimu, keikhlasan serta keimananmu pada -Nya, lantas kebaikan manalagi yang engkau inginkan setelah itu, sedangkan Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan bagi hamba        -Nya yang beriman:
﴿ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ بِأَنَّ لَهُم مِّنَ ٱللَّهِ فَضۡلا كَبِيرا ٤٧ ﴾ [ الأحزاب: 47]
"Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah". (QS al-Ahzab: 47).

Keuntungan apa lagi yang engkau harapkan selain dari pada itu. Karena Allah Shubhanahu wa ta’alla menjanjikan dalam firman      -Nya:
﴿ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰت تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَة فِي جَنَّٰتِ عَدۡنۚ وَرِضۡوَٰن مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ٧٢ ﴾ [ التوبة: 72]
"Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar". (QS at-Tuabah: 72).
Apakah engkau menjumpai adanya perbedaan antara yang pertama dan kedua? Sungguh jauh sekali perbedaan keduanya, sebab, pemberian dari makhluk pasti ada kadar waktu dan batasannya, adapun pemberian Allah Shubhanahu wa ta’alla maka tak terbatas, kemudian, segala sesuatu yang ada disisi makhluk pasti akan mengalami kesirnaan, sedangkan segala sesuatu yang berada disisi Allah Shubhanahu wa ta’alla maka akan kekal selama-lamanya.
Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla menyerumu agar engkau mau memohon pada -Nya, kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla beri limpahan karunia -Nya, mengajakmu untuk meminta ampunan padan -Nya, supaya engkau mendapat ampunan, menyerumu supaya engkau berdo'a kepada -Nya, kemudian Allah mengabulkan do'amu, karena Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:
﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠ ﴾ [ غافر: 60]
"Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada -Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina". (QS Ghaafir: 60).
Berapa banyak keuntungan yang akan direngkuh bagi mereka yang mau mengerjakan sholat? Dan betapa meruginya orang yang enggan untuk mengerjakan sholat?. Bukankah engkau menyadari berapa banyak kesalahan, perbuatan dosa dan maksiat yang telah engkau lakukan pada setiap harinya. Dan dalam kehidupan sehari-hari, kita dihadapkan pada dua hal yang berbeda, datang silih berganti, terkadang kita yang mengambil, lalu pada suatu ketika kita yang memberi, terkadang kita miskin kemudian kaya, antara sehat dan sakit, sedih lalu berganti senang, antara ketakutan dan rasa aman, berbuat kebajikan dan terkadang berbuat kejelekan, antara untung dan rugi.
Bukankah didalam ibadah sholat bisa sebagai penghibur dari segala perkara yang tidak kita senangi, dari fenomena hidup yang datang silih berganti seperti tadi? Demi Allah, pasti bisa. Seorang muslim yang sedang berdiri didalam sholatnya, dirinya bermunajat kepada Rabbnya, memohon pertolongan dan kekuatan, meminta ampunan atas segala dosa dan kesalahannya, memohon kepada -Nya agar dimaafkan, kalau sekiranya dirinya telah berlaku jelek pada orang lain, atau berlaku dzalim pada dirinya sendiri.
Sesungguhnya ketika dirinya masuk didalam sholat, ia sedang mendapatkan antara nikmat yang mengharuskan disyukuri serta menyanjung -Nya, antara pengakuan dosa yang telah dia lakukan, lalu di iringi dengan do'a agar -Dia mengampuninya. Betapa terasa damai perasaan hatinya manakala dia gunakan untuk mengingat Rabbnya, begitu lezat kenikmatan yang dirasakan oleh jiwa tatkala bermunajat kepada -Nya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:


﴿ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ٢٨ ﴾
[ الرعد:28]
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah -lah hati menjadi tenteram". (QS ar-Ra'du: 28).

Oleh sebab itu, adalah kebiasaan Rasulallahu Shubhanahu wa ta’alla apabila tertimpa musibah beliau bersegera untuk mengerjakan sholat, maka ketika beliau berdiri sholat, beliau merasakan kedamaian jiwa, ketenangan dari kepenatan hidup, dan merasakan ketentraman hati tatkala bermunajat kepada Rabbnya, karena ibadah sholat beliau jadikan sebagai media penghubung dengan Sang pencipta dan kekasihnya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya, bagi orang yang keadaan demikian:

﴿ وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ ٤٥ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُواْ رَبِّهِمۡ وَأَنَّهُمۡ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ٤٦﴾ [ البقرة: 45-46]
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada -Nya". (QS al-Baqarah: 45-46).

Apakah engkau ingin kiranya kamu bisa menghadap raja dan penguasa setiap tahun, jikalau tidak memungkinkan setiap bulannya, menghadap untuk meminta kebutuhan yang sedang engkau butuhkan atau memberi alasan atas kesalahan yang engkau perbuat? Sebagian orang barangkali ada yang mampu terpenuhi keinginannya seperti itu, namun, bisa saja engkau menghabiskan umur, akan tetapi, tidak pernah melihat mereka sedikitpun, apalagi bisa menghadap mereka.
Apakah engkau ingin bisa menghadap mereka setiap hari? Barangkali keinginan itu pernah terlintas dalam benakmu. Tidakkah engkau punya angan-angan untuk bisa masuk keruang raja atau presiden setiap hari lima kali, engkau bisa tinggal disitu sekehendakmu, berbicara sesuai keinginanmu, meminta apa yang engkau butuhkan, kapanpun waktu yang engkau inginkan? Saya kira, itu sebuah angan-angan yang sangat jauh.
Sesungguhnya Raja Diraja yang maha suci mengajakmu untuk bermunajat pada -Nya lima kali setiap harinya, sebagai beban kewajiban yang harus engkau kerjakan, supaya engkau berdo'a pada  -Nya, memohon, serta meminta ampunan pada -Nya, dalam kondisi suci badan, serta menghadirkan hati, pada sebuah ibadah sholat yang terkumpul didalamnya segala ragam bentuk pengagungan kepada Sang pencipta, dalam keadaan bersuci, mengesakan, bertakbir, sanjungan, gerakan badan, ucapan, khusyu', dan tunduk serta ruku' dan sujud. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan kewajiban sholat dalam firman -Nya:
﴿ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبا مَّوۡقُوتا ١٠٣﴾ [ النساء: 103]
"Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman". (QS an-Nisaa'; 103).

Maka bagi siapa yang ingin berdialog langsung bersama         -Nya, maka kerjakanlah sholat. Siapa yang senang untuk bisa berdialog bersama Allah Shubhanahu wa ta’alla maka bacalah al-Qur'an. Apabila engkau meminta pertolongan mintalah kepada -Nya, apabila engkau memohon maka mohonlah kepada -Nya, kalau seandainya engkau dalam keadaan tersesat maka mintalah petunjuk kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, sesungguhnya -Dia adalah Maha pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:
﴿ مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِيۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ١٧٨ [الأعراف: 178]
"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi". (QS al-A'raaf: 178).

Kalau sekiranya engkau merasa banyak berdosa dan banyak mendzalimi dirimu sendiri, mintalah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla ampunan, sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla maha pengampun lagi maha penyayang. Jika engkau merasa kekurangan, maka mohonlah kepada –Nya kekayaan karena -Dia lah yang maha kaya lagi terpuji. Kalau seandainya engkau merasa bodoh mintalah kepada -Nya ilmu, karena -Dia lah Dzat yang maha mengetahui lagi memahami.
Jikalau engkau merasa lemah, mohonlah kekuatan kepada -Nya, sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha kuat lagi perkasa. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman         -Nya:
﴿ وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٨٠ ﴾ [ الأعراف: 180]

"Hanya milik Allah nama-nama yang indah, maka bermohonlah kepada -Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama -Nya. nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". (QS al-A'raaf: 180).

Ucapkanlah, "Ya Allah, yang maha penyayang, sayangilah hamba         -Mu, wahai maha pemberi rizki limpahkanlah karunia rizki pada hamba, wahai Maha pengampun, ampunilah kesalahan hamba". Yakinlah, dirimu tidak akan mendapati semua kebaikan, semua rizki, kasih sayang, kelembutan, dan semua kemurahan hati, melainkan dari Dzat yang maha mencipta dan mengurusi, pemberian -Nya tak pernah putus, Dzat yang kasih saying -Nya meliputi segala sesuatu.
Maka barangsiapa yang mencita-citakan itu semua, hendaknya ia menyambung hubungan bersama penciptanya melalui sarana ibadah sholat, mintalah kebaikan, mohonlah ampunan -Nya, serta berdo'alah kepada -Nya, sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla menjanjikan dengan firman -Nya:
﴿ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦ ﴾ [ البقرة: 186]
"Dan apabila hamba-hamba -Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada -Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah -Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada -Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran". (QS al-Baqarah: 186).

Orang-orang beriman adalah bersaudara, satu diantara mereka mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri, dan bagi setiap orang diantara mereka mempunyai hak terhadap saudaranya.
Dan termasuk bentuk kasih sayang Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada hamba -Nya, Allah Shubhanahu wa ta’alla mengumpulkan mereka dalam satu masjid lima kali dalam sehari, satu sama lain saling memberi dan menjawab ucapan salam, menjenguk saudaranya yang sakit, mengiringi jenazahnya, mengajari yang bodoh diantara mereka, menanyakan kabarnya bila tidak terlihat, serta menyantuni yang fakir dikalangan mereka.
Mereka berkumpul bersama dirumah-rumah Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam kebersamaan, setelah terpisah anggota badan mereka oleh penghalang tembok-tembok rumah, saling berlomba-lomba dalam kebajikan, merengkuh pahala yang berlipat-lipat, satu sama lain mempunyai keutamaan dengan tingkat ketakwaannya masing-masing, bukan dengan siapa yang lebih kuat. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan akan itu dalam firman          -Nya:
﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَر وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِير ١٣ ﴾ [الحجرات: 13]
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal".(QS al-Hujuraat: 13).
Tidakkah engkau menginginkan Allah Shubhanahu wa ta’alla mengampuni dosa-dosamu? Maka kerjakan sholat dengan khusyu' dan merendahkan diri dihadapan Rabb semesta alam. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ». قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ » [أخرجه مسلم]
"Maukah aku beritahu kalian perkara yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat? Para sahabat menjawab, "Mau wahai Rasulallah". Beliau menyatakan, "Menyempurnakan wudhu dikala sulit, banyak berjalan menuju masjid, dan menunggu sholat setelah sholat itulah ribath, itulah ribath". HR Muslim no: 251.

Maukah engkau menjadi penghuni surga? Maka lakukanlah sholat dimasjid bersama saudaramu kaum muslimin. Sebab Nabi kita Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah menyatakan:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ نُزُلاً كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ » [أخرجه البخاري ومسلم]
"Barangsiapa yang pergi diwaktu pagi atau berangkat di sore hari ke masjid niscaya Allah sediakan baginya didalam surga tempat tinggal, setiap kali dirinya pergi diwaktu pagi maupun sore hari". HR Bukhari no: 662. Muslim no: 669.

Tidak inginkah engkau bisa berdekatan bersama Rabbmu? Sholatlah sarananya. Sebab Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ » [أخرجه مسلم]
"Kondisi terdekat antara seorang hamba bersama Allah ialah ketika dirinya sedang sujud". HR Muslim no: 482.
Maukah engkau merengkuh kebahagian hakiki bersama kemenangan mutlak? Maka bergegaslah menuju sholat, karena disanalah tempatnya, sebagaimana Allah Shubhanahu wa ta’alla tegaskan dalam firman -Nya:
﴿ قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢ ﴾ [ المؤمنون: 1-2]
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya".(QS al-Mukminuun: 1-2).

Tidak maukah engkau mendapat semua kebaikan? Kerjakanlah sholat, karena Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan tentang kondisi para pendosa dalam firman -Nya:

﴿ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ٤٢ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ ٤٣  ﴾ [ المدثر: 42-43]
"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar? Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat". (QS al-Muddatstsir: 42-43).

Sesungguhnya dirimu kalau seandainya mendirikan tenda dengan dikelilingi seratus pasak, maka engkau tidak akan banyak mengambil banyak faidah darinya kalau seandainya tidak ada tiang penyangga ditengahnya.  Dan sholat adalah tiang dalam agama, maka jagalah sholat, segeralah untuk mengerjakan sholat. Allah Shubhanahu wa ta’alla memerintahkan: 
﴿حَٰفِظُواْ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلۡوُسۡطَىٰ وَقُومُواْ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ٢٣٨﴾ [البقرة: 238]
"Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'. (QS al-Baqarah: 238).

Jika dirimu setiap hari berangkat kerja dan engkau giat dalam bekerja, maka engkau akan mengambil gaji setiap akhir bulan, secara sempurna, namun, kalau dirimu bolos kerja, atau malas-malasan tatkala bekerja, maka gajimu akan dipotong sesuai hari kerjamu, demikian pula ibadah sholat, Allah Shubhanahu wa ta’alla mencatat sholatmu sesuai dengan kadar sholat yang engkau kerjakan, dan sesuai dengan kekhusyu an yang ada didalam hatimu. Allah ta'ala mencela orang yang punya pamrih dalam sholatnya melalui firman     -Nya:
﴿ فَوَيۡل لِّلۡمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٥ ﴾ [ الماعون: 4-5]
"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya". (QS al-Maa'un: 4-5).

Sholat bagaikan timbangan, barangsiapa yang sempurna maka dirinya meraih kesempurnaan, sebaliknya barangsiapa yang curang maka akan berkurang pahala yang diterimanya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:
﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡس مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ١٨ ﴾ [ الحشر: 18]

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS al-Hasyr: 18).

Sesungguhnya sholat merupakan rukun Islam yang paling besar setelah dua kalimat syahadat, sehingga barangsiapa yang meninggalkan sholat dirinya telah kafir. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ » [أخرجه مسلم]
"Sesungguhnya (pemisah) antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan sholat". HR Muslim no: 82.

Sungguh bila kita melihat begitu krusialnya ibadah sholat dibanding seluruh syari'at Islam lainnya, maka dirinya paham kenapa Allah Shubhanahu wa ta’alla wajibkan pada utusan -Nya secara langsung, dengan menyuruh dirinya melkukan perjalanan dari masjidil Aqsha, kemudian di mi'rajkan menuju langit tertinggi lalu disanalah Allah Shubhanahu wa ta’alla menitahkan kewajiban sholat, lima kali dalam pengerjaan, namun lima puluh dalam perolehan pahala.
Ibadah sholat diwajibkan agar seorang mukmin bisa bernaung dibawah hubungan Rabbnya setiap hari, dirinya bertakbir, memuji -Nya, memohon serta meminta ampunan atas kesalahan, serta memberi salam kepadanya. Pada suatu ketika Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang sholat:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلَا بُرْهَانٌ وَلَا نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ » [أخرجه أحمد]
"Barangsiapa yang menjaga (sholat) maka baginya cahaya dan petunjuk serta keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsiapa melalaikannya maka tidak ada cahaya dan petunjuk baginya, dan kelak pada hari kiamat tidak ada keselamatan untuknya, dan dirinya besok akan dikumpulkan bersama Qorun, Fir'aun dan Haman serta Ubay bin Khalaf". HR Ahmad no: 6577.

Kenapa orang yang meninggalkan sholat dikumpulkan bersama empat orang yang menjadi simbol kekufuran diatas, karena biasanya orang yang melalaikan ibadah sholat, bisa karena tersibukkan dengan harta bendanya, atau kekuasaanya, atau sebagai pegawai, atau karena perniagaanya.
Maka bagi orang yang sibuk dengan harta bendanya sampai melalaikan sholat maka kelak dirinya dikumpulkan bersama Qorun. Jika dia tersibukkan untuk mengerjakan sholat dengan kekuasaanya maka dirinya dikumpulkan bersama Fir'aun. Dan kalau kepegawaiannya yang menyibukan dirinya hingga lalai mengerjakan sholat maka dia dikumpulkan bersama Haman. Dan bila perniagaanya yang melalaikan dirinya dari sholat maka dia akan dibangkitkan bersama Ubay bin Khalaf.
Apakah sekarang engkau merasakan urgennya sholat, serta keagungannya? Apakah engkau sadar betapa besar musibah yang menimpa bagi orang yang enggan mengerjakan sholat, atau mengakhirkan atau justru menyia-yiakan sholat? Dia menjawab, "Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla membimbing langkahmu. Sungguh orang yang bodoh terhadap agama -Nya akan mengantarkan dirinya pada kebinasaan, rela menjadi pengikut setan, langkah demi langkah hingga akhirnya terjerembab masuk ke dalam neraka, menjadi pengekor hawa nafsu dan syahwat, serta menjadi faktor kerusakan dan keharaman. Allah ta'ala menyatakan dalam firman -Nya:

﴿ أَمَّنۡ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيۡلِ سَاجِدا وَقَآئِما يَحۡذَرُ ٱلۡأٓخِرَةَ وَيَرۡجُواْ رَحۡمَةَ رَبِّهِۦۗ قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ٩ ﴾ [الزمر: 9]
"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran". (QS az-Zumar: 9).

Sungguh benar, apakah kita takut terhadap polisi dimuka bumi sedangkan kita tidak merasa takut sedikitpun terhadap pencipta langit dan bumi? Apakah kita hanya mampu berterima kasih pada orang yang telah memberi petunjuk pada kita lantas kita lupa untuk bersyukur kepada pencipta kita, yang menciptakan orang tersebut serta Pencipta petunjuk?
Apakah kita rela mentaati orang yang tidak bisa menjamin dirinya dari kefakiran dan menyuruh kita pada perbuata keji kemudian kita memaksiati Dzat yang telah menjanjikan kepada kita ampunan dan karunia -Nya yang luas? Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan:

﴿ فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ٤٦ ﴾ [ الحج: 46]

"Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada". (QS al-Hajj: 46).

Duhai diriku, kini aku menyesali apa yang telah lalu, umurku yang telah aku sia-siakan, ketika diriku bersama dengan orang-orang yang apabila sholat ditegakkan mereka berdiri dengan malas dan ingin dilihat manusia serta sangatlah sedikit untuk mengingat Allah. Persis seperti yang direkam oleh Allah ta'ala dalam firman -Nya:
﴿يَٰحَسۡرَتَىٰ عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِي جَنۢبِ ٱللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ ٱلسَّٰخِرِينَ٥٦﴾ [الزمر: 56]
"Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku Sesungguhnya Termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah )". (QS az-Zumar: 56).

Ya Allah sesungguhnya hamba memohon pada -Mu keimanan yang sempurna, keyakinan yang murni, hati yang khusyu, lisan yang basah untuk mengingatmu, serta taubat yang nashuha.
Ya Allah yang maha luas ampunan -Nya, Ya Allah yang maha luas kasih sayang -Nya, ampunilah hamba -Mu serta kasihanilah, sesungguhnya Engkau maha pengampun lagi penyayang.
﴿رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ٢٣﴾
[ الأعراف:23]
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi". (QS al-A'raaf: 23).




Poskan Komentar