Rabu, 10 Desember 2014

Beberapa Pelanggaran dalam Pernikahan



Beberapa Pelanggaran dalam Pernikahan

Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.
Amma Ba’du:
Di antara nikmat besar yang dianugarhkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba -Nya adalah nikmat menikah, dia termasuk sunnah para rasul. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu. (QS. Al-Ra’du: 38).
Dan syari’at menganjurkan pernikahan sebab pernikahan memberikan dampak yang positif baik dari sisi agama dan sosial. Diriwayatkan oleh AL-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abdullah bin Mas’ud RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu maka hendaklah dia menikah, sebab pernikahan itu bisa menahan pandangan dan menjaga kemaluan”.[1]
Menjelang hari-hari ini kita menyaksikan banyaknya pesta-pesta pernikahan, hal ini adalah sesuatu yang baik dan mencerminkan adanya kebaikan, namun di antara perkara yang tidak mencerminkan sikap bersyukur terjadinya banyak penyimpangan-penyimpangan terhadap syari’at, di antara penyimpangan tersebut adalah:
Pertama: Menentukan mahar yang mahal sehingga sampai pada tingkat yang tidak bisa dijangkau, padahal disyari’atkan agar mahar seorang wanita semestinya sedikit. Diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam kitab Almustadrok dari Uqbah bin Amir bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: Sebaik-baik maskawin wanita adalah yang paling mudah”.[2]
Umar RA berkata: Ketahuilah bahwa janganlah kalian membuat maskawin wanita itu mahal, sebab seandainya hal itu adalah kemuliaan di dunia atau bentuk ketaqwaan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala maka sungguh yang paling utama dengan hal itu Nabi Allah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam, aku tidak mengetahui bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam menikahi seorang wanitapun atau menikahkan anak-anaknya lalu maskawinnya melebihi dua belas uqiyah, dan satu uqiyah adalah empat puluh dirham”.[3]
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Aisyah bahwa dia ditanya: Berapakah maskawin Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam?.Dia menjawab: Maskawin beliau untuk istri-istrinya adalah dua belas uqiyah dan nasya. Aisyah bertanya: Apakah kalian mengetahui berapakah nasya tersebut?. Penanya menjawab: Aku tidak mengetahui. Aisyah menjawab: Setengah uqiyah, itulah lima ratus dirham dan inilah jumlah maskawin Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam kepada istri-istrinya”.[4]
Dan berlebihan dalam mahar akan menimbulkan keburukan yang sangat besar, di antaranya, dan termasuk akibat buruk yang paling besar adalah kecendrungan para pemuda dan pemudi untuk telat nikah atau bahkan mereka meninggalkan pernikahan, dan hal ini akan menimbulkan dampak negatif yang sangat nyata.
Kedua: Memakai cincin kawin. Cincin ini dipakai oleh seorang lelaki, dia disebut dengan cincin kawin, sebuah cincin yang dikenakan oleh seseorang pada salah satu jemarinya. Banyak orang yang beranggapan bahwa aqad pernikahan sangat tergantung dengan cincin ini, terlebih jika cincin tersebut berasal dari emas, padahal pemakaian emas dilarang oleh banyak hadits. Di antaranya apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abas  RA bahwa Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam melihat sebuah cincin dari emas pada tangan seorang lelaki lalu beliau mencabutnya dan membuangnya lalu beliau bersabda: “Sungguh salah seorang di antara kalian sengaja menuju bara api neraka lalu menjadikannya di tangannya”. Lalu dikatakan kepada lelaki tersebut setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam pergi meninggalkannya: Ambillah cincinmu dan manfaatkanlah dia!. Lelaki itu menjawab: Demi Allah tidak, aku tidak akan mengambilnya sebab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam telah membuangnya”.[5]
Syekh Al-Bani berkata: Memasangkan cincin kawin di tangan pengantin wanita termasuk kebiasaan orang-orang nashrani padahal kita telah diperintahkan untuk menyelisihi mereka”.[6] Dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka”.[7]
Ketiga: Kursi pelaminan, yaitu duduknya suami istri di tempat yang tinggi dan disaksikan oleh banyak orang. Syekh bin Baz Rahimhullah berkata: Di antara kemungkaran yang sangat besar adalah menyediakan pelaminan bagi kedua mempelai laki-laki dan wanita di hadapan para tamu yang hadir, sehingga seorang lelaki melihat kepada wanita-wanita yang bukan mahromnya dengan pakaian mereka yang sempurna, bahkan tekadang keluarga suami dan istri bisa mondar mandir pada acara tersebut sehingga menimbulkan campur baur antara kaum pria dan wanita dan mengakibatkan timbulnya fitnah”.[8]
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Uqbah bin Amir bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Janganlah kalian memasuki wilayah kaum wanita”. Seorang dari kaum Anshor bertanya: Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu dengan ipar?. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menjawab: “Ipar itu adalah kematian”. Al-Hamuw adalah keluarga suami. Sebab hal ini akan membangkitkan nafsu syahwat yang akan menimbulkan fitnah dan kerusakan.
Keempat: Membuat dokumentasi foto. Dia termasuk dosa besar. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya dari Ibnu Umar RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: Orang yang paling keras siksanya kelak pada hari kiamat adalah para tukang foto, dikatakan kepada mereka hidupkanlah apa-apa yang telah kalian ciptakan”.[9]
Terlebih jika yang difoto itu adalah wanita, maka fitnah yang ditimbulkan akan lebih besar, terkadang sebagian wanita juga aktif berpartisipasi memotret kaum wanita yang sedang menghadiri acara tersebut dalam keadaan berhias dengan perhiasan yang sempurna, dan ini adalah kerusakan yang besar, apakah diantara kita rela jika foto anak atau saudarinya menyebar di tengah-tengah masyarakat, hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala sajalah kita mengadu.
Kelima: Menghadirkan para biduanita untuk mendendangkan lagu-lagu dalam acara pernikahan dan dibarengi dengan alat-alat musik. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini termasuk kemungkaran yang paling besar.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Abi Malik Al-Asya’ari bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: Akan ada dari umatku sekelompok kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamar dan musik,,,”[10]
Dalam syari’at hanya diperbolehkan memukul rebana bagi para  wanita dengan syarat tidak dibarengi dengan nyanyian yang cabul dari biduwanita.
Keenam: Berlebihan dalam menyelanggarakan walimah, menyewa gedung di hotel mewah, gedung resepesi dengan harga yang mahal, seharusnya  bagi seseorang untuk bertindak ekonomis dalam masalah ini dan meninggalkan sikap berlebihan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“…makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.  (QS. Al-A’rof: 31)
Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah )pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. Al-Furqon: 67)
Ketujuh: Banyak wanita yang memakai pakaian trsansparan dan terbuka atau pakaian yang ketat sehingga membentuk lekuk-lekuk badan, atau mengenakan pakaian yang tidak mencerminkan rasa malu sekalipun hal itu di hadapan para wanita saja. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: Dua golongan dari penghuni neraka yang belum aku saksikan, suatu kaum yang memiliki cemeti seperti ekor sapi yang dipergunakan untuk memukul orang lain, dan wanita yang berpakaian namun telanjang, berlenggak lenggok dan bergoyang, kepala mereka seperti  punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak pula mendapatkan wanginya surga, padahal sungguh wangi surga ini di dapatkan pada jarak ini dan ini”.[11]
Syekh Utsaimin rahimhullah pernah ditanya tentang hukum menghadiri sebuah pesta pernikahan yang dijejali dengan kemungkaran?. Maka dia menjawab: Menghadirinya wajib jika dengan kehadirannya itu dia mampu merubah kemungkaran, namun apabila dia tidak mampu merubah kemungkaran maka menghadirinya adalah kemungkaran yang diharamkan, dan tidak boleh mentaati orang tua dalam perkara ini, dan tidak pula mentaati suami, walaupun jika bapak dan ibunya terpancing marah dengan keengganannya menghadiri pesta-pesta ini, dan hal ini tidak termasuk kategori durhaka kepada orang tua, sebab hal ini termasuk ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam: Tidak ada ketaatan terhadap makhluk dalam bermaksiat kepada Allah yang menciptakkan”.[12]
Dalam masalah kemungkaran tidak boleh mentaati siapapun dan tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah yang menciptakan”.[13]
Kedelapan: Bergadang sehingga akhir malam, bahkan sebagian pesta perkawinan berakhir sehingga mendekati shalat fajar, hal ini bisa mengakibatkan menyia-nyiakan shalat fajar, sehingga dengan demikian seorang muslim telah menghalangi dirinya dari pahala dan balasan Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan menjerumuskan diri pada siksa -Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS. Maryam: 59)
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Jundub bin Abdullah bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada didalam jamianan Allah subhanahu wa ta’ala, maka jangan sampai Allah subhanahu wa ta’ala menuntut kamu dengan sesuatu yang berada di dalam jamianan -Nya, sebab barangsiapa yang dituntut oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan sesuatu dari apa yang ada pada jamainan -Nya maka dia pasti akan merasakan akibatnya, lalu Allah subhanahu wa ta’ala akan mencampakkan dia di atas wajahanya di dalam neraka Jahannam”.[14]
Kesembilan: Di antara kemungkaran yang sering dilanggar pada saat terjadinya pesta-pesta pernikahan adalah berbulan madu ke Negara-negara kafir, atau Negara yang serupa yang mempunyai tingkat kerusakan yang sama guna menghabiskan masa bulan madu, sungguh hal itu termasuk penyimpangan yang nyata dari tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam. Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dan Abu Dawud dari Jarir bin Abdullah bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tangah-tengah orang musyrik, hendaklah mereka tidak saling melihat perapian mereka masing-masing”.[15]
Dan safar ke negara-negara kafir akan menimbulkan kerusakan dan menanggalkan hujab, bercampur dengan wanita yang bukan mahrom, mengunjungi tempat-tempat yang melalaikan dan rusak serta berbagai kerusakan-kerusakan lainnya.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.


[1] Muslim: no: 1400 dan Al-Bukhari: no: 5065
[2] Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrok: 2742
[3] Sunan Al-Turmudzi no: 1114 dan Al-Turmudzi berkata: hadits hasan shahih
[4] Muslim: no: 1426
[5] HR. Muslim: no: 2090
[6] Adabuz Zafaf: halaman: 212-213
[7] Musnad Imam Ahmad: 2/292
[8] Al-Tabrruj wa khatharuhu, sebuah tulisan yang karang oleh syekh Abdul Aziz bin Baz
[9] Al-Bukhari: 5232 dan Muslim: no: 2172
[10] Al-Bukhari: no: 5590
[11] HR. Muslim: no: 2128
[12] Shahih Muslim: no: 1840 dan shahih Bukhari: no: 4340
[13] Fatwa ini ditanda tangani oleh syekh Al-Utsaimin rahimhullah pada tanggal: 16/9/1409
[14] HR. Muslim di dalam kitab shahihnya: 657
[15] Sunan Tirmidzi: 4/155 no: 1604
Poskan Komentar