Senin, 08 Desember 2014

Haji dan Tawakkal



HAJI DAN TAWAKKAL
Sesungguhnya haji adalah perjalan yang penuh barakah dan agung menuju bumi yang terbaik lagi mulia untuk memenuhi panggilan Allah, memburu pahala-Nya, berharap untuk mendapatkan keagungan janji-Nya dan banyaknya balasan-Nya, serta pahala yang melimpah. Haji adalah gerbang selamat datang untuk para tamu Allah  yang menghapus kesalahan dan menambah kebaikan, mempersedikit kemungkinan untuk melakukan kemaksiatan, dan membebaskan dari api neraka.
Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk haji yang diniatkan untuk Rabb-nya dengan bertawakkal kepada-Nya dan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya. Meminta perlindungan, taufiq, dan hidayah hanya kepada-Nya saja. Ia mengetahui bahwa perkara seluruhnya ada dibawah ketentuan dan taqdir Allah, jika Allah berkehendak maka terjadilah, sedangkan  jika Allah tidak menghendaki maka tidak akan terjadi, dan tidak ada kekuatan kecuali pada Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Bersamaan dengan itu ia membawa bekalnya, mencurahkan semua usaha untuk mendapatkan rahmat dan pahala dari Allah.
Renungkanlah firman Allah dalam ayat haji:

“Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa”[1]
Telah disebutkan sebab turunnya ayat ini adalah ketika ada sekelompok manusia keluar untuk haji tanpa membawa bekal, mereka mengira itulah tawakkal yang sebenarnya. Kemudian mereka memaksa manusia untuk memberi kebutuhan mereka.
Diriwayatkan dari Imam Bukhari dalam shahihnya dari Abdullah bin Abbas berkata: “ Dahulu penduduk Yaman berhaji dan tidak membawa bekal, mereka mengatakan: “ kami bertawakkal”. Jika mereka tiba di Makkah maka  mereka meminta bantuan kepada penduduknya. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

 “Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa”[2]
Ibnu Abi Dunya meriwayatkan  dalam kitab Tawakkal dari Muawiyah ibnu Qurroh berkata: Umar bertemu dengan manusia dari penduduk Yaman. Beliau berkata:
مَن أنتم؟ قالوا: نحن المتوكِّلون، قال: بل أنتم المتَّكلون، إنَّ المتوكِّل الذي یلقي حبَّة في الأرض ویتوكَّل على الله عزَّ وجلَّ.
“Siapa kalian?” mereka menjawab: “Kami adalah orang-orang yang bertawakkal”. Beliau berkata: “Kalian orang-orang yang bertawakkal?, sesungguhnya orang yang bertawakkal itu yang membawa biji-bijian dari bumi dan bertawakkal kepada Allah”.[3]
Sesungguhnya hakikat tawakkal yaitu amalan hati, penghambaan diri terhadap Allah, percaya pada-Nya, kembali kepada-Nya, menyerahkan diri, dan ridho atas apa yang terjadi pada dirinya menurut ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Allah memilihkan yang terbaik untuk hamba-Nya jika ia menyerahkan semua urusannya kepada-Nya, dengan tidak meninggalkan sebab yang telah diperintahkan dan kesungguhan untuk mendapatkannya. Makna tawakkal adalah, bersandar diri kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan melaksanakan sebab-sebab yang telah diperintahkan.
Manusia dalam menjalankan tawakkal terbagi menjadi tiga, yang pertama: ia meninggalkan sebab atau usaha dengan bertawakkal. Kedua: meninggalkan tawakkal dengan menjalankan sebab-sebabnya. Ketiga adalah yang diantara keduanya, Mengetahui bahwa tawakkal yang sebenarnya tidak akan sempurna kecuali dengan menjalankan sebab, maka tawakkal kepada Allah itu bersamaan dengan menjalankan sebab. karena keduanya itu harus dilakukan untuk mewujudkan tawakkal yang sebenarnya.
Kedua dasar tawakkal diatas telah digabungkan dalam banyak nash, seperti firman Allah:


 “Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya..”[4]
dan firman-Nya:


 “ hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.”
Serta ayat-ayat lain yang sejenis.
Diriwayatkan dari Imam Muslim dalam shahihnya dari hadits Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda:
المؤمن القوي خیرٌ وأحبُّ إلى الله من المؤمن الضعیف، وفي كلٍّ خیر، احرص على ما ینفعُك واستعن بالله ولا تعجز.
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan di setiap kebaikan, bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan pada Allah serta jangan lemah”.[5]
Sabda Nabi: “bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat” terdapat perintah untuk melaksanakan usaha yang baik dalam urusan agama ataupun duniawi. Bahkan didalamnya terdapat perintah untuk bersungguh-sungguh dengan dibarengi niat, tekad yang kuat, dan pelaksanaan. Sabda Nabi: “dan mintalah pertolongan kepada Allah” didalamnya terdapat iman dengan ketentuan dan taqdir Allah dan perintah untuk bertawakkal kepada-Nya, bersandar diri, dan percaya kepada-Nya.
Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik berkata:
قال رجل: یا رسول الله! أعقلُه وأتوكَّل أو أُطلقه وأتوكَّل؟ فقال له: اعقله وتوكَّل.
Seorang lelaki berkata kepada Rasulullah: “apakah aku mengikatnya dan tawakkal ataukah aku melepaskannya dan tawakkal?” Rasulullah menjawab, “ikatlah dan tawakkallah”[6].
Rasulullah memberi petunjuk untuk menggabungkan dua perkara melaksanakan sebab dan bersandar diri kepada Allah.
Tirmidzi meriwayatkan juga dari Umar bin Khattab dari Nabi berkata: “
لو أنَّكم توكَّلون على الله حقَّ توكُّله لرزقكم كما یرزق الطیرَ تغدو خماصاً وتروح بطاناً
Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal maka Allah akan memberi rizki kepada kalian sebagaimana  Allah memberi rizki kepada burung yang pergi di pagi hari dengan rasa lapar kemudian pulang sore dengan perut kenyang”[7]. 
Dua perkara tersebut disebutkan secara bersamaan, burung pergi di pagi hari petang ia berusaha mencari rizki dengan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya.
Dikatakan kepada Imam Ahmad  apa yang dikatakan oleh seorang lelaki yang duduk di rumahnya atau masjid ia berkata:
“Aku tidak akan melakukan apapun sampai rizki mendatangiku”.
Imam Ahmad berkata, "ini adalah laki-laki yang bodoh. Tidakkah ia mendengar sabda Nabi:
إنَّ الله جعل رزقي تحت ظلِّ رُمحي
“Sesungguhnya Allah menjadikan rizkiku dibawah lemparan panahku”.
Beliau berkata ketika menyebutkan tentang burung:
تغدو خماصاً وتروح بطاناً
“mereka pergi dipagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore hari dengan perut kenyang”.[8]
Dari pelajaran tersebut diketahui bahwa dalam tawakkal harus ada penggabungan antara melaksanakan usaha dan bersandar diri kepada Allah. Barangsiapa yang meninggalkan sebab dan ia beranggapan telah bertawakkal maka hakikatnya ia orang bertawakkal yang tertipu, dan dari perbuatannya ini ia hanya mendapatkan kelemahan, dan sia-sia. Seandainya seseorang berkata, “ Seandainya aku ditakdirkan pintar maka aku akan bersungguh-sungguh atau tidak akan bersungguh-sungguh”, atau ia berkata, “seandainya aku ditakdirkan punya anak maka aku akan menikah atau tidak akan menikah”. Demikianlah ia berharap untuk mendapatkan hasil atau panen tanpa menanam dan menyiram lebih dulu. Demikian juga dengan orang yang meninggalkan keluarga dan anaknya tanpa nafkah dan makanan, dia juga tidak berusaha untuk mendapatkannya hanya bertawakkal pada taqdir. Semua itu sia-sia, bermalas-malasan, dan bertawakkal tanpa (mencari) usaha.
Ibnu Qudamah berkata, “Sebagian manusia mengira bahwa makna tawakkal itu meninggalkan usaha dengan anggota badan, meninggalkan pengaturan hati, dan jatuh ke bumi seperti daging diatas papan landasan tempat pemotongan. Ini adalah dugaan orang-orang bodoh. Hal itu diharamkan oleh syari’at.”[9]
Barangsiapa yang melaksanakan sebab dengan menunggu datangnya sebab secara sengaja dan lalai dari mengambil musabbab (akibat) yang bisa didapat darinya, maka tawakkal yang seperti ini lemah dan berujung pada kesia-siaan. Oleh karena itu sebagian ulama berkata: “Meninggalkan sebab itu syirik dalam tauhid, meninggalkan sebab menjadikan sebab berkurangnya akal, berpaling dari sebab secara keseluruhan tercela dalam syariat. Sesungguhnya tawakkal dan berharap itu maknanya dibangun atas tauhid, akal dan syariat”.
Sesungguhnya tawakkal kepada Allah hanya dilakukan oleh mukmin yang benar dalam setiap urusan agama dan dunianya, juga yang benar dalam shalatnya, puasanya, hajinya, berbuat baiknya, dan selainnya dari urusan agamanya. Dan juga yang benar dalam mendapatkan rizkinya, mencari yang dihalalkan, dan selainnya dari urusan dunianya.
Tawakkal adalah dasar dari semua perkara agama, kedudukannya seperti kedudukan badan dari kepala. Bagaimana kepala itu bisa berdiri jika tidak diatas badan. Begitu juga iman tidak akan tegak bersama amalan-amalannya kecuali bertumpu dengan tawakkal.
Semoga Allah menjadikan kita dari orang-orang yang bertawakkal dengan sebenar-benarnya, juga termasuk dari orang-orang yang berpegang teguh kepada Allah dengan keyakinan dan kejujuran. Allahlah sebaik-baik penolong.


[1] Al Baqarah : 197
[2] Shahih Bukhari (1523)
[3] At Tawakkul (10)
[4] Hud : 123
[5] Shahih Muslim (2664)
[6] Sunan Tirmidzi (2517)
[7] Sunan Tirmidzi (2344) dan dishahihkan oleh Al Albani dalam shahih Al Jami’ (5254)
[8] Disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qasidin (95)
[9] Mukhtashar Minhajul Qasidin (361)
Poskan Komentar