Rabu, 10 Desember 2014

KEBAHAGIAAN



KEBAHAGIAAN

Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.
Amma Ba’du:
Setiap manusia di dalam kehidupan ini berusaha untuk meraih kebahagiaan, itulah tuntutan hakiki bagi setiap insan, baik yang beriman atau yang kafir, manusia yang baik dan buruk, yang kaya dan miskin. Setiap mereka menginginkan kebahagiaan namun mereka memiliki pandangan yang berbeda dalam melihat kebahgaiaan tersebut. Diantara mereka ada yang melihat bahwa kebahagiaan itu ada pada mengumpulkan harta dan dirham, sementara yang lain melihat kebahagiaan itu pada jabatan yang tinggi, dan yang lainnya lagi melihat kebahagiaan itu pada penghargaan yang tinggi dan ada juga yang memandang kebahagiaan itu pada perkara yang lain.
Sebenarnya semua perkara diatas termasuk bagian yang bisa mendatangkan kebahagiaan, bukanlah seluruh kebahagiaan itu ada padanya, dia adalah kebahagiaan yang temporer yang akan hilang, orang yang memiliki harta bisa kehilangan hartanya, dan orang yang menempati jabatan terkadang bisa turun dari jabatannya. Bahkan harta yang merupakan tulang punggung kehidupan jika pemanfaatannya tidak diarahkan pada ketaatan kepada Allah maka dia akan menjadi bumerang bagi pemiliknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS. Al-Taubah: 55).
Seorang penyair berkata;
Aku tidak melihat kebahagiaan hakiki itu pada mengumpulkan harta
Akan tetapi orang yang bertaqwa dialah orang yang merasa bahagia
Bukanlah orang yang bahagia itu orang yang senang dengan dunianya
Orang bahagia yang sebenarnya adalah orang yang selamat dari neraka
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali Imron: 185).
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab shahihnya dari Sa’d RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Empat perkara yang termasuk kebahagiaan yaitu: wanita yang shaleh, tampat tinggal yang luas, tetangga yang shaleh dan kendaraan yang baik”.[1]
Diriwayatakan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abdullah bin Amru bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Dunia ini adalah kesenangan dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita yang shaleh”.[2]
Dan sifat wanita yang shaleh ini disebutkan di dalam hadits riwayat Ahmad didalam musnadnya dari Abi Hurairah RA berkata: Dikatakan kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam wanita yang manakah yang terbaik?. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Wanita yang menggembirakan pada saat dia memandang kepadanya, taat pada saat diperintah, tidak menyeleweng terhadapnya baik dalam menjaga dirinya dan harta suaminya dengan sesuatu yang dibenci oleh suami”.[3]
Dan syekh Al-Sa’di menyabutkan beberapa sebab seseorang menjadi bahagia di antaranya:
Pertama: Beriman kepada Allah AWT dan beramal shaleh. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.  (QS. Al-Nahl: 97).
Ibnu Abbas berkata: Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang bahagia[4]. Kebahagiaan ini adalah perasaan yang dihunjamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala didalam hati seorang yang shaleh sekalipun hidup dalam tekanan eknomi yang sempit.
Ibnul Qoyyim rahimhullah berkata tentang syekhnya, Ibnu Taimiyah rahimahullah: Sekalipun dia hidup di dalam tekanan kesempitan penjara namun dia adalah pribadi yang paling luas dadanya, paling baik hidupnya, paling lembut hatinya, keindahan dan kesenangan hidup memancar dari wajahnya, dan pada saat kami merasakan dunia ini begitu sempit, kesusahan memuncak maka kamipun mendatanginya dan tidaklah kami mendengar perkataannya dan melihat wajahnya maka semua kesusahan sebelumnya berubah menjadi kekuatan, keteguhan dan ketenangan. Maha Suci Allah yang telah memperlihatkan kepada kami surge -Nya sebelum bertemu dengan -Nya, dan membukakan bagi mereka pintu-pintunya di dunia sebagai ladang untuk beramal, maka dia datang kepada mereka keindahan  dan bau wangi surga tersebut sejauh kekuatan mereka mengarah untuk memperolehnya dan berlomba-lomba mencarinya”.[5]
Syaekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimhullah berkata: Sesungguhnya di dunia ini adalah surga dan barangsiapa yang tidak memasukinya maka sungguh dia tidak akan memasuki surga akherat.[6]
Dia Ibnu Taimiyah berkata pada saat dikatakan kepadanya sesungguhnya penguasa telah memerintahkan untuk mengasingkanmu menuju Qubrus, atau akan membunuhmu atau memenjarakanmu. Maka dia berkata: Demi Allah sesungguhnya aku menikmati kesenangan dan kebahagiaan yang jika dibagikan kepada seluruh penduduk Syam maka dia pasti mendapatkannya, demi Allah aku ini seperti seekor kambing yang tidak tidur kecuali di atas wall dan jika aku diasingkan menuju Qubrus maka aku akan menyeru penduduknya masuk Islam”.
Salah seorang ulama salaf berkata: Sesungguhnya waktu-waktu berlalu kepadaku dan aku berkata: Seandainya kehidupan penduduk surga seperti ini maka sungguh mereka dalam kehidupan yang sangat baik”. Dan tokoh salaf yang lain berkata: Seandinya para raja dan anak-anak mereka mengetahui kenikamatan yang kami rasakan maka sungguh mereka akan memukul kami demi merebutnya dengan pedang”.
Kedua: Di antara sebab-sebab kebahagiaan adalah  beriman kepada qodha’ dan qodar Allah subhanahu wa ta’ala, sesungguhnya jika manusia beriman kepada qodha’ dan qodar Allah subhanahu wa ta’ala maka dia akan merasakan ketanangan jiwa, berlapang dada dengan apa yang menimpanya sekalipun perkara tersebut dibencinya. Dan Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam telah memberitahukan bahwa beriman dengan qodha dan qodar adalah salah satu rukun iman yang keenam.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya dari Ibnu Abbas RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Apabila engkau meminta maka memintalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan apabila engkau memohon pertolongan maka memohonlah pertolonganlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sesungguhnya pena tersebut telah kering dengan apa yang telah ditentukan oleh -Nya. Seandainya  seluruh makhluk berkehendak untuk memberikan manfaat bagimu dengan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah maka mereka tidak akan bisa melakukannya, dan jika mereka ingin  untuk memberikan mudharat dengan sesuatu yang tidak ditetapkan oleh Allah maka mereka tidak mampu melakukannya”.[7]
Umar RA berkata: Aku memasuki waktu pagi dan aku tidak bahagia kecuali pada percaya kepada qodha dan qodar Allah subhanahu wa ta’ala”.
Ketiga: Memperbanyak berzikir kepada Allah Azza Wa Jalla, berzikir merupakan rahasia yang sangat tangguh dalam menciptakan lapangnya dada dan nikmatnya hati. Ibnul Qoyim  telah menyebutkan beberapa manfaat dari manfaat berzikir di antaranya: Zikir itu mengusir kecemasan dan kesedihan dan mendatangkan kesenangan, kebahagiaan dan kehidpan yang baik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:


 (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah -lah hati menjadi tenteram. (QS. Al-Ra’du: 28).
Keempat: Qona’ah dengan rizki yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Barang siapa yang merasa puas dengan rizki yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala maka dadanya akan menjadi lapang, jiwanya akan tenang. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abdullah bin Amr bin Ash RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Sungguh telah beruntung orang yang masuk Islam dan diberikan kecukupan yang membuatnya tidak meminta-minta dan diberikan kepuasan dengan apa yang diberikan oleh Allah”.[8]
Kelima: Hendaklah seorang mu’min menyadari bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan di akherat kelak. Dia harus menyadari bahwa dunia adalah tempat berbagai musibah, kekeruhan dan kesedihan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (QS. Al-Balad: 4)
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang penghuni surga:

Dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia -Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu". (QS. Fathir: 34-35)
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahinya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Dunia ini adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang kafir”.[9] Dan pada saat imam Ahmad ditanya kapankah seorang yang beriman akan tenang?. Dia menjawab: Pada langkah pertama dia meletakkan kakinya di dalam surga.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.


[1] Shahih Ibnu Hibban: 9/340 no: 4032
[2] Muslim: no: 1467
[3] HR. Ahmad di dalam musnadnya: no: 3231
[4] Tafsir Ibnu Katsir: 3/585
[5] Al-Wabilus Shayyib minal kalimit tayyib: halaman: 82
[6] Al-Wabilus Shayyib minal kalimit tayyib: halaman: 81
[7] Bagian dari hadits riwayat Imam Ahmad: 1/307
[8] Shahih Muslim: no: 1054
[9] HR. Muslim: 2956
Poskan Komentar