Senin, 15 Desember 2014

Renungan Terhadap Peristiwa Wafatnya Abu Thalib



Renungan Terhadap Peristiwa Wafatnya Abu Thalib

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah saw, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Wa Ba’du:

Dari Sa’id bin Al-Musayyab dari bapaknya ra berkata, “Pada saat ajal Abi Thalib telah tiba maka Rasulullah saw mendatanginya, beliau mendapatkannya bersama Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughiroh. Maka Rasulullah saw berkata kepadanya : Wahai pamanku katakan: لا إله إلا الله suatu kalimat yang bisa aku saksikan pada hari kiamat. Maka Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata, “Wahai Abu Thalib, apakah engkau benci terhadap agama Abdul Muththalib?. Maka Nabi saw senantaiasa mendakwahinya dan mengulangi permintaannya, sehingga Abi Thalib berkata di akhir ucapannya: Dia masih tetap berada pada millah Abdul Muththalib dan enggan mengucapkan: لا إله إلا الله, maka Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah aku pasti memintakan ampun baginya selama aku tidak dilarang mengerjakannya”. Lalu Allah menurunkan firmanNya:

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam. QS. Al-Taubah: 113
Maka Allah swt menurunkan sebuah firmanNya tentang Abu Thalib di mana Dia berfirman kepada NabiNya:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. QS. Al-Qoshshos: 56
Dan AL-Hafiz Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mugiroh telah masuk Islam di akhir hayatnya dan baik keislamannya[1]
Adapun Abu Jahl, gembong kekafiran yang sudah dikenal, tewas terbunuh dalam kekafiran pada perang Badar.
Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari hadits ini:
Pertama: Tidak boleh memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, dan tidak boleh mendo’akannya agar mereka mendapat ampunan, rahmat, masuk surga dan selamat dari neraka.
Dari Abi Hurairah ra berkata, “Nabi saw mengunjungi kubur ibunya lalu beliau menangis dan membuat para shahabat yang lainpun menjadi menangis, dan beliau bersabda, “Aku meminta izin kepada Tuhanku agar aku memintakan ampun bagi ibuku namun Dia tidak mengizinkan aku, dan aku meminta izin untuk berziarah ke kuburnya maka Dia mengizinkan aku, bezairahlah ke kubur sebab dia mengingatkan kalian kepada akherat”.[2]
Dan Nabi saw telah melarang NabiNya dan orang-orang yang beriman untuk memintakan ampun bagi orang-orang yang mati dalam keadaan musyrik, baik dia sebagai keluarga atau kekasih. Allah swt berfirman:

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam. QS. Al-Taubah: 113
Sebagaimana Allah swt menjelaskan bahwa memintakan ampun bagi mereka tidak akan memberikan manfaat apapun dan tidak diterima oleh Allah. Allah swt berfirman:

Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. QS. Al-Taubah: 80
Kedua: Sesungguhnya syafa’at Nabi saw bagi paman beliau saw terjadi setelah turunnya ayat-ayat Allah yang mulia yang menjelaskan tentang diringankannya azabnya. Dari Al-Abbas bin Abdul Muththalib ra bahwa dia berkata kepada Nabi saw: Apakah manfaat yang engkau berikan kepada pamanmu?, sungguh dia telah melindungimu dan marah karena kamu?. Rasulullah saw menjawab, “Dia berada di dalam api sebatas kedua mata kaki, seandainya bukan karena diriku maka dia berada di dalam kerak api neraka”.[3]
Dari Al-Abbas ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Penghuni api neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib, dia memakai dua sandal dari neraka lalu dengannya otaknya menjadi mendidih”.[4]
Di dalam sebuah riwayat disebutkan: Dia tidak melihat bahwa ada orang lain yang paling ringan siksanya dan sungguh dia orang yang paling ringan siksanya”.[5]
Ketiga: Kesyirikan tidak memberikan manfaat apapun bersama ketaatan, Allah tidak akan menerima dari orang yang musyrik perbuatan ketaatan apapun baik yang wajib atau yang sunnah, bahkan kesyirikan tersebut menghapuskan seluruh amal kebaikan baik yang kecil atau yang besar, inilah hukum Allah yang diturunkan oleh Allah di dalam kitabNya dan pada lisan RasulNya saw. Allah swt berfirman:

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. QS. Al-Furqon: 23
Allah swt berfirman:

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. QS. Al-Zumar: 65
Dia berfirman tentang para NabiNya:

Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. QS. Al-An’am: 88
Dari Abi Hurairah  ra bahwa Nabi saw bersabda, “Allah Yang Maha Tinggi Berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu,  maka barangsiapa yang mempersekutukan aku dengan sesuatu yang lain maka Aku meninggalkannya dan sekutunya”.[6]
Keempat: Syafa’at orang yang memberi syafa’at tidak akan bermanfaat bagi orang yang mempersekutukan Allah, sekalipun orang yang memberikan syafa’at ini seorang nabi, orang mulia, wali dan orang yang shaleh.
Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Ibrahim bertemu dengan bapaknya, Azar pada hari kiamat dan pada wajah Azar dipenuhi kotoran dan debu, maka Ibrahim berkata kepadanya: Bukankah aku telah berkata kepadamu agar engkau tidak menolak ajakanku?. Bapakny berkata: Pada hari ini aku tidak menolak ajakanmu. Ibrahim berkata: Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menjanjikan kepadaku bahwa Engkau tidak menghinakanku pada hari mereka dibangkitkan, dan adakah kehinaan yang lebih hina dari kehinaan yang menimpa ayahku yang celaka?, maka Allah berfirman: Aku telah mengharamkan surga atas orang-orang kafir, lalu dikatakan: Wahai Ibrahim lihatlah apa yang ada di bawah kedua kakimu?, lalu Ibrahim menoleh ternyata seekor anjing hutan yang menjijikkan lalu diambillah kedua kaki tangannya lalu dicampakkan ke dalam api neraka”.[7]

Dari Abi Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda pada saat diturunkan kepadanya ayat:

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, QS. Al-Syu’ara: 214
Wahai orang-orang Quraisy, belialah diri kalian dari Allah, sesungguhnya aku tidak mampu  menolong kalian di hadapan Allah dengan sesuatu apapun, wahai Bani Abdul Muththalib aku tidak sanggup menolong kalian dengan sesuatu apapun”.[8]
Maha benar Allah dengan firmanNya:

Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi dalam surga”. QS. Saba’: 37
Kelima: Mewaspadai bergaul dengan teman yang buruk, di dalam hadits ini  Abu Jahl, Abdullah bin Abi Umayyah tetap membujuk Abu Thalib agar dia tetap ada pada millah sehingga dia meninggal dalam kekafiran dan hayatnya berakhir dengan keburukan.
Dan Nabi saw menganjurkan agar seseorang memilih teman yang baik, dari Abi Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: Agama seseorang tergantung pada temannya, maka lihatlah siapakah yang menjadi teman bergaulnya”.[9]
Seorang penyair berkata:
Tentang seseorang janganlah kau tanyakan, tapi bertanyalah siapa temannya
Sebab setiap teman dengan orang yang ditemani saling mempengaruhi.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad dan kepada seluruh keluarga dan shahabatya.


[1] Al-Ishobah fi Tamyyizis Shohabah: 3/36
[2] Shahih Muslim: 2/671 no: 976
[3] Shahih Bukhari: 3/62 no: 3883 dan shahih Muslim: 1/195 no: 209
[4] shahih Muslim: 1/196 no: 213

[5] shahih Muslim: 1/196 no: 212
[6] shahih Muslim: 4/2289 no: 2985

[7] Shahih Bukhari: 2/459 no: 3350
[8] Shahih Bukhari: 3/373 no: 4771 dan shahih Muslim: 1/192 no: 206
[9] Sunan Abu Dawud: 4/359 no: 4833
Poskan Komentar