Kamis, 04 Desember 2014

Sifat-Sifat Penghuni Surga



Sifat-Sifat Penghuni Surga

Segala puji bagi Allah subhanahuwata'ala Yang menciptakan segala sesuatu dan memantapkan penciptaannya, membelah langit dan bumi, dan keduanya terbelah. Membagi dengan hikmah-Nya kepada para hamba, maka Dia menjadikan beruntung dan celaka. Menjadikan bagi keberuntungan sebab-sebab, maka orang yang taqwa menelusurinya. Ia melihat dengan mata hati kepada kesudahan lalu ia memilih yang kekal. Aku memuji-Nya dan aku tidak bisa memuji sebagaimana mestinya. Aku bersyukur kepada-Nya Dia senantiasa berhak disyukuri. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, yang memiliki semua jiwa. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, manusia paling sempurna bentuk dan akhlak. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepadanya, kepada sahabatnya Abu Bakar ra yang mendapatkan keutamaan mengikuti lebih dahulu. Kepada Umar ra yang bersikap adil maka ia tidak berpura-pura terhadap makhluk. Kepada Utsman ra yang berserah diri untuk mendapat syahadah dan ia tidak berjaga diri. Dan kepada Ali ra yang menjual yang fana dan memberi yang kekal. Dan kepada keluarganya dan para sahabatnya yang memberi agama Allah subhanahuwata'ala.
Saudaraku: Anda telah mendengar sifat-sifat surga, kenikmatannya dan kebahagiaan serta kesenangan yang ada di dalamnya. Demi Allah, ia sudah pasti bahwa beramal orang yang beramal untuknya, berlomba padanya orang-orang yang berlomba dan manusia menghabiskan usianya dalam mencarinya, zuhud pada dunia. Jika anda bertanya tenang amal untuknya dan jalan yang menyampaikan kepadanya, maka Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan lewat wahyu-Nya kepada makhluk-Nya yang paling mulia, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
قال الله تعالي: ﴿۞وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤ وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ ١٣٥   [آل عمران: 133-135] 

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, * (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. * Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah - Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui. (QS. Ali Imran:133-135)
Inilah beberapa sifat penghuni surga:
Sifat pertama: ﴿ المتقين yaitu orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb mereka dengan menjadikan pemelihar dari siksa-Nya dengan melakukan yang diperintah-Nya karena taat kepada-Nya dan mengharap pahala-Nya, dan meninggalkan yang dilarang-Nya kepada mereka karena taat kepada-Nya dan takut dari siksa-Nya.
Sifat kedua: ﴿ الذين ينفقون في السراء والضراء   mereka menginfakkan apa yang mereka disuruh menginfakannya menurut cara yang dituntut darinya, berupa zakat, sedekah, dan nafkah kepada yang harus diberi nafkah, nafkah dalam jihad dan lainya dari berbagai jalan kebaikan, mereka berinfak dalam senang dan susah. Kesenangan dan kebahagian yang mendorong mereka mencintai harta dan kikir padanya karena ingin menambahnya, dan kondisi berat dan susah tidak mendorong mereka menahan harta karena khawatir membutuhkannya.
Sifat ketiga: ﴿ الكاظمين الغيظ yaitu orang-orang yang menahan kemarahan mereka apabila marah, maka mereka tidak melakukan tindakan melampaui batas dan tidak dengki kepada orang lain karenanya.
Sifat ke empat: ﴿ العافين عن الناس    mereka memaafkan orang yang berbuat zhalim kepada mereka dan melakukan tindakan melewati batas. Maka mereka tidak melakukan pembalasan dendam padahal mereka mampu melakukannya. Dan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala: ﴿ والله يحب المحسنين ﴾
merupakan isyarat bahwa memaafkan tidak dipuji kecuali apabila dari sikap ihsan, dan hal itu dengan meletakkan di tempatnya yang menjadi perbaikan. Adapun pemberian maaf yang menambah kejahatan pelakunya maka hal itu bukan tindakan terpuji dan tidak mendapat pahala. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
قال الله تعالي: ﴿ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ  [ الشورى : 40] 
maka barang siapa mema'afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. (QS. asy-Syura-:40)
Sifat ke lima:
 ﴿وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ
Fahisyah adalah dosa-dosa keji, yaitu dosa-dosa besar seperti membunuh jiwa yang diharamkan, durhaka kepada kedua orang tua, makan riba, memakan harta anak yatim, kabur dari peperangan, zinah, mencuri dan semisalnya dari dosa-dosa besar. Adapun berbuat aniaya terhadap diri sendiri maka bersifat lebih umum karena mengandung dosa besar dan kecil. Apabila mereka melakukan sesuatu dari hal itu, mereka teringat keagungan yang mereka durhaka kepada-Nya maka mereka takut dari-Nya, dan mereka teringat ampunan dan rahmat-Nya, maka mereka berusaha melakukan sebab-sebab hal itu, mereka meminta ampun terhadap dosa-dosa mereka dengan memohon ditutupnya dan dilepaskan dari siksanya. Dan dalam firman-Nya :
 ( وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ ﴿
merupakan isyarat  bahwa mereka tidak meminta ampunan dari selain Allah subhanahu wa ta’ala karena tidak ada yang mengampuni dosa selain Dia subhanahu wa ta’ala.
Sifat ke enam: ﴿ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ ١٣٥  maksudnya mereka tidak terus menerus melakukan dosa, mengetahui bahwa ia adalah dosa, mengetahui keagungan Siapa yang dia durhaka kepada-Nya, dan mengetahui kedekatakan ampunan-Nya, bahkan mereka segera berhenti dan bertaubat darinya. Maka terus menerus di atas dosa padahal mengetahui menjadikan dosa-dosa kecil menjadi dosa besar, dan bisa menyeret pelakunya kepada perkara-perkara berbahaya yang sulit. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
قال الله تعالي: ﴿ قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ ٣ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِلزَّكَوٰةِ فَٰعِلُونَ ٤ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦ فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ ٧ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَٰنَٰتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَٰعُونَ ٨ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمۡ يُحَافِظُونَ ٩ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡوَٰرِثُونَ ١٠ ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلۡفِرۡدَوۡسَ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ١١  ﴾ [ المؤمنون : 1-11]
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, * (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, * dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, * dan orang-orang yang menunaikan zakat, * dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, * kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. * Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. * Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, * dan orang-orang yang memelihara shalatnya. * Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, * (ya'ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS. al-Mukminun:1-11)
Ayat-ayat yang mulia ini mengumpulkan beberapa sifat penghuni surga.
Sifat pertama: (المؤمنون) orang-orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dengan semua yang wajib diimani, seperti beriman kepada para malaikat Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, qadar baik dan buruknya. Mereka beriman dengan hal itu dengan iman yang mengharuskan menerima, tunduk, dan patuh dengan ucapan dan perbuatan.
Sifat kedua: ﴿ الذين هم في صلاتهم خاشعون hati mereka hadir, anggota tubuh mereka tenang, merasakan bahwa mereka berdiri dalam shalat di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, berbicara dengan-Nya dengan kalam-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengingat-Nya, kembali kepada-Nya dengan berdo’a, maka mereka khusyu’ secara lahir batin.
Sifat ke tiga: ﴿ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ laghw adalah segala sesuatu yang tidak ada gunanya dan tidak ada kebaikan dari ucapan dan perbuatan. Mereka berpaling darinya karena kuatnya semangat, tidak melewatkan waktu yang sangat berharga kecuali pada sesuatu yang berguna. Sebagaimana mereka menjaga shalat mereka dengan khusyu’, mereka menjaga waktu mereka dari kesia-siaan. Apabila di antara sifat mereka adalah berpaling dari perbuatan sia-sia, maka mereka berpaling dari yang berbahaya tentu lebih utama.
Sifat ke empat:  ﴿ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِلزَّكَوٰةِ فَٰعِلُونَ  bisa jadi maksud zakat di sini adalah bagian yang harus dikeluarkan dari harta. Dan bisa pula maksudnya adalah segala sesuatu untuk membersihkan diri mereka berupa ucapan dan perbuatan.
Sifat ke lima:
﴿ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ 6
Mereka menjaga kemaluan mereka dari zina dan homoseksual karena mengandung durhaka kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kemunduran akhlak dan sosial. Kemungkinan menjaga kemaluan ini meliputi sesuatu yang lebih umum dari hal itu, maka mencakup menjaganya dari memandang dan meraba pula. Dan dalam firman-Nya غَيۡرُ مَلُومِينَ ﴿  merupakan isyarat bahwa pada dasarnya adalah dicelanya manusia terhadap perbuatan ini kecuali terhadap istri dan budak wanita karena hal itu merupakan kebutuhan alami, mendapatkan keturunan dan kepentingan lainnya. Dan dalam firman-Nya:
﴿ فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ merupakan dalil haramnya onani yang biasa dinamakan ‘kebiasaan rahasia’ karena ia termasuk perbuatan selain dengan istri dan budak wanita.
Sifat ke enam:  ﴿ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَٰنَٰتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَٰعُونَ Amanah adalah sesuatu yang diamanahkan kepadanya berupa ucapan, perbuatan dan benda/barang. Siapa yang menceritakan kepadamu dengan rahasia, berarti ia telah memberi amanah kepadamu. Dan siapa yang melakukan di sisimu sesuatu yang dia tidak suka dilihat, berarti ia telah memberi amanah kepadamu. Siapa yang menyerahkan kepadamu sesuatu dari hartanya untuk dijaga berarti ia telah memberi amanah kepadamu. Dan janji yaitu sesuatu manusia harus melakukannya untuk selainnya, seperti nazar karena Allah subhanahu wa ta’ala dan perjanjian yang terjadi di antara manusia. Penghuni surga berdiri tegak menjaga amanah dan janji yang ada di antara mereka dan di antara Allah subhanahu wa ta’ala, dan yang ada di antara mereka dan sesama manusia. Termasuk dalam hal itu melaksanakan akad dan syarat yang  dibolehkan padanya.
Sifat ke tujuh:   ﴿ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمۡ يُحَافِظُونَ senantiasa menjaganya dari tersia-sia dan kelalaian. Dan hal itu dengan menunaikannya di dalam waktunya menurut cara yang sempurna dengan segala syarat, rukun dan wajibna. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan beberapa sifat yang sangat banyak di dalam al-Qur`an untuk penghuni surga selain yang kami kutip di sini. Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan hal itu agar orang yang ingin masuk kepadanya bersifat denganya. Dan dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak sekali tentang hal itu.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( من سلك طريقا يلتمس فيه علما سَهَّلَ الله له به طريقا إلى الجنة ))           [ أخرجه مسلم ]
“Barangsiapa yang melewati satu lorong untuk mencari ilmu berarti Allah subhanahu wa ta’ala telah memudahkan baginya satu jalan menuju surga.”HR. Muslim. ([1]))
Dan darinya pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا ويرفع به الدرجات  " قالوا: بلى يا رسول الله. قال: " إسباغ الوضوء على المكاره وكثرة الْخُطَا إلى المساجد وانتظار الصلاة بعد الصلاة )) [ أخرجه مسلم ]
Maukah kutunjukkan kepadamu sesuatu yang dengannya menghapuskan kesalahan dan meninggikan derajat? Mereka menjawab: Tentu, ya Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Menyempurnakan wudhu di atas kesusahan dan memperbanyak langkah ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat.’HR. Muslim. ([2])
Dan baginya dari Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((منكم من أحد يتوضأ فيسبغ الوضوء ثم يقول: أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله إلا فُتِحَت له أبواب الجنة الثمانية يدخل من أيها شاء)) [ أخرجه مسلم ]
Tidak ada seseorang darimu yang berwudhu lalu menyempurnakan wudhu,  kemudian ia membaca: ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya’, kecuali dibukakan baginya pintu-pintu surga, ia masuk dari manapun yang dia kehendaki.’ HR. Muslim. ([3])
Dan dari Umar radhiyallahu ‘anhu pula, pada orang yang mengikuti muadzin dari hatinya niscaya ia masuk surga.HR. Muslim. ([4])Dan dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من بنى مسجدا يبتغي به وجه الله بنى الله له بيتا في الجنة)) [رواه البخاري ومسلم ]
Barangsiapa yang membangun masjid karena mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala niscaya Allah subhanahu wa ta’ala membangunkan rumah untuknya di surga.’Muttafaqun ‘alaih. ([5])
Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((خمس صلوات كتبهن الله على العباد  فمن جاء بهن ولم يضيع منهن شيئا استخفافا بحقهن كان له عند الله عهد أن يدخله الجنة)) [ أخرجه أحمد وأبو داود والنسائي ]
« Shalat lima waktu yang diwajibkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba, barangsiapa yang melaksanakannya dan tidak menyia-nyiakan sedikit pun dariya karena meremehkan haknya, niscaya janji untuknya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala bahwa Dia memasukkan dia ke dalam surga. »HR. Ahmad, Abu Daud dan an-Nasa`i. ([6])  Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal yang memasukkannya ke surga, beliau menjawab :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((عليك بكثرة السجود فإنك لا تسجد لله سجدة إلا رفعك الله بها درجة وحط عنك بها خطيئة)) [ أخرجه مسلم ]
Kamu harus memperbanyak sujud, maka sesungguhnya engkau tidak melakukan satu sujud karena Allah subhanahu wa ta’ala kecuali Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat derajatmu dan menggugurkan kesalahan darimu.’HR. Muslim. ([7]) Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ما من عبد مسلم يصلي لله تعالى في كل يوم ثنتي عشرة ركعة تطوعا غير فريضة إلا بنى الله له بيتا في الجنة  )) [ أخرجه مسلم ]
Tidak ada seorang muslim yang shalat sunnah karena Allah subhanahu wa ta’ala setiap hari dua belas rekaat yang bukan fardhu, kecuali Allah subhanahu wa ta’ala membangun surga untuknya di surga.”HR. Muslim ([8]).
Ia adalah empat rekaat sebelum dzuhur dan dua rekaat sesudahnya, dua rekaat setelah Maghrib, dua rekaat setelah Isya, dan dua rekaat sebelum Subuh. Dari Mu’adz bin Jabar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ceritakannlah kepadaku amal yang memasukkan aku ke surga dan menjauhkan aku dari neraka.’Nabibersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لقد سألت عن عظيم وإنه ليسير على من يسره الله عليه: تعبد الله ولا تشرك به شيئا  وتقيم الصلاة  وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت)) [ أخرجه  الترمذي وابن ماجة]
Sungguh engkau telah bertanya tentang yang agung, dan sesungguhnya ia mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah subhanahu wa ta’ala: engkau menyembah Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak menyekutukan sesuatu dengannya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan naik haji ke Baitullah. ([9]) Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن في الجنة بابا يقال له الريان يدخل منه الصائمون يوم القيامة لا يدخل منه أحد غيرهم   متفق عليه)) [ متفق عليه ]
“Sesungguhnya di dalam surga ada satu pintu yang dinamakan Rayyan, yang dimasuki oleh orang-orang yang puasa di hari dan tidak ada seorang pun yang memasukinya selain mereka.’Muttafaqun ‘alaih. ([10] Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة ))  [ متفق عليه ]
Satu umrah kepada umrah berikutnya merupakan kafarat di antara keduanya, dan haji mabrur tidak balasannya kecuali surga.Muttafaqun ‘alaih. ([11]) Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من كان له ثلاث بنات يؤويهن ويرحمهن ويكفلهن وجبت له الجنة البتة ". قيل: يا رسول الله فإن كانتا اثنتين قال: فرأى بعض القوم أن لو قال: واحدة لقال واحدة رواه أحمد وإسناده ضعيف)) [ متفق عليه ]
Barangsiapa yang mempunyai tiga orang putri yang dia mengurus, menyayangi dan menjamin mereka niscaya wajib baginya surga.’ Ada yang bertanya: Ya Rasulullah, jika hanya dua orang? Beliau menjawab: ‘Sekalipun hanya dua orang.’ Sebagian dari pendengar berpendapat bahwa jika seseorang bertanya: ‘Jika hanya satu? Tentu beliau bersabda: Sekalipun hanya satu orang. Diriwayatkan oleh Ahmad dan isnadnya lemah. ([12] Akan tetapi ada beberapa hadits penguat yang shahih, di antaranya hadits:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من ابْتُلِيَ من البنات بشيء فأحسنَ إليهم كُنَّ له سترا من النار)) [ أخرجه مسلم ]
Barangsiapa yang diberi cobaan lewat beberapa putri, lalu ia memperlakukan mereka dengan baik, niscaya mereka menjadi penutup dia dari neraka.HR. Muslim. Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga, beliau menjawab:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((تقوى الله وحسن الخلق))
Taqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Akhlak yang baik.’HR. at-Tirmizi. Sanadnya tidak terlalu kuat, namun matannya shahih. ([13]) Dan dari ‘Iyadh bin Hamar al-Majasyi’i radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أهل الجنة ثلاثة: ذو سلطان مُقْسِط متصدِّق موفق ورجل رحيم رقيق القلب لكل ذي قربى  ومسلم عفيف متعفِّف ذو عيال )) [ أخرجه مسلم ]
Penghuni surga ada tiga: Pemilik kekuasaan yang adil, bersedekah lagi benar, laki-laki yang penyayang, lembut hati bagi karib kerabat, dan seorang muslim menahan diri dari yang haram, tidak meminta-minta serta punya banyak tanggungan.”HR. Muslim dalam hadits yang panjang. ([14]) Diriwayatkan oleh Muslim dalam hadits yang panjang.
Inilah wahai saudaraku, sebagian dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan amal-amal penghuni surga yang sangat banyak bagi siapa yang ingin sampai kepadanya. Aku memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar memudahkan kami dan kamu jalannya dan meneguhkan kita di atasnya, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.





([1])  HR. Muslim 2699, at-Tirmidzi 2945, Abu Daud 2926, Ibnu Majah 225, Ahmad 2/252, dan ad-Darimi 344.
([2])  HR. Muslim 251, at-Tirmidzi 51, an-Nasa`i 143, Ahmad 2/303, dan Malik 386.
([3])  HR. Muslim 234, at-Tirmidzi 55, an-Nasa`i 148, Abu Daud 169, Ibnu Majah 270, dan Ahmad 4/146.
([4]) HR. Muslim 385 dan Abu Daud 527.
([5]) HR. Al-Bukhari 439, Muslim 533, at-Tirmidzi 318, Ibnu Majah 736, Ahmad 1/61, dan ad-Darimi 1391.
([6] ) HR. An-Nasa`i 461, Abu Daud 1420, Ibnu Majah 1401, Ahmad 5/316, Malik 270, dan ad-Darimi 1577. Baginya ada beberapa jalur yang saling memperkuat satu sama lain
([7] ) HR. Muslim 488, at-Tirmidzi 388, an-Nasa`i 1139, Ibnu Majah 1433, dan Ahmad 5/276.
) 8(  HR. At-Tirmidzi 2616, Ibnu Majah 3973, dan Ahmad 5/231.


([10])  HR.al-Bukhari 1797, Muslim 1152, at-Tirmidzi 765, an-Nasa`i 2237, Ibnu Majah 1640, Ahmad 5/333.
([11])  HR. Al-Bukhari 1683, Muslim 1349, at-Tirmidzi 933, an-Nasa`i 2926, Ibnu Majah 2888, Ahmad 2/246, Malik 776, dan ad-Darimi 1795.
([12]) HR. Ahmad 3/303.
([13])  HR. At-Tirmidzi 2004, Ibnu Majah 4246, Ahmad 2/442.
([14])  HR. Muslim 2865 dan Ahmad 4/162.
 



Poskan Komentar