Kamis, 15 Januari 2015

Bagaimanakah kita Memanfaatkan Waktu?



Bagaimanakah kita Memanfaatkan Waktu?

Segala puji hanya bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi yang tidak ada Nabi setelahnya, amma ba'du:
Barang siapa yang mengikuti kabar tentang umat manusia dan memperhatikan keadaan mereka, dia akan mengetahui bagaimana mereka menghabiskan waktu, bagaimana mereka menghabiskan umur, sehingga dia akan mengetahui bahwa kebanyakan dari mereka menyia-nyiakan waktunya, mereka terhindar dari kenikmatan dapat memanfaatkan umur dan menggunakan waktu, oleh karena itu kita melihat mereka menafkahkan waktunya dan menghabiskan umurnya dengan apa-apa yang tidak mendatangkan manfaat baginya.
Sesungguhnya seseorang ada yang merasa heran dari kesenangan mereka dengan berjalannya hari serta berbahagia dengan berlalunya ia, mereka lupa bahwa setiap menit bahkan setiap saat yang telah berlalu dari umurnya akan mendekatkan dirinya kepada kubur dan akherat, serta menjauhkannya dari dunia.
Sesungguhnya kita senang akan hari yang dilalui ***
setiap hari akan berlalu sebagian dari umur ini
Apabila waktu adalah kehidupan dan dia adalah umur yang sebenarnya bagi manusia, dan bahwa penjagaannya merupakan pokok setiap kebaikan, penyia-nyiaannya merupakan pokok setiap kejelekan, maka ia mengharuskan suatu renungan yang menjelaskan tentang berharganya waktu dalam kehidupan seorang Muslim, apa yang diwajibkan bagi seorang Muslim terhadap waktunya, apa saja penyebab-penyebab yang dapat membantu untuk menjaga waktu, dan dengan apa seorang Muslim dapat memanfaatkan waktunya.
Kita meminta kepada Allah Ta'ala agar menjadikan kita termasuk dari dia yang dipanjangkan umur dan baik amalannya, serta mengaruniai kita dengan kebaikan dalam memanfaatkan waktu, karena Dia-lah sebaik-baik yang diminta.

v Keberhargaan waktu dan kepentingannya:

Apabila manusia mengetahui keberhargaan sesuatu dan kepentingannya, niscaya dia akan menjaga dan menghindar dari menyia-nyiakan serta kehilangannya, dan ini merupakan suatu yang lazim. Oleh karena itu apabila seorang Muslim mengetahui akan keberhargaaan serta kepentingan waktunya, maka dia akan lebih berhati-hati dalam menjaga dan memanfaatkannya pada apa-apa yang mendekatkan dirinya kepada Allah, inilah Imam Ibnul Qoyyim yang menjelaskan akan hakekat ini dengan perkataannya: [waktu manusia adalah umur dia pada hakekatnya, ia adalah unsur kehidupan yang kekal dalam kenikmatan yang abadi, dan unsur kehidupannya yang sempit dalam adzab yang pedih, ia akan berlalu secepat berlalunya awan, barang siapa yang waktunya untuk Allah dan pada Allah, maka itulah kehidupan dan umurnya, dan yang selain itu tidak akan dihisab dari kehidupannya… apabila dia habiskan waktunya dalam kelalaian, kesia-siaan dan angan-angan yang batil, yang mana suatu terbaik yang dia habiskan adalah tidur dan kekosongan, maka kematian bagi orang ini akan lebih baik dari kehidupannya].
Ibnul Jauzi berkata: [setiap manusia berkewajiban untuk mengetahui kemuliaan zaman dan keberhargaan waktunya, sehingga tidak ada yang hilang darinya sedikitpun selain dari taqarrub, dia akan mengedepankan padanya apa yang terbaik dari perkataan dan perbuatan, hendaklah niatnya tegak berada pada kebaikan tanpa henti dengan apa yang tidak melemahkan badan dari beramal].
Al-Qur'an dan Sunnah sangat perhatian terhadap waktu dari berbagai sisi dan dengan gambaran yang bermacam-macam, Allah telah bersumpah dengannya pada awal beberapa surah dalam beberapa juz yang berbeda, seperti: demi malam, demi siang, demi waktu fajar, demi waktu dhuha, demi masa, sebagaimana firman-Nya: "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) (1) dan siang apabila terang benderang" [QS. Al-Lail: 1-2], "Demi fajar (1) dan malam yang sepuluh" [QS. Al-Fajr: 1-2], "Demi waktu matahari sepenggalahan naik (1) dan demi malam" [QS. Adh-Dhuha: 1-2], "Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian" [QS. Al-'Ashr: 1-2].
Sudah diketahui bahwasanya apabila Allah bersumpah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, maka ia menunjukkan kepentingan dan keagungannya, dan juga untuk menarik perhatian kepadanya serta menyadari akan besarnya manfaat yang ada padanya.
Sunnah datang untuk lebih menekankan tentang pentingnya waktu serta berharganya zaman, dan telah diulang-ulang bahwa manusia akan bertanggung jawab atasnya pada hari kiamat. Dari Muadz bin Jabal bahwa Rasulullah r bersabda:
" لا تزول قدم عبد يوم القيامة حتى يُسأل عن أربع خصال: عن عمره فيم أفناه, وعن شبابه فيم أبلاه, وعن ماله من أين اكتسبه وفيم أنفقه, وعن علمه ماذا عمل فيه "
"Tidak akan bergerak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya pada apa dia habiskan, tentang masa mudanya pada apa dia luangkan, tentang hartanya darimana dia dapatkan dan untuk apa dia pergunakan, dan tentang ilmunya apa yang dia amalkan padanya" [HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani]. Dan Nabi-pun mengabarkan bahwa waktu merupakan salah satu dari nikmat-nikmat Allah terhadap makhluk-Nya, seorang hamba diharuskan untuk mensyukuri nikmat yang dia dapat, dan jika tidak maka ia akan ditarik dan hilang darinya. Mensyukuri nikmat waktu dilakukan dengan menggunakannya pada keta'atan dan memanfaatkannya pada amal-amal saleh, bersabda Rasulullah r:
" نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس: الصحة والفراغ "
"Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang" [HR. Bukhori]

v Kewajiban seorang Muslim terhadap waktunya:

Selama untuk waktu terdapat seluruh kepentingan-kepentingan ini, bahkan sampai dianggap kalau ia adalah kehidupan yang sebenarnya, maka bagi setiap Muslim terdapat kewajiban-kewajiban sekitar waktunya, dia harus meraihnya dan meletakkan dihadapan matanya, diantara kewajiban-kewajiban tersebut:

  • Menjaga untuk selalu mengambil manfaat dari waktu:

Apabila manusia sangat perhatian sekali terhadap hartanya, sangat menjaga dan memanfaatkannya, dan dia mengetahui bahwa harta itu akan datang dan pergi, maka dia harus memperhatikan waktu dan memanfaatkan seluruhnya pada apa yang akan bermanfaat baginya dalam agama dan dunianya, karena apa yang akan kembali kepadanya dari kebaikan dan kebahagiaan akan lebih besar, terutama jika dia ketahui bahwa apa yang telah pergi darinya tidak akan kembali. Orang-orang saleh terdahulu selalu sangat perhatian sekali terhadap waktunya; karena mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui akan keberhargaannya, mereka menjaga dengan sebenarnya agar tidak melewati satu hari atau satu saat dari zaman walaupun sangat pendek, tanpa menambah padanya dengan ilmu yang bermanfaat, amal saleh, melawan hawa nafsu atau memberikan manfaat terhadap orang lain, berkata Al-Hasan: saya telah mendapati beberapa orang yang terhadap waktunya lebih sangat menjaga daripada kalian terhadap uang dirham dan dinar yang kalian miliki.

  • Pengaturan waktu:

Diantara kewajiban-kewajiban seorang Muslim terhadap waktunya adalah menyusunnya antara kewajiban-kewajiban dengan amalan-amalan yang berbeda, baik itu secara agama ataupun keduniawiaan, sehingga sebagiannya tidak mengalahkan sebagian yang lain, dan tidak pula yang tidak penting mengalahkan yang penting.
Berkata salah seorang saleh: [waktu seorang hamba ada empat dan tidak ada yang kelima darinya: nikmat, cobaan, ta'at dan maksiat. Untuk Allah atas anda, pada setiap waktu darinya anda harus menyisihkan untuk ibadah yang dilakukan dengan hak sebagai hukum Rububiyyah: barang siapa yang waktunya pada keta'atan, maka jalannya adalah persaksian karunia dari Allah yang telah memberinya hidayah dan memberinya kemudahan ketika melaksanakannya, barang siapa yang waktunya pada kenikmatan maka jalannya adalah bersyukur, barang siapa yang waktunya pada kemaksiatan maka jalannya adalah bertaubat dan meminta ampunan, dan barang siapa yang waktunya pada cobaan maka jalannya adalah keridhoan dan kesabaran].

  • Memanfaatkan waktu luangnya:

Waktu luang adalah kenikmatan yang dilalaikan oleh kebanyakan orang, sehingga kita melihat mereka dalam keadaan tidak menunaikan rasa syukurnya dan tidak pula menghargai dengan sebenarnya. Dari Ibnu Abbas: bahwa Nabi r bersabda:
" نعمتان من نعم الله مغبون فيهما كثير من الناس: الصحة والفراغ "
"Dua nikmat diantara nikmat-nikmat Allah yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang" [HR. Bukhori]. Dan Nabi-pun telah menganjurkan untuk memanfaatkannya dalam sabda beliau: "Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara…", beliau menyebutkan diantaranya: "waktu luangmu sebelum waktu sibukmu" [HR. Al-Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani]
          Berkata salah seorang saleh: [Kosongnya waktu dari pekerjaan merupakan kenikmatan yang sangat besar, sehingga apabila seorang hamba mengkufuri nikmat ini dengan membuka dirinya kepada pintu hawa nafsu dan terjerumus dalam syahwat maka Allah akan balikkan kenikmatan hatinya, serta mengambil apa yang dia dapati dari kebersihan hati].
          Seorang yang berakal harus menyibukkan waktu luangnya dengan kebaikan, dan jika tidak maka nikmat luangnya akan berbalik menjadi malapetaka terhadap dirinya, oleh karena itu dikatakan: [waktu luang bagi laki-laki adalah kelalaian dan bagi wanita adalah ghulmah" atau penggerak syahwat.

v  Beberapa penyebab yang membantu dalam menjaga waktu:

  • Muhasabah diri: ia termasuk perantara terpenting yang dapat membantu seorang Muslim untuk memanfaatkan waktunya dalam keta'atan kepada Allah. Ia adalah perbuatan orang-orang saleh dan jalannya mereka yang bertaqwa. Oleh karena itu hisablah diri anda wahai saudaraku yang Muslim dan tanyakanlah kepadanya apa yang telah ia lakukan pada hari yang telah dilaluinya? Pada apa ia nafkahkan waktunya? Dan pada apa saja anda habiskan jam-jam keseharian anda? Apakah bertambah padanya kebaikan ataukah bertambah padanya kejelekan?

  • Mendidik jiwa atas tingginya harapan: barang siapa yang membiasakan dirinya untuk selalu bergantung pada perkara-perkara yang tinggi dan menjauh dari kerendahannya, maka dia akan menjadi yang paling menjaga dalam memanfaatkan waktunya, barang siapa memiliki ketinggian harapan, maka dia tidak akan merasa puas dengan kekurangan, dan sesuai dengan ukurannya, harapan akan datang seperti apa yang diharapkannya:
Apabila tidak tinggi harapan seseorang, akan dilempar ia ***
dan merasa cukup dengan kerendahan dia yang rendah

  • Berteman dengan mereka yang menjaga waktunya: karena sesungguhnya berteman dan bergaul bersama mereka, serta berusaha mendekati dan mengikutinya akan dapat membantu anda dalam memanfaatkan waktu, juga menguatkan diri dalam memanfaatkan usia untuk keta'atan kepada Allah, semoga Allah merahmati dia yang berkata:
Jika anda berada pada suatu kaum maka gaulilah yang terbaiknya ***
janganlah berteman dengan yang rendah sehingga anda menjadi rendah
Tentang seseorang janganlah ditanyakan tapi tanya siapa temannya ***
karena setiap pendamping akan mencontoh pendampingnya

  • Mengetahui keadaan salaf bersama waktu: karena mengetahui keadaan mereka serta dengan membaca sejarahnya merupakan bantuan terbesar bagi seorang Muslim dalam memanfaatkan waktu, karena mereka adalah orang-orang terbaik yang memahami keberhargaan waktu dan kepentingan usia, mereka adalah contoh terbaik dalam memanfaatkan setiap menitnya dari umur dan memanfaatkan setiap nafasnya dalam keta'atan kepada Allah.

  • Meragamkan apa yang dipergunakan dari waktu: karena jiwa ini menurut tabiatnya adalah cepat bosan dan selalu menghindar dari segala sesuatu yang diulang-ulang. Peragaman pekerjaan akan membantu jiwa dalam memanfaatkan bagian yang sebesar mungkin dari waktu.

  • Memahami bahwa apa yang telah lalu dari waktu tidak akan kembali dan tidak pula bisa diganti: setiap hari yang telah dilampaui, setiap jam yang telah lewat dan setiap saat yang telah berlalu tidak mungkin untuk dapat dikembalikan, oleh karena itu tidak mungkin untuk dapat diganti, inilah arti dari perkataan Al-Hasan: [Tidak ada suatu haripun yang berlalu dari anak Adam kecuali ia akan berkata: wahai anak Adam, aku adalah hari baru dan akan menjadi saksi atas amalanmu, apabila telah pergi darimu aku tidak akan kembali lagi, maka hidangkanlah sesuai kehendakmu karena kamu akan mendapatkannya dihadapanmu, dan akhirkanlah sesuai kehendakmu karena ia tidak akan kembali kepadamu selamanya].

  • Mengingat kematian dan saat menjelang kematiaan: tatkala manusia meninggalkan dunia, menghadap akherat dan berharap jika seandainya dia diberi sedikit saja kesempatan untuk memperbaiki yang telah rusak dan meraih apa yang telah terlewat, akan tetapi betapa tidak mungkinnya hal tersebut, karena masa beramal telah habis dan telah tiba masa perhitungan dan pembalasan. Maka teringatnya seseorang akan ini menjadikannya perhatian terhadap pemanfaatan waktunya dalam keridhoan terhadap Allah Ta'ala.

  • Menjauh dari teman yang menyia-nyiakan waktu: sesungguhnya berteman dengan orang-orang malas serta bergaul bersama mereka yang suka membuang-buang waktu merupakan penyia-nyiaan terhadap kemampuan manusia dan waktu, sedangkan seseorang diukur dari teman dan pendampingnya, oleh karena itu berkata Abdullah bin Mas'ud: [Anggaplah seseorang itu dengan siapa dia berteman, karena seseorang akan berteman dengan yang semisalnya].

  • Mengingat akan pertanyaan tentang waktu pada hari kiamat: tatkala seseorang berdiri dihadapan Rabb-nya pada hari yang menakutkan tersebut, dia akan ditanya tentang waktu dan umurnya, bagaimana dia habiskan? Untuk apa dia pergunakan? Pada apa dia manfaatkan? Dan dengan apa dia penuhi? Bersabda Rasulullah r:
" لن تزول قدما عبد حتى يسأل عن خمس: عن عمره فيم أفناه؟ وعن شبابه فيم أبلاه؟... "
     "Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba hingga ditanya tentang lima perkara: tentang umurnya pada apa dia habiskan? Tentang masa mudanya pada apa dua luangkan?..." [HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani]. Mengingat terhadap permasalahan seperti ini akan membantu seorang Muslim dalam menjaga waktunya, serta memanfaatkannya pada apa yang Allah ridhoi.

v Diantara keadaan-keadaan salaf bersama waktu:

¨      Berkata Al-Hasan Al-Bashri: [Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya kamu ini hanya beberapa hari, apabila berlalu satu hari maka telah pergi sebagian darimu]. Dalam kesempatan lain berkata pula: [Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya siangmu merupakan tamu untukmu, oleh karena itu berbuat baiklah kepadanya, karena apabila kamu berbuat baik kepadanya, maka ia akan pergi dengan memujimu, sedangkan jika kamu berbuat buruk kepadanya, ia akan pergi sambil mencelamu, begitu pula dengan malammu]. Pada saat lain dia berkata: [Dunia ini tiga hari: adapun kemarin, maka sesungguhnya ia telah pergi dengan apa yang ada padanya, adapun besok bisa jadi anda tidak akan mendapatkannya, sedangkan hari ini adalah untukmu, maka beramalah padanya].
¨      Berkata Ibnu Mas'ud: [Tidak ada penyesalan bagiku yang melebihi penyesalanku atas suatu hari yang mataharinya telah terbenam, umurku telah berkurang, namun amalanku tidak bertambah padanya].
¨      Berkata Ibnul Qoyyim: [Penyia-nyiaan terhadap waktu lebih berbahaya dari kematian, karena penyia-nyiaan waktu memutuskan hubungan antara anda dengan Allah dan akherat, sedangkan kematian memutuskan anda dari dunia dan penghuninya].
¨      Berkata As-Surri bin Al-Muflis: [Jika anda bersedih dari apa yang berkurang dari hartamu maka menangislah atas apa yang berkurang dari usiamu].

v Dengan apa kita dapat memanfaatkan waktu?

Sesungguhnya kesempatan-kesempatan untuk memanfaatkan waktu sangatlah banyak, bagi seorang Muslim hendaklah dia memilih darinya apa yang sesuai dan lebih pantas untuknya, diantaranya:
¨      Menghafal Kitab Allah dan mempelajarinya: ini adalah kesibukkan terbaik yang dapat dimanfaatkan dari waktunya oleh seorang Muslim, dan Nabi r telah memberi semangat untuk mempelajari Kitab Allah dalam sabdanya:
" خيركم من تعلم القرآن وعلّمه "  رواه البخاري
"Yang terbaik diantara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya" [HR. Bukhori]
¨      Menuntut ilmu: pada zaman dahulu para salafus sholeh lebih banyak menjaga untuk memanfaatkan waktunya dalam menuntut ilmu dan mempelajarinya; karena mereka mengetahui bahwa mereka membutuhkannya melebihi kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Memanfaatkan waktu dalam menuntut ilmu serta mempelajarinya memiliki beberapa gambaran, diantaranya: menghadiri ceramah-ceramah penting, mendengarkan kaset-kaset bermanfaat, membaca serta membeli buku-buku yang menghasilkan faedah.
¨      Berdzikir kepada Allah: tidak ada suatu amalanpun yang mencukupi segala waktu seperti dzikir, ia adalah kesempatan yang bermanfaat dan mudah, tidak membebani seorang Muslim baik dari segi harta maupun pengorbanan, dan telah berwasiat Nabi r kepada salah seorang sahabatnya seraya bersabda: "Hendaklah lidah kamu selalu basah oleh dzikir kepada Allah" [HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani]. Betapa indahnya jika hati seorang Muslim dimakmurkan oleh dzikir kepada Penciptanya, apabila berbicara maka dibarengi oleh dzikir kepada-Nya, dan jika bergerak karena perintah-Nya.
¨      Memperbanyak amalan sunnah: ia merupakan kesempatan penting untuk memanfaatkan waktu dalam keta'atan kepada Allah, juga merupakan perbuatan penting dalam mendidik jiwa dan mensucikannya, yang mana ia merupakan kesempatan untuk menggantikan kekurangan yang terjadi pada saat melaksanakan ibadah yang fardhu, dan yang lebih besar dari semua itu adalah bahwa ia merupakan penyebab untuk mendapatkan kecintaan Allah "Terus-menerus hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya" [HR. Bukhori].
¨      Berdakwah kepada Allah, Amar ma'ruf, Nahi munkar dan menasehati kaum Muslimin: semua ini adalah kesempatan-kesempatan berharga untuk memanfaatkan usia. Berdakwah kepada Allah termasuk kepentingan para Rasul dan risalah para Nabi, Allah Ta'ala telah berfirman:
" قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي "
"Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku" [QS. Yusuf: 108]. Jagalah wahai saudaraku untuk selalu memanfaatkan waktu anda untuk berdakwah, baik melalui ceramah, pembagian buku, kaset ataupun dengan mendakwahi keluarga, kerabat maupun tetangga.
¨      Mengunjungi kerabat dan bersilaturrahmi: ia merupakan penyebab masuknya surga, medapatkannya rahmat serta menambah umur dan melapangkan rejeki, bersabda Rasulullah r:
" من أحب أن يبسط له في رزقه, وينسأ له في أثره, فليصل رحمه " ( رواه البخاري )
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rejekinya dan diakhirkan ajalnya, maka hendaklah dia menyambung tali silaturrahminya" [HR. Bukhori].
¨      Memanfaatkan waktu kosong pada setiap harinya: seperti setelah shalat, antara adzan dan iqamah, sepertiga malam terakhir, pada saat mendengar adzan dan setelah shalat subuh sampai terbit matahari. Setiap waktu tersebut memiliki ibadah-ibadah utama yang dianjurkan oleh syari'at untuk dilakukan padanya agar seorang hamba bisa mendapatkan ganjaran yang besar dan pahala yang agung.
¨      Mempelajari segala sesuatu yang bermanfaat: seperti computer, berbagai jenis bahasa, mekanik, listrik, perkayuan dan lain sebagainya, dengan tujuan agar dia yang beragama Islam mendapat manfaat dan begitu pula dengan saudara-saudaranya..
Saudaraku Muslim, inilah beberapa kesempatan berharga, perantara yang banyak dan kesempatan beragam yang telah kami sebutkan untuk anda sebagai contohnya –sedangkan pintu kebaikan tidaklah terbatas- agar anda dapat memanfaatkan waktu padanya disamping kewajiban-kewajiban utama yang diharuskan atas anda.


v Rintangan yang membunuh waktu:

Disana terdapat beberapa rintangan dan kendala cukup banyak yang menyebabkan seorang Muslim menyia-nyiakan waktunya, bahkan hampir sampai menghabiskan seluruh umurnya jika dia tidak memahaminya dan berlepas diri darinya, diantara rintangan dan kendala-kendala ini adalah:
  • Kelalaian: ia merupakan penyakit berbahaya yang menjadi cobaan bagi kebanyakan kaum Muslimin, sampai mereka kehilangan perasaan yang memiliki perhatikan terhadap waktu, Al-Qur'an telah memperingati tentang kelalaian ini dengan peringatan yang keras, bahkan sampai menjadikan pelakunya sebagai kayu bakar neraka jahanam, Allah berfirman:
" وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ "
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai" [QS. Al-A'raaf: 179]
  • Berandai-andai: ia merupakan rintangan yang menghancurkan waktu dan membunuh usia, namun sangat disayangkan, kata "seandainya" telah menjadi ciri khas bagi kebanyakan kaum Muslimin dan menjadi kebiasaan bagi mereka.
Al-Hasan berkata: [Hati-hatilah anda dengan andai-andai, karena anda berada pada hari ini dan tidak sedang berada pada esok hari].
Hati-hatilah anda wahai saudara Muslimku dari berandai-andai, karena anda tidak bisa menjamin untuk bisa hidup sampai esok hari, dan jika anda dapat menjamin akan dapat hidup sampai esok hari, namun tidak dapat menjamin dari rintangan-rintangan yang seperti sakit mendadak, pekerjaan yang menghadang ataupun musibah yang datang. Ketahuilah bahwa setiap hari ada pekerjaan dan setiap waktu ada kewajiban-kewajibannya, tidak ada yang namanya waktu luang dalam kehidupan seorang Muslim, sebagaimana juga andai-andai dalam melaksanakan keta'atan akan menjadikan jiwa menjadi terbiasa untuk meninggalkannya, jadilah seperti yang dikatakan oleh seorang penya'ir"
Berbekalah ketakwaan karena kamu tidak tahu ***
apabila datang malam akankah hidup sampai subuh
Berapa banyak dari yang sehat meninggal tanpa sebab ***
dan berapa banyak dari yang sakit hidup lebih lama
Berapa banyak dari pemuda yang sore dan paginya aman ***
dan telah disulam kafannya sedang dia tidak ketahui
Oleh karena itu bersegeralah wahai saudaraku dengan memanfaatkan waktu dalam usiamu untuk ta'at kepada Allah, dan berhati-hatilah dari berandai-andai dan bermalas-malasan, berapa banyak di kuburan yang terbunuh oleh angan-angan. Andai-andai adalah pedang yang memotong seseorang dari pemanfaatan nafasnya dalam menta'ati Rabb-nya, berhati-hatilah untuk menjadi orang terbunuh dan korbannya.

Wasallallahu 'ala Nabiyyihi Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi wa sallam







Poskan Komentar