Senin, 19 Januari 2015

Faktor-faktor Pendorong Mengingat Kematian dan Zuhud Terhadap Dunia



Faktor-faktor Pendorong Mengingat Kematian dan Zuhud Terhadap Dunia


        Kematian bagi setiap manusia adalah sebuah kepastian yang tak mungkin dihindarkan. Berapapun panjangnya usia seseorang, bila saatnya tiba, malaikat maut pasti akan datang kepadanya di saat ajalnya sudah sampai. Namun, tetap saja sebagian manusia lupa terhadap sesuatu yang pasti seperti kematian ini, buktinya tidak ada persiapan untuk menghadapinya dan terus berlomba mengejar fatamorgana kenikmatan dunia yang tidak pernah berakhir. Mengingat mati adalah suatu kemestian bagi setiap muslim agar lebih giat beribadah dan tidak terbuai dengan segala kehidupan dunia dari dua sisinya, senang dan sedih, kaya dan miskin, bahagia dan derita. Selalu sabar dalam menghadapai berbagai cobaan hidup dan tidak terbuai dengan segala kenikmatan dunia, karena ia selalu ingat bahwa semua itu pasti akan ditinggalkannya bila saat tiba.
        Berikut ini adalah beberapa hal yang mengingatkan terhadap mati dan mendorong bersifat zuhud dalam dunia.
        Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah  RA , ia berkata, 'Nabi berziarah ke kubur ibunya, lalu beliau menangis dan membuat menangis orang-orang yang ada di sekitarnya, maka beliau bersabda:
اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِى أَنْ أَزُوْرَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِي فَزُوْرُوْا اْلقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

        "Aku meminta ijin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan untuknya, maka aku tidak diijinkan. Dan aku meminta ijin untuk ziarah ke kuburnya, maka Dia mengijinkan, maka ziarahlah ke kuburan, sesungguhnya ia mengingatkan mati."[1]
Dari Abdullah bin Mas'ud  RA , ia berkata, 'Sesungguhnya Rasulullah  SAW bersabda:
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِى الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ اْلآخِرَةَ
"Dahulu aku melarangmu ziarah kubur, maka sekarang ziarahlah, sesungguhnya ia membuat zuhud terhadap dunia dan mengingatkan akhirat."[2]
Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa salah satu pendorong agar selalu ingat terhadap kematian adalah melakukan ziarah kubur, karena hal itu sangat membantu bagi setiap orang agar selalu ingat terhadap mati dan tidak mungkin lagi kembali lagi ke dunia yang fana ini.
        Ziarah kubur bagi laki-laki adalah sunnah menurut kesepakatan para ulama dan diperselisihkan bagi wanita, dan pendapat yang shahih adalah haramnya ziarah bagi perempuan, karena kutukan bagi wanita yang ziarah kubur yang dijelaskan oleh Nabi  SAW. Wallahu A'lam.
        Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib  RA , bahwa dia pergi ke kuburan, tatkala sudah sampai ia berkata, 'Wahai para penghuni kubur, ceritakanlah kepada kami tentang kamu atau kami menceritakan kepadamu. Adapun berita orang yang sebelum kami: maka harta (yang dulu kamu kumpulkan) telah dibagi, wanita-wanita (yang dulu menjadi istrimu) telah menikah, dan tempat tinggal telah dihuni oleh kaum selain kamu.' Kemudian ia berkata, 'Demi Allah, jika mereka sanggup niscaya mereka berkata, 'Kami tidak melihat bekal yang lebih baik dari pada taqwa."
Sungguh indah ungkapan Abul 'Atahiyah dalam sebuah sya'ir:
        Sungguh mengherankan bagi manusia jika mereka berfikir -  menghisab diri mereka sendiri lagi melihat
        Mereka melewati dunia menuju negeri yang lain – sesungguhnya dunia bagi mereka hanyalah tempat menyeberang
        Tidak ada kebanggaan kecuali kebanggan orang yang taqwa – besok apabila padang mahsyar mengumpulkan mereka
        Sungguh agar manusia mengetahui bahwa taqwa - dan kebaikan adalah sebaik-baik simpanan
        Aku merasa heran terhadap manusia dalam kebanggaannya – sedang dia esok hari akan dimakamkan di dalam kuburnya
        Apakah perkara orang yang asal mulanya adalah setetes mani – dan akhirnya menjadi bangkai (kenapa ia berani) berbuat fasik
        Jadilah ia tidak memiliki apa-apa yang bisa diharapkan – dan tidak bisa menunda apa-apa yang ditakutkan
        Dan jadilah perkara kepada selainnya – dalam setiap yang diputuskan dan ditentukan. 

        Para ulama berkata: tidak ada yang paling berguna untuk hati selain ziarah kubur, terutama hati yang keras, maka orang yang memiliki hati yang keras harus mengobatinya dengan empat perkara, salah satunya adalah ziarah kubur ini :
        Pertama, menghentikan kebiasaan buruknya di masa lalu dengan cara menghadiri majelis-majelis ilmu, nasehat, dan zikir, mendengarkan ancaman dan anjuran, serta cerita orang-orang shalih. Sesungguhnya hal itu termasuk yang melembutkan hati.
        Kedua, ingat terhadap mati, maka ia memperbanyak ingat terhadap yang menghancurkan kenikmatan, meninggalkan jamaah, dan membuat anak-anak menjadi yatim piatu. Diriwayatkan bahwa seorang perempuan datang kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha mengadukan hatinya yang keras. Maka ia berkata, 'Perbanyaklah ingat mati, niscaya hatimu menjadi lembut.' Lalu ia melakukan dan hatinya menjadi lembut. Maka ia datang kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha untuk mengucapkan terima kasih kepadanya. Para ulama berkata: ingat terhadap mati menghentikan berbuat maksiat, melembutkan hati yang keras, menghilangkan kesenangan dunia, dan memudahkan segala musibah dunia.
        Ketiga, menyaksikan orang yang menjelang kematian (saat sakaratul maut). Sesungguhnya memperhatikan mayat dan menyaksikan saat sakaratul mautnya, membayangkan rupanya setelah matinya adalah yang memutuskan kenikmatannya dari jiwa, mengusir kesenangannya dari hati, dan menghalangi kelopak mata untuk tidur, serta menghalangi badan untuk beristirahat, mengbangkitkan semangat beramal, dan menambah bersungguh-sungguh dalam ibadah.
        Diriwayatkan bahwa al-Hasan al-Bashri menengok orang sakit, ternyata dia sedang sakaratul maut, lalu ia memperhatikan kesusahannya dan beratnya yang dialaminya. Lalu ia pulang kepada keluarganya dengan raut muka yang berbeda saat ia keluar rumah meninggalkan mereka, maka mereka bertanya kepadanya: 'Apakah engkau ingin makan semoga Allah  SWT memberi rahmat kepadamu.' Ia menjawab, 'Wahai keluargaku, ambilah makanan dan minumanmu, demi Allah, sesungguhnya aku telah melihat kematian, aku akan terus beribadah hingga bertemu dengan-Nya.'
        Inilah tiga resep yang sepantasnya bagi orang yang keras hatinya dan selalu berlumur dosa, agar meminta bantuan dengannya dan meminta tolong dengannya terhadap berbagai fitnah syetan dan penyesatannya. Jika hal itu bermanfaat maka itulah yang terbaik. Dan jika karat hati sudah terlalu besar dan pendorong berbuat dosa terlalu kuat, maka ziarah kubur adalah faktor penyembuh yang paling kuat, melebihi yang pertama, kedua, dan ketiga. Nabi  SAW bersabda:
لَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَةِ
"Kabar itu tidak seperti kenyataan.'[3]
Menyaksikan orang yang hampir meninggal dunia adalah saat-saat yang sangat menyentuh hati, namun mengambil pelajaran dengan orang yang sakaratul maut tidak bisa dilakukan setiap saat. Berbeda dengan ziarah kubur, adanya lebih cepat dan mengambil manfaat dengannya lebih pantas dan sangat pasti. Maka yang melakukan ziarah hendaknya disertai adab-adab dan menghadirkan hatinya dalam mendatanginya, jangan hanya berkeliling pemakaman tanpa makna, hal seperti itu tidak berbeda dengan binatang –kita berlindung kepada Allah SWT dari hal itu-. Tetapi hendaklah ia berniat karena menjunjung perintah Allah SWT dan bertujuan memperbaiki rusak hatinya, menghindari berjalan di atas kuburan dan duduk di atasnya bila memasuki pemakaman, melepas sendalnya, seperti disebutkan dalam beberapa hadits. Hendaklah ia juga memberi salam kepada para penghuni kubur dan berbicara kepada mereka seperti kepada orang yang masih hidup seraya membaca:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ
Semoga kesejahteraan tercurah kepadamu, wahai negeri orang-orang yang beriman.
Seperti itulah yang dibaca Rasulullah  SAW. Dan apabila ia telah sampai ke kubur seseorang yang dikenal dan ingin diziarahinya, ia membaca: 'Alaikas salaam. Sebagaimana diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam sunannya, sesungguhnya seorang laki-laki berkunjung kepada Rasulullah  SAW seraya berkata, 'Alaikas salaam.' Maka Nabi  SAW  bersabda, 'Janganlah engkau mengatakan: 'Alaikas salaam, karena 'alaikas salaam itu adalah penghormatan kepada mayit."[4]
        Hendaklah orang yang ziarah menghadapkan wajahnya kepada mayit, seperti semasa hidupnya. Kemudian ia mengambil pelajaran dengan orang yang telah berada di bawah tanah, terputus dari keluarga dan orang-orang yang dicintai. Setelah sebelumnya ia memimpin tentara, bersaing dengan teman dan handai taulan, dan mengumpulkan harta dan simpangan. Lalu kematian datang menjemputnya di saat yang tidak diduganya. Peziarah hendaknya merenungkan keadaan teman-teman dan saudara-saudaranya yang telah mencapai cita-cita dan mengumpulkan harta. Bagaimana terputus cita-cita mereka dan harta sudah tidak berguna lagi. Tanah sudah menghapus keindahan wajah mereka dan sendi-sendi tubuh terpisah-pisah di dalam kubur.
Wallahu A'lam.

المرجع: التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة للإمام القرطبي ، دار الحديث - القاهرة تحقيق عصام الدين الصبابطي، ط 1 -1424هـ
Dikutip dari kitab:
- at-Tadzkiran fi ahwalil mauta wa umuril akhirah (Peringatan tentang keadaan orang-orang yang mati dan keadaan akhirat), bab: maa yudzakkirul maut wa lil akhirat, dan yuzahhidu fid dunya (Sesuatu yang mengingatkan mati dan akhirat, serta membuat zuhud terhadap dunia).


[1]  HR. Muslim, kitab Jenazah, no. 108
[2] HR. Ibnu Majah, jilid 1/1571), dalam sanadnya ada Ayyub bin Hani, didha'ifkan oleh Ibnu Ma'in. hadits ini didha'ifkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah.
[3] Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Ahmad, al-Bazzar, ath-Thabrani, dan al-Hakim.
[4]  HR. at-Tirmidzi no. 2721 dan 2722, diriwayatkan juga oleh Abu Daud dalam sunannya dan an-Nasa`i dalam 'amalul yaumi wal lailah. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi.
Poskan Komentar