Rabu, 28 Januari 2015

JIHAD DI JALAN ALLAH



JIHAD DI JALAN ALLAH

      Jihad merupakan kewajiban bagi setiap muslim, baik dengan  harta benda (infaq), dengan jiwa (perang) atau dengan lisan dan tulisan yaitu mengajak jihad dan mempertahankanya. Jihad ada beberapa macam :
1.    Fardhu ain; yaitu berjuang melawan musuh yang menyerbu ke sebagian negara kaum muslim seperti jihad melawan kaum yahudi yang menduduki negara Palestina. Semua orang muslim yang mampu berdosa sampai mereka dapat mengeluarkan orang-orang yahudi dari negeri tersebut.
2.    Fardhu kifayah; yaitu jika sebagian telah memperjuangkannya, maka yang lain sudah tidak berkewjiban untuk melakukan perjuangan tersebut, yaitu berjuang menyebarkan dakwah Islam ke seluruh negara sehingga malaksanakan hukum Islam, dan barangsiapa yang masuk Islam serta berjalan di jalan Islam kemudian terbunuh sehingga tegak kalimat Allah,  maka jihad ini berjalan terus sampai hari kiamat.
Jika orang-orang Islam meningalkan jihad dan  tertarik oleh kehidupan dunia, pertanian dan perdagangan maka ia akan tertimpa kehinaan, sebagimana sabda Rasululloh r :

“jika anda jual beli ‘inah (seseorang menjual sesuatu dengan tempo dan menyerahkannya kepada pembeli. Kemudian ia membelinya kembali dari si pembeli tersebut sebelum lunas pembayarannya dengan harga yang lebih murah dan dibayar langsung) kamu berjalan di belakang ekor-ekor sapi (membajak di sawah) dan kamu puas dengan pertanian kemudian kamu tinggalkan jihad di jalan Allah,maka Allah menimpakan kepada kamu sekalian kehinaan dan tidak akan melepaskannya darimu sehingga kamu kembali kepada agamamu.” (riwayat Ahmad).

3.    Jihad terhadap pemimpin lslam, yaitu dengan memberikan nasihat kepada mereka dan pembantu mereka, sebagaimana sabda Rasululloh r :
“Agama adalah nasihat, kami bertanya, untuk, siapa wahai Rasululloh? Beliau menjawab : untuk Allah, kitabNya, Rasulnya, pemimpin-pemimpin Islam dan orang-orang muslim awam.” (riwayat Muslim).
Dan juga sabda beliau :
“Jihad yang paling mulia adalah menyampaikan kebenaran pada pemimpin yang zhalim.” (riwayat Abu Daud dan Turmudzi).

Adapun cara untuk menghindarkan diri dari penganiayaan pemimpin kita sendiri yaitu agar orang-orang Islam bertaubat kepada Tuhan, meluruskan akidah mereka, mendidik diri dan keluarga mereka atas dasar ajaran-ajaran Islam yang benar, sebagai pelaksanaan dari firman Allah :
] إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم [
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan mereka sendiri.” (Ar-Ra’d : 12).
     
Untuk itu salah seeorang da’i masa kini pernah mengatakan : “dirikanlah negara Islam dalam hatimu, mesti akan berdiri di atas bumimu.”
Dan juga harus memperbaiki fondasi bengunan yang didirikan, yaitu masyarakat. Allah berfirman :
]وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ[ (55) سورة النــور
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhainya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur : 55)

4.    Berjihad melawan orang-orang kafir, komunis dan penyerang dari kaum ahli kitab, baik dengan harta benda, jiwa dan lisan sebagaimana sabda Rasululloh r :
قال رسول  الله r جاهدوا المشركين بأموالكم وأنفسكم وألسنتكم. رواه أحمد
“Dan berjihadlah menghadapi orang-orang musyrik dengan harta bendamu, jiwamu dan lisanmu.” (riwayat Ahmad)

5.    Berjihad melawan orang-orang fasik dan pelaku maksiat dengan tangan, lisan dan hati, sebagaimana sabda Rasululloh r :
من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان. رواه مسلم.
“Barangsiapa melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan, jika tidak mungkin maka dengan lisan, jika tidak mungkin maka dengan hati, dan itulah selemah-lemah iman.” (riwayat Muslim).

6.    Berjihad malawan setan; dengan selalu menentang segala kamauannya dan tidak mengikuti godaannya. Allah berfirman :
]إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ[ (6) سورة فاطر
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah sebagai musuh (mu), karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir : 6).

7.    Berjihad melawan hawa nafsu; dengan mengendalikan hawa nafsu, membawanya kepada ketaatan kepada Allah dengan menghindari kemaksiatan-kemaksiatannya, Allah berfirman melalui Zulaihah yang mengaku telah membujuk Yusuf untuk berbuat dosa :
] وما أبرئ نفسي إن النفس لأمارة بالسوء إلا ما رحم ربي إن ربي غفور رحيم [
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesunguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (yusuf : 53).

Ada sebuah syair menuturkan :
وخالف النفس والشيطان واعصهما      وإن هما محضاك النصح فاتهم
“Musuh besarmu nafsu dan setan, bujuk-rayunya jangan kau hiraukan, tutur nasihatnya penuh kesesatan, I’tikad baiknya mesti kau ragukan.”
     
Ya Allah berilah kami taufiq untuk menjadi orang-orang yang berjihad dan beramal mengkuti Rasululloh r .


DI ANTARA SEBAB-SEBAB KEMENANGAN

      Pada waktu Umar bin Khattab mengirimkan utusan di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waaqash untuk menaklukkan Parsi, beliau menulis pesan yang isinya sebagai berikut :

1.    Takwa kepada Allah.
Aku perintahkan kepadamu dan semua tentara yang ikut bersamamu untuk bertakwa kepada Allah dalam keadaan bagaimanapun juga, sebab takwa adalah senjata yang paling ampuh untuk menaklukkan musuh serta siasat perang yang paling hebat.

2.    Meninggalkan segala bentuk perbuatan maksiat.
Aku perintahkan pula kepadamu dan orang-orang yang ikut bersamamu, agar menjaga diri dari perbuatan maksiat lebih cermat daripada menjaga serangan musuh, karena dosa-dosa tentara itu lebih menakutkan mereka sendiri daripada musuhnya. Andaikata mereka tidak berbuat maksiat pasti orang-orang Islam tidak mempunyai kekuatan sebab  jumlahnya, kekuataan serta perbekalan tidak sebanyak dan sekuat musuh mereka. Andaikata mereka sama-sama berbuat maksiat pasti musuh Islam lebih kuat. Seandainya kita tidak diberi kekuatan dengan takwa dan meninggalkan maksiat, pasti kita tidak dapat mengalahkan mereka.
Ketahuilah bahwasanya sewaktu kamu berangkat ke Parsi setiap dirimu diawasi oleh malaikat yang mengetahui segala perbutanmu. Hendaknya kamu malu kepada mereka. Dan janganlah berbuat maksiat di tengah-tengah kaum berjuang menegakkan agama Allah, begitu pula jangan beranggapan bahwa musuh kita lebih jelek daripada kita sehingga tidak mungkin mereka menguasai kita walaupun kita berbuat jelek. Karena banyak manusia yang dipimpin oleh orang yang lebih jelek daripada mereka, seperti bani Israil, karena perbuatan maksiat akhirnya mereka dipimpin oleh orang kafir majusi.

3.    Mohon pertolongan kepada Allah.
Memohonlah kamu kepada Allah untuk kemenangan serta selamat daripada godaan maksiat sebagaimana kamu memohon kemenangan terhadap musuhmu dan  mohonlah kepada Allah baik untuk kita maupun untuk kamu sendiri. (ibnu Katsir, Al-Bidayah Wan Nihayah).
Poskan Komentar