Jumat, 09 Januari 2015

Kebersihan Hati



Kebersihan Hati


  Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurah atas nabi kita Muhammad, keluarga beserta shahabat beliau.
  Ummat Islam adalah ummat yang murni dan suci dalam perkara akidah, ibadah dan muamalah. Nabi shallallahu'alaihiwasallam melarang hal-hal yang dapat membangkitkan amarah serta menimbulkan permusuhan dan kebencian. Beliau bersabda: "Janganlah kalian saling bermusuhan, saling iri, saling membelakangi, dan janganlah kalian saling memutuskan hubungan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari".  (H.R Muslim)

  Beliau juga menganjurkan untuk saling mencintai dan berkasih sayang. "Demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai ... (H.R Muslim)

  Ketika Nabi shallallahu'alaihiwasallam ditanya manusia yang paling utama, beliau menjawab: "Setiap orang yang makhmul al-qalb dan shaduq al-lisan (sangat benar ucapannya). Para shahabat lalu bertanya: Kami mengetahui tentang Shaduqul lisan, akan tetapi apa maksud dari makhmul al-qalb ? Maka beliau menjawab: Yaitu orang yang bertakwa lagi bersih (jiwanya), tidak mempunyai dosa, kedzaliman, dendam, maupun rasa iri dengki". (H.R Ibnu Majah).

  Jiwa yang bersih merupakan salah satu nikmat yang dianugrahkan kepada ahli surga ketika mereka masuk ke dalamnya.
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَاناً عَلَى سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ  
"Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan"   (Q.S Al-Hijr 47)

  Kebersihan jiwa memberikan ketenangan di dunia dan keberuntungan di akherat serta merupakan salah satu sebab masuk ke dalam surga. Ibnu Hazm menceritakan keadaan orang-orang yang dengki dan bermusuhan, yang hati mereka dalam keadaan sakit: "Aku memperhatikan kebanyakan manusia – kecuali yang Allah pelihara dan jumlah mereka sedikit – menyegerakan kesengsaraan, gundah gulana serta keletihan bagi diri mereka di dunia, lalu memikul dosa yang besar di akherat sehingga menyebabkan (mereka) masuk ke dalam neraka dengan sesuatu hal yang sama sekali tidak mendatangkan manfaat, seperti menginginkan harga barang yang melambung yang menyengsarakan masyarakat, dan mereka yang tidak berdosa. Begitu pula mengangan-angankan datangnya musibah yang dahsyat terhadap orang yang ia benci. Padahal mereka sadar kalau keinginan buruk tadi tidak akan menyegerakan (kemudharatan) sedikitpun.

  Seandainya niat mereka bersih dan mereka perbaiki, tentulah ketenangan akan mereka dapatkan dan mereka menyibukkan diri untuk kebaikan urusan mereka. Pahala yang besar juga akan mereka raih di akherat dengan tanpa mengakhirkan atau menghalangi sedikitpun dari apa yang mereka inginkan. Maka adakah tipuan yang lebih besar keadaannya dari apa yang telah kami peringatkan? Dan kebahagian mana yang lebih besar dari apa yang telah kita anjurkan ?

  Banyak orang pada saat ini yang tidak memakan barang yang haram atau memandang pada apa yang diharamkan, akan tetapi ia membiarkan hatinya bergelimang dalam rasa dendam dan kedengkian. Berkata Fath bin Syakhraf: Abdullah al-Antaki berkata padaku: "Wahai Khurasani: Kunci segala perkara itu hanya ada empat, tidak lebih: Pandanganmu, lisanmu, hatimu dan nafsumu. Maka perhatikanlah matamu, jangan sampai memandang pada apa yang tidak halal, dan perhatikan lisanmu, jangan mengucapkan sesuatu yang Allah mengetahui apa yang tidak bersesuaian dengannya dalam hatimu. Perhatikan juga hatimu, jangan sampai tersimpan rasa dendam dan dengki pada salah seorang dari kaum muslimin. Perhatikan pula nafsumu, jangan sampai menginginkan sedikitpun dari kejahatan. Jika dirimu tidak memiliki empat hal di atas maka tuangkanlah abu di atas kepalamu, karena engkau telah celaka".

  Sebagian orang menyangka bahwa tanda hati yang selamat itu adalah gampang tertipu dan ditertawakan, ini adalah tidak benar. Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: "Perbedaan antara jiwa yang selamat dan lemah fikiran serta lalai adalah bahwa jiwa yang selamat tidak menginginkan kejahatan setelah mengetahuinya, sehingga hatinya terbebas dari keinginan melakukannya dan bukan mengetahui kejahatan lalu melakukannya. Ini berbeda dengan orang yang bodoh dan lalai yang mana ia jahil dan sedikit pengetahuannya. Hal seperti ini tidak terpuji, karena merupakan suatu kekurangan. Manusia memuji orang semacam ini, karena mereka selamat darinya. Merupakan suatu kesempurnaan bila seseorang mengetahui segala bentuk kejahatan dan  selamat dari keinginan melakukannya. Berkata Umar bin Khattab r.a: "Aku bukan  seorang penipu dan tidak bisa dikelabui oleh penipu". Beliau lebih arif dari tipuan dan lebih wara' dari perbuatan menipu.

  Jiwa yang selamat adalah salah satu sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Anas bin Malik r.a menceritakan: "Suatu hari kami duduk di majlis Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam, lalu beliau bersabda: "Sebentar lagi akan akan muncul dihadapan kalian salah satu calon penghuni surga. Lalu datanglah salah seorang dari kaum Ansar yang janggutnya meneteskan air dari bekas wudhu, sedang tangan kirinya memegang kedua terompahnya. Keesokan harinya nabi saw. mengabarkan lagi, dan muncullah orang tadi. Pada hari yang ketiga, nabi saw. mengabarkan lagi, dan muncullah orang tadi, sebagaimana keadaan datangnya pada kali yang pertama. Ketika nabi saw. berdiri, Abdullah bin Al-'Amr bin Al-'Ash r.a membuntuti orang tadi kemudian mengatakan: "Aku berselisih dengan ayahku, dan aku bersumpah untuk tidak menemuinya dalam waktu tiga hari. Jika engkau mengizinkan aku untuk menginap (di rumahmu) sampai berlalu tiga hari". Maka orang tersebut menjawab: "Baiklah".

Berkata Anas r.a : Abdullah menceritakan bahwa ia bermalam di rumah orang tadi selama tiga malam, akan tetapi ia tidak mendapatinya shalat malam. Hanya saja apabila ia terbangun dari tidurnya, ia berdzikir dan mengagungkan Allah sampai Shalat Fajar. Abdullah melanjutkan, namun aku tidak pernah mendengarnya mengatakan sesuatu kecuali kebaikan. Setelah tiga hari berlalu, dan hampir saja aku meremehkan amalannya, aku katakan padanya: "Wahai Abdullah, sebenarnya tidak terjadi apa-apa antara aku dan ayahku, tetapi aku mendengar rasulullah saw. bersabda tentang engkau sebanyak tiga kali: "Akan hadir pada kalian seorang penghuni surga", lalu engkau muncul pada ketiga saat tersebut. Lantas aku ingin untuk bermalam di rumahmu untuk menyaksikan lebih dekat amalanmu, sehingga aku bisa meneladaninya. Tetapi aku tidak mendapatimu banyak beramal. Amalan apakah gerangan yang menyampaikan pada apa yang disabdakan nabi saw. ? Lalu orang tersebut menjawab: "Tidak ada selain yang engkau lihat sendiri, hanya saja aku tidak pernah merasa iri dengki pada seseorang yang diberi kebaikan oleh Allah. Maka Abdullah berkata: "Inilah yang menyampaikan engkau, dan inilah yang tidak mampu kami lakukan"  (H.R Ahmad)

Faktor pendorong timbulnya sikap saling membenci:

1.   Mentaati setan.
  Allah berfirman:
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإِنْسَانِ عَدُوّاً مُّبِيناً
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia"  (Q.S Al-Israa 53)   
Rasulullah saw. bersabda: "Setan berputus asa untuk disembah di jazirah arab, tetapi ia berusaha menaburkan benih permusuhan diantara mereka"  (H.R Muslim)

2. Marah: adalah kunci setiap kejahatan. Nabi saw. telah berpesan pada seseorang untuk menjauhi sikap marah dengan sabda beliau: "Janganlah engkau marah". Beliau mengulanginya berkali-kali.   (H.R Bukhari).
Marah akan menjurus pada sikap mengejek orang lain, mengurangi hak serta mengganggu mereka yang pada akhirnya menyebabkan permusuhan dan perpecahan.

3. Namimah: Adalah salah satu pemicu percekcokan dan pintu terputusnya hubungan, serta jalan timbulnya fitnah diantara manusia dan faktor perusak hati-hati mereka. Allah Ta'ala mencela mereka yang memiliki sifat tercela ini dengan firman-Nya:
هَمَّازٍ مَّشَّاء بِنَمِيمٍ
"Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah"   (Q.S Al Qalam 11). 
Nabi bersabda: "Tukang adu domba itu tidak akan masuk surga".

4. Hasad: Yaitu mengaharapkan hilangnya nikmat dari seseorang. Sifat ini merupakan gangguan terhadap kaum muslimin yang Allah dan Rasul-Nya telah melarangnya dengan sabda beliau saw.: "Jauhilah sikap hasad, karena ia akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar" (H.R Abu Dawud). Hasad juga melahirkan ghibah dan namimah serta tuduhan yang tidak benar pada kaum muslimin, begitupula kedzaliman dan kesombongan.

5. Berlomba-lomba dalam hal duniawi: Terutama di zaman ini, sehingga hati menjadi gelap. Ada yang  merasa dendam karena gaji kawannya lebih tinggi. Seorang wanita iri karena saudara perempuannya mendapat  pekerjaan yang mapan. Padahal perkaranya adalah lebih rendah dari itu, dan semuanya akan berlalu.

Dunia tidak lain ibarat bangkai yang menipu      
 Dikerumuni sekawanan anjing yang hendak menariknya
Jika engkau menjauhinya, engkau akan selamat 
 Tapi jika engkau menariknya, anjing-anjing akan berebutan denganmu

6. Ingin popularitas dan jabatan: Sebuah penyakit berbahaya dan sulit terobati. Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berkata: "Seseorang itu tidak akan cinta jabatan melainkan ia akan bersikap hasud, memusuhi, dan mencari-cari kesalahan manusia serta tidak suka bila ada orang lain yang disebut kebaikannya". Ucapan beliau ini memang nyata di kalangan para pegawai dan mereka yang bekerja.

7. Banyak canda : Berlebihan dalam hal ini akan menyebabkan permusuhan dan menyeret pada perbuatan tercela. Ibarat garam, sedikitnya pada makanan adalah cukup, adapun jika terlalu banyak, bisa merusak dan membinasakan.
(Di samping faktor-faktor di atas) masih ada sebab-sebab lainnya. Seorang muslim di tuntut untuk membersihkan dirinya dan menjauhi sikap iri dengki dan dendam.


Kiat mewujudkan kebersihan jiwa:

1. Ikhlas : Shahabat Zaid bi Tsabit r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Ada tiga hal yang tidak akan menjadikan hati seorang mukmin dengki: Ikhlas dalam beramal, menasehati para pemimpin, dan berpegang pada jama'ah kaum muslimin ……  (H.R Ahmad dan Ibnu Majah)
Sudah sewajarnya orang yang mengikhlaskan agama-Nya untuk Allah, tidak akan muncul dalam dirinya melainkan rasa cinta yang murni pada kaum muslimin. Jika kaum muslimin mendapatkan kebaikan baik dalam hal duniawi maupun akherat, ia bahagia dan sebaliknya jika mereka di timpa musibah, ia bersedih.

2. Keridhaan seorang hamba pada Tuhannya:
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang masalah ridha: "Keridhaan membuka pintu keselamatan pada seorang hamba". Hatinya akan terbebas dari sikap menipu, dan iri dengki. Tidak akan selamat dari adzab Allah kecuali siapa yang datang pada Allah dengan hati yang selamat. Adalah hal yang mustahil selamatnya hati jika masih ternodai oleh rasa marah dan tidak ridha. Setiap kali keridhaan seorang hamba meningkat, maka hatinya akan lebih selamat. Kekejian, iri dengki dan menipu adalah senada dengan sifat tidak ridha. Sedang hati yang selamat, kebaikan dan nasehatnya adalah sejalan dengan ridha. Demikian pula hasad yang merupakan buah dari kemarahan. Selamatnya hati dari rasa hasad adalah buah dari keridhaan.

3. Membaca Al-Qur'an dan mentadabburinya:
Adalah obat segala penyakit. Orang yang diharamkan (kebaikan darinya) adalah siapa yang tidak berobat dengan Al-Qur'an. Allah  berfirman:
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاء
 "Al-Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman"  (Q.S Fushshilat: 44)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian"  (Q.S Al-Israa': 82)

Ibnul Qayyim berkata: "Pendapat yang benar adalah bahwa ""مِنْ disini adalah untuk menjelaskan keseluruhan dari Al-Qur'an dan bukan sebagiannya. Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ
"Hai manusia,, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada"    (Q.S Yunus: 57)

Al-Qur'an adalah obat yang sempurna dari segala penyakit hati dan badan serta penyakit duniawi maupun ukhrawi.

4. Mengingat Hari Perhitungan dan pembalasan: Mereka yang menyakiti kaum muslimin dengan kekejian pada dirinya dan keburukan niatnya berupa rasa iri dengki, menggunjing, adu domba dan melecehkan dll.

5. Doa: Seorang hamba senantiasa berdoa pada Allah agar dijadikan hatinya sebagai hati yang selamat terhadap kaum muslimin dan juga mendoakan mereka. Inilah kebiasaan orang-orang yang sholeh. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang"   (Q.S Al Hasyr: 10)

6. Bersedekah: Sedekah dapat mensucikan hati dan membersihkan jiwa. Karena itulah Allah berfirman tentang nabi-Nya:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا  
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka"
(Q.S At Taubah:103)

 Nabi bersabda: "Obatilah orang-orang yang sakit diantara kalian dengan bersedekah"  (Shahih Al-Jami').
Orang sakit yang paling layak untuk diobati adalah orang yang sakit hatinya. Dan hati yang paling layak untuk diobati adalah hati yang ada pada diri anda.

7. Ingatlah bahwa mereka yang akan terkena racun dan panahmu adalah seorang muslim, bukan orang yahudi atau nasrani. Yang itu diikat oleh ikatan Islam. Kalau demikian halnya, mengapa engkau menyakitinya.

8. Menyebarkan salam
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu hal yang jika kalian melakukannya, kalian akan saling mencintai ? Sebarkanlah salam diantara kalian"  (H.R Muslim).
Ibnu 'Abdil Barr berkata: "Dalam hadits ini terdapat keutaman salam, karena dengan hal itu akan menghilangkan kebencian dan melahirkan rasa cinta".

9. Tidak banyak bertanya dan suka menyelidiki hal ihwal orang lain
Nabi bersabda: "Termasuk kebagusan keislaman seseorang, yaitu bila ia meninggalkan perkara yang bukan urusannya"   (H.R Tirmidzi)

10. Menyukai kebaikan yang ada pada kaum muslimin
Nabi bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, seorang hamba tidak akan beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri"  (H.R  Bukhari dan Muslim)

11. Tidak mendengarkan gunjingan dan adu domba. Dengan demikian hati seseorang akan terjaga kesehatannya. Nabi shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Janganlah seseorang menyampaikan sesuatu padaku tentang salah satu dari shahabatku, karena aku ingin menemui kalian dengan hati bersih"  (H.R Ahmad).  Banyak orang yang mengatakan sepatah dua patah kata yang membikin hati terluka, terutama di kalangan wanita, ibu rumah tangga, dll.

12. Senantiasa memperbaiki hati
Nabi bersabda: "Ketauhilah bahwa dalam tubuh terdapat sepotong daging yang jika baik, akan baiklah seluruh jasad. Dan jika rusak, maka akan rusaklah seluruh tubuh. Ketauhilah bahwa ia adalah hati". (H.R Bukhari dan Muslim).

13. Mendamaikan orang yang bersengketa
Allah berfirman:
 فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ
"Sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu  (H.R Al-Anfal: 1)  Ibnu 'Abbas berkata: "Ini adalah pengharaman dari Allah dan Rasul-Nya agar mereka bertakwa dan mendamaikan orang yang bersengketa".
Nabi shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang lebih baik dari puasa, shalat dan sedekah? Para shahabat menjawab: "Tentu" Maka beliau bersabda: "Mendamaikan orang yang bersengketa". (H.R Abu Dawud)

  Semoga Allah menjadikan hati kita sebagai hati yang selamat, yang tidak menyimpan rasa iri, dengki pada kaum muslimin. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah pada nabi kita Muhammad, keluarga serta para shahabat beliau.
Poskan Komentar