Rabu, 14 Januari 2015

SEHINGGA ANDA MENJADI SURI TAULADAN



SEHINGGA ANDA MENJADI SURI TAULADAN

Agama Islam adalah agama ketauladanan yang agung, dan suri tauladan yang paling agung di dalam Islam, mereka adalah para Nabi 'Alaihimus Salam, dan sementara penutup para Nabi adalah Nabi kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Demikian pula dengan para sahabatnya Ridhwanullah 'Alaihim kemudian bagi siapa saja yang mengikuti mereka secara ihsan.
Dan eksplorasi perkara ketauladanan ini sejatinya tampak pada yang berikut ini :
1.   Eksplorasi al-Qur'an al-Karim pada sejumlah kisah nabi-nabi 'Alaihimus Salam dan sirah mereka. Dan demikian pula (pada) sirah yang tercinta Muhammad bin Abdullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dan dari usaha yang dilakukan para ulama dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut beserta penjelasannya.
2.   Berbagai hadits dan kitab yang bertajuk sirah dan karakter kenabian.
3.   Memperhatikan ulasan-ulasan berbagai hadits dan penekanan terhadap aspek rahasia-rahasia ketauladanan yang baik di dalam pesona sirah.
4.   Buku-buku sirah dan biografi para tokoh.



Kenapa harus keteladanan ?
Urgensi eksistensi ketauladanan yang baik ini, tercermin sebagai berikut:
Ø Bersamaan munculnya banyak fenomena ketauladanan yang buruk (al-qudwah al-saiyi'ah), menjadi keharusan bagi kita untuk serius menghadirkan contoh-contoh ketauladanan yang baik (al-qudwah al-hasanah).
Ø Al-qudwah al-hasanah yang terbingkai oleh sifat-sifat keutamaan yang tinggi ini mampu memuaskan pihak lain bahwa untuk mencapai sifat-sifat yang mulia ini merupakan hal yang dimungkinkan (bukan utopia belaka) oleh siapapun, dan bahwa amal (ketauladanan) ini masih dalam kapasitas yang dapat dijangkau manusia umumnya. Dan yang terpenting adalah bukti perilaku jauh lebih menghujam daripada bukti ucapan.
Ø Tingkat daya paham manusia dalam mencerna ucapan berbeda-beda, namun semuanya sama dalam aspek penglihatan kasat mata. Sebagai contoh nyata dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma bertutur, “Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengambil sebuah cincin dari emas, maka orang-orang mengambil (pula) cincin-cincin dari emas. Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : 'Sesungguhnya aku telah mengenakan cincin dari emas -maka beliau menanggalkannya dan beliau bersabda- Sesungguhnya aku tidak akan mengenakannya selama-lamanya.' Maka orang-orang (pun turut) menanggalkan cincin-cincin mereka. HR. Bukhari dan Muslim.”

Penguat-penguat ketauladanan yang baik (al-qudwah al-hasanah) :
  1. Keiklashan, yaitu seorang muslim meniatkan seluruh tutur kata dan tindakannya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dan untuk mengantarkannya kepada surga-Nya. Dan ini merupakan faktor pendorong yang besar dari sekian aspek pendorong lahirnya ketauladanan yang baik. Setidaknya ia merupakan pondasi dan esensi keteladanan. Dengan demikian seluruh faktor pendorong lainnya dibangun di atasnya.
  2. Amal shaleh yang selaras dengan prinsip al-ittiba'. Dan bukanlah al-qudwah al-hasanah namanya bagi orang yang tindakannya menyelisihi Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dan bukanlah al-qudwah al-hasanah namanya bagi orang yang berbuat bid'ah di dalam agama Allah yang sebenarnya bukanlah termasuk yang disyariatkan, dan bukanlah al-qudwah al-hasanah namanya bagi orang yang terang-terangan berbuat kemaksiatan dan amalan buruk lainnya.
  3. Keselarasan sikap atas ucapan. Bahwa keduanya selalu bergandengan. Dan selama-lamanya bukanlah al-qudwah al-hasanah namanya, bagi orang yang sikapnya berlawanan dengan penuturannya, dan tindakannya dengan perkataannya. Allah Ta`ala berfirman yang artinya:
Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?” (QS. Ash-Shaff (61) : 2)
  1. Tingginya kemauan, maka tingginya kemauan merupakan instrumen pendorong dalam menguatkan ketauladan yang baik, dan al-qudwah al-hasanah adalah satu bentuk keistimewaan seseorang. Karenanya bagi sang empunya, hendaknya ia memiliki kemauan yang tinggi dan tekad yang kuat.
Menghiasi diri dengan akhlaq-akhlaq terpuji, dan khususnya untuk pokok-pokok akhlaq seperti kesantunan, kesabaran, kejujuran, keberanian, komitmen, kebijaksanaan, keadilan dan lain sebagainya.
Poskan Komentar