Rabu, 14 Januari 2015

DAKWAH PENYATUAN AGAMA : SEBUAH UPAYA MEMBATALKAN KE-ISLAMAN



DAKWAH PENYATUAN AGAMA : SEBUAH UPAYA MEMBATALKAN KE-ISLAMAN
          Alhamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah atas Nabi Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya.
          Amma ba’du,
          Sesungguhnya Allah telah mengutus para Rasul-Nya semua, semenjak dari yang pertama (Nabi Nuh ‘Alaihis Salam) sampai yang terakhir (Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), dengan satu agama yang sama, yaitu agama Islam.
          Inti dari agama Islam itu sendiri adalah beribadah semata-mata hanya kepada Allah, tanpa menyekutukan-Nya. Sekaligus berupaya untuk meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya, serta berlepas diri darinya. Inilah hakikat dari makna ikhlas atau memurnikan agama hanya kepada-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya,  Maka sembahlah Allah dengan memurnikan agama kepada-Nya.” [QS.Az-Zumar:2].
          Termasuk dalam hakikat keislaman itu, adalah dengan menta’ati Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan para Rasul-Nya. Hal ini didasari dengan petunjuk dari ayat-ayat berikut :
           dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. [QS.An-Nahl:36].
          dan Kami tidak mengutus seorang Rasul-pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku. Maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” ” [QS. Al-Anbiya : 25].
          “(26) dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah.” (27) “ tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku, karena Sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” [QS.Az-Zukhruf : 26-27].
          Dan lagi, yang merupakan esensi dari agama Islam itu adalah, kandungan makna “Laa ilaha illallah” atau “Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah”. Yakni, dengan cara pengingkaran terhadap thaghut, dan beriman kepada Allah. Inilah yang dimaksud dengan al-‘Urwatul-Wutsqa atau “Tali Buhul yang Kuat-Kencang”, dan dapat disebut sebagai Kalimatut-Taqwa.
          Allah Ta’ala berfirman, “karena itu, Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut, dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS.Al-Baqarah : 256].
          Adapun dalil argumentasi, yang menunjukkan bahwa agama para Rasul itu, bernama agama Islam, adalah sebagai berikut:
          Firman Allah Ta’ala, tentang Nuh ‘alaihis salam, “dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).” [QS.Yunus:72].
          Tentang Ibrahim dan Ya’qub –alaihimas-salam– : “dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub : (Ibrahim berkata) “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” [QS. Al-Baqarah:132].
          Mengenai Musa ‘Alaihis Salam, “berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.” [QS. Yunus: 84].
          Dan Firman-Nya tentang al-Hawariiyin atau para pengikut Nabi Isa ‘Alaihis Salam : “ Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah diri.” [QS.Ali ‘Imran : 52]. 
          Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah menegaskan bahwa agama yang diakui di sisi-Nya hanyalah agama Islam. Dan sesungguhnya Dia tidak menerima agama apapun selain agama Islam.
          Firman Allah : “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” [QS. Ali ‘Imran:19]. Dan firman-Nya, “(85) Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS.Ali ‘Imran :85].
          Maka dapat diketahui dengan jelas, bahwa barangsiapa yang keluar dari agama para Rasul, otomatis orang tersebut kafir dan merugi di dunia maupun akhirat. Baik keluarnya orang tersebut (murtad) disebabkan pengingkaran dan pendustaan, keragu-raguan, atau sikap kesombongan dan gengsi tidak mau menerima seruan dakwahnya para rasul, walaupun ia membenarkan dalam hatinya.
          Sebagaimana firman Allah, “karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi, orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” [QS.Al-An’am :33]. Dan juga Firman-Nya, mengenai fir’aun dan kaumnya : “dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka). Padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan” [QS.An-Naml : 14].
          Dengan demikian, semakin jelas pula bahwa para Rasul dan para pengikutnya itu adalah orang-orang Islam.
          Dan wajib diketahui pula, bahwa diantara prinsip-prinsip keimanan itu, adalah beriman kepada seluruh Rasul. Maka, barangsiapa yang beriman kepada sebagian mereka, dan tidak mengimani yang lain, tidaklah termasuk orang beriman atau pun orang Islam. Bahkan, ia dapat disebut sebagai pendusta terhadap keseluruhan Rasul-rasul tersebut.
          Oleh karena itu, Allah ber-firman:
          kaum Nuh telah mendustakan para Rasul.” [QS. As-Syu’araa: 105].
          kaum ‘Aad telah mendustakan para Rasul.” [QS. As-Syu’araa: 123].
          “ (150)  Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan Kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir).” “(151) merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” [QS. An-Nisaa’: 150-151].
          Rasul telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman, semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya, (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”. [QS. Al-Baqarah: 285].
          Dan diantara dalil dari Quran maupun Sunnah, yang menunjukkan bahwa agama para Rasul itu adalah satu, adalah firman-Nya :
          “(51) Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” “(52) Sesungguhnya (agama Tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan aku adalah Tuhanmu. Maka bertakwalah kepada-Ku.” [QS. Al-Mu’minuun :51-52].
          Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Aku adalah manusia yang paling utama (dan terdekat) dengan Isa bin Maryam, baik di dunia maupun di akhirat. Para Nabi itu adalah bersaudara, hanya ibunya saja yang berbeda.” Hadits disepakati Bukhari-Muslim.
          Hal ini menegaskan lagi, bahwa agama para rasul itu adalah satu. Oleh karenanya, rasul yang terdahulu memberitakan tentang rasul yang selanjutnya, dan mengimaninya. Begitu pula sebaliknya, rasul yang terkemudian membenarkan dan mengimani rasul yang sebelumnya. Sebagaimana firman Allah,
          dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku. Yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” [QS. As-Shof : 6].
          Selanjutnya, mengenai umat-umat para rasul itu, yang paling banyak penyebutannya di dalam Al-Quran, adalah ummat Bani Israel atu Bani Ya’qub alaihis salam. Ini disebabkan karena sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jalur mata-rantai silsilah kenabian ada pada mereka. Dan posisi Nabi Musa dan Nabi Isa alaihimas-salam, adalah yang tertinggi di antara nabi-nabi Bani Israil tersebut. Keduanya sungguh merupakan Ulul-‘Azmi (rasul-rasul yang memiliki tekad yang kuat, walaupun diuji dengan cobaan yan sangat berat) diantara para Rasul. Dan kepada mereka berdua, Allah turunkan kitab Taurat dan Injil.
          Mengenai cerita dan berita tentang kedua rasul ini, sungguh telah Allah sajikan informasinya secara lengkap terperinci, mulai dari masa pertumbuhannya, masa diutus keduanya menjadi rasul, dan termasuk perihal kehidupan Bani Israel bersama keduanya. Dan sebenarnya para Nabi dari kalangan Bani Israel, sepeninggal Nabi Musa ‘Alaihis Salam, tetap berpegang pada Kitab Suci Taurat. Masa ini berlaku sampai kedatangan Nabi Isa ‘Alaihis Salam, yang diutus untuk membenarkan Kitab Taurat, sekaligus menghapus dan mengganti sebagian hukum-hukum yang terdapat di dalamnya.
          Allah ber-firman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah.” [QS. Al-Maidah : 44].
          Dan firman-Nya tentang ‘Isa al-Masih ‘alaihis salam, “dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu.” [QS.Ali-Imran : 50].
          Adapun orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salam, yang memutuskan perkara mereka dengan aturan Syari’at Taurat, maka mereka itu adalah orang-orang Muslim atau beragama Islam yang sebenarnya. Hal ini berlaku sampai datangnya Nabi Isa bin Maryam, maka siapa yang beriman kepadanya lalu mengikutinya, itulah orang Muslim. Namun, jika ada yang mendustakannya, maka ia pun telah Kafir.
          Para pengikut Nabi Musa ‘Alaihis Salam, dan orang-orang yang beriman kepadanya, dikenal dengan sebutan Yahudi. Sehingga ketika Nabi Isa ‘Alaihis Salam datang, maka para pengikutnya disebut Nashara. Sementara penyebutan nama Yahudi, berlaku bagi orang yang kafir, atau ingkar kepada Nabi Isa ‘Alaihis Salam.
          Oleh sebab itu, Bani Israel itu terbahagi dalam dua kelompok : Yahudi dan Nashara. Lalu, dari setiap kelompok tadi, ada orang yang beriman (mukmin), dan ada pula yang kafir. Dan penjelasan mengenai hal ini, sebenarnya telah Allah jelaskan dengan terperinci, dalam Al-Quran, baik kelompok yang mukmin atau yang kafir. Begitu pula penjelasan tentang hal-hal yang menyebabkan kekufuran orang yang kafir. 
          Selanjutnya, mengenai Yahudi, dan berbagai hal yang menyebabkan kafirnya mereka itu, adalah : karena tindakan penyelewengan mereka terhadap Kitab Suci Taurat, pembunuhan Nabi-nabi, dan perkataan mereka, “’Uzair adalah anak-Allah”. Begitu juga pendustaan mereka terhadap Nabi Isa ‘Alaihis Salam dan penutup para Nabi, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
          Dengan demikian, mereka telah mengumpulkan berbagai macam kekafiran. Dan untuk itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “ (89) dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Padahal sebelumnya mereka biassa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir. Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” “(90) alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya, karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.” [QS. Al-Baqarah : 89-90].
          Sedangkan mengenai Nashara, maka diantara penyebab kekafiran mereka, adalah menuhankan Al-Masih (Isa) dan ibunya (Maryam); dan perkataan mereka bahwa “Isa Al-Masih itu adalah putra Allah”, juga perkataan bahwa “Allah itu adalah pihak yang ketiga dari yang tiga”. Kemudian, sikap mereka yang mendustakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagai penutup para Nabi dan Rasul.
          Untuk hal ini, Allah telah berfirman, “(72) Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam”. Padahal al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” “(73) Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”. Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa, jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakana itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” [QS. Al-Maidah : 72-73].
          Dan sungguh Allah Ta’ala telah menginformasikan pula dalam Kitab-Nya Al-Quran, mengenai tertipunya masing-masing kelompok (Yahudi dan Nashara) dengan diri mereka sendiri. Begitu pula dengan aksi celaaan mereka, yang satu terhadap yang lain. Dan  juga aksi saling mengaku-ngaku keistimewaan masing-masing, diatas klaim bahwa petunjuk-kebenaran ada padanya, dan bahwa keistimewaan untuk memasuki surga hanya ada pada mereka, bukan yang lain.
          Hal ini tergambar jelas dalam firman-Nya, sebagai berikut:
          “ (111) dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. “ (112) (tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”  [QS. Al-Baqarah :111-112].
          dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan”, padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab.” [QS. Al-Baqarah: 113].
          dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan bukanlah Dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” [QS. Al-Baqarah : 135].
          Klaim pengakuan orang Yahudi, bahwa mereka ada diatas agama Ibrahim, dan bahwa Ibrahim itu adalah beragama Yahudi. Begitu pula, dengan pihak Nashara, mereka melakukan klaim yang sama. Namun, ternyata Allah Ta’ala membantah pernyataan mereka semua, dalam firman-Nya :
          Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi Dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah Dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” [QS. Ali Imran : 67].
          Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman.” [QS. Ali Imran : 68].
          Dari sini, dapat diketahui bahwa para pemeluk agama yang tiga -Yahudi, Nashara, dan kaum Muslimin- mencoba bersepakat untuk mengagungkan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, dan mencoba untuk menempelkan kedekatan  mereka kepadanya. Namun, ternyata Allah telah membatalkan klaim pengakuan Yahudi dan Nashara tersebut, dan memutuskan bahwa sebenarnya yang paling dekat dengan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah orang-orang yang mengikutinya dalam bertauhid (mengesakan Allah), dan melepaskan tanggung-jawab dari perbuatan syirik dan orang-orang yang berbuat kemusyrikan.
          Dan yang paling dekat dengan Ibrahim ‘Alaihis Salam juga adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beserta orang-orang yang beriman kepadanya. Karena inti dari Millah (agama) Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah sama dengan yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagaimana firman Allah : “kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan buktikanlah Dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” [QS.An-Nahl : 123].
          Jadi, kaum Muslimin itulah yang sebenarnya berada pada Millah (agama) Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, bukannya Yahudi ataupun Nashara. Untuk itulah, Allah Ta’ala berfirman, “dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan begitu pula dalam Al-Quran ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia.” [QS. Al-Hajj : 78].
          Demikianlah berlangsung masa-masa yang dilalui oleh kaum Muslimin, diatas keyakinan (I’tiqad) yang mantap seperti ini, yakni bahwa agama Islam itulah yang menjadi agama yang haq, yang tidak Allah terima dan ridhoi satu agama pun selain-nya. Dan bahwa setiap orang yang tidak masuk ke dalam agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka otomatis dia kafir, dan pasti masuk neraka. Jika ia mati dalam kekafirannya, tentu akan kekal selama-lamanya di neraka.
          Untuk itu, Allah Ta’ala telah mewajibkan dakwah untuk mengajak manusia secara keseluruhan, baik itu Yahudi, Nashara, atau yang lainnya, masuk ke dalam agama Islam. Dan juga Allah perintahkan untuk memerangi mereka, dalam rangka meninggikan Kalimat-Allah dan agama-Nya, agar masuk ke dalam agama Islam ini siapa yang dikehendaki oleh-Nya, atau tunduk kepada penguasa yang haq.
          Firman-Nya, “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” [QS. At-Taubah : 33].
          Dan masih saja peperangan antara kaum Muslimin dengan musuh-musuh mereka, berkobar tanpa henti, mengikuti pergiliran waktu dan masa. Dan Allah pun memberikan pertolongan-Nya, kepada orang-orang yang mau menolong agama-Nya. Sebagaimana firman Allah, “ (7)  Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” “(8) dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka.” [QS. Muhammad : 7-8].
          Adapun yang terjadi pada beberapa kurun waktu terakhir, betapa beratnya cobaan yang menimpa agama Islam dan kaum Muslimin. Hal ini terbukti dengan makin meluasnya wilayah penguasaan Nashara terhadap negeri-negeri kaum Muslimin. Ditambah lagi, dengan munculnya pemimpin-pemimpin yang mengaku beragama Islam, tetapi loyalitasnya diserahkan kepada pihak Nashara.
          Maka, tatkala hilang pergi penjajah militer, dari negeri-negeri kaum Muslimin, masih pula ada yang tertinggal bentuk penjajahan lainnya, di bidang pemikiran, seperti dalam dunia pendidikan, dan informasi,  begitu juga merambah ke segala aspek bidang kehidupan. Semuanya itu dioperasionalisasikan oleh orang-orang yang bersikap mengekor kepada negara-negara Barat yang Kafir.
          Tentu saja, hal ini disebabkan oleh kebodohan mereka terhadap hakikat yang paling esensial dari Agama Islam itu sendiri, dan jauhnya mereka dari penerapan syari’at dan hukum-hukumnya kepada diri mereka sendiri, apalagi terhadap bangsa mereka dalam masalah itu. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menimpakan kehinaan kepada mereka, dan memberikan negeri-negeri Kafir itu kemampuan untuk dapat menguasai mereka.
          Negeri-negeri Kafir yang Dzalim seperti Amerika, yang selalu menebar janji, dan memberikan ancaman, serta harapan-harapan kosong kepada mereka. Amerika juga menjadikan dirinya sebagai polisi-pelindung bagi negeri-negeri mereka, bahkan berani turut campur dalam berbagai urusan dalam negeri-negeri tersebut, dengan mengatas-namakan “Tugas Perserikatan Bangsa-bangsa”. Sehingga pada hakikatnya, Amerika ini telah menjadi “Pemimpin yang Berkuasa”, yang pada gilirannya, mereka akan menjadikannya sebagai sumber hukum didalam memecahkan problem dan urusan mereka.
          Sebagai contoh yang aktual, adalah dalam persoalan negara Palestina. Dimana tidak ada negeri-negeri Arab, maupun kaum Muslimin lainnya, yang mampu untuk dapat menyelesaikannya. Dan memang, tidak ada penyelesaian yang tepat baginya, kecuali ber-jihad memerangi Negara Yahudi itu dari luar Palestina. Hal ini tentu tidak memerlukan “waktu-tunggu” dan restu lagi dari orang-orang yang semacam itu , akan tetapi sebenarnya Allah Ta’ala sendiri telah berfirman,
          Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah, maka diantara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri, dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya), dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” [QS. Muhammad : 38].
          Inilah janji Allah, dan pasti Allah itu tidak mungkir janji. Dan tidak perlu juga ditunggu kemenangan itu kecuali dengan melengkapi syarat-syaratnya yang telah disebut dalam firman-Nya, “ (7) Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” “ (8)  dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka.” [QS. Muhammad : 7-8].
          Selanjutnya, dari bekas-bekas penjajahan militer kaum Nashara terhadap negeri-negeri kaum Muslimin, pada masa lampau. Ataupun pelaksanaan berbagai rencana strategis mereka, pada masa kini, yang berada di tangan orang-orang loyalis kepada mereka. Tak cukup rasanya bagi mereka, baik pihak musuh atau para loyalisnya dari kalangan Muslim, untuk menebarkan aksi-aksi pengrusakan dan penyimpangan, yang tersebar di tengah-tengah masyarakat Muslim.     
          Mereka pun berupaya menjadikan wanita sebagai alat untuk itu, baik dari awal masa penjajahan sampai hari ini, dengan mengatas-namakan “hak-hak wanita” dan “kebebasan wanita”. Begitu pula, mereka membuat undang-undang hukum-positif, lalu meletakkannya sebagai ganti dari hukum Syari’at-Allah. Lalu, menggunakannya dalam keputusan hukum perundang-undangan, serta mewajibkannya untuk ditaati.
          Tidak cukup sampai di situ, bahkan mereka bernafsu untuk merusak keyakinan aqidah kaum Muslimin, dalam salah satu prinsip agama mereka (Islam), yakni dengan suatu cara yang konspiratif, penuh rekayasa-manipulatif. Lantas kemudian, orang-orang Munafiq mempromosikan ide-ide tersebut, tanpa dasar-ilmu, dan diterima pula oleh orang-orang Muslim yang bodoh, karena ketidak-tahuan akan hakikat ide-ide yang diusung, atau lebih tepat lagi, ketidak-tahuan terhadap hakikat Agama Islam yang sebenarnya.
          Aksi propaganda yang bersifat rekayasa, dan teramat jahat ini, dipopulerkan dengan istilah-istilah : “Dakwah Persuasif : antara Islam dan Kristen”, atau “Dakwah Persuasif antar Agama-agama” ;  “Penyatuan Agama-agama”; “Persatuan Tiga Agama” ; “Ibrahimisme” ; “Millah Ibrahim” ; “Penyatuan Ibrahimisme” ; “Penyatuan Kitab-kitab Samawi”. Dan diantara semboyan-semboyan mereka terhadap propaganda seperti ini, adalah: “Persaudaraan Ber-Agama” ; “Membuang Fanatisme Ber-Agama” ;  “Persahabatan Islam-Kristen” ; “Solidaritas Islam-Kristen melawan Komunisme” ; “Melawan Atheisme”.
          Semua penamaan dan labeling tersebut, adalah bagian dari upaya untuk mencampur-adukkan kebenaran dengan kebatilan, dan menghiasi kebatilan dengan menampilkan kata-kata yang terlihat indah. Bahkan, lebih dari itu, mereka pun menggunakan semboyan “Dialog antar Peradaban”, dan “Dialog antar Agama”.
          Target dari propaganda ini, tentunya satu dari dua hal berikut,
          01) - Melakukan penghormatan tehadap agama-agama yang batil tersebut. Atau dengan kata lain, menghormati seluruh agama-agama samawi (langit), seperti Yahudi dan Nasrani. Adapun caranya adalah dengan meniadakan tuduhan kepada agama-agama palsu itu, dan meninggalkan bentuk pernyataan akan kebatilannya, atau menjauhkan predikat kekufuran terhadap para pemeluknya. Inilah yang dimaksud oleh sebagian mereka dengan istilah “Kehidupan berdampingan secara damai antar pemeluk agama yang tiga.”
          02) - Adanya pengakuan atau legitimasi akan keabsahan agama-agama itu. Sekaligus pengakuan bahwa semua itu adalah jalan yang sama seperti agama Islam untuk menuju Allah. Dan ini artinya, bahwa tidak ada beda antara pemeluk agama Yahudi, Nasrani dan Islam, karena masing-masing ada di atas ajaran agam yang benar.
          Dan inilah makna sebenarnya yang terkandung dari ide “penyatuan” yang digembar-gemborkan itu. Sehingga terjadilah suatu kondisi persaudaraan, dimana tidak ada  permusuhan atau kebencian, bahkan tidak ada lagi dakwah atau panggilan kebenaran dan jihad atau perjuangan mempertahankan kebenaran, melawan kebatilan.
          Tentu saja, seruan semacam ini, merupakan Sikap Kekufuran yang Terang dan Nyata sekali, sehingga masuk ke dalam “Hal-hal yang Membatalkan Ke-Islaman”.

Ringkasnya, ada beberapa hal yang bisa kita petik dari tulisan di atas, yaitu:
01 Bahwa agama di sisi Allah itu, hanyalah agama Islam, yang merupakan agama para rasul secara keseluruhan.
02 Allah tidak menerima dari seorang pun, selain agama Islam.
03 Bahwa setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka agama Islam itu hanya terbatas pada apa yang telah disampaikan oleh beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan para pengikutnya.
04 Setiap orang yang keluar dari ajaran syari’at agama Islam yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka orang tersebut Kafir. Karena, risalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu bersifat umum / universal, berlaku untuk semua manusia, sehingga tidak ada alasan untuk keluar dari ketentuan tersebut.
05 Bahwa orang Yahudi dan Kristen-Nasrani itu adalah orang-orang Kafir. Wajib mengajak atau mendakwahi mereka ke dalam agama Islam, bahkan berjihad memerangi mereka, bila syarat-syaratnya terpenuhi untuk itu. Sebagaimana wajib pula untuk mendakwahi orang-orang Musyrik, dan memeranginya. Hal ini perlu dilakukan, agar tampak nyata bahwa agama Islam, sebagai Kalimatullah itulah yang tertinggi, dan unggul.
Allah Ta’ala berfirman, “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkannya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” [QS.At-Taubah : 33]. 
06 Bahwa orang yang mengakui kebenaran agama Yahudi dan Nasrani, yang telah dipenuhi oleh penyelewengan, perubahan, dan penghapusan inti agamanya, maka orang tersebut adalah Kafir, Murtad, keluar dari agama Islam.
07 Barangsiapa mati dalam kekafirannya, baik di atas ajaran agama Yahudi, Kristen, dsb, padahal sudah sampai kepadanya dakwah agama Islam, maka orang itu termasuk penghuni neraka yang kekal selamanya.
Sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni ahli-kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya, mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” [QS. Al-Bayyinah : 6].
Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Demi Allah, yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentang aku seseorang dari umat manusia ini, baik dia Yahudi maupun Nashrani, lalu dia tidak mengimani risalah yang aku bawa, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (HR.Muslim).
08 Wajibnya berlepas-diri dan tanggung-jawab dari orang-orang kafir, dan dari agama mereka. Membenci, dan memusuhi mereka, sampai mereka mau beriman kepada Allah semata.
09 Bahwa seruan-seruan dakwah seperti, “Pendekatan antar Agama”, “Penyatuan Agama”, adalah propaganda kebatilan, dan kekufuran belaka. Karena, terkandung padanya sebuah legitimasi pengakuan terhadap kebenaran agama-agama Yahudi dan Nasrani tersebut, yang sudah jelas kebatilannya.
10 Haram hukumnya mengadakan sarana kepada apa yang disebut “Dialog Agama-agama”, dan semacamnya.
Terkecuali, dialog yang dilakukan oleh kaum Muslimin dan para pemeluk Agama-agama yang batil itu, adalah diarahkan untuk mengajak mereka masuk Islam.
Maka, hal ini bisa dilakukan dengan dasar firman Allah Ta’ala :  “Katakanlah: “Hai ahli-Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [QS.Ali Imran : 64]. 
Juga firman-Nya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” [QS.An-Nisaa : 36].
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah : “Hai manusia. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” [Al-A’raaf : 158].
Dan ini pula yang menjadi jalan dakwahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para pengikutnya, yaitu : “Katakanlah: “Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” [QS.Yusuf: 108].
11 Haram hukumnya melakukan apa yang disebut sebagai “Penghormatan terhadap Agama-agama” dan “Tenggang Rasa antar Agama-agama” atau “Toleransi beragama”, yang didalamnya terkandung pengertian agar supaya hujatan kepada agama-agama yang batil itu, seperti Yahudi dan Nasrani, dapat ditinggalkan.
Hal semacam ini, tentunya tidaka layak untuk dilakukakan, karena tidak ada agama yang pantas untuk dihormati kecuali agama Islam saja, karena dialah agama yang haq, dan benar.
12 Bahwa tidak ada persaudaraan antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir. Sehingga, tidak boleh dikatakan : “saudara-saudara kami orang-orang Nasrani” atau semacamnya dari kelompok orang-orang kafir. Hal ini berlaku, karena persaudaraan dan loyalitas, yang benar adalah antara sesama kaum beriman.
          Allah ber-firman, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara” [QS. Al-Hujuraat: 10]. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Muttafaqun ‘Alaihi, disepakati oleh Bukhari-Muslim). Juga firman-Nya, “dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.” [QS. At-Taubah: 71].
          Dan sesungguhnya Allah telah mengikatkan tali persaudaraan antara orang-orang Kafir dengan orang-orang Munafiq, dalam firman-Nya, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang Munafiq yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang Kafir diantara ahli kitab.” [QS. Al-Hasyr : 11].
          Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjadikan orang-orang Kafir itu pelindung bagi sesama mereka, satu sama lain. Firman-Nya, “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para Muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” [QS. Al-Anfaal: 73].
13 Bahwa Kitab Taurat dan Injil, setelah diselewengkan, dirubah, dan dihapus dari inti agamanya, maka tidak boleh lagi dijadikan acuan untuk digunakan dalam mencari petunjuk kebenaran, dan mengetahui apa yang bisa mendekatkan diri kepada Allah. Keduanya tidak boleh lagi disebut bersama Al-Quran, sekalipun keduanya pernah memiliki kesucian pada sisi Allah. Karena telah masuk ke dalam keduanya itu, begitu banyak hal yang bersifat batil, dan telah dihapus status hukum-hukumnya.
Adapun yang masih terdapat pada keduanya, berupa kebenaran, maka cukuplah bagi kaum Muslimin untuk berpegang hanya kepada kitab-Nya yang terakhir, yakni Al-Quran, yang pasti memiliki sifat sebagaiman dalam firman-Nya:
          yang tidak datang kepadanya (Al-Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” [QS. Fushshilat: 42].
          Oleh karena itu, ketika Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan memegang lembaran yang didalamnya terdapat beberapa potongan ayat Taurat, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Apakah engkau masih ragu, wahai ibnul Khaththab? Bukankah aku telah membawa agama yang putih bersih? Sekiranya saudaraku Musa alaihis salam hidup sekarang ini, maka tidak ada keluasan baginya kecuali mengikuti syari’atku.” (Hadits riwayat Ahmad).
         
          Demikianlah, dan kami pun memohon kepada Allah, untuk memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya kepada kami, dan kepada seluruh kaum Muslimin, dalam rangka meniti jalan-Nya yang luru, yaitu jalan “..orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para Shiddiqiin, orang-orang yang mati Syahid, dan orang-orang Saleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
Dan juga agar dijauhkan dari jalannya orang-orang yang dimurkai, dan orang-orang yang sesat.
          Semoga Allah memberikan kecintaan kepada kami terhadap keimanan, dan menjadikan keimanan itu indah didalam hati. Serta menjadikan kami benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Dan agar kami dijadikan orang-orang yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari-Nya, dan Allah itu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana..
          Shalawat dan salam, serta keberkahan, semoga Allah curahkan selalu kepada hamba dan utusan-Nya, Muhammad, penutup para Nabi, beserta segenap keluarga, dan para shahabatnya semua.

Poskan Komentar