Rabu, 28 Januari 2015

SERING MENYEBUT NIKMAT-NIKMAT ALLAH, BAIK YANG NAMPAK MAUPUN TERSEMBUNYI



SERING MENYEBUT NIKMAT-NIKMAT ALLAH, BAIK YANG NAMPAK MAUPUN TERSEMBUNYI
         
Mengenal nikmat-nikmat Allah dan selalu menyebutnya merupakan salah satu faktor yang dapat mengusir keresahan dan kesedihan, mendorong seorang hamba untuk bersyukur yang hal itu merupakan derajat syukur yang paling tinggi, walaupun ia tertimpa kefakiran, sakit atau musibah  lainnya. Karena jika dia bandingkan antara nikmat Allah kepadanya yang tidak terhitung baik kwantitas ataupun kwalitasnya dengan apa yang dideritanya dari berbagai kesulitan, niscaya kesulitan tersebut tidak seberapa jika dibanding nikmat Allah ta’ala.
Justeru kesulitan dan musibah yang dihadapi seorang hamba, lalu ia menghadapinya dengan kesabaran, ridha dan menerima, niscaya akan berkurang tekanannya, ringan bebannya dan harapannya hanyalah pahala dan ganjaran dari Allah ta’ala. Jadi beribadah kepada Allah dengan bersikap sabar dan ridha akan menjadikan sesuatu yang pahit menjadi manis, sehingga manisnya  pahala akan melupakan  pahitnya kesabaran.


MELIHAT ORANG-ORANG YANG BERADA DI BAWAHNYA DAN TIDAK MELIHAT ORANG YANG DI ATASNYA.
         
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits shahih:
(( اُنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ  فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ ))
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah  melihat orang-orang yang berada di atas, karena hal tersebut lebih memungkinkan untuk tidak mengabaikan nikmat-nikmat Allah atas kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hal ini sangat besar manfaatnya dalam menghilangkan perasaan gelisah dan  sedih, karena bila seseorang melihat pemandangan yang menyedihkan yang menimpa seseorang di depan matanya yang menimpa orang lain, maka dia akan melihat dirinya jauh lebih beruntung, baik dalam kesehatan dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, atau dalan hal rizki betapapun keadaannya sehingga hilanglah kegelisahan, kegundahan dan keresahannya, bahkan semakin bertambah dalam dirinya kegembiraan dan keinginan terhadap nikmat-nikmat Allah ta’ala yang tak diperoleh oleh orang-orang yang berada di bawahnya.   
Maka setiap kali seorang hamba memperhatikan nikmat-nikmat Allah, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, baik dalam urusan agama maupun dunia, dia akan melihat bahwa Rabbnya telah memberinya kebaikan yang banyak dan menjauhkannya dari aneka macam keburukan. Tidak diragukan lagi bahwa hal semacam ini akan mampu mengusir kegundahan dan keresahan serta mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan.


MELUPAKAN BERBAGAI PENDERITAAN MASA LALU  YANG  TIDAK DAPAT DITOLAK
         
Di antara upaya menyingkirkan sebab-sebab yang mendatangkan kegelisahan dan meraih sebab–sebab yang mendatangkan kebahagiaan adalah melupakan berbagai kesulitan yang telah berlalu yang tidak dapat ditolak. Dia harus memahami bahwa menyibukkan diri dengan memikirkan hal tersebut merupakan perbuatan orang bodoh yang sia-sia. Oleh karena itu dia harus berusaha memalingkan hatinya untuk tidak memusatkan pikiran terhadap masalah tersebut dan agar tidak khawatir terhadap masa depannya dari dugaan kefakiran dan ketakutan atau kesulitan-kesulitan lain yang dia bayangkan.
Dia juga memahami bahwa kehidupan masa depan tidak ada yang mengetahui, apakah dia akan mengalami kebaikan atau keburukan, terpenuhinya harapan atau kepedihan. Karena sesungguhnya semua itu berada di tangan Yang Maha Perkasa dan Bijaksana, manusia tidak berwenang sedikitpun di dalamnya kecuali berusaha untuk mendapatkan kebaikan masa depannya dan menghindari segala sesuatu yang membahayakan. Seseorang yang  mengetahui bahwa ketenangan dapat diraih jika dia menyingkirkan pikirannya dari kekhawatiran terhadap masa depannya, kemudian bertawakkal kepada Allah dengan memperbaiki nasib kehidupannya, maka hatinya akan tenang, kondisinya akan membaik serta rasa gundah dan kekhawatiran dalam hatinya akan hilang. 


BERDOA DENGAN DOA YANG DIPANJATKAN RASULULLAH

 Di antara doanya adalah:
(( اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي  دُنْيَايَ الَّتِي فِيْهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِيَ الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادِي وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَالْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ ))
“Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang merupakan pelindung perkaraku, perbaikilah bagiku duniaku yang merupakan tempat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang di sana tempat kembaliku, jadikanlah kehidupan ini sebagai sarana bagiku untuk menambah kebaikan, dan kematianku sebagai tempat istirahat dari segala keburukan”. (HR. Muslim).
Demikian pula dengan doa berikut:
(( اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ))
“Ya Allah, rahmat-Mu aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan (urusan)-ku kepada diriku walau sekejap mata, perbaikilah semua urusanku, tiada ilah selain Engkau.” (HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih).
Maka jika seorang hamba meratap dengan doa tersebut yang di dalamnya terdapat kebaikan masa depannya, baik agamanya maupun dunianya dengan menghadirkan hati dan niat yang benar serta kesungguhan bekerja untuk mewujudkannya, niscaya akan Allah kabulkan doa, harapan dan usahanya, hingga rasa gundah berganti dengan kesenangan dan kegembiraan.


MEMPERKIRAKAN KEMUNGKINAN TERBURUK YANG AKAN MENIMPANYA KEMUDIAN MENGUATKAN DIRI UNTUK SIAP MENERIMANYA

Berupaya menganggap ringan beban kesulitan yang ditanggungnya dengan memperkirakan kemungkinan terburuk yang akan menimpanya, kemudian dia kuatkan dirinya untuk menerima hal tersebut.  Jika hal tersebut telah dilakukan maka selanjutnya dia berupaya untuk memperingan problema yang dihadapi  sedapat mungkin. Dengan kemantapan jiwa dan upaya yang bermanfaat tersebut, akan hilanglah perasaan gundah dan resah, berganti dengan upaya nyata untuk mendatangkan kemanfaatan dan menolak kesulitan yang mudah bagi seorang hamba.
Jika hal tersebut mampu menggantikan penyebab ketakutan, kepedihan dan kekhawatiran akan kefakiran, karena kecintaannya terhadap aneka ragam kesenangan, maka dia dapat menerima semua itu dengan perasaan tenang dan kemantapan jiwa, bahkan sekalipun musibahnya lebih hebat dari itu. Karena kemantapan jiwa dalam menanggung kesulitan dapat meringankan kesulitan itu sendiri dan menghilangkan goncangannya, khususnya jika dia menyibukkan dirinya dengan menyingkirkannya sedapat mungkin. Maka dalam dirinya akan berkumpul kemantapan jiwa dan upaya nyata untuk mengatasi problemnya yang sekaligus dapat menghindarinya dari sekedar memikirkan musibah itu serta membantu dirinya untuk memperbaharui kekuatan dalam mengatasi masalah seraya bertawakkal dan percaya kepada Allah ta’ala.
Tidak diragukan lagi bahwa hal-hal semacam ini sangat besar manfaatnya untuk meraih kebahagiaan dan kelapangan dada di samping adanya harapan seorang hamba atas ganjaran yang setimpal dari Allah ta’ala baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini dapat disaksikan dan dialami oleh banyak orang. 


TIDAK PANIK DAN LARUT DALAM BAYANGAN-BAYANGAN BURUK

Menenangkan hati dan tidak tenggelam pada kepanikan atau bayangan dan pikiran-pikiran buruk sangat besar pengaruhnya untuk menghindari tekanan jiwa bahkan penyakit fisik.  Karena jika seseorang tenggelam dalam bayangan ketakutan, dan hatinya terpengaruh oleh berbagai perubahan, baik dari rasa takut akan penyakit atau yang lainnya, marah dan perasaan tak menentu karena memperkirakan terjadinya kesulitan dan hilangnya berbagai kenikmatan. Semua itu dapat mendatangkan perasaan gundah, penyakit hati dan penyakit fisik serta ketegangan saraf yang dapat berakibat buruk. Hal ini sering disaksikan. 


BERGANTUNG KEPADA ALLAH DAN BERTAWAKKAL KEPADANYA

Jika hati selalu bergantung kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, tidak larut dalam bayang-bayang ketakutan serta pikiran-pikiran buruk diiringi kepercayaan kepada Allah ta’ala seraya mengharap karunia-Nya, maka semua itu akan mengusir perasaan gundah dan sedih, dan menghilangkan berbagai penyakit jiwa maupun fisik. Hati  akan kembali mendapatkan kekuatan, ketentraman dan kebahagiaan yang tak terlukiskan.
Betapa banyak rumah sakit yang dipenuhi oleh orang-orang yang sakit karena dihantui bayangan-bayangan buruk, betapa banyak masalah ini mempengaruhi mereka-mereka yang kuat hatinya apalagi jika dia orang lemah. Betapa hal ini sering mendatangkan tindakan bodoh dan gila.
Orang yang sehat adalah orang yang Allah sehatkan dan Allah berikan taufiq untuk berjuang melawan hawa nafsunya untuk mendapatkan sumber-sumber kekuatan bagi hatinya yang dapat menyingkirkan kekhawatiran yang menimpanya. Allah ta’ala berfirman:

“Siapa yang bertawakkal kepada Allah maka niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”(At Thalaq: ayat: 3).
Artinya: Allah mencukupkan segala keperluan agama dan dunianya.
Orang yang bertawakkal kepada Allah, hatinya kuat dan tidak terpengaruh oleh bayang-bayang (ilusi) dan tidak goncang oleh berbagai kenyataan, karena dia tahu bahwa sikap tersebut menunjukkan kelemahan jiwa, ketakutan dan kegelisahan yang tidak beralasan. Di samping itu diapun mengetahui bahwa Allah ta’ala akan menanggung beban orang yang bertawakkal kepadanya dengan kecukupan yang sempurna. Maka dia percaya kepada Allah dan tenang dengan janji-Nya sehingga hilanglah kegelisahan dan kekhawatirannya, kesulitan berganti kemudahan, kesedihan berganti kegembiraan dan ketakutan berganti keamanan.
Kita mohon kepada Allah ta’ala kesehatan dan keselamatan dan memberikan kita karunia berupa kekuatan hati dan keteguhannya dengan tawakkal yang sempurna yang dengan itu akan Allah tanggung segala kebaikannya dan menyingkirkan segala kesulitan dan keburukan yang menimpanya.


PANDAI DALAM BERGAUL

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
(( لاَ يَفْرُكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقاً رَضِيَ مِنْهَا خُلُقا آخَرَ ))     
“Hendaklah seorang mu’min laki-laki (suami) tidak mencela mu’min wanita (istri), jika dia membenci salah satu prilakunya, masih ada prilaku lainnya yang dia ridhai.” (HR. Muslim).
Dalam hadits ini terdapat dua pelajaran yang sangat bermanfaat:
Pelajaran pertama adalah: Petunjuk bagaimana bergaul dengan istri, sanak saudara,  kawan, karib dan lingkungan pergaulan serta semua orang yang antara anda dan dia memiliki hubungan dan komunikasi. Anda harus menyadari bahwa pada diri tiap-tiap orang pasti terdapat cela, kekurangan dan sesuatu yang tidak disenangi. Maka jika hal tersebut anda dapatkan, bandingkanlah antara hal itu dengan adanya faktor-faktor yang mendukung anda untuk tetap menjaga komunikasi dan saling mencintai, yaitu dengan mengingat kebaikan-kebaikan dan niat-niat kebaikannya, baik yang bersifat khusus maupun umum. Dengan melupakan keburukannya dan mengingat kebaikannya, maka persahabatan dan komunikasi akan tetap terjaga dan ketenanganpun akan tercipta.
Pelajaran kedua adalah: Hilangnya perasaan gundah dan resah, tetapnya kesucian hati serta kesinambungan dalam menunaikan hak-hak orang lain, baik yang wajib maupun yang sunnah serta terciptanya keharmonisan di antara kedua belah pihak.
Siapa yang tidak dapat mengambil pelajaran atas apa yang telah disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahkan melakukan sebaliknya dengan selalu melihat keburukan seorang serta melupakan kebaikan-kebaikannya, niscaya dia akan gelisah, hubungan antara dirinya dan orang yang dicintainya pasti mengalami kekeruhan dan mengabaikan banyak hak yang harus dijaga kedua belah pihak.
Banyak orang yang memiliki kekuatan mental yang tinggi mampu menahan diri saat menghadapi cobaan dan goncangan dengan kesabaran dan ketenangan. Akan tetapi dalam hal-hal yang sepele dan ringan mereka sangat gundah dan tidak tenang. Penyebabnya adalah  mereka menjaga diri mereka pada hal-hal yang besar dan mengabaikan hal-hal sepele sehingga merusak kondisi mereka dan ketenangan mereka.
Orang yang bermental kuat adalah mereka yang mampu mengatasi masalah besar maupun kecil seraya memohon pertolongan kepada Allah dan berdoa kepada-Nya agar nasibnya tidak diserahkan kepada dirinya walau sekejap mata,  maka dengan demikian akan mudah baginya perkara-perkara kecil sebagaimana ringan baginya perkara-perkara besar, sehingga jiwanya tenang dan hatinya lapang. 


TIDAK TENGGELAM DALAM KESEDIHAN MENDALAM

Orang yang berakal mengetahui bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan yang berbahagia nan tentram, dan bahwa waktunya sangat singkat sekali. Maka tidak layak bagi seseorang untuk membatasi kehidupannya dengan perasaan gundah dan resah yang berkepanjangan karena semua itu bertentangan dengan kehidupan yang sebenarnya, dia merasa rugi sekali jika banyak bagian dari kehidupannya dihabiskan dengan perasaan gundah  dan resah dan hal ini tidak ada bedanya antara orang yang baik atau orang yang jahat. Akan tetapi orang yang beriman lebih memiliki kemampuan yang besar untuk mewujudkan sifat-sifat ini serta mendapatkan  ganjaran yang bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat. 

MEMBANDINGKAN KENIKMATAN YANG DITERIMA DENGAN KESULITAN YANG DIDERITA

Seseorang selayaknya jika ditimpa kesulitan atau khawatir terhadapnya agar membandingkannya antara kenikmatan yang telah dia raih baik dalam hal agama maupun dunia dengan kesulitan yang ia derita, maka akan dia dapatkan betapa jauh lebih banyak kenikmatan dalam dirinya daripada kesulitan dan musibah yang dia rasakan.
Begitu juga sebaiknya dia membandingkan antara rasa khawatir akan berbagai kemungkinan buruk yang akan menimpanya dengan kemungkinan keselamatan darinya. Maka hendaknya dia tidak mengabaikan kemungkinan yang lebih banyak dan kuat (yang positif) demi membela kemungkinan yang lemah (negatif), sehingga dengan demikian hilanglah rasa gundah dan resahnya.
Diapun sebaiknya memperkirakan berbagai hal yang lebih besar yang mungkin dapat menimpanya, sehingga dia mempersiapkan diri jika memang hal itu terjadi serta berupaya menghalau apa yang belum terjadi atau menyingkirkan musibah yang telah terlanjur terjadi atau memperkecilnya.


PERILAKU BURUK ORANG LAIN TERHADAP ANDA SESUNGGUHNYA MERUGIKAN DIRINYA SENDIRI

Hal bermanfaat yang dapat dilakukan berkaitan dengan perilaku buruk orang lain terhadap anda –khususnya yang berupa perkataan buruk- adalah adanya keyakinan bahwa semua perbuatan itu tidak merugikan anda, tetapi justru merugikan pelakunya sendiri, kecuali jika anda juga disibukkan dengan memikirkannya dan membiarkannya menguasai perasaan anda, maka hal tersebut juga merugikan anda sebagaimana merugikan pelakunya.
Jika anda tidak menghiraukan hal itu niscaya tidak akan merugikan anda. 


BERPIKIR POSITIF

Ketahuilah bahwa pola pikir anda akan mempengaruhi kehidupan anda, jika pikiran anda selalu tertuju kepada apa yang bermanfaat bagi agama maupun dunia, maka hidup anda  akan bahagia dan sejahtera, jika tidak, maka anda akan mengalami hal yang sebaliknya. 



TIDAK MENGHARAP BALASAN DAN PENGHORMATAN KECUALI DARI ALLAH

Hal bermanfaat dalam rangka mengusir kegundahan dan kegelisahan adalah meyakinkan diri anda untuk tidak meminta balasan dan penghormatan kecuali dari Allah ta’ala atas kebaikan yang anda berikan kepada mereka, baik kepada mereka yang berhak mendapatkannya dari anda ataupun tidak. Ketahuilah bahwa hal tersebut urusan anda dengan Allah, jangan terlalu hiraukan pujian dan penghargaan orang yang anda berikan kebaikan, sebagaimana firman Allah ta’ala tentang makhluknya yang paling disayangi-Nya:

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”(Al-Insan: 9).
Hal seperti itu lebih ditekankan lagi dalam hubungan kita terhadap keluarga, anak-anak dan mereka yang memiliki interaksi dengan anda. Ketika anda camkan diri anda untuk tidak berbuat buruk terhadap mereka, niscaya anda merasa tenang dan tenteram.
Termasuk yang dapat membantu terciptanya ketentraman hati adalah melakukan keutamaan-keutamaan amal perbuatan berdasarkan tuntutan jiwa yang membuat anda gundah. Jika anda menempuh jalan berliku-liku (jalan yang tidak benar) maka itu akan membuat anda mundur ke belakang tanpa membawa kebaikan sedikitpun. Hal tersebut merupakan hikmah dimana anda dapat mengambil sesuatu yang baik dan manis dari perkara-perkara buruk, dengan begitu maka kelezatan akan semakin bertambah dan kekeruhan akan hilang dari diri anda.


MENJADIKAN SEMUA HAL BERMANFAAT DI  DEPAN MATA ANDA DAN BERUSAHA UNTUK MEREALISASIKANNYA.

Jangan sekali-kali menengok kepada hal-hal yang merugikan dan terlena dengannya, karena hal itu dapat mendatangkan rasa gundah dan sedih, atasilah dengan ketenangan dan memusatkan perhatian dengan melakukan perbuatan yang bermanfaat. 


 MENGATASI SEBUAH MASALAH SAAT ITU JUGA UNTUK KEMUDIAN BERKONSENTRASI TERHADAP MASA DEPAN

Termasuk perkara yang bermanfaat adalah langsung mengatasi sebuah masalah saat itu juga untuk kemudian berkonsentrasi terhadap masa depan, karena jika permasalahan itu tidak diatasi segera, maka dia akan bertumpuk dengan permasalahan-permasalahan yang telah lalu dan yang akan datang, sehingga bebannya akan semakin berat.
Jika semuanya segera diatasi pada waktunya, maka anda dapat menghadapi masa depan dengan pikiran yang terpusat dan tindakan yang tepat.


MENDAHULUKAN PERBUATAN YANG PALING PENTING DAN PALING DISUKAI

Selayaknya anda memilih di antara perbuatan yang bermanfaat tersebut, mana yang paling penting dengan mendahulukan perbuatan yang disukai dan lebih condong kepadanya. Karena jika tidak, akan timbul kebosanan dan kekeruhan.
Carilah bantuan dengan berfikir positif dan musyawarah, karena tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah, pelajari dengan teliti setiap tindakan yang akan anda ambil, jika ternyata benar akan mendatangkan kebaikan dan anda telah bertekad maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.

والحمد لله رب العالمين
وصلى الله  على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم



 


Poskan Komentar