Rabu, 28 Januari 2015

SHALAT GERHANA MATAHARI



SHALAT GERHANA MATAHARI

1.    Dari Aisyah RA, ia berkata :
“Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasululloh r maka beliau mengutus seorang penyeru untuk mnyerukan “As-shalatu jaami’ah.” Lalu berdirilah Rasululloh r melaksanakan shalat dengan empat ruku’ dalam dua rakaat dan empat sujud.” (Riwayat Al-Bukhari).
2.    Dari Aisyah RA, ia brkata :
“Terjadilah gerhana matahari pada zaman Nabi r, maka berdirilah beliau dan shalat mengimami orang-orang, beliau panjangkan bacaan, kemudian ruku’ dengan memanjangkannya, lalu mangangkat kepala. Beliau panjangkan lagi bacaan tetapi lebih pendek dari bacaan pertama, kemudian ruku’ dengan memanjangkanya- tetapi lebih pendek daripada ruku’ pertama. Lalu mengangkat kepala. Kemudian melakukan sujud dua kali. Setelah itu, beliau berdiri dan melakukan pada rakaat kedua seperti yang beliau lakukan pada rakaat pertama. Kemudian salam. Dan ketika itu matahari sudah kelihatan terang. Lalu beliau berkhutbah, sabdanya : “sesungguhnya, tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena matinya seorang atau lahirnya seseorang. Akan tetapi keduanya merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah yang Dia perlihatkan kepada para hamba-Nya. Maka apabila kalian melihat kejadian tersebut, segeralah bershalat …” dalam riwayat lain : “Apabila kalian melihat kejadian tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, bershalatlah dan bersedaklah.” Sabda beliau selanjutnya “Hai umat Muhammd, tiada seorangpun yang lebih cemburu daripada Allah bila berzina seorang hamba-Nya yang laki-laki, atau berzina hamba-Nya yang perempuan, Hai umat Muhamad, Demi Allah andaikata kalian mengetahui apa yang kuketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Ketahuilah, bukanlah telah kusamapikan?” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim, secara ringkas dari kitab Jami’ Al-Ushul 6/156-158).

Poskan Komentar