Rabu, 11 Februari 2015

30 Langkah Cara Mendidik Anak



LANGKAH 10
MEMBERI JAWABAN ATAS SEGALA PERTANYAAN DAN MENGARAHKAN DENGAN PENGARAHAN YANG SESUAI

Yang juga merupakan keistimewaan anak pada fase pertama adalah banyak bertanya dengan pertanyaan yang memenatkan. Bagi setiap ayah dan ibu jangan menghardik putra-putri mereka karenanya. Keistimewaan ini memiliki banyak manfaat:
1.       Membuka wawasan akal anak.
2.       Anak akan lebih dekat kepada orang tua.
3.       Mengetahui kecenderungan anak dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya.â
*  *  *
Contoh Praktis Pentingnya Jawaban Atas Seluruh Pertanyaan Serta Arahan Yang Sesuai Dalam Membina Kepribadian Anak

Jika anak anda bertanya tentang api, maka jawab dan katakan:
“Api diciptakan oleh Allah. Jika Allah berkehendak maka akan mengatakan 'Jadi! maka jadilah apa yang dikehendaki-Nya.' Setelah itu mulailah mengarahkan mereka dengan bertanya: 'Apakah engkau tahu, kemana tempat kembalinya orang yang memaksiati Allah?' Anak anda tentu tidak tahu kemana, maka sampaikan bahwa siapa saja yang memaksiati Allah akan masuk ke dalam neraka, tempat yang panasnya melebihi panas api dunia.

LANGKAH 11
SUKA BERKOMPETISI

Pada fase pertama, anak memiliki keistimewaan menyukai kompetisi di antara mereka. Kita hendaknya mengarahkan kompetisi itu dalam perkara yang mulia
“Untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (QS.al-Muthaffifîn:26)
Seperti berkompetisi dalam ketaatan semisal: shalat, puasa dan amalan-amalan sunah lain. Semua itu kita jadikan ajang kompetisi.
*  *  *
Contoh Praktis Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Kompetisi Ketaatan Dalam Membangun Kepribadian Anak

1.                   Samuroh Ibn Jundab -radiallahu'anhu- berkata:
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- mengumpulkan remaja-remaja Anshar. Jika beliau menganggap ada dari mereka yang telah balig, beliau akan mengizinkannya ikut berperang. Pada suatu tahun aku mengajukan diriku. Turut pula mengajukan diri seorang remaja lain dari Anshar. Beliau mengizinkan remaja itu dan menolakku. Aku pun berkata:
“Engkau telah mengizinkan anak yang jika aku gulati niscaya aku akan mengalahkannya.”
Nabi berkata: “Gulati dia.”[1]

2.                   Abdurrahman Ibn Auf -radiallahu'anhu- berkata:
“Aku tengah berada dalam saf peperangan Badar. Ketika menoleh ke kanan dan kiriku ada dua orang pemuda. Aku merasa cemas dengan keberadaan mereka dalam peperangan. Seorang dari mereka berbisik kepadaku:
“Wahai paman, tunjukkan kepadaku yang mana Abu Jahal!”
“Wahai putra saudaraku, apa yang akan engkau lakukan dengannya?” Tanyaku.
“Wahai paman, aku telah berjanji kepada Allah, jika melihatnya aku akan membunuhnya atau mati karenanya.” Jawab pemuda itu.
Seorang lagi berbisik seperti itu pula. Masing-masing tidak mau yang lain mengetahuinya. Sehingga tidak ada yang membuatku senang, selain berada di antara keduanya. Aku pun menunjukkan yang mana Abu Jahal. Keduanya pun melesat seperti dua ekor elang dan menyerang Abu Jahal. Kedua pemuda itu adalah putra Afro’.”[2]
*  *  *

3.       Disebutkan oleh Ibnu Jarir dalam kitab tarikhnya dari jalan Saif dari Abdullah Ibn Syabramah dari Syaqiq, dia berkata:
“Kami menyerbu al-Qodisiah tengah hari. Ketika mundur waktu telah masuk waktu shalat, sedangkan muazin dalam keadaan terluka. Orang-orang pun ingin menggantikan muazin, hingga hampir-hampir saling berperang. Saad -radiallahu'anhu- akhirnya melakukan undian di antara mereka, sehingga terpilih salah seorang dari mereka dan dikumandangkanlah adzan.[3]

LANGKAH 12
MENJADI DERMAWAN DENGAN LEBIH MENDAHULUKAN SAUDARANYA KETIMBANG DIRINYA SENDIRI

Anak-anak pada fase pertama memiliki keistimewaan menyukai kepemilikan. Itu merupakan naluri yang melekat pada setiap anak manusia. Oleh karena itu kedua orang tua hendaknya mengarahkan naluriah tersebut dengan menanamkan kebaikan kaum Anshar, yang dipuji Allah dalam firman-Nya:
 “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS.al-Hasyr:9)
Yaitu dengan itsar (mendahulukan orang lain). Menanamkannya pada diri mereka dengan praktek langsung maupun tidak langsung, seperti dengan menyampaikan kisah-kisah yang mendorong untuk melakukan itsar.
*  *  *
Contoh Praktis Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Membekali Anak Dengan Itsar Dalam Membangun Kepribadian

1. "Ketika kaum Muhajirin  tiba di Madinah, Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-  mempersaudarakan antara Abdurrahman Ibn Auf dengan Sa'ad Ibn ar-Rabi'. Berkatalah Sa'ad kepada Abdurrahman Ibn Auf:
"Aku adalah orang Anshar yang paling berharta. Hartaku aku bagi dua denganmu. Aku juga memiliki dua istri, lihat mana yang engkau sukai dari keduanya dan katakan kepadaku, aku akan menceraikannya, jika selesai masa iddahnya[4] nikahilah dia."
Abdurrahman menjawab:
"Semoga Allah memberkahi dirimu, keluarga dan hartamu[5] . Di mana pasar kalian?"
Orang-orang menunjuk pasar Bani Qoinuqo. Tidak berselang waktu, Abdurrahman sudah memiliki kelebihan sandang dan makanan."[6]

Dikeluarkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah -radiallahu'anhu-, dia berkata:
“Orang-orang Anshar berkata kepada Nabi -shalallahu alaihi wasallam-:
‘Bagikanlah pohon-pohon kurma kami kepada saudara-saudara kami Muhajirin!’
Nabi berkata: “Cukup bagi kami pengayoman dari hasil buahnya?”
Para Anshar berkata: “Kami dengar dan kami taati.”[7]

Contoh Praktis

Putra anda memiliki uang di tabungannya. Pada suatu hari ajaklah dia bersama anda mengunjungi lembaga sosial yang memberikan bantuan dan pertolongan kepada orang fakir dan terlantar. Berinfaklah anda di hadapannya. Diperjalanan sekembalinya dari sana, ceritakan mengenai penderitaan anak-anak yang seumur dengannya, kemudian usulkan bagaimana jika besok dia sendiri yang berinfak walau sedikit. Anda akan dapatkan dia begitu peduli tanpa ragu. Hal itu karena dia melihat praktek nyata di hadapannya.
* * *
LANGKAH 13
PERHATIKAN PAKAIAN ANAK ANDA

Pakaian penting dalam membentuk kepribadian anak. Sudah seharusnya kita memperhatikannya agar sesuai dengan standar syariat yang sudah jelas tanpa berlebih-lebihan maupun menyepelekannya. Karena itulah para Salafussoleh begitu perhatian dalam hal ini dan tidak melalaikannya.
*  *  *

Contoh Praktis Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Pakaian
Dalam Pembentukan Kepribadian Anak

1.                   Imam Malik berkata:
“Aku berkata kepada Ibuku: ‘Aku akan pergi untuk mencatat ilmu?”
“Kemari, pakailah pakaian penuntut ilmu!” Beliau pun memakaikanku pakaian musyammar[8] dan memakaikan kopiah dengan serban di atasnya, kemudian berkata:
‘Sekarang pergilah!’ Dan berkata: ‘Pergilah kepada Robi’! Pelajarilah adabnya (akhlaknya) sebelum mempelajari ilmunya.”[9]
*  *  *
2.                   Muhammad Ibn Auf berkata:
“Aku bermain bola. Bola masuk ke tempat al-Muafa Ibn Imran al-Hamsha. Aku pun masuk ke tempat al-Muafa untuk mengambilnya. Imran bertanya:
“Putra siapakah engkau?”
“Putra Auf Ibn Sofyan.” Jawabku.
“Sesungguhnya ayahmu itu adalah saudara kami, yang menulis Hadits dan ilmu. Ia mirip denganmu. Ikutilah apa yang dahulu ayahmu lakukan!...”
Aku pun pulang mendatangi ibuku dan aku sampaikan apa yang baru saja terjadi. Ibu berkata:
“Benar, dia adalah sahabat ayahmu.” Ibu pun memakaikanku kemeja dan sarung. Kemudian aku mendatangi al-Muafa untuk belajar dengan membawa tempat tinta dan kertas.”[10]
* * *
LANGKAH 14
TERAPILAH EMOSI ANAK

Pada fase pertama, anak memiliki keistimewaan emosional baik pada perkara penting maupun sepele. Di antara perkara penting yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1.                   Takut.
Di antara kesalahan fatal yang dilakukan oleh kebanyakan orang tua adalah menakut-nakuti anak dengan kegelapan atau pencuri misalnya. Ini adalah perkara yang salah. Tidak seharusnya ditakut-takuti seperti itu, karena akan berdampak buruk. Hal itu akan menyebabkan gangguan kejiwaan, mengompol, depresi dan kelabilan. Justru semestinya menciptakan suasana aman ketika bersama kita dan mengaitkan perasaan takut hanya kepada Allah saja.
*  *  *
2.                   Marah
Terkadang anak marah kepada ayah dan ibunya. Di antara bentuk ekspresi dari kemarahan itu bisa dengan tidak mau makan. Pemicunya bisa jadi hinaan dan kritik. Kemarahan seperti ini tidak termasuk kedurhakaan, karena pada fase ini mereka belum mumayiz[11]. Jika putra dan putri anda marah, tinggalkan dia dan jangan ditanggapi. Merupakan kesalahan besar memenuhi segala keinginannya hanya karena kemarahannya. Yang semestinya adalah menjelaskan kepadanya mengenai kesalahannya dengan cara yang sederhana ketika dia sudah mulai tenang.
Kita juga mesti mendidik anak kita jika kita marah. Kita akan marah jika berhubungan dengan hak-hak Allah. Raut wajah akan berubah jika melihat kemungkaran yang tidak bisa diubah baik dengan lisan ataupun tangan.

Contoh Praktis Dan Kisah Dalam Hal Ini

1. Abdulaziz Ibn Marwan mengutus putranya, Umar ke Madinah untuk belajar adab. Ia menugaskan pengajarannya kepada Solah Ibn Kaisan dengan kesepakatan harus melaksanakan shalat. Suatu hari Umar terlambat shalat, sehingga ditanya oleh Solah:
“Apa yang membuatmu terlambat?”
“Tukang sisirku menyisiriku.” Jawabnya.
“Hanya menyisir rambut sampai mengganggu shalatmu?” Ungkap Solah kesal. Solah pun menulis surat kepada ayahnya. Sehingga ayahnya mengirim utusan dan tidak berbicara sampai menggunduli rambut Umar putra khalifah.[12]
*  *  *
3. Kecemburuan
Cemburu merupakan salah satu sifat yang melekat dalam jiwa. Ada anak berkata: “Ayah lebih sayang kepada adik bungsuku...” Itu merupakan gambaran kecemburuan.
Kedua orang tua mestilah memperhatikan sisi ini dengan perhatian yang besar, dengan cara memberikan setiap anak hak-haknya tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain. Agar tidak lahir permusuhan dan kedengkian di antara mereka.

LANGKAH 15
DIDIK AGAR MEMILIKI KECEMBURUAN TERHADAP AGAMA

Sudah semestinya para orang tua mendidik putra-putrinya agar memiliki kecemburuan terhadap agama ini, dan itu adalah metode yang dilakukan oleh generasi salaf[13] umat ini dahulu.

Langkah-langkah praktis menghidupkan kecemburuan terhadap agama pada jiwa putra-putri kita:

1.       Menceritakan kisah-kisah dan permisalan-permisalan anak-anak kecil di masa Sahabat dan Tabi’in akan betapa besarnya kecemburuan mereka terhadap agama ini.
2.       Biarkan mereka menyaksikan apa yang dilakukan musuh-musuh agama ini terhadap anak-anak seusia mereka dari anak-anak kaum muslimin; seperti yang terjadi pada anak-anak di Palestina.
3.       Menyemangati dan memotivasi dengan pemberian hadiah.

*  *  *
Contoh Praktis Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Menanamkan Kecemburuan Terhadap Agama Dalam Jiwa Anak

1.                   Abdurrahman Ibn Auf -radiallahu'anhu- berkata:
Ketika berada dalam saf pada peperangan Badar, aku mendapatkan di kanan dan kiriku dua orang pemuda belia dari kalangan Anshar. Aku berharap berada dekat dengan keduanya. Salah seorang memberi isyarat kepadaku dan berkata:
“Wahai paman, tahukah engkau yang mana Abu Jahal?”
“Apa yang ingin engkau lakukan dengan Abu Jahal wahai putra saudaraku?” Tanya Abdurrahman.
“Aku dengar dia mencerca Rasulullah. Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, jika aku melihatnya tidak akan aku biarkan dia lepas dari dariku hingga terbunuh.” Jawab pemuda itu.[14]
Point dari cerita di atas:
“Aku mendengar dia mencerca Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-.”

*  *  *
2.                   Anak-Anak Bahrain
Diriwayatkan bahwa anak-anak Bahrain bermain kasti. Seorang kepala uskup duduk menyaksikan. Ketika bola terjatuh mengenai dadanya, si uskup mengambilnya. Anak-anak meminta agar bola dikembalikan kepada mereka, tetapi sang uskup menolak. Salah seorang anak berkata:
“Aku memintamu mengembalikannya demi Zat yang telah mengutus Muhammad sebagai Rasul.”
Sang kepala uskup tetap menolak, bahkan mulai mencemooh Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-. Anak-anak itu pun naik pitam dan menyatroni sang kepada uskup dengan stik mereka dan memukulinya hingga tewas.
Kejadian itu disampaikan kepada Umar Ibn al-Khatthab -radiallahu'anhu-. Sungguh Umar tidak pernah segembira mendengar penaklukan atau mendapatkan hasil rampasan perang seperti kegembiraannya ketika mendengar apa yang dilakukan anak-anak Islam itu dan berkata:
“Sekarang Islam telah mulia. Anak-anak kecil Islam ketika Nabinya dilecehkan murka dan membelanya.”[15]
* * *
LANGKAH 16
KECENDERUNGAN UNTUK MEMILIKI KETERAMPILAN

Pada fase pertama, anak memiliki karakteristik kecenderungan menguasai keterampilan. Hendaknya kita memanfaatkan kesiapan itu untuk menumbuhkan beberapa keterampilan seperti keterampilan berpidato, menulis atau keterampilan-keterampilan lain yang bermanfaat bagi kemajuan umat. Tidak mengapa jika orang tua mengkhususkan waktu walau sehari seminggu untuk mengadakan suatu acara yang dapat meransum dan memotivasi keterampilan itu. Memberikan hadiah agar anak lebih merespons acara atau program itu.

* * *
LANGKAH 17
MEMPERKAYA PERKEMBANGAN BAHASA DENGAN CEPAT

Anak menikmati masa awal hidup mereka dengan menyerap secara cepat kosakata bahasa yang diucapkan orang tuanya. Karenanya kedua orang tua harus bersemangat untuk memperkaya putra-putri mereka dalam sisi ini. Baik dalam pembicaraan di antara mereka atau ketika bercerita tentang kisah-kisah Islami yang dikisahkan dengan bahasa formal sehingga dapat menambah perbendaharaan bahasa mereka. Tidaklah lenyap bahasa Arab melainkan ketika kita melalaikannya.
Pengetahuan anak akan bahasa Arab membantu mereka dalam memahami makna kitab dan sunah. Oleh karena itu kita harus konsentrasi pada sisi ini dengan perhatian yang besar.
* * *
LANGKAH 18
PENEMU KECIL

Anak-anak pada fase pertama suka membongkar pasang barang. Itu menyerupai perangai seorang penemu dalam membongkar dan merangkainya kembali. Hal itu jangan membuat kita menjadi emosi jika mereka membongkar atau merusak sesuatu. Hal itu terjadi karena kita tidak memberi mereka alternatif yang sesuai. Semestinya kita mengarahkan karakteristik tersebut dengan menanamkan kepada mereka hal-hal penting, seperti keterkaitan kepada rumah Allah. Membongkar pasang dapat membuka wawasan nalar dan akal mereka dan menjadikan mereka bersandar pada diri sendiri sewaktu membongkar sesuatu dan memasangnya kembali.

Contoh Praktis Pentingnya Hal Itu Dalam Membangun Kepribadian Anak

Belilah mainan berbentuk masjid. Minta anak untuk menyusunnya. Hal itu akan menanamkan kecintaan kepada rumah Allah dalam jiwa mereka, karena secara naluriah anak-anak mencintai mainan mereka. Itu terjadi dengan cara tidak langsung.  Demikian halnya dengan permainan seperti menyusun gambar, teka-teki atau puzzle.
* * *
LANGKAH 19
DICINTAI, DITERIMA DAN DIHARGAI

Anak-anak butuh dicintai, diterima oleh kedua orang tua dan guru mereka. Sudah semestinya ia merasakan bahwa dirinya adalah sumber kebahagiaan, pujian, kebanggaan ibu, ayah, keluarga dan pengajarnya. Jika bicara, yang lain diam mendengar pembicaraannya dan memberinya kesempatan luas. Dengan demikian ia akan merasa diterima, dihargai dan terlihat kecintaan kedua orang tuanya padanya.
*  *  *

Contoh Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Cinta, Penerimaan Dan Penghargaan

1.       Dari Usamah Ibn Zaid -radiallahu'anhu-, dari Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bahwa Nabi membawanya beserta Hasan dan berkata:
((اللهم إني أحبُّهما فأحبّهما))
“Ya Allah, aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.”
Atau sebagaimana yang dikatakan Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-.[16]

*  *  *
2.       Ibnu Juraij berkata dari Atma:
“Seorang lelaki berbicara kepadaku dan aku diam mendengarkan seolah belum pernah mendengarnya. Padahal aku telah mendengarnya sebelum dia dilahirkan.[17]
Ini pada orang dewasa. Lalu bagaimana dengan anak-anak, tentu lebih lagi.
3.       Aisyah -radiallahu'anha- bercerita tentang Fathimah, putri Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-:
“Jika Fathimah datang kepada Nabi -shalallahu alaihi wasallam-, Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- menyambut dan menciumnya. Demikian pula yang dilakukan Fathimah kepada Nabi -shalallahu alaihi wasallam-.[18]
Aisyah -radiallahu'anha- berkata:
“Kami, istri-istri Nabi -shalallahu alaihi wasallam- berkumpul bersama beliau dan tidak ada seorang pun yang tidak hadir. Kemudian Fathimah datang. Cara berjalannya seperti Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-. Ketika Rasulullah melihatnya beliau menyambutnya dan berkata: “Selamat datang putriku.” Kemudian mendudukkannya di sampingnya.[19]

LANGKAH 20
MENYUGESTI KEBERHASILAN ANAK

Setiap ayah dan ibu haruslah memiliki target. Targetnya adalah keberhasilan putra-putrinya dalam kehidupan ini. Puncak keberhasilan dari keberadaan mereka adalah terealisasinya penghambaan kepada Allah, Tuhan semesta alam sesuai dengan al-Quran dan sunah. Tentu itu bukan berarti melalaikan keberhasilan mereka dalam perkara duniawi
قال الله تعالى: {رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ} (البقرة : 201)

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Al-Baqarah:201)
Islam pertengahan dalam kebutuhan ruh dan jasad. Tidak ada kerahiban (kependetaan) mutlak tidak pula materialistik murni. Pertengahan dalam memenuhi ransum ruh dan jasad bagi manusia. Anak-anak butuh motivasi keberhasilan hingga sampai kepada tujuannya.
Memang terkadang terdapat beberapa kendala, seperti perbedaan kemampuan dan karakteristik setiap anak. Ayah dan ibu hendaknya memperhatikan keadaan ini sehingga nantinya tidak membebani anak-anak dengan sesuatu di luar kemampuan mereka.
Tidak boleh sama sekali membebani anak dengan pekerjaan sulit melebihi kemampuannya yang akan membuatnya gagal. Karena akibatnya ia akan merasa tidak mampu, kecewa, lemah dan menahan diri untuk melanjutkan aktivitasnya, bahkan menghindarinya.



â  Sekaligus untuk tidak memberi kesempatan mereka mendapatkan maklumat salah yang mereka serap dari sumber yang keliru seperti tv dan sebagainaya.
[1] Musnad ar-Rumâni II/78.
[2] Al-Bukhari no.3988. kitab: al-Maghazi.
[3] Hayatus Sohahab  IV/154.
[4] Iddah adalah masa tunggu seorang wanita setelah cerai dari suaminya. Pada masa itu sang wanita tidak boleh dipinang atau menikah. Waktunya tiga kali masa haidh atau suci dari haidh.
[5] Abdurrahman menolak dengan halus –pent.
[6] Al-Bukhari no.3780. Fathul Bâri 7/486.
[7] Al-Bukhari no.3782 Bâr Ikha an-Nabi Muhajirin wal Anshar. Al-Fath 7/486.
[8] Pakaian musyammar maksudnya pakaian yang dipakai oleh orang yang akan melakukan pekerjaan serius, lengan tergulung dan tidak menjuntai kelantai.
[9] Sholahul Ummah, Sayyidul Afâni 7/70.
[10] Siar a’lam an-Nubala 12/615.
[11] Belum dapat membedakan antara kebenaran dengan keburukan yang sederhana.
[12] Siar a’lam an-Nubala 5/116.
[13] Salaf secara harfiah artinya terdahulu. Maksudnya adalah tiga generasi pertama Islam; generasi sahabat Nabi, Tabi’in dan Tabi’ut tabi’in -pent.
[14] Al-Bidayah wa an-Nihahah Ibnu Katsir 3/288.
[15] Manhaj Tarbiah Nabawiah, Muhammad Nur dengan sedikit perubahan.
[16] Al-Bukhari no.3747. Kitab Fadhail Ashab Nabi. Bab: Nabnaqibul halasan wal Husain.
[17] Siar a’alam an-Nubala 5/77-78.
[18] Siar a’lam an-Nubala 2/18-134.
[19] Ibid.
Poskan Komentar