Rabu, 11 Februari 2015

Lanjutan 30 Langkah Cara Mendidik Anak



LANGKAH 21
INTILAQ (MEMULAI)

Semestinya setiap ayah dan ibu memberi kebebasan anak untuk bergerak. Mereka butuh berjalan, berlari, berbicara, memanjat, melompat dan itu adalah tabiat anak-anak yang normal. Yang saya maksud banyak bergerak. Merupakan kesalahan mengekang tabiat tersebut. Ini penting sekali dari sisi kesehatan, karena bergerak bermanfaat bagi pertumbuhan fisik, naluri dan memicu kecerdasannya.
* * *

LANGKAH 22
PERSIAPKAN UNTUK MEREKA TEMAN-TEMAN YANG SALEH

Manusia secara tabiat naluriah suka bersosialisasi dan butuh kepada orang lain yang mempergauli, berbicara dengannya, menyertai kegelisahan, kesedihan dan kegembiraannya. Teman memiliki pengaruh yang amat besar dalam pembentukan kepribadian anak. Orang dahulu mengatakan:
"Katakan kepadaku siapa temanmu akan aku katakan siapa engkau."
Dalam sebuah syair:
Jangan bertanya kepada seseorang tentang dirinya tetapi tanyalah
setiap temannya, dengan temannya kamu akan mengetahuinya
Sudah seharusnya para ayah dan ibu membenamkan putra putri mereka dalam lingkungan yang saleh, agar dapat menyerap kebaikan dan tumbuh di atasnya. Teman memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam mempengaruhi perangai dan memotivasi temannya. Sehingga amat penting bagi anak kita memiliki teman yang berakhlak dan beragama. Tidaklah cukup pengetahuan kita akan bapaknya menjadikan kita tenang bahwa anak kita telah memiliki teman yang sesuai. Sebagaimana pula wajib ditanamkan bahwa pertemanan itu hendaknya terikat dengan ikatan syariat.
*  *  *
Contoh Realisasi Dan Kisah-Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Teman Yang Saleh
1.       Dari Abu Musa al-Atsari –radiallahu'anhu-  dari Rasulullah  -salallahu alaihi wasallam-, beliau bersabda:
((إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً))
"Sesungguhnya permisalan teman duduk yang saleh dan yang jelek adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi boleh jadi memberimu minyak, menjualnya kepadamu atau engkau dapati bau wanginya. Sedangkan pandai besi boleh jadi membakar bajumu atau engkau dapati bau tak sedap darinya."[1]
2.       Nabi -shalallahu alaihi wasallam- mempersaudarakan Salman dengan Abu Darda -radiallahu'anhu-.
Suatu kali Salman mengunjungi Abu Darda dan didapatinya Umu Darda dalam keadaan murung.
"Ada apa denganmu?" Tanya Salman.
"Saudaramu, Abu Darda sudah tidak berhajat dengan dunia..." Jawab Umu Darda.
Abu Darda pun muncul. Salman dibuatkan makanan. Abu Darda berkata:
"Makanlah! Adapun aku, aku sedang puasa."
"Aku tidak mau makan hingga engkau mau makan bersamaku." Jawab Salman.
Abu Darda akhirnya ikut makan.
Ketika datang malam, Abu Darda bangun dari tidurnya hendak melakukan shalat malam. Salman berkata kepadanya:
"Tidurlah!"
Abu Darda pun tidur lagi.
Tidak lama kemudian Abu Darda bangun lagi hendak melakukan shalat malam.
"Tidurlah!" Perintah Salman lagi.
Ketika masuk akhir malam Salman berkata:
"Bangun dan salatlah sekarang..!" Keduanya pun shalat.
Salman berkata kepada Abu Darda:
"Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atas dirimu, tubuhmu juga memiliki hak atas dirimu dan keluargamu pun memiliki hak atas dirimu. Berikanlah setiap pemilik hak akan hak-haknya.’
Ketika Nabi -shalallahu alaihi wasallam- datang dan diceritakan kepadanya, beliau bersabda:
                "Salman benar."[2]
3.       As-Syafi'i -rahimahullah- berkata:
"Tersesatnya orang berilmu dikarenakan tidak memiliki teman, tersesatnya orang bodoh karena kepicikan akalnya, dan yang paling sesat adalah mereka yang berteman dengan orang yang tidak ada akalnya.[3]
4.       As-Sho’lûki berkata:
"Jika rida makhluk keterbatasannya tidak dapat diketahui, maka rida Allah keluasannya tidak ada batasnya. Kita membutuhkan 10 teman untuk 10 waktu."[4]

LANGKAH 23
JADIKAN ANAK MANDIRI

Hendaknya para orang tua membiasakan putra-putrinya mandiri dalam urusan-urusan pribadi mereka dengan cara mereka sendiri. Merupakan kesalahan melayani segala keperluan anak yang mampu mereka lakukan sendiri tanpa perlu batuan orang tua. Karena akan berdampak pada:
1.       Ketergantungan kepada orang tua dalam memenuhi segala kebutuhannya.
2.       Menghidupkan dalam diri anak kemalasan dan suka menyuruh. Setiap yang mereka butuhkan senantiasa datang kepada mereka tanpa kesulitan dan penat.
3.       Berbenturan dengan kenyataan. Karena pada kenyataannya tidaklah segala yang diinginkan bisa didapat tanpa upaya untuk mendapatkannya.
*  *  *
Contoh praktis dan Kisah-Kisah Pentingnya Kemandirian Dalam Membangun Karakter Anak
1.       Sofiah, Ibu az-Zubair Ibn al-Awwam pernah memukul az-Zubair dengan keras. Az-Zubair adalah anak yatim (ayahnya sudah meninggal). Maka ada yang berkata kepada ibunya:
"Engkau membunuhnya, engkau membinasakannya!"
Sofiah membaca bait syair:
Sesungguhnya aku memukulnya agar kuat
Dan menjadi memimpin tentara yang besar (pemberani)[5]

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah:

Ibu az-Zubair, Sofiah sangat perhatian akan pengasuhan putranya agar menjadi anak mandiri dan pemberani.

2.       Kisah yang sebelumnya kami ceritakan antara Abdurrahman Ibn Auf dan Sa'ad Ibn Ubadah yang menyebutkan:
"Ketika kaum Muhajirin tiba di Madinah, Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-  mempersaudarakan antara Abdurrahman Ibn Auf dengan Sa'ad Ibn ar-Rabi'. Sa'ad berkata kepada Abdurrahman Ibn Auf:
"Aku adalah orang Anshar yang paling berharta. Hartaku aku bagi dua denganmu. Aku juga memiliki dua istri, lihat mana yang engkau sukai dari keduanya dan katakan kepadaku, aku akan menceraikannya. Jika selesai masa iddahnya[6] nikahilah dia."
Abdurrahman menjawab:
"Semoga Allah memberkahi dirimu, keluarga dan hartamu. Di mana pasar kalian?"
Orang-orang pun menunjuk pasar Bani Qoinuqo.
Tidak berselang waktu, Abdurrahman sudah memiliki kelebihan sandang dan makanan."
(Al-Bukhari no.3780 dan Fathul Bâri 7/486)

Pelajaran dari kisah:
“Abdurrahman Ibn Auf mandiri dalam mencari nafkah dan mencari rezeki sehingga mendapatkan apa yang diinginkannya.”
* * *

LANGKAH 24
MENJADIKANNYA DAI KECIL

Sugestikan pada diri anak jalan dakwah kepada Allah -azzawajalla-. Agar anak kita menjadi dai kecil yang akan memancarkan cahaya dan penerangan. Kenapa tidak, banyak contoh dalam terbitnya fajar Islam kisah anak-anak kecil yang memiliki kontribusi cemerlang dalam berdakwah kepada Allah.  Berikut fajar cemerlang itu:

Contoh Praktis Dan Permisalan Dai Kecil

Ketika kaum Anshar tiba di Madinah setelah hijrahnya Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-  dan Islam bangkit di sana. Sisa-sisa pelaku kesyirikan masih ada di Madinah, di antaranya Amr Ibn al-Jamûh. Adapun putranya, Mua'dz merupakan salah seorang yang turut dalam bait 'aqobah[7] dan membaiat Rasulullah.
Amr Ibn al-Jamûh adalah tokoh dari Bani Salamah dan termasuk pembesar mereka. Di rumahnya ada berhala dari kayu yang disebut dengan Manah, sebagaimana yang juga dilakukan para pembesar-pembesar lainnya. Berhala itu mereka jadikan sebagai tuhan dan disucikan.
Ketika beberapa pemuda dari Bani Salamah memeluk Islam; seperti Mu'âdz Ibn Jabal, Mu'âdz putra Amr Ibn Jamûh beserta beberapa pemuda lain yang turut dalam bait 'Aqobah, tatkala malam tiba mereka mengambil berhala milik Amr dan memindahkannya ke parit Bani Salamah, tempat orang-orang membuang hajat yang penuh dengan tinja, dengan membenamkan wajah berhala itu.
Ketika pagi hari Amr terkejut dan berkata:
"Celaka! Siapa yang telah menculik tuhan kita tadi malam!?"
Dia pun mencari-cari berhalanya. Ketika didapatkannya, dicucinya berhala itu dan diberinya wangi-wangian seraya berkata:
"Demi Allah. Seandainya aku tahu siapa yang telah melakukannya kepadamu akan aku ganjar dia atas perbuatannya."
Ketika hari gelap dan Amr telah tertidur, pemuda-pemuda itu melakukan lagi hal serupa seperti yang mereka lakukan sebelumnya terhadap berhala milik Amr.
Hal itu terjadi berulang-ulang, hingga suatu kali diambilnya lagi berhalanya dari tempat pembuangan, dimandikan dan diberi wewangian. Kemudian diambilnya pedang miliknya dan digantungkan pada berhala itu seraya berkata:
"Demi Allah, sungguh aku tidak tahu siapa yang telah memperlakukanmu sedemikian seperti yang kau tahu. Jika pada dirimu ada  kebaikan, maka belalah dirimu sendiri, ini aku sertakan pedang bersamamu.”
Ketika malam dan Amr telah tertidur, anak-anak muda itu kembali beraksi, mengambil pedang yang tergantung di leher berhala, mengikat berhala dengan tali bersama bangkai anjing dan melemparkannya ke parit Bani Salamah yang berisi tinja manusia.
Pagi harinya Amr Ibn al-Jamûh kembali tidak mendapati berhalanya pada tempatnya. Dia pun kembali mencari hingga mendapatinya tersungkur di parit terikat bersama bangkai anjing. Melihat hal itu dan menyadari akan kebodohannya serta berdiskusi dengan kaum muslimin dari kaumnya, dia pun akhirnya memeluk Islam, mengikrarkan keislamannya dan bersungguh-sungguh dalam keislamannya.[8]
* * *

LANGKAH 25
KENALKAN ANAK DENGAN MUSLIHAT MUSUH-MUSUH AGAMA INI

Penting mengenalkan putra-putri kita apa yang menjadi muslihat musuh-musuh agama ini yang sesuai dengan daya nalarnya. Hal ini memiliki berbagai manfaat, di antaranya:
1.       Agar dia mengetahui keburukan, sehingga dapat menghindari dan menjauh darinya.
2.       Menghidupkan loyalitas pada diri anak, dengan mengenalkan mereka bahwa motivasi muslihat musuh adalah kedengkian terhadap Islam.
3.       Menambah kecintaan terhadap agama.
* * *
LANGKAH 26
PUTUS ASA ADALAH JALAN KEGAGALAN

Kepada para ayah dan ibu janganlah mengenalkan jalan keputusasaan di hati anak-anak. Karena orang tua memikul amanah yang besar, hendaknya bersabar dan berjalan ke depan dalam mendidik putra-putrinya pendidikan Islami yang benar, yang menuntun mereka untuk mengamalkan agama ini dan merealisasikan cita-cita dari keberadaan mereka yaitu mengibadahi Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu.
Hidup senantiasa diselimuti banyak kendala dan kekurangan. Ketenangan abadi hanyalah di negeri yang kekal akhirat. Adapun dunia, ia adalah negeri amal dan cobaan. Kita hanyalah melintasinya untuk menuju negeri akhirat yang merupakan negeri perhitungan dan balasan. Oleh sebabnya kenapa kita harus berputus asa?!

Contoh Praktis Dan Kisah Yang Menunjukkan Ketidakputusasaan

1.       Aisyah -radiallahu'anha- bertanya kepada Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- :
"Adakah hari yang lebih sulit  yang engkau lalui dari hari perang Uhud?"
Nabi menjawab:
"Aku telah mengalami segala perlakuan yang dilakukan oleh kaummu terhadapku. Yang paling berat dari yang aku alami adalah peristiwa Aqobah. Aku telah menyampaikan keadaanku kepada Ibnu Abduyâlail Ibn Abdul Kilab, tetapi dia tidak menggubris apa yang menjadi keinginanku. Aku pun pergi dengan kesedihan di wajahku. Ketika tersadar aku telah berada di Qorn ats-Tsa'âlib. Ketika kuangkat kepalaku, ternyata awan telah menaungiku. Ketika aku tatap ternyata ada malaikat Jibril, yang kemudian menyapaku, dan berkata:
"Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu serta sikap mereka. Malaikat gunung telah diutus kepadamu supaya engkau perintah sekehendakmu.”
Malaikat gunung menyapa dan memberi salam kepadaku, lalu berkata:
"Wahai Muhammad, sekarang terserah padamu. Jika engkau berkehendak aku akan timpakan kepada mereka dua gunung ini."
Nabi -shalallahu alaihi wasalam- menjawab:
"(Tidak), bahkan aku berharap akan keluar dari keturunan mereka orang-orang yang akan menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."[9]
* * *
LANGKAH 27
HENDAKNYA BERSABAR

Kata sabar di dalam al-Quran disebut lebih dari 70 kali. Ini menunjukkan betapa penting dan besarnya kesabaran. Cita-cita dan harapan tidak akan tercapai tanpa kesabaran menapaki kesulitan dan beratnya beban mendidik. Ia merupakan jalan panjang yang dipenuhi kesulitan dan kepenatan. Para orang tua hendaknya menyadari bahwa tanggung jawab ini berat, tidak sekadar menyediakan makan dan minum saja, lebih dari itu. Hendaknya menghiasi diri dengan kesabaran, mengenakannya dan menjadikannya moto dalam mendidik. Orang tua mendapat pahala manakala disertai dengan niat yang saleh.
*  *  *
Contoh Praktis Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Kesabaran

Urwah Ibn az-Zubair dan putranya, Muhammad mendatangi Walid Ibn Abdul Malik. Muhammad putra Urwah adalah anak yang amat tampan wajahnya. Suatu hari dia datang kepada al-Walid mengenakan pakaian bordir bermotif warna dengan rambut dikepang dua sambil menepuk tangannya. Walid berkata:
"Beginilah semestinya pemuda Quraisy!” dia pun terkena ain[10]. Ketika keluar dia menjadi linglung, terjatuh pingsan di penambatan kuda dan terinjak-injak kuda hingga tewas. Sementara ayahnya, Urwah terjangkit kusta di kakinya. Para tabib didatangkan. Mereka berkata: “Jika tidak dipotong, kustanya akan menggerogoti bagian tubuh yang lain dan akan membinasakannya.” Akhirnya diputuskan memotong kakinya. Pemotongan dilakukan dengan gergaji. Ketika  gergaji diletakkan di kakinya dia meletakkan kepalanya ke bantal. Selang satu jam dia pun pingsan. Ketika sadar, keringat bercucuran di wajahnya, dan dia terus mengucap tahlil dan takbir. Seusai pemotongan Urwah mengambil potongan kakinya, membolak-baliknya dengan tangannya seraya berkata:
"Sungguh yang membuatku lega dan engkau mengetahuinya, bahwa aku tidak pernah membawamu ke tempat haram dan maksiat, tidak pula pada apa yang tidak diridai Allah."
Kemudian dia memerintahkan memandikan, meminyaki, mengafani potongan itu dengan beludru dan dikuburkan di pekuburan muslimin. Ketika tiba di Madinah dan berada bersama al-Walid, karib kerabat dan para sahabatnya menyambutnya dan berbela sungkawa terhadapnya. Namun dia berkata:
"...Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini". (QS. Al-Kahfi:62)
Tidak lebih dari itu.
Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata:
"Ketika kakinya akan dipotong orang-orang berkata: ‘Jika boleh, kami akan memberimu suatu minuman agar tidak berasa sakit!"
Namun Urwah berkata: "Sesungguhnya aku diuji untuk melihat kesabaranku. Apakah kemudian aku akan berpaling darinya."[11]
* * *
LANGKAH 28
BERKONSULTASI (BERMUSYAWARAH)

Berkonsultasi amatlah penting dalam pendidikan anak. Ia merupakan tahapan pendidikan terpenting dan salah satu fondasi pokok. Yang demikian karena ia memiliki banyak manfaat dan hasil yang paripurna bagi yang mempraktekkan dan memperhatikannya. Ia menjauhkan kita dari problematika yang sebetulnya solusi dari problematika tersebut kita miliki. Oleh karena itu, kita hendaknya berkonsultasi kepada spesialis dalam perkara ini dari para alim ulama yang  terpercaya agama dan amalnya.
Al-Hasan al-Bashri -rahimahullah- berkata:
"Demi Allah, tidaklah suatu kaum bermusyawarah, melainkan diberi petunjuk kepada yang lebih baik dari keadaan mereka semula." Kemudian dia membaca:
"...Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka..." (QS.Syuro:38)[12]
*  *  *
Contoh Praktis Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Musyawarah
1.       Dahulu kaum Anshar sebelum datangnya Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- jika hendak melakukan suatu urusan mereka bermusyawarah, baru kemudian dilaksanakan. Sehingga Allah memuji mereka dan Rasulullah memerintahkan mereka melakukannya.[13]
2.       Nabi -shalallahu alaihi wasallam- berkonsultasi kepada para sahabatnya mengenai perseteruan dengan musyrikin Quraisy. Abu Bakar -radiallahu'anhu-  berdiri dan berkata dengan perkataan yang terbaik. Berdiri pula Umar Ibn al-Khatthab -radiallahu'anhu-  dan berkata dengan perkataan yang baik. Al-Miqdad Ibn Amr pun berdiri pula dan berkata:
"Wahai Rasulullah, titahkan apa yang hendak engkau perintahkan sebagaimana yang Allah perlihatkan kepadamu. Kami bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh  Bani Israel kepada Musa:

 “...Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (al-Maidah: 24)
Akan tetapi pergilah engkau bersama dengan Tuhanmu dan berperanglah, sesungguhnya kami bersamamu turut berperang. Demi Zat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau berjalan membawa kami ke tempat yang jauh, niscaya kami akan menetapinya hingga engkau mencapainya. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- mengatakan kebaikan dan mendoakannya, kemudian berkata:
((أشيروا عليّ أيها الناس))
“Berilah saran kepadaku wahai manusia!”
Yang beliau maksud adalah kaum Anshar. Yang demikian karena Anshar mayoritas, dan ketika Baiat Aqobah telah berikrar:
“Wahai Rasulullah, kami berlepas diri dari celaanmu hingga engkau sampai ke tempat kami. Jika engkau tiba di tempat kami, engkau dalam perlindungan kami. Kami akan membelamu sebagaimana kami membela anak-anak dan istri-istri kami.”
Mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- berujar demikian, Saad Ibn Mu’adz, salah seorang tokoh Anshar berkata:
“Demi Allah, engkau memaksudkan kami wahai Rasulullah?”
“Ya.” Jawab Rasulullah.
“Sungguh kami telah beriman dan mempercayaimu wahai Rasulullah.”[14]

LANGKAH 29
ISTIKHARAH (Meminta Petunjuk Kepada Allah)

Ia merupakan petunjuk nubuat yang diajarkan Rasulullah kepada kita. Sebagaimana yang dikatakan oleh Jabir Ibn Abdullah -radiallahu'anhuma-:
"Rasulullah mengajarkan kami istikharah dalam setiap perkara sebagaimana mengajarkan kami surat dari surat-surat al-Quran dan bersabda:
"Jika salah seorang dari kalian ragu dalam suatu perkara, hendaknya melakukan shalat dua rakaat sunah, lalu mengucapkan :
((اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ  وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ  فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ  اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ  وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِي عَنْهُ  وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي))
[Allahumma inni astakhiruka bi ilmika, wa astaqdiruka bi qudrotika, wa as aluka min fadhlikal adzhim, fa innaka taqdiru walaa aqdir, wa ta'lamu walaa a'alam, wa anta 'allamul ghuyuub. Allahumma in kunta ta'lamu anna hadzal amro khairun lii fii diinii wa ma'aasyi wa 'aaqibatu amrii –'aajili amrii wa aajilihi- faqdurhu lii, wa yassirhu li tsumma baarik lii fiihi, wa in kunta ta'lamu anna hadzal amro syarrun lii fii diini wa ma'aasyi wa 'aaqibatu amri –'aajili amrii wa aajilihi- fashrifhu 'anni washrifnii 'anhu, waqdir lialkhairo haitsu kaana tsumma ardhinii bihi. <Lalu menyebutkan hajatnya> ][15]
Tidak akan menyesal siapa pun yang beristikharah (meminta petunjuk) kepada Sang Pencipta dan bermusyawarah kepada kaum mukminin serta mempelajari permasalahannya. Allah -subhânahu wata'âla-  berfirman:
"…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah." (QS. Ali Imran:159)

LANGKAH 30
BERDOA KEMUDIAN BERDOA

Wahai para ayah yang baik dan ibu yang penyayang, atas kalian berdoa, kemudian berdoa; agar Allah memberi kalian taufik dalam mendidik anak-anak kalian dengan pendidikan yang saleh yang mengarahkan mereka berkhidmat kepada agama yang agung ini.
Doa memiliki peran yang amat penting dalam kesalehan dan kebaikan anak. Berapa banyak doa yang bertepatan dengan waktu pengabulan menjadi sebab kebahagiaan anak di dunia dan akhirat. Dan berapa banyak pula doa yang menyimpangkan jalan anak yang menjadikannya menapaki jalan sesat dan menyimpang. Sungguh demi Allah, berdoalah dengan doa yang saleh dan jangan meninggalkan langkah-langkah yang telah disampaikan sebelumnya.

Contoh Praktis Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Doa

1. Dari Imam ad-Dzahabi, bahwa al-Hakim berkata:
“Abu Ali an-Naisaburi menceritakan kepada kami dari syaikh-syaikhnya bahwa Ibnul Mubarok singgah di rumah Isa. Ketika itu al-Hasan, putra Isa tengah berada di atas tunggangannya melintas, sedang Ibnul Mubarok berada di majelis. Isa adalah pemuda yang memiliki paras yang tampan. Ibnu Mubarok bertanya tentangnya. Maka dikabarkanlah bahwa Isa adalah seorang Nasrani. Ibnu Mubarokpun berujar:
“Ya Allah, berilah dia rezeki keislaman!”
Doa Ibnu Mubarok itu pun dikabulkan Allah.[16]
2. Imam ad-Dzahabi berkata:
“Menceritakan kepada kami Abu Yahya Ibn ar-Râzi. Katanya:
'Aku mendengar Sa’id ar-Râzi berkata: 'Kami pergi bersama Ahmad Ibn al-Hanbal ke rumah al-Mutawakil. Ketika dia seorang saja yang diperkenankan masuk melalui pintu khusus dia berkata kepada kami: “Pulanglah kalian, semoga Allah memberi keafiatan kepada kalian.”
Setelah doa itu, tidak ada dari kami yang terkena penyakit .”[17]

3.       Al-Waqidi berkata:
"Muawiah membekali  Uqbah Ibn Nafi dengan 10 ribu dirham sebagai perbekalan perang. Hasilnya Afrika dapat ditaklukkan. Mulailah wilayah itu dipetakan. Wilayah tersebut adalah wilayah liar yang tidak pernah kosong dari binatang buas dan ular. Dia pun mendoakan tempat itu hingga tidak ada seekor pun hewan liar di sana.  Semua hewan-hewan itu pergi membawa semua anak keturunan mereka. [18]

PENUTUP:

Pada penutup tulisan ini “30 Langkah Praktis Mendidik Anak Agar Beramal Dengan Agama Ini” memang sedikit halamannya, tetapi penuh makna. Saya meminta kepada Allah -azzawajalla- menjadikan setiap yang tertulis sebagai timbangan yang baik pada hari pertemuan dengan-Nya. Hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan keturunan, kecuali bagi mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih, dan menjadikannya pengilham kebaikan kepada kebenaran.
Apa yang benar adalah dari Allah semata dan apa yang salah adalah dari diri pribadi dan setan, Allah dan rasul-Nya berlepas diri, dan saya memohon ampunan kepada Allah dari padanya.
Salawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.


[1] Muslim no.2628 bab: Istihbab Majalis Sholihin Wa Mujanabah Rufaqo As-Su'.
[2] Siar a'lam an-Nubala jilid 10.
[3] Siar a'lam an-Nubala XVII/278.
[4] Siar a'lam an-Nubala XVII/208.
[5] Siar a'lam an-Nubala XVII/208.
[6] Iddah adalah masa tunggu seorang wanita setelah cerai dari suaminya. Pada masa itu sang wanita tidak boleh dipinang atau menikah. Waktunya tiga kali masa haidh atau suci dari haidh.
[7] Nama peristiwa ikrar janji setia kepada Rasulullah setelah memeluk islam.
[8] Hayatus Sohabah I/214.
[9] Al-Bukhari Kitab: Bad'u al-Kholq Bab: Iza Qôla ahadukum âmin no.3231.
[10] Ain adalah suatu kondisi buruk yang diakibatkan oleh pandangan takjub atau dengki orang lain terhadap sesuatu itu ketika tidak disertakan pemberkatan. Nabi –salallahu alaihi wasallam- bersabda: “Adanya Ain itu adalah benar. Diakibatkan oleh setan dan kedengkian anak Adam.” (HR. Al-Bukhari) –pent.
[11] Solahul Ummah 4/389-390.
[12] Al-Bukhari, al-Adab al-Mufrod.
[13] Al-Fâiq fil Akhlak wa at-Tarbiah  1/259.
[14] Al-Bidayah wa an-Nihayah 3/261.
[15] Al-Bukhari no.6382. Kitab ad-Da'waat ( doa) bab: Du'a 'Inda Istikharah (doa ketika beristikharah).
[16] Siar a’alam an-Nubala 12/27-30.
[17] Siar a’alam an-Nubala 11/177-358.
[18] Siar a’alam an-Nubala 3/532-353.
Poskan Komentar