Selasa, 03 Februari 2015

Hak Kelima HAK SANAK SAUDARA



Hak Kelima
HAK SANAK SAUDARA

Sanak saudara yang memiliki ikatan secara langsung kepada anda, seperti: saudara kandung, paman dari bapak dan ibu dan anak-anak mereka dan semua yang memiliki hubungan dengan anda mereka memiliki hak karena adanya hubungan kekerabatan, Allah ta’ala berfirman:

"Dan berilah kepada kaum kerabat hak-haknya." (Al Isra': 26).

"Dan beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian mensekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan kepada kedua orang tua berbuat baiklah  dan (juga) kepada kaum kerabat." (An Nisa:  36).
Wajib bagi seseorang untuk menyambung silaturrahim dengan sanak saudaranya dengan cara yang ma’ruf dengan memberikan manfaat kedudukan, jiwa dan hartanya sesuai dengan kuatnya hubungan kekerabatan dan tuntutan yang ada. Inilah yang dituntut oleh syariat, akal dan fitrah.
Banyak dalil yang menganjurkan silaturrahim terhadap sanak saudara dan janji yang menggembirakan atas perbuatan tersebut. Dalam Ash-Shahihain dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( إِنَّ اللهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتِ الرَّحِمُ فَقَالَتْ: هَذَا مَقَامُ العَائِذِ بِكَ مِنَ القَطِيْعَةِ. فَقَالَ اللهُ: نَعَمْ أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكَ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكَ؟! قَالَتْ: بَلَى، قَالَ: فَذَلِكَ لَكَ ))
"Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, setelah selesai berdiri tegaklah rahim seraya berkata: “Ini adalah tempat orang yang berlindung kepada-Mu untuk tidak memutuskan silaturrahim”, Allah berfirman: “Ya, tidakkah engkau ridha Aku menyambungkan orang yang menyambungkanmu (silaturrahmi) dan memutuskan orang yang memutuskanmu”, dia berkata: “Ya”, Dia berfirman: “Itu adalah untukmu”. Kemudian bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bacalah jika kalian suka:

"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka." (Muhammad:   22-23)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ ))
"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia menyambung silaturrahim."
Banyak orang yang mengabaikan hak ini. Ada di antara mereka yang tidak mengenal sanak saudaranya. Sekian hari dan sekian bulan berlalu, mereka tidak melihatnya, tidak juga menziarahinya dan tidak menumbuhkan kecintaan dengan pemberian hadiah, tidak juga menolak bencana dengan membantu meringankan kesulitan mereka, bahkan justru ada yang berlaku buruk terhadap sanak saudaranya baik dengan perkataan maupun perbuatan atau dengan kedua-duanya, dia menyambung hubungan dengan yang jauh (bukan sanak saudara) dan memutuskan yang dekat (sanak saudaranya).
Sebagian orang ada yang menyambangi sanak saudaranya jika dia disambangi dan memutuskannya jika diputuskan, hal ini pada hakikatnya bukanlah orang yang menyambung silaturrahim akan tetapi tak lebih orang yang membalas kebaikan dengan kebaikan, dan hal tersebut dapat terjadi terhadap sanak saudara ataupun bukan karena hal tersebut bukan merupakan kekhususan sanak saudara.
Orang yang sebenarnya menyambung silaturrahim adalah mereka yang menyambung hubungan karena Allah ta’ala dan tidak peduli apakah mereka menerimanya atau memutuskannya, sebagaimana terdapat dalam hadits Bukhari dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا ))
"Bukanlah dinamakan orang yang menyambung silaturrahim orang yang membalas kebaikan dengan kebaikan, akan tetapi orang yang apabila diputuskan hubungan silaturrahimnya dia menyambungnya."
Dan seseorang ada yang bertanya kepadanya:
"Ya Rasulullah sesungguhnya saya punya seorang kerabat yang saya selalu menyambanginya tetapi dia memutuskan hubungan dengan saya, saya berbuat baik terhadapnya tapi dia berbuat buruk terhadap saya, saya selalu sopan terhadap mereka tapi mereka berlaku kasar kepada saya”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تَسْفِهُم المَلَّ، وَلاَ يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيْرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ ))
“Seandainya kamu seperti apa yang kamu katakan maka seakan-akan kamu sedang menyuapkan debu (ke mulutnya) dan kamu akan selalu mendapat pertolongan Allah atas mereka selama hal tersebut terus terjadi.” (HR. Muslim).
Selain bahwa silaturrahim menjadikan seseorang dekat kepada Allah ta’ala sehingga Dia melimpahkan rahmat-Nya kepadanya di dunia dan akhirat, memudahkan segala urusannya dan dilepaskannya dari segala kesulitan, silaturrahim juga menjadikan keluarga dekat satu sama lain, saling mengasihi dan mencintai di antara mereka, tolong-menolong di antara mereka baik saat sulit maupun saat bahagia, semua itu dapat diraih berkat silaturrahim dan dapat diketahui berdasarkan pengalaman yang ada. Dan sebaliknya akan terjadi, jika hubungan silaturrahim diputuskan atau jauh.
Poskan Komentar