Rabu, 25 Februari 2015

Melacak Virus Kemunafikan



Melacak Virus Kemunafikan

Nifaq adalah penyakit yang berbahaya dan membinasakan. Orang yang telah terserang penyakit ini tidak mungkin mendapatkan keberuntungan selamanya, kecuali jika bertaubat. Di dalam hati mereka terdapat penyakit dan Allah menambah lagi penyakitnya itu, karena mereka adalah pendusta.

Itulah munafiqin, penjual akhirat dengan kesenangan sesaat di dunia, berpura-pura menampakkan keislaman, namun hatinya memendam kekufuran dan keingkaran yang tak terhingga. Allah telah membongkar kedok dan isi hati mereka, bahwasanya mereka adalah orang yang benci terhadap apa yang diturunkan oleh Allah sehingga perbuatan baik yang mereka tampakkan tidaklah bermakna, lenyap hilang begitu saja di hadapan Allah. Sebagaimana firman-Nya, yang artinya,
"Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Qur'an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. 47:9)
Berdusta dalam setiap ucapan, mengkhianati janji, curang di dalam perdebatan, tidak mau bersikap inshaf (adil), senang dengan penyelewengan dan enggan terhadap ayat adalah sebagian sifat mereka.

Kalau di ajak melakukan kebaikan mereka lari, ketika melihat harta dan gemerlap dunia mereka berkerumun, tidak memegang sumpah, tidak mensyukuri nikmat dan di dadanya menyimpan kekufuran. Hati mereka gelap dan hitam pekat, tidak ada cahaya Islam dan tauhid, bahkan terselimuti kesyirikan, kekufuran dan kemaksiatan. Selalu menuruti hawa nafsu dan syahwat, enggan berbuat taat kepada Allah dan RasulNya, bahkan justru membelakanginya.

Dalam lembaran yang terbatas ini kami sampaikan beberapa ciri-ciri orang munafiq, bukan untuk diikuti, namun agar jangan sampai sifat-sifat tersebut melekat pada diri kita. Sebagaimana yang sering diungkapkan, bahwa kita mengetahui keburukan bukan untuk dikerjakan, namun agar dapat berhati-hati, barangsiapa tidak mengatahui keburukan, maka sangat mungkin akan terjerumus ke dalamnya.
Di antara sifat-sifat tersebut adalah:

A. Berdusta

Dusta adalah sifat yang paling dominan dari seorang munafik, dan kedustaan terbesar adalah mengatakan keimanan, padahal hatinya ingkar. Ahlun nifaq selalu identik dengan kedustaan yang senantiasa melekat pada mereka, di mana pun berada dalam setiap gerak dan diamnya.

Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman:
"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan Allah mengetahui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui, bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. 63:1)

Setiap muslim yang suka berdusta berarti telah terkena virus kemunafik-an, maka hendaklah segera mengobati penyakit ini dan menjauh sejauh-jauhnya. Seorang salaf mengatakan, "Termasuk dosa terbesar adalah lisan yang banyak berdusta (al-lisan al kadzub).

B. Membuat Kerusakan di Bumi

Setiap kali mereka membuat kerusakan di muka bumi, mereka menyangka telah melakukan perbaikan. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah memberitahukan tentang mereka melalui firman Nya, yang artinya:
"Dan bila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan". Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS. 2:11-12)

Kerusakan orang munafik yang paling mendasar adalah mendahulukan akal dan hawa nafsu daripada syariat Allah. Mereka menyangka sedang memperbaiki atau meluruskan apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Mereka mengutak atik ayat dan hadits beserta pemahamannya dengan alasan penyegaran dan pembaharuan, dan fenomena ini akan terus berkembang dari masa ke masa. Jadi yang mereka maksudkan dengan ishlah (perbaikan) adalah segala yang mengikuti akal dan pendapat mereka, bukan syariat Islam.

Modal mereka adalah ucapan yang manis dan humanis, penampilan yang keren dan meyakinkan, sehingga dengan itu mereka mudah untuk mengelabuhi orang dan menyembunyikan kemunafikannya.
“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar.” (QS. Al-Munafiqun: 4)

C. Merendahkan Orang yang Berpegang dengan Syari'at Islam

Ini adalah sifat yang sangat klasik dan terus ada hingga kini, para munafiqin sangat benci terhadap orang yang berpegang teguh dengan syari'at Islam. Mereka beranggapan, bahwa tunduk terhadap syariat adalah kedu-nguan, kebodohan dan kehinaan. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman artinya,
“Apabila dikatakan kepada mereka, "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman. Mereka menjawab, "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman". Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. 2:13)

D. Menyebarkan Keraguan Terhadap Segala yang Berkaitan dengan Islam

Mereka terus mencari celah agar manusia ragu dan bahkan anti terhadap ajaran Islam entah itu dakwahnya, berbagai kegiatannya, jihad dan amal baik yang lain. Allah telah menggambarkan mereka tatkala menggembosi kaum muslimin di dalam perang Ahzab, mereka mengatakan, bahwa Allah dan RasulNya hanya memberikan janji bohong.

Begitu pula munafikin di masa kini, merekapun tak segan-segan membuat propaganda untuk mengaburkan ajaran Islam. Seperti ucapan mereka, bahwa jilbab hanyalah adat orang Arab, pengekangan terhadap hak wanita, kemudian hukum rajam dan qishash adalah pelanggaran HAM dan lain sebagainya.

E. Berpenampilan Menipu

Yakni mulut mereka manis, penampilan mereka menarik dan meyakinkan, namun hati mereka amat dengki terhadap Islam dan kaum mukmin. Hidup mereka tergantung kepada orang, tak mampu berdiri tegak menunjukkan sikap dan jati diri, sehingga Allah menyifati mereka sebagai batang kayu yang tersandar. Ketika berada di kalangan mukmin berlagak mukmin dan ketika berkumpul dengan orang kafir mereka menampakkan keasliannya sebagai orang kafir.

F. Tidak Percaya Kepada Allah dan Tidak Membenarkan Janji Nya

Salah satu fakta yang menunjukkan hal itu adalah tatkala terjadi perang Ahzab, orang-orang munafik senantiasa berprasangka buruk kepada Allah. Berbeda dengan orang mukmin, “Dan tatkala orang-orang mu'min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". (QS.33: 22)

Berkali-kali orang munafik menampakkan sikap tidak percaya terhadap Allah dan Rasul Nya, sebagaimana yang terjadi juga dalam perang Tabuk, mereka menyampaikan alasan yang dibuat-buat, agar dapat pulang ke rumah mereka.

G. Riya'

Mereka tidak melakukakan ibadah kecuali dengan keadaan terpaksa, malas mengerjakan shalat. Mereka mengerjakannya hanya sekedar sebagai kedok untuk menutupi kemunafikannya di hadapan kaum muslimin. Demikian pula di dalam membayar zakat, infak dan lain-lain sekedar untuk mengelabuhi orang-orang mukmin. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman menyifati mereka,
“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah, kecuali sedikit sekali”. (QS. 4:142)
Ada pun tentang infak yang mereka keluarkan, maka Allah telah membeberkan,
“Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. 9:54)
Mereka telah rugi serugi-ruginya di dunia dan di akhirat, di dunia telah bersusah payah beramal, shalat, melakukan ini dan itu, namun statusnya tetap sebagai orang kafir yang kekal di neraka.

H. Senang Memecah Belah Kaum Muslimin

Mereka lakukan itu dengan berbagai cara dan strategi, di antaranya adalah:

§  Menghalangi Orang untuk Berinfak
Sebagaimana yang pernah mereka ucapkan kepada kaum Anshar ketika kaum Muhajirin sampai di Madinah. “Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar), "Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)" (QS. 63: 7)
Sehingga jika kesenjangan sosial di kalangan kaum muslimin mencolok, maka sangat mudah bagi mereka menyulutkan permusuhan.
§  Memprovokasi Orang dengan Berita Dusta
Ini juga pernah terjadi pada masa Rasulullah, yakni ketika terjadi fitnah yang mendera keluarga Nabi Shalallaahu alaihi wasalam yang terkenal dengan haditsatul ifk yang dihembuskan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Allah menjelaskan kepada Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, bahwa yang menghembuskan fitnah adalah "thaifah minkum" mereka ikut shalat dengan kaum muslimin dan bergabung bersama barisannya.
§  Menyeru Kepada Budaya Jahiliyah
Seperti fanatisme golongan dan kesukuan, berpecah belah dan membentuk kelompok sendiri yang meyempal dari jamaah kaum muslimin dan imam mereka, karena orang munafik tidak suka kalau umat Islam bersatu.

I. Senang Mengolok-Olok Ajaran Islam dan Kaum Muslimin
Karena pada dasarnya mereka bukanlah orang Islam, setiap kali turun ayat semakin membuat mereka jengkel dan dongkol. Sebagaimana yang pernah terjadi pada perang Tabuk, di antara mereka ada yang mengejek Nabi dan para Shahabat dengan menyebut mereka sebagai besar perut, pendusta dan penakut. Maka Allah menurunkan ayat yang artinya, "Katakanlah, "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?".Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS. 9:65-66)
Amat banyak di zaman ini manusia yang mengejek dan merendahkan kaum muslimin dan para ulama mereka yang kosisten dengan Islam, baik itu diungkapkan maupun disimpan di hati. Ada yang menghina dengan menga-takan sebagai orang kolot dan biang keterbelakangan, pengacau dan teroris, kaku dan ekstrim.Mereka mengolok-olok dan menjelek-jelekkan kaum muslimin dan bahkan sampai menyakiti dengan kekerasan baik fisik maupun psikologis.

J. Enggan Mempelajari Agama

Tidak mau belajar, tidak mau mempelajari Islam, dan tidak mau mengetahuinya. Ini sangatlah jelas karena mereka pada dasarnya memang membenci Islam, maka Allah Subhannahu wa Ta'ala menjelaskan, bahwa orang munafik tidak mengetahui dan tidak memahami Islam dan kehidupan.
( Senin 1 Ramadhan 1424 / 27 Oktober 2003 )


Poskan Komentar