Rabu, 25 Februari 2015

Renungan Untuk Para Khatib Dan Jama'ah Jum'at



Renungan Untuk Para Khatib Dan Jama'ah Jum'at


Kami sepenuhnya yakin tanpa keraguan setetes pun, bahwa kehadiran Anda di masjid menunggu kehadiran bapak khatib Jum'ah adalah karena iman yang ada dalam kalbu Anda. Iman itulah yang menggerakkan jiwa dan raga untuk segera memenuhi panggilan shalat/ dzikirullah di hari Jum'at ini sesuai surat Al Jumu'ah 62:9. Iman itu yang mempertautkan Anda dengan wasiat Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam , Agar Anda memepersiapkan diri sebelum berangkat ke bait Allah ini dengan mandi, menggunakan minyak wangi, memakai pakaian yang paling bagus, setelah sampai di masjid, Anda menuju shaf dengan tertib tanpa melangkahi bahu-bahu saudara mukmin, disaat khatib menayampaikan pesan Andapun tiada lengah untuk memperhatikan. Iman itu yang merangsang Anda untuk mendapat ampunan Allah antara dua Jum'at ini. (Lihat HR. Abu Daud no. 1050 dari Amru bin Ash dan Muslim: 2/857)

Iman itu yang mendorong Anda bersegera ke masjid meskipun tanpa berkendaraan, duduk mendekati Imam, tiada lengah mendengarkannya dengan penuh harapan akan janji Rasulullah n bahwa dengan setiap langkah Anda memperoleh pahala orang yang berpuasa dan shalat malam setahun. (Lihat HR. Ahlussunan dari Ans bin Aus Ats-Tsaqafi) Iman anda pula yang membimbing Anda untuk mewaspadai tipuan syetan agar Anda terlambat hadir ke jamaah Jum'at ini. Bahkan iman itu yang mendorong Anda agar mendatangi masjid sebelum malaikat pencatat di pintu masjid menutup bukunya saat Imam menuju ke mimbar, Anda mendengar dan memperhatikan setelah duduk dengan tenang, imanlah yang membentengi Anda hingga terdiam tiada terlengah memperhatikan khotbah, dengan mengharap dua bagian pahala, dan tetap tenang serta penuh perhatian meski tidak terdengar karena jauhnya dari khatib tetap mendapat satu bagian pahala, sebagaiamana dijanjikan Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam dari Ali Radhiallaahu anhu . (Riwayat Abu Daud no. 1051)

Iman Anda itulah yang membimbing agar mencermati khutbah sang imam, tanpa lalaikan dengan gerakan-gerakan yang tiada berarti, meski hanya menyentuh sebutir kerikil, atau berbicara walau sepatah kata dalam mengingatkan orang lain ini semua karena Anda sangat mementingkan perhatian terhadap isi dan pesan sang khatib. Iman Andalah yang mengikat perjanjian sehingga Anda tulus melaksanakan pesan Rasul saw untuk melaksanakan dua rakaat shalat tahiyatul masjid sebelum anda menikmati hidangan wasiat sang khatib atau di setiap anda memasuki masjid Allah SWT (Lihat HR. Al Bukhari no. 931, Muslim: 2/596, Abu Dawud: 1115-1117)

Iman itulah yang menggairahkan perhatian dan memusatkan pikiran, perasaan, hati, dan sepenuh jiwa anda meresapi petunjuk-petunjuk sang khatib. (Lihat: surat Yunus 10:9). Itulah Iman Anda yang harus disyukuri dengan sepenuhnya. Dan itulah khutbah Jum'ah yang demikian sangat penting dan mulia kedudukannya di tengah kehidupan masyarakat Islam, sebagaimana telah digariskan oleh Allah yang Maha Bijak dalam menentukan syariat, qadha dan qadarNya, juga keteladanan Rasulullah sholallohu alahi was salam pemimpin yang sangat pengasih kepada umatnya.

Sang khatib memilihkan judul yang sangat dibutuhkan oleh Anda dan umat umumnya setelah memperhatikan dan memahami kondisi dan situasi yang terus berkembang di sekelilingnya, juga pemahaman, keyakinan, pengetahuan, pengaruh dan perubahan yang terjadi diantara umat tercinta, sehingga dituangkan dalam tema khutbah yang merupkan bimbingan bagi umatnya agar jangan sampai tersesat(Abu Dawud no 1109 dan An-Nasai 1414)atau obat dari penyakit yang terjangkit di tubuh mereka(lihat Zaadul Maad I/423)

Sang khatib menyusun khutbah dalam sistematika dengan teratur dengan bahasan yang lugas, komunikatif dan mudah dicerna, isinya padat dan bermakna, penting dan jelas serta kuat dengan dalil-dalil yang shahih dan simple (lihat, HR. Muslim; 2/594, An-Nasai no 1578)
Sang Khatib menyampaikan suara yang lantang (lihat Shahih Muslim 2:592), kalimat-kalimatnya jelas dengan semangat yang tinggi dan perasaan cinta yang dalam, menuangkan isi khutbah yang telah difahaminya betul dengan segenap perasaan dan semangat taqwa yang kokoh bagaikan secepatnya beliau menyambar tali bertaut melompat ke surga dan sekaligus menghindari jilatan dan kepungan api neraka bersama umat dalam rengkuhan cintanya sebagai tugas utama setiap muslim: (Lihat surat: At-Tahrim 66: 6)

Itulah sang khatib yang menumpahkan isi hati setulus-tulusnya, isi fikiran sebersih-bersihnya dan kandungan ilmu sedalam penyelaman-nya. Maka pantaslah bila Anda bersama jamaah sekalian menerima dengan sepenuh jiwa, meresap dalam dada, tersimpan kuat dalam kalbu dan itulah sikap tulus orang beriman (lihat Qur'an surat; 10 Yunus: 57-58 dan 29 Al-Ankabut 49 & 51).

Sang khatib adalah penuntun yang telah membentuk pola hidupnya dengan iman dan ilmunya, akhlaq dan kepribadiannya adalah nash-nash yang telah di fahaminya dengan benar dan dilaksanakan dengan teguh. Sehingga tidaklah beliau berujar kecuali yang telah benar beliau fikirkan dari syariat Allah dan Rasulnya, tidak lah beliau memperingatkan kecuali diri beliau telah melaksanakan dan terbentuk dalam jiwanya peringatan itu, tidaklah beliau mengajak atau menyuruh kecuali telah menjadi kebiasaan dan teladan kelakuan itu pada diri dan keluarga beliau, serta tiada beliau melarang sesuatu kepada umat tercinta kecuali telah amat jauh diri dan keluarga beliau dari larangan itu serta sekali-kali tidak akan mendekati, itulah jiwa pemimpin seperti ambia. (Lihat Qur'an Surat: 11 Hud: 88, As-Shaf 61: 2-4)

Menjadilah sang Khatib pemimpin dalam menegakkan al ma'ruf segala kebajikan dalam kalimah Allah dan pemimpin dalam membendung kemungkaran dan kemaksiatan ditengah umatnya, itulah pemimpin yang teguh/ tegas, meniti sirah khalilur Rahman. (lihat Qur'an Surat; 12 An Nahl : 120-122, Ali Imran 3: 104, 110 dan 14; Ibrahim; 35-41) sehingga setiap kalimah yang tersembul dari lisannya langsung terukir di hati umatnya bagai sabda pandito ratu, bukan karena fanatis maupun kultus, akan tetapi karena nash wahyu Al Qur'an dan As-Sunnah shahihah yang disampaikannya, demi menelusuri keteladanan Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam (lihat: Surah An Najm 53: 3 dan, Al-Ahzab: 33:36)

Maka amat pantaslah bila umat merasa puas, setiap pulang dari bait/ masjid Allah dengan membawa oleh-oleh yang paling berharga bagi bekal hidup mereka, hidup rumah tangga dan kehidupan bangsa dan segenap umat manusia itulah ayat-ayat Allah dan hikmah yang dianugerahkan olehNya. (Lihat Al Qur'an: Surat Al Jumu'ah 62; 2 & 4)

Unsur-unsur dalam Khutbah Jumuah

Pemimpin agung Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam telah mencontohkan, bahwasanya beliau senantiasa memulai khutbah dengan tahmid dan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (lihat Shahih Muslim 2: 592 An Nasa'i 1578) kemudian kalimah syahadat, shalawat kepada Allah untuk RasulNya Shallallahu alaihi wasalam washiat Taqwallah, membaca ayat-ayat Al Qur'an dan uraian yang menjadi hadits-hadits shahih, pengertian hukum halal-haram, aqidah, ibadah tatacara bermuamalah sesama makhluk, perjanjian, hukuman-hukuman, ahlaq yang mulia, juga peringatan dari ahlaq yang buruk dan rendah, seperti peringatan dari dosa-dosa besar, menyeru kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan persiapan perjalanan panjang, mengingatkan tentang janji Allah dan ancamanNya, berupa surga dan neraka, serta kekacauan dan kedahsyatan setelah kematian. Kisah-kisah keteladanan para rasul dan orang-orang shalih terdahulu juga bimbingan-bimbingan khusus dalam kehidupan orang beriman, dengan memfokuskan pada satu jenis ketaatan demi memperdalamhujaman akar iman, agar batang pohonnya lebih kokoh serta ranting dan buahnya semakin lebat menjulur ke setiap penjuru (lihat surat: 14 Ibrahim:24-25) juga untuk mempertinggi derajat taqwa, sehingga pantaslah sepulang dari bait Allah anda sekalian menjadi hamba-hamba yang paling mulia disisiNya (lihat Al Hujarat:13)

Itulah khutbah Jum'ah, tetesan embun pada kuncup iman anda, yang menumbuhkan daun kesadaran dan bunga taubat serta menyajikan buah-buah amal shalih, Itulah khutbah jumat, usapan lembut pada cermin kalbu anda, yang mempertajam pandangan kebenaran Anda atas izin Allah, sehingga tersentaklah kesadaran diri untuk memahami dan mengoreksi betapa telah jauh dan keliru arah hidup selama ini, karena kealpaan, ketidak mengertian atau kehendak nafsu (lihat Surat Yusuf: 53) atau bahkan karena keangkuhan terhadap jalur bimbingan syariat suci yang lurus(lihat Surat Yusuf:110).

Itulah Khutbah jumah, secerah sinar dari nash Al Qur'an atau hadits yang membimbing Anda kepadang terang benderang Nur Ilahi yaitu syariat Islam, menunjukan betapa indahnya kebenaran dan nikmatnya ketaaatan dalam cinta kasih Allah Ar-Rahim, betapa damainya hidup dalam hidayah Al Qur'anul Karim (Lihat Surat 24; An Nur: 35-38) dan keteladanan Rasul dzul khuluqil 'Adhim,yang berakhlak mulia (lihat Al Qalam 68: 1-5, Al-Ahzab:21) itulah khutbah jumat yang memupuk keimanan Anda menjadi semakin kuat atas izin Allah, sehingga mampu mendorong kemauan dan tekad untuk merubah kedhaliman diri menjadi kemaslahatan (lihat Surat At-Taubah:11) keluarga dan masyarakat serta ummat. Dengan hijrah dari pergaulan dan tradisi yang buruk menuju lingkungan, pergaulan dan aturan serta tradisi yang baik (lihat surat An-Nisaa:100, Al-Anfal:72-75).

(Disadur dari khutbatul jumu'ah, makanatuha, ahammiyatuha, hukmuha, atsaruha fi nufusil muslimin, karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, Darul Wahtan,)
(Waznin Mahfudh)

Definisi Nasihat

Nasihat secara etimologi berasal dari kata nashaha yang berarti khalasa yaitu murni. Adapun nasihat menurut Abu Amr bin Salah adalah menghendaki suatu kebaikan untuk orang lain dengan cara ikhlas baik berupa tindakan atau kehendak

Pentingnya Nasihat

Dalam pandangan Islam, nasihat adalah pilar agama yang sangat penting dan penyanggah kebenaran yang paling fundamental sehingga Rasulullah menegaskan dalam haditsnya:
Dari Tamim Ad Dary bahwasannya Nabi bersabda:"Agama adalah Nasihat". kami bertanya: Untuk siapa? Beliau bersabda: "Untuk Allah, KitabNya, Rasul-Nya dan para pemimpin kaum muslimin serta seluruh Umat Islam". (H.R Muslim dan An-Nasa'i )

Nasihat kepada pemimpin

Nasihat terhadap pemimpin adalah permasalahan yang jarang mendapat penjelasan secara baik sesuai dengan asas hukum Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Sebagian orang terkadang kurang proporsional dan tidak terpuji dalam mengoreksi kekurangan sikap para pemimpin bahkan melanggar kaidah-kaidah dasar islam dalam menegakkan prinsip amar ma'ruf nahi munkar terdapar para pemimpin, di antara mereka menempuh cara demo, membuat makar politik sehingga tidak jarang menimbulkan kekacauan dan keresahan dan sebagian yang lainnya menempuh cara terorisme.

Menasihati pemimpin termasuk per-kara yang paling diridhai Allah sebagai-mana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Sesungguhnya Allah rela terhadap tiga perkara dan benci terhadap tiga perkara; Dia rela apabila kalian menyembah-Nya, perpegang teguh terhadap tali Allah dan meNasihati para pemimpin. Dan Allah benci terha-dap pembicaraan sia-sia, menghambur-hamburkan harta dan banyak pertanya".

Subtansi Nasihat kepada Pemimpin

Nasihat terhadap para pemimpin berarti membantu mereka dalam menegakkan kebenaran, mentaati mereka dalam kebenaran, mengingatkan mereka dengan cara lembut dan sopan terhadap hak-hak rakyat dan tidak melakukan pemberontakan.

Imam Nawawi berkata bahwa mena-sihati para pemimpin berarti menolong mereka untuk menjalankan kebenaran, mentaati mereka dalam kebaikan, mengingatkan mereka dengan lemah lembut terhadap kesalahan yang mereka berbuat, memperingatkan kelalaian mereka terhadap hak-hak kaum muslimin, tidak melakukan pemberontakan dan membantu untuk menciptakan stabilitas negara.

Imam Al Khattaby berkata bahwa termasuk nasihat terhadap pemimpin adalah shalat berjamaah di belakang mereka, jihad bersama mereka, membayar zakat kepada mereka, tidak keluar dari mentaati mereka tatkala terjadi penyelewengan dan kedhaliman, tidak memuji secara dusta dan selalu mendo'akan kebaikan untuk mereka.

Dan nasihat yang paling penting adalah mendatangi mereka dalam rangka untuk menyampaikan kekurangan dan kebutuhan umat serta menjelaskan kelemahan para pejabat khususnya hal-hal yang berdampak negatif bagi umat. Mengingatkan agar takut kepada Allah dan hari akherat, mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan melarang tentang kemungkaran serta mendorong mereka agar hidup seder-hana dan wara'.

Macam-macam pemimpin

Para pemimpin kuam muslimin terbagi menjadi dua:

a. Pemimpin fajir atau jahat

Pemimpin yang fajir atau jahat yaitu pemimpin yang hanya berambisi terhadap kekuasaan belaka, perbuatan mereka tidak pernah sepi dari penganiayaan dan kedhaliman dan tidak segan-segan melibas siapa saja yang mencoba untuk menggoyang kekuasaannya meskipun dia melanggar syari'at. Tidak adil dalam memberikan hak-hak umat serta boros terhadap harta negara.

Faktor penyebab rusaknya para pemimpin

§  Lemahnya pengamalan prinsip agama.
§  Senang mengikuti hawa nafsu dan kesenangan dunia belaka.
§  Sikap kolusi dan nepotisme yang berlebihan.
§  Teman dan penasihat kepercayaan yang tidak baik atau menjadikan orang-orang kafir sebagai pembantu kepercayaan.
§  Menyerahkan kekuasaan dan jabatan kepada orang-orang yang tidak berjiwa patriot dan ihklas.
§  Diktator dalam mengendalikan kekuasaan.
§  Tekanan internasional terhadap para pemimpin Islam.
§  Terpengaruh dengan sistim negara-negara kafir dan meninggalkan sistim Islam.
b. Pemimpin yang adil lagi bijaksana

Pemimpin yang adil lagi bijaksana artinya selalu mendahulukan kebenaran dan kepentingan umum, sungguh-sungguh dalam menerapkan syariat Islam dan sangat adil lagi bijaksana dalam memberikan hak-hak umat serta hidup sederhana dan tidak berlebihan dalam membelanjakan harta negara.

Cara Menasihati Pemimpin

Islam memiliki etika tersendiri dalam menasihati para pemimpin bahkan mempunyai kaidah-kaidah dasar yang tidak boleh dilecehkan sebab pemimpin tidak sama dengan rakyat. Apabila menasihati kaum muslimin secara umum perlu memakai kaedah dan etika, maka menasihati para pemimpin lebih perlu memperhatikan kaedah dan etikanya.

Dari Hisyam Ibnu Hakam meriwayat-kan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang ingin menasihati pemimpin, maka jangan dilakukan secara terang-terangan. Akan tetapi nasihatilah dia di tempat yang sepi, jika menerima nasihat itu, maka sangat baik dan bila tidak menerimanya, maka kamu telah menyampaikan kewajiban Nasihat kepadanya". (H.R Imam Ahmad).

Sangat tidak bijaksana mengoreksi kekeliruan para pemimpin lewat mimbar atau tempat-tempat umum sehingga menimbulkan banyak fitnah. Seharusnya menasihati para pemimpin dengan cara lemah lembut dan di tempat yang rahasia sebagaimana yang dilakukan oleh Usamah bin Zaid tatkala menasihati Utsman bin 'Affan bukan dengan cara mencaci-maki mereka di tempat umum atau mimbar.

Imam Ibnu Hajar berkata bahwa Usamah telah menasihati 'Ustman bin 'Affan dengan cara yang sangat bijak-sana dan beretika tanpa menimbulkan fitnah dan keresahan.
Imam Syafi'i berkata bahwa barang-siapa yang menasihati temannya dengan rahasia, maka dia telah mena-sihati dan menghiasainya dan barang-siapa yang menasihatinya dengan terang-terangan, maka dia telah mempermalukan dan merusaknya.

Imam Al Fudhail bin 'Iyadh berkata: Orang mukmin menasihati dengan cara rahasia dan orang jahat menasihati dengan cara melecehkan dan memaki-maki.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: Menasihati para pemimpin dengan cara terang-terangan lewat mimbar-mimbar atau tempat-tempat umum bukan cara atau manhaj salaf, sebab demikian itu akan mengakibatkan keresahan dan menjatuhkan martabat para pemimpin, akan tetapi manhaj salaf dalam menasihati pemimpin adalah dengan mendatanginya, mengirim surat atau menyuruh salah seorang ulama yang dikenal untuk menyampaikan Nasihat tersebut.

Bersabar terhadap pemimpin yang zhalim

Barangsiapa yang tidak memiliki kemampuan untuk menasihati pemimpin yang zhalim, maka sebaiknya berdiam diri dan bersabar. sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Barangsiapa yang mendapatkan dari pemimpin sesuatu yang tidak menyenangkan, maka hendaklah bersabar, sesungguhnya barangsiapa yang keluar dari pemimpin, maka meninggal dalam keadaan jahiliyah". (HR. Al-Bukhari)

Abdullah Ibnu Abbas berkata: "Pemimpin adalah ujian bagi kalian, apabila mereka bersikap adil, maka dia mendapat pahala dan kamu harus bersyukur dan apabila dia zhalim, maka dia mendapatkan siksa dan kamu harus bersabar."

Imam Nawawi berkata: "Barangsiapa yang mendiamkan kemungkaran seorang pemimpin tidak berdosa kecuali dia menunjukkan sikap rela, setuju atau mengikuti kemungkaran tersebut."

Bekal bagi orang yang mensehati pemimpin

1 . Ikhlas dalam memberi nasihat.

Nabi Muhammad bersabda kepada Abdullah bin Amr:" Wahai Abdullah bin Amr jika kamu berperang dengan sabar dan ikhlas, maka Allah akan membang-kitkan kamu, sebagai orang yang sabar dan ikhlas dan jika kamu berperang karena riya', maka Allah akan mem-bangkitkan kamu sebagai orang riya dan ingin dipuji". (HR. Abu Daud)

Imam Ibnu Nahhas berkata: Orang yang menasihati pemimpin atau kepala negara hendaknya mendahulukan sikap ikhlas untuk mencari ridha Allah. Barangsiapa yang mendekati pemimpin untuk mencari pengaruh atau jabatan atau pujian maka dia telah berbuat kesalahan yang besar dan melakukan perbutan sia-sia.

2. Menjauhi segala macam ambisi pribadi.

Seorang yang menasihati pemimpin sebaiknya menaggalkan segala ambisi dan keinginan pribadi untuk mendapat-kan sesuatu dari pemimpin atau penguasa. Para ulama salaf telah banyak memberi contoh dan suri tauladan, seperti Sufyan Atsaury, beliau sering menolak pemberian para penguasa khawatir bila pemberian tersebut menghalanginya untuk mengingkari kemungkaran.

3. Mendahulukan sikap kejujuran dan keberanian

Seorang yang ingin menasihati pemimpin atau penguasa hendaknya bersikap jujur dan pemberani sebagai-mana sabda Nabi:" Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenar-an kepada pemimpin yang dhalim". (HR Abu Daud).

4. Berdoa kepada Allah dengan doa-doa ma'tsur

Dari Ibnu Abbas bahwa beliau berka-ta: Jika kamu mendatangi penguasa yang kejam, maka berdoalah:
Allah Maha Besar, Allah Maha Tinggi seru semua makhluq-Nya, Allah Maha Tinggi dari semua yang saya takutkan dan khawatirkan. Saya berlindung kepada Allah yang tiada Tuhan yang haq selain-Nya, Dialah yang menahan langit yang tujuh sehingga tidak jatuh ke bumi dengan izin-Nya dari kejahatan hamba-Mu dan para pengikutnya, bala tentaranya dan para pendukungnya baik dari jin atau manusia. Ya Allah jadilah Engkau pedampingku dari kejahatan mereka, Maha Tinggi kekuasaan Allah dan Maha Agung serta Maha Berkah Nama-Nya tiada Tuhan selain Engkau – dibaca tiga kali- (H.R Ibnu Abu Syaibah)

Poskan Komentar