Senin, 30 Maret 2015

TERMASUK PERKARA-PERKARA IMAN



 TERMASUK PERKARA-PERKARA IMAN

. Cinta kepada Rasulullah SAW:
          Dari Anas bin Malik r.a, ia berkata, 'Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak beriman (sempurna) seseorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintainya dari pada ayahnya, anaknya, dan manusia sekalian." Muttafaqun 'alaih.[1]
. Mencintai kaum anshar:
          Dari Anas r.a, dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Tanda iman adalah mencintai kaum anshar dan tanda nifak adalah membenci kaum anshar."Muttafaqun 'alaih[2]
. Mencintai orang-orang yang beriman:
          Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, 'Rasulullah SAW bersabda, 'Kamu tidak bisa masuk surga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman sehingga kamu saling mencintai. Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu lakukan niscaya kalian saling mencintai, tebarkanlah salam di antara kamu." HR. Muslim[3]
. Mencintai saudaranya sesama Islam:
          Dari Anas bin Malik r.a, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Tidak beriman (sempurna) seseorang diantara kalian sehingga dia mencintai saudaranya –atau tetangganya- apa yang dia cintai untuk dirinya." Muttafaqun 'alaih[4]
. Mencintai tetangga dan tamu, serta tidak bicara kecuali tentang yang baik:
          Dari Abu Hurairah r.a, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: "Barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya." Muttafaqun 'Alaih.[5]


. Memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang mungkar:
          Dari Abu Sa'id al-Khudri r.a, ia berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: 'Barang siapa di antara kalian melihat yang mungkar (yang dilarang agama) hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka (hendaklah dia merubahnya) dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah dia merubahnya dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman." HR. Muslim.[6]
. Nasehat:
          Dari Tamim ad-Darimi r.a, bahwasanya Nabi SAW  bersabda: "Agama adalah nasehat.' Kami bertanya, 'Untuk siapa?' Beliau menjawab, 'Untuk Allah SWT, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan umat Islam secara umum." HR. Muslim. [7]
. Iman adalah amalan yang paling utama:
          Dari Abu Hurairah r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW ditanya: 'Apakah amalan yang paling utama?' Beliau menjawab, 'Iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.' Beliau ditanya lagi, 'Kemudian apa?' Beliau menjawab, 'Jihad di jalan Allah SWT.' Beliau ditanya lagi, 'Kemudian apa?' Beliau menjawab, 'Haji yang mabrur." Muttafaqun 'Alaih.[8]

. Iman bertambah karena ketaatan dan berkurang karena perbuatan maksiat:
1, Firman Allah SWT:
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (QS. Al-Fath :4)
2, Firman Allah SWTI:
Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata :"Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?". Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. (QS. At-Taubah :124)
3, Dari Abu Hurairah r.a, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Tidak berzina orang yang berzina saat berzina sedangkan dia dalam keadaan beriman. Tidak mencuri orang yang mencuri saat dia mencuri sedangkan dia dalam keadaan beriman. Dan tidak meminum arak (orang yang meminumnya) saat dia meminum sedangkan dia dalam keadaan beriman." Muttafaqun 'alaih.[9]
4, Dari Anas bin Malik r.a dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang pernah berkata: 'Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah SWT' dan di dalam hatinya ada kebaikan seberat rambut. Akan keluar dari neraka orang yang pernah berkata: 'Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah SWT' dan di hatinya ada kebaikan seberat biji gandum. Dan akan keluar dari neraka orang yang pernah berkata:'Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah SWT' dan di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji sawi (atom)." Dan dalam satu riwayat:  'iman' di tempat 'kebaikan'[10].

. Amal perbuatan orang kafir yang dilakukannya sebelum Islam:
1, Apabila orang kafir masuk Islam, kemudian ia berbuat baik, maka segala keburukannya diampuni, karena firman Allah SWT:
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu :"Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah SWT terhadap) orang-orang dahulu". (QS. Al-Anfaal :38)

2. Dan atas segala amal kebaikan (yang dilakukannya semasa kufur) diberikan pahala kepadanya, berdasarkan riwayat bahwa Hakim bin Hizam r.a bertanya kepada Rasulullah SAW: 'Bagaimana pendapatmu terhadap beberapa perkara (kebaikan) yang pernah saya lakukan di masa jahiliyah, apakah ada balasannya untuk saya?' Rasulullah SAW bersabda kepadanya:'Kamu masuk Islam bersama kebaikan yang pernah kamu lakukan."Muttafaqun 'Alaih.[11]
3, Dan (sebaliknya) barang siapa yang masuk Islam, kemudian melakukan dosa, maka dia disiksa dengan (dosa) pertama dan yang terakhir. Berdasarkan sabda Nabi SAW: 'Barang siapa yang berbuat Kebaikan di masa Islam, niscaya tidak disiksa karena perbuatan buruk yang dia lakukan di masa jahiliyah. Dan barang siapa yang berbuat kejahatan di masa sesudah Islam, niscaya dia disiksa karena (dosa) yang pertama dan terakhir." Muttafaqun 'Alaih.[12]
         


[1]  HR. al-Bukhari 15 dan ini adalah lafaznya, dan Muslim no. 44
[2]  HR. al-Bukhari no. 17 dan ini adalah lafaznya, dan Muslim no 74
[3]  HR. Muslim no 54
[4]  HR. al-Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45, ini adalah lafazhnya.
[5]  HR. al-Bukhari no (6018) dan Muslim no. 47 dan ini adalah lafazhnya.
[6]  HR. Muslim (49).
[7]  HR. Muslim 55.
[8]  Muttafaqun 'alaihi HR. al-Bukhari no. 26 dan ini adalah lafazhnya, dan Muslim no 83.
[9]  HR. al-Bukhari no. 2475 dan Muslim no. 57 dan ini adalah lafazhnya.
[10] Muttafaqun 'alaihi HR. al-Bukhari no: 1436, dan Muslim no: 123, dan ini adalah lafazhnya.
[11] Muttafaqun 'alaihi HR. al-Bukhari no. 1436 dan Muslim no. 123 dan ini adalah lafazhnya.
[12] Muttafaqun 'alaihi HR. al-Bukhari no. 6921 dan Muslim no: 120.
Poskan Komentar