Rabu, 06 April 2016

RINDU



RINDU

     Al-hubb (cinta) berarti kecenderungan tabi'at terhadap sesuatu yang dirasakan nyaman. Jika kecenderungan itu begitu kuat, maka ia dinamakan kerinduan. Dalam kondisi rindu, seorang sanggup menjadi budak bagi yang dicintai dan dirindukannya itu dan sudi menginfakkan apa yang dimiliki karenanya. Tidakkah Anda tentang Zulaikha, demi cintanya dia rela kehilangan semua harta yang dimilikinya bahkan kecantikannya. Zulaikha adalah seorang wanita yang kaya raya, memiliki mutiara emas permata dan kalung sebanyak berat muatan tujuh puluh unta. Dia rela menginfakkan semuanya demi cintanya pada Yusuf. Setiap orang berkata yang berkata kepadanya: " Suatu hari aku melihat Yusuf." Maka Zulaikha memberinya satu kalung yang dapat membuatnya kaya raya. Hingga tak tersisa sedikitpun dari mutiara dan perhiasannya tersebut. Karena cinta dan kerinduannya yang begitu dalam kepada Yusuf  dia menamakan segala sesuatu dengan nama Yusuf. Dia tidak ingat apapun selain Yusuf. Ketika dia mengangkat wajahnya ke langit, yang dia lihat hanyalah nama Yusuf yang terukir indah pada binatang-binatang.
     Dalam suatu riwayat disebutkan setelah Zulaikha beriman dan dinikahi oleh Yusuf as. dia selalu menyendiri menghindar dari Yusuf dan menyepi untuk beribadah. Dia benar-benar tenggelam dalam keasyikan beribadah kepada Allah swt. Ketika Yusuf mengajaknya ke tempat tidur ia menepis dan menyanggupinya di malam hari. Dan ketika Yusuf mengajaknya di malam hari, ia menundanya hingga siang hari. Zulaikha berkata: "Wahai Yusuf, sebelum mengenal Allah, saya hanya cinta kepadamu, tetapi setelah aku mengenal-Nya, maka cintaku kepada-Nya tak menyisakan buat mencintai yang lain dan aku menginginkan cintaku kepada-Nya, tak digantikan oleh selain yang selain-Nya." sampai pada suatu saat, Yusuf berkata kepadanya: "Sesungguhnya Allah swt. memerintahkan kepadaku untuk melakukan hal itu (berhubungan badan) dengan Anda. Dia mengabarkan kepadaku, bahwa Dia akan mengeluarkan dua orang anak dari (melalui) Anda yang akan Dia jadikan sebagai Nabi." Zulaikha berkata: "jika memang Allah yang memerintahkan untuk melakukan hal itu dan menjadikan aku sebagai jalan untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka berarti hal itu sebuah ketaatan terhadap perintah Allah, mak silahkan Anda melakukannya." Dengan demikian maka Zulaikha menjadi tenang dalam dekapan Yusuf as.

     Diceritakan, bahwa ketika ditanyakan kepada Majnun Laila: "Siapa nama Anda?" Dia menjawab: "Laila." Suatu hari ketika ditanyakan kepadanya: "Bukankah Laila telah mati?" Dia menjawab: "Sesungguhnya Laila telah bersemayam di dalam hatiku, dia tidak mati." Pada suatu hari, ia berjalan di depan rumah Laila, tetapi ia melihat ke langit, lalu dikatakan kepadanya: "Wahai Majnun, janganlah Anda memandang ke langit, tetapi pandanglah rumah Laila, barangkali Anda akan melihatnya." Dia menjawab: "Cukuplah bagiku memandang binatang yang pantulan cahayanya jatuh menerpa rumah Laila."

     Diceritakan, tentang Manshur Al-Hallaj rahimahullah yang ditahan oleh orang-orang selama delapan belas hari, lalu Asy-Syubali datang kepadanya dan berkata: "Wahai Manshur, apakah mahabbah (cinta) itu?" Dia menjawab: "Janganlah Anda bertanya kepadaku hari ini, tetapi bertanyalah kepadaku esok hari." Ketika pagi hari tiba, dan orang-orang telah mengeluarkannya dari penjara hendak membunuhnya, Syubali berjalan dihadapannya. Lalu Manshur memanggil: "Ya Syubali, cinta di awalnya adalah kebakaran dan akhirnya adalah pembunuhan."
     Hal itu mengisyaratkan bahwa betapa telah benar-benar menjadi nyata dalam pandangan Al-Hallaj, sesungguhnya segala sesuatu selain Allah adalah bathil. Dia benar-benar tahu dan yakin bahwa hanya Allah-lah yang haq, sehingga ketika nama Tuhan Yang Haq itu tertanam dalam dirinya, dia menjadi lupa akan dirinya sendiri. Oleh sebab itu ketika dia ditanya: "Siapa Anda?" Dia menjawab: "Saya Al-Haq."

     Diriwayatkan bahwa bukti kebenaran cinta itu ada pada tiga hal, yaitu:
* Dia akan memilih perkataan (kalam) kekasihnya daripada perkataan yang lain.
* Dia akan memilih duduk dalam satu majlis bersama kekasihnya daripada di majlis lain.
* Dia memilih keridhaan kekasihnya daripada keridhaan yang lain.

     Dikatakan, bahwa al-'isyq (kerinduan) mampu merobohkan dinding-dinding pemisah dan membuka rahasia-rahasia. Sedangkan wujud merupakan kelemahan ruh untuk memikul beban kerinduan, ketika manisnya zikir itu benar-benar dapat diwujudkan. Sehingga ketika berada dalam kondisi hubungan yang begitu intens itu, seandainya salah satu anggota tubuhnya dipotong, maka dia tidak akan terasa dan tidak pula mengetahuinya.

     Diceritakan, bahwa ada seorang laki-laki ketika sedang mandi di sungai Furat, di mendengar suara seorang lelaki membaca ayat:

ﻭَﭐﻣْﺘَٰﺰُﻭﺍ۟ ﭐﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﭐﻟْﻤُﺠْﺮِﻣُﻮﻥ


Artinya:
"Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat."(QS. Yaa Siin: 59).

    Pada saat mendengar lantunan ayat tersebut kondisinya menjadi tergoncang, tak sadarkan diri, lalu tenggelam dan mati. Diceritakan dari Muhammad bin Abdullah Al-Baghdadi, dia berkata: "Saya melihat seorang pemuda di Bashrah, yang berada di puncak ketinggian. Semua mata tertuju menatap kepadanya. Pemuda itu berkata: 'orang yang mati dalam kerinduan, maka hendaklah ia mati seperti ini. Tiada kebaikan dalam kerinduan tanpa kematian.' Kemudian dia menjatuhkan dirinya dan mati."

     Diceritakan, bahwa Dzun Nun Al-Mishri ketika masuk ke dalam Masjidil Haram, ia melihat seorang pemuda telanjang yang terbuang dan sakit tergeletak di bawah suatu tiang, hatinya merintih pedih. Dzun Nun berkata: "Saya mendekatinya dan mengucapkan salam padanya, lalu bertanya: "Siapa Anda, hati anak muda?" Ia menjawab: "Saya adalah orang asing yang dilanda kerinduan." Setelah saya mengetahui dan memahami apa yang dikatakan, saya berkata: "Saya adalah orang yang seperti Anda." Kemudian ia menangis dan akupun menangis karena tangisannya." Mengetahui aku menangis dia bertanya: "Mengapa Anda menangis?" Saya menjawab: "Saya adalah orang seperti Anda." dia menangis dengan suara yang sangat keras. Lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir kali (mati) pada saat itu juga aku menutupinya dengan bajuku, kemudian pergi meninggalkannya untuk mencari kain kafan. Setelah aku membeli kain kafan, aku segera kembali padanya di tempat semula, tetapi aku tidak mendapatinya. Aku berkata: "Maha Suci Allah (subhanallah)." Tiba-tiba aku mendengar suara tanpa rupa (panggilan rabbani): "Wahai Dzun Nun, sesungguhnya pemuda asing itu, adalah orang yang dicari-cari setan di dunia, tetapi tidak menemukannya. Malaikat Malik juga mencarinya, tetapi ia tidak melihatnya. Malaikat Ridhwan mencarinya di dalam surga, tetapi tidak menemukannya." Aku berkata: "Kalau begitu, dia di mana?" Dzun Nun berkata: "Kemudian aku mendengar suara lagi: "Di tempat yang disenanginya, yaitu di sisi Tuhan Yang Maha Berkuasa." (QS. Al-Qamar: 55). Sebab kecintaannya, banyaknya ketaatan dam kesegeraannya bertobat. Demikian sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Zahrur Riyadh.

     Sebagian para Syeikh ketika ditanya tentang cinta, ia menjawab: "Sedikit bergaul, banyak berkhalwat (menyepi), selalu melakukan perenungan dan berpikir sekalipun secara lahiriah terlihat diam. Dia tidak melihat ketika dipandang, tidak mendengar ketika dipanggil, tidak paham ketika diajak bicara, tidak bersedih ketika ditimpa musibah, bahkan ketika ditimpa kelaparan dia tidak mengerti. Dia telanjang tetapi tidak merasa, dia mencaci maki tetapi tidak takut. Dia melihat kepada Allah dalam berkhalwat dan merasa damai di sisi-Nya, dia bermunajat kepada-Nya dan tak ikut berebutan dengan orang-orang yang ambisius dalam urusan keduniaan mereka."
     Abu Tawwab An-Nakhasyi berkata tentang tanda-tanda cinta, sebagaimana yang terbuang dalam bait-bait syair berikut ini:

"Janganlah sekali-kali Anda tertipu bagi seorang kekasih memiliki tanda-tanda; dia memiliki beberapa sarana dan sangat ringan mengulurkan tangannya buat menyambut sang kekasih.
Dia merasa nikmat menerima cobaan dari sang kekasih; dan senantiasa melakukan apa yang menyenangkan kekasihnya.
Penolakan sang kekasih baginya adalah sebuah pemberian yang terkabulkan; kefakiran menjadi sebuah kemuliaan dan merupakan kebaikan yang disegerakan.
Di antara tanda-tandanya lagi, Anda akan melihat bahwa seluruh tujuannya adalah buat ketaatan sang kekasih, sekalipun ia banyak dikecam.
Termasuk tanda-tandanya juga, dia selalu terlihat tersenyum; sekalipun di dalam hatinya ditimpa kepahitan oleh sang kekasih.
Di antara tanda-tandanya, dia terlihat selalu ingin paham perkataan orang yang memberikan pengabulan terhadap orang yang meminta.
Dan termasuk tanda-tandanya, dia selalu hidup bersahaja, dan menjaga segala hal yang diucapkan."

     Ada sebuah hikayat, pada suatu ketika Nabi Isa as. berjalan bertemu dengan seorang pemuda yang sedang menyirami kebun, lalu pemuda itu berkata kepada Nabi Isa: "Wahai Nabi Isa, mohonlah kepada Tuhan Anda agar menganugerahkan kepadaku cinta kepada-Nya seberat dzarrah (atom)." Nabi Isa berkata: "Anda tidak akan mampu menanggung mahabbah seberat dzarrah ." Pemuda itu berkata: "Kalau begitu, separuh dzarrah saja." Lalu Nabi Isa as. Berdo'a: "Ya Tuhanku, anugerahkan kepada pemuda itu separuh dzarrah dari kecintaan-Mu." Setelah berdo'a, Nabi Isa pergi berlalu. Waktu pun terus berjalan melaju, setelah beberapa lamanya, Nabi Isa melewati tempat pemuda yang didoakannya dan bertanya mengenai kondisinya. Orang-orang yang ditanya berkata: "Pemuda itu menjadi gila, ia pergi ke gunung." Maka Nabi Isa berdo'a kepada Allah agar diperlihatkan pada pemuda itu, dan Nabi Isa melihatnya berada di suatu gunung, berdiri di atas batu besar seorang diri, matanya menerawang menatap ke langit. Ketika Nabi Isa mengucapkan salam kepadanya, ia tak menjawabnya. Nabi Isa berkata: "Wahai pemuda, saya Nabi Isa." Lalu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Isa as.: "Bagaimana mungkin orang yang di dalam hatinya terdapat separuh dzarrah dari kecintaan-Ku, dapat mendengar perkataan manusia. Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, seandainya Anda memotongnya dengan gergaji, tentu ia tidak akan mengetahui akan hal itu."

     Barangsiapa yang mengakui tiga hal, sementara ia tidak membersihkan diri dari tiga hal, maka ia adalah orang yang tertipu, yaitu:

Pertama:  Orang yang mengaku merasakan manisnya berzikir kepada Allah, sementara ia mencintai dunia.
Kedua:  Orang yang mengaku cinta keikhlasan dalam beramal, tetapi menginginkan agar manusia mengagungkan dan memuliakannya.
Ketiga:  Orang yang mengaku cinta kepada Allah, sementara ia tidak memiliki keberanian untuk mengorbankan dirinya.

     Rasulullah saw. Bersabda: "Akan datang suatu zaman pada umatku, mereka mencintai lima hal, tetapi melalaikan lima hal yang lain, yaitu: Mereka mencintai dunia, tetapi melalaikan akhirat; Mereka mencintai harta, tetapi melalaikan hisab; Mereka mencintai makhluk, tetapi melalaikan Al-Khaliq (Tuhan Yang Menciptakan); Mereka suka melakukan dosa, tetapi melalaikan tobat; Mereka mencintai (membangun) gedung-gedung, tetapi melalaikan (membangun) kubur."

     Manshur bin Ammar berkata, menasehati seorang pemuda: "Wahai pemuda, janganlah Anda tertipu dengan masa muda Anda. Betapa banyaknya pemuda yang mengakhirkan bertobat dan memperpanjang angan-angan (thulul amal) dan tidak mengingat akan kematiannya. Dia berkata, aku akan bertobat besok atau besoknya lagi. Tiba-tiba datang malaikat maut, sementara ia dalam kelalaian bertobat, sehingga ia berada di dalam kubur dengan menanggung penyesalan yang teramat dalam. Harta tak lagi dapat memberikan manfaat baginya, tidak pula seorang hamba, anak, ayah, dan yidak juga seorang ibu. Sebagaimana firman Allah swt.

ﻳَﻮْﻡَ ﻟَﺎ ﻳَﻨﻔَﻊُ ﻣَﺎﻝٌ ﻭَﻟَﺎ ﺑَﻨُﻮﻥ # ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﭐﻟﻠَّﻪَ ﺑِﻘَﻠْﺐٍ

ﺳَﻠِﻴﻢ

Artinya:
"(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS. Ash-Shūraá: 88-89).

     Ya Allah, anugerahkan kepada kami untuk bertobat sebelum mati, sadarkanlah kami ketika lalai, dan berilah kami manfaat dengan syafa'at Nabi kami, seorang Rasul yang terbaik di antara para Rasul.

     Adalah menjadi sifat orang mukmin untuk segera bertobat pada hari dan saat itu juga, serta menyesali dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Menerima dengan penuh kerelaan, sekalipun hanya terbatas pada kebutuhan primernya saja dari kebutuhan hidupnya di dunia. Tidak sibuk dengan urusan dunia, tetapi ia selalu sibuk dengan melakukan amal akhirat dan beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan.

     Ada sebuah hikayat, bahwa terdapat seorang laki-laki kikir lagi munafik bersumpah pada istrinya agar tidak melakukan sedekah sedikitpun. Bila ia tetap melakukannya, ia bersumpah akan menceraikannya. Pada suatu saat datanglah seorang peminta-minta mengetuk pintu rumahnya, seraya berkata: "Wahai penghuni rumah ini, dengan haq Allah, hendaklah Anda memberikan suatu sedekah kepadaku." perempuan penghuni rumah itu, lalu memberinya tiga potong roti. Orang munafik yang tak lain adalah suami dari wanita itu, memergoki si peminta yang membawa roti dan bertanya: "Siapa yang memberi Anda roti itu?" Dia menjawab: "Si wanita penghuni rumah itu telah memberikan roti ini padaku." Rumah yang disebutkan pengemis itu tak lain adalah rumahnya. Maka si Munafik itu segera masuk ke dalam rumah dan bertanya kepada istrinya: "Bukankah aku telah menyumpah Anda, agar tidak memberikan sesuatu kepada seorang pun." Wanita itu menjawab: "Saya memberikannya karena Allah Azza wa-Jalla. Laki-laki munafik itu lalu pergi untuk menyalakan tungku pembakaran hingga benar-benar panas. Kemudian ia berkata kepada istrinya: "Bangkit dan ceburkan diri Anda ke dalam tungku karena Allah." Wanita itu bangkit dan mengambil perhiasannya. Laki-laki munafik berkata: "Tinggalkan perhiasan itu." Wanita (istrinya) menjawab: Seorang kekasih tentu berhias buat kekasihnya, dan aku adalah orang yang akan mengunjungi kekasihku." Kemudian ia masuk ke dalam tungku yang telah panas membara, dan laki-laki munafik itu lalu menutupinya, kemudian pergi berlalu, setelah genap tiga hari si munafik datang dan membuka penutup tungku, betapa ia menjadi terperanjat, ketika melihat ternyata istrinya selamat atas kekuasaan dan pertolongan Allah. Ia terheran-heran menyaksikan keadaan itu, disaat ia termenung dalam keheranannya, tiba-tiba terdengar suara: "Sekarang Anda menjadi tahu, bahwa api tidak akan dapat membakar kekasih-Ku."

     Diceritakan, bahwa Aisyah, istri Fir'aun merahasiakan imannya dari Fir'aun, suaminya. Ketika Fir'aun mengetahui tentang keimanannya, ia memerintahkan untuk menghukum dan menyiksanya. Lali mereka menyiksa Aisyah dengan berbagai macam siksaan. Fir'aun berkata: "Keluarlah dari agama barumu itu." Tetapi Aisyah tidak hendak murtad (keluar dari akidahnya). Kemudian Aisyah diikat pada suatu tonggak yang terpasang, lalu anggota-anggota tubuhnya dipukuli dan disiksa. "Lepaskan akidah dan keimananmu itu," Pintar Fir'aun. Aisyah berkata: "Anda dapat menyiksa tubuhku, tetapi hatikudalam pemeliharaan Tuhanku. Sekalipun Anda memotong dan mencincang tubuhku, hal itu tidak berarti apa-apa bagiku, bahkan akan semakin menambah cintaku pada Tuhanku."
     Kemudian ketika Nabi Musa lewat di hadapan Aisyah, ia memanggil: "Wahai Musa, apakah Tuhanku ridha ataukah murka kepadaku?" Nabi Musa menjawab: "Wahai Aisyah, para malaikat di langit sedang menanti kedatangan Anda dengan penuh kerinduan. Allah bangga terhadap Anda, dan sampaikan apa yang Anda inginkan kepada-Nya, tentu Dia akan mengabulkan apa yang Anda inginkan." Lalu Aisyah memohon, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut ini:

ﺭَﺏِّ ﭐﺑْﻦِ ﻟِﻰ ﻋِﻨﺪَﻙَ ﺑَﻴْﺘًﺎ ﻓِﻰ ﭐﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻭَﻧَﺠِّﻨِﻰ ﻣِﻦ ﻓِﺮْﻋَﻮْﻥَ ﻭَﻋَﻤَﻠِﻪِۦ ﻭَﻧَﺠِّﻨِﻰ ﻣِﻦَ ﭐﻟْﻘَﻮْﻡِ ﭐﻟﻈَّٰﻠِﻤِﻴﻦ

Artinya:
"Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim." (QS. At-tahrim: 11).

     Salman ra. Berkata: "Aisyah, istri Fir'aun di siksa di bawah sengatan terik matahari. Ketika para penyiksa pergi meninggalkannya, para malaikat menaunginya dengan sayapnya dan ia melihat rumahnya di surga."

     Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Fir'aun menancapkan empat buah tonggak, lalu ia menelantangkan istrinya terbelenggu dan terikat pada tonggak-tonggak itu menindihnya dengan alat penggiling dengan dihadapkan pada matahari. Kemudian Aisyah menengadahkan wajahnya ke langit seraya memohon: "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim." (QS. At-tahrim: 11)

     Hasan berkata: "Lalu Allah menyelamatkannya dengan keselamatan yang paling mulia dan mengangkatnya ke syurga, ia pun makan dan minum dengan penuh kenikmatan." Hal tersebut merupakan bukti bahwa berlindung kepada Allah dan kembali kepadaNya memohon jalan keluar yang terbaik ketika menerima ujian dan bencana adalah menjadi tradisi bagi orang-orang shaleh dan orang-orang yang beriman.

Poskan Komentar