Al-Qur'an Merupakan Bekal Utama Saat Kembali Ke ALLAH




Al-Qur'an Merupakan Bekal Utama Saat Kembali Ke ALLAH


Dari Abu Dzar r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda,
sesunggguhnya kalian tidak akan kembali kepada Allah dengan membawa sesuatu yang lebih utama selain membawa apa yang keluar dari-Nya, yakni al Qur’an.”
(Hr. Hakim)
Berdasarkan beberapa riwayat, jelas bahwa tidak ada yang dapat mendekatkan kita kepada Allah kecuali dengan al Qur’an. Imam Ahmad bin Hambal rah.a. berkata, Seakan-akan aku melihat Allah dalam mimpiku dan aku bertanya kepada-Nya, ‘Apa yang terbaik untuk mendekatkan diri kepadaMu?” Allah Swt. menjawab “Ahmad, kalam-Ku (yakni al Qur’an).” Aku bertanya, “Membaca dengan memahaminya atau tanpa memahaminya?” Allah berfirman, “Paham atau tidak, keduanya akan mendekatkan kepada-Ku.”
Jelaslah bahwa cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan al Qur’an. Diterangkan dalam tafsir Syaikh Baqiyatus Salaf, Hujjatul Khalaf Syaikh Abdul Aziz Dahlawi yang kesimpulan dan penafsirannya adalah bahwa suluk kepada Allah atau untuk mencapai derajat ihsan kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya adalah dengan tiga cara:
1. Tashawwur. Dalam syari’at lebih dikenal dengan istilah tafakkur dan tadabbur, dan dalam istilah tasawwuf lebih dikenal dengan muraqabah. 2. Dzikir Lisan.
3. Tilawah al Qur’an.
Cara yang pertama sebenarnya adalah dzikir Qalbi (dzikir dengan hati). Pada dasarnya, hanya dilakukan dengan dua cara: Pertama, dzikir secara umum, baik dengan hati atau dengan lisan; Kedua, dzikir dengan tilawat al Qur’an.
Dengan menyebut salah satu nama Allah berulang-ulang, maka tujuan dzikir akan didapatkan, yakni memperoleh mudrikah (bertawajuh kepada-Nya) dan menimbulkan perasaan bahwa yang diingat itu ada didepan kita. Jika terus berlangsung seperti itu, maka itulah ma’iyyat (kebersamaan dengan Allah) sebagaimana yang diterangkan di dalam hadits:
“Hamba-Ku selalu mendekati-Ku dengan amal nawafil (sunnat), sehingga Aku menciptakannya. Maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, menjadi penglihatannya yang ia melihat dengannya, menjadi tangannya yang ia memegang dengannya, dan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan.”
Apabila seseorang hamba memperbanyak ibadah, Allah akan dekat kepadanya dan akan menjadi penjaganya. Mata, telinga, dan yang lainnya akan mengikuti keinginan Allah.
Dalam riwayat itu dikatakan ‘memperbanyak shalat-shalat nafil’ adalah karena fardhu itu sudah ditetapkan jumlahnya, tidak boleh dilebihkan, sehingga sangat penting bagi kita untuk selalu merasakan kehadiran Allah di dalam ibadah kita sebagaimana telah diterangkan sebelumnya. Namun, cara bertaqarrub seperti ini hanya digunakan untuk mendekati Dzat Allah Yang Kita cintai. Kita tidak mungkin dapat mendekati manusia hanya dengan sering menyebut namanya. Karena untuk bertaqarrub seperti ini harus ada dua hal:
1. Yang diingat harus mengetahui dzikir setiap orang yang mengingatnya, baik secara lisan ataupun di dalam hati, walaupun dalam waktu dan bahasa yang berbeda.
2. Dia harus mampu bertajalli (manifestasi) dan memenuhi keinginan orang yang mengingatnya, yang biasa disebut dengan dunuw (kedekatan) dan tadalli (pendekatan), atau dikenal dengan istilah nuzul (turun) dan qrub (kedekatan)
Kedua sifat ini hanya dimiliki oleh Allah Swt., sehingga cara taqarub diatas hanyamungkin untuk mendekatkan diri kepada Dzat Allah. Disebutkan didalam hadits Qudsi.
“Barangsiapa mendekati-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya sehasta.”
Ini sekadar perumpamaan, sebab sesunggguhnya Allah Maha Suci dari berjalan dan berlari. Dan keinginan serta usaha Allah lebih tawajjuh dan lebih dekat daripada usaha dan keinginan seseorang yang selalu mengingat dan mencari-Nya. Mereka memang pantas mendapatkan kasih saying Allah, sebab sifat Rabb Yang Maha Mulia adalah selama orang yang mengingatnya ia terus berdzikir, maka tawajuh dan kedekatan Allah padanya pun terus menerus.
Kallamullah adalah untuk mengingat Allah Swt., tidak ada stu ayat pun yang tidak bertujuan untuk mengingat Allah. Hal itu menegaskan bahwa al Qur’an memiliki sifat-sifat dzikir sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Dan satu kelebihan khusus lainnya yang ada pada al Qur’an yang dapat mendekatkan kita kepada Allah adalah bahwa setiap ucapan jelas akan membawa sifat dan pengaruh terhadap pembicaraannya; sebagaimana orang yang membaca ayar’ir-sya’ir orang fasik dan durjana, maka akan mengakibatkan pengaruh buruk baginya. Dan orang yang membaca sya’ir orang-orang yang bertakwa akan menyebabkan ia juga bertakwa. Dengan alasan inilah maka dikatakan bahwa banyak mempelajari ilmu logika dan filsafat akan menimbulkan kesombongan dan keangkuhan. Sedang banyak mengkaji hadits akan menimbulkan sifat tawadhu’. Oleh sebab itu, walaupun dari segi bahasa, bahasa Persia dan Inggris itu sama-sama bahasa, tetapi karena perbedaan pada pengarangnya dapat memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pembacanya. Singkatnya, setiap bacaan akan mempengaruhi pembacanya.
Demikian pula dengan terus-menerus membaca al Qur’an, tentu akan menimbulakn pengaruh khusus dari Sang Pencipta kepada pembacanya. Telah menjadi kaidah bagi setiap [engarang, bahwa jika ada orang yang betul-betul memperhatikan tulisannya, berarti ia memperhatikan dan mencintai pengarang itu sehingga pengarang itu pun akan memperhatikannya. Demikian pula orang yang senantiasa membaca firman-firman Allah Swt., maka akan lebih mendekati-Nya. Semoga Allah Yang MAha Mulia menganugerahkan Taufik-Nya kepada kita.

Tidak ada komentar