Meneladani Nabi Nuh 'Alaihissalam Sebagai Hamba yang Banyak Bersyukur

Meneladani Nabi Nuh 'Alaihissalam Sebagai Hamba yang Banyak Bersyukur

Tafsir Al-Qur'an Surah Al-Isrā' Ayat 3

Mukadimah

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.

أما بعد:

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥānahu wa Ta'ālā dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Pada kesempatan ini kita akan membahas teladan agung Nabi Nuh a.s. sebagai seorang hamba yang sangat bersyukur kepada Allah.


Dalil Utama

Al-Qur'an Surah Al-Isrā' Ayat 3

Teks Arab

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوْحٍۗ اِنَّهٗ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا

Artinya

"(Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah seorang hamba yang banyak bersyukur."

(QS. Al-Isrā': 3)


Tafsir Ayat

Tafsir Ibnu Katsir

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, beliau menjelaskan:

Allah mengingatkan Bani Israil kepada nenek moyang mereka yang diselamatkan bersama Nabi Nuh ketika banjir besar melanda bumi. Allah memerintahkan mereka untuk mengikuti jalan para nabi dalam mentauhidkan Allah dan bersyukur atas nikmat-Nya.

Tafsir Ath-Thabari

Dalam Jami' al-Bayan, Imam Ath-Thabari menjelaskan:

Allah memuji Nabi Nuh dengan sebutan "abdan syakura" karena beliau senantiasa memuji Allah dalam seluruh keadaan, baik ketika mendapatkan nikmat maupun ketika menghadapi ujian.

Tafsir Al-Qurthubi

Dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Imam Al-Qurthubi berkata:

Syukur Nabi Nuh bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan hati dan amal perbuatannya sehingga Allah mengabadikan sifat tersebut dalam Al-Qur'an.


Makna "Abdan Syakura"

Allah tidak sekadar menyebut Nabi Nuh sebagai hamba yang bersyukur.

Allah berfirman:

Teks Arab

اِنَّهٗ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا

Artinya

"Sesungguhnya dia adalah seorang hamba yang banyak bersyukur."

Kata شَكُوْرًا (Syakura) adalah bentuk mubalaghah yang menunjukkan syukur yang sangat banyak dan terus menerus.

Menurut Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib:

Syukur Nabi Nuh meliputi seluruh kehidupannya sehingga Allah menjadikannya teladan bagi seluruh manusia.


Hadis Pertama: Dzikir Pagi dan Petang Nabi Nuh

Teks Arab

عَنْ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

إِنَّمَا سَمَّى اللهُ تَعَالَى نُوحًا عَبْدًا شَكُورًا لِأَنَّهُ كَانَ إِذَا أَمْسَى وَأَصْبَحَ قَالَ:

سُبْحَانَ اللهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ ۝ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ

Artinya

"Dinamakan Allah Nuh sebagai hamba yang sangat bersyukur karena apabila datang waktu sore dan pagi beliau membaca: 'Mahasuci Allah pada waktu kamu berada di sore hari dan pagi hari. Dan segala puji bagi-Nya di langit dan di bumi pada waktu petang dan waktu zuhur.'"

(HR. Ibnu Mardawaih)


Pelajaran dari Hadis

  1. Nabi Nuh menjaga dzikir pagi dan petang.
  2. Syukur diwujudkan dengan mengingat Allah.
  3. Orang yang banyak berdzikir akan dekat dengan Allah.

Allah berfirman:

QS. Ibrahim Ayat 7

Arab

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ

Artinya

"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu."


Hadis Kedua: Bersyukur Ketika Makan dan Berpakaian

Teks Arab

كَانَ نُوْحٌ إِذَا لَبِسَ ثَوْبًا أَوْ طَعِمَ طَعَامًا حَمِدَ اللهَ تَعَالَى فَسُمِّيَ عَبْدًا شَكُورًا

Artinya

"Nabi Nuh apabila mengenakan pakaian atau memakan makanan, beliau memuji Allah. Karena itu beliau dinamakan hamba yang sangat bersyukur."

(HR. Ath-Thabari, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim)


Ulasan Para Ulama

Imam Ibnul Qayyim

Dalam Madarij as-Salikin beliau berkata:

Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat Allah melalui lisan, hati, dan anggota badan.

Syukur memiliki tiga unsur:

1. Syukur dengan Hati

Mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah.

Allah berfirman:

Arab

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ

Artinya

"Segala nikmat yang ada pada kalian berasal dari Allah."

(QS. An-Naḥl: 53)


2. Syukur dengan Lisan

Memuji Allah dengan ucapan hamdalah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

Arab

الْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ

Artinya

"Ucapan Alhamdulillah memenuhi timbangan amal."

(HR. Muslim)


3. Syukur dengan Amal

Menggunakan nikmat untuk ketaatan.

Allah berfirman:

Arab

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا

Artinya

"Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur."

(QS. Saba': 13)


Nabi Muhammad ﷺ Juga Teladan dalam Syukur

Ketika Rasulullah shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak, beliau ditanya:

Arab

أَتَفْعَلُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟

Beliau menjawab:

Arab

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

Artinya

"Apakah aku tidak boleh menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?"

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Keterangan Ulama

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan:

Semakin besar nikmat yang diberikan Allah, semakin besar pula kewajiban seorang hamba untuk bersyukur.


Bentuk Syukur yang Bisa Kita Amalkan

Setiap Bangun Tidur

Arab

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Artinya

"Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya kami dibangkitkan."

(HR. Bukhari)


Ketika Makan

Arab

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ

Artinya

"Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan memberiku rezeki tanpa daya dan kekuatan dariku."

(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)


Ketika Mendapat Nikmat

Arab

الْحَمْدُ لِلَّهِ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Artinya

"Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna."

(HR. Ibnu Majah)


Penutup

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Nabi Nuh a.s. memperoleh pujian langsung dari Allah sebagai:

Arab

عَبْدًا شَكُورًا

"Hamba yang banyak bersyukur."

Beliau bersyukur dalam setiap keadaan: ketika bangun tidur, berpakaian, makan, berdzikir pagi dan petang, berdakwah, bahkan ketika menghadapi penolakan selama ratusan tahun.

Maka marilah kita meneladani Nabi Nuh dengan:

  • Memperbanyak dzikir.
  • Mengucapkan hamdalah atas setiap nikmat.
  • Menggunakan nikmat untuk ketaatan.
  • Tidak mengeluh terhadap ketentuan Allah.
  • Menjadikan syukur sebagai jalan bertambahnya nikmat.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang bersyukur.

Doa

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

"Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah dengan sebaik-baiknya kepada-Mu."

آمين يا رب العالمين

Tidak ada komentar