Jauhilah Sifat Pelit

Jauhilah Sifat Pelit

 

وَعَنْ جَابِرٍ – رضى الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ : { اِتَّقُوا اَلظُّلْمَ, فَإِنَّ اَلظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ, وَاتَّقُوا اَلشُّحَّ , فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ }

Dari Jabir radhiyallāhu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Jauhilah berbuat zhalim karena perbuatan zhalim adalah kegelapan yang bertumpuk-tumpuk pada hari kiamat dan jauhilah sifat “syuh” (sangat pelit) karena sifat sangat pelit tersebut telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”

(HR Muslim 2578).
〰〰〰〰〰〰〰

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dam akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Kita masih dalam Bab Tarhib min Masawil Akhlak (Bab Tentang Peringatan Bahaya dari Akhlak-akhlak yang Buruk, kita masuk pada hadits yang ke-4.

Dari Jabir radhiyallāhu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

اِتَّقُوا اَلظُّلْمَ, فَإِنَّ اَلظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ, وَاتَّقُوا اَلشُّحَّ , فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Jauhilah berbuat zhalim karena perbuatan zhalim adalah kegelapan yang bertumpuk-tumpuk pada hari kiamat dan jauhilah sifat “syuh” (sangat pelit) karena sifat sangat pelit tersebut telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”

(HR Muslim 2578)

Hadits ini terdiri dari 2 bagian.

BAGIAN PERTAMA

Jauhilah perbuatan zhalim karena perbuatan zhalim merupakan kegelapan yang bertubi-tubi pada hari kiamat, dan telah kita jelaskan pada pembahasan hadits yang sebelumnya.

Oleh karenanya kita akan konsentrasi pada bagian yang kedua.

BAGIAN KEDUA

Jauhilah kalian “asy syuh” (sifat sangat pelit) karena itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.

Asy syuh maknanya adalah pelit yang amat sangat yang disertai dengan semangat untuk meraih harta, bahkan harta milik orang lain.

Oleh karenanya, Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan bahwasannya syuh inilah yang membinasakan umat-umat terdahulu, ini benar.

Kita lihat bagaimana terjadinya pertempuran dan penjajahan. Suatu negara datang ke negera yang lain untuk merebut harta yang dimiliki negara tersebut karena adanya sifat tamak.

Dan inilah yang menyebabkan terjadinya peperangan dan penjajahan pada umat-umat terdahulu.

Dalam Al Quran juga banyak ayat yang menjelaskan tentang buruknya sifat pelit, seperti firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَاتٰىهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِۦ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ

“Sekali-sekali janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allāh berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka, sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di leher mereka pada hari kiamat.”

(QS Ali Imran: 180)

Seperti juga firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ

“Barang siapa yang bakhil, maka sesungguhnya dia bakhil untuk dirinya sendiri.”
(QS Muhammad: 38)

Ini celaan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian juga firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Barang siapa yang terjaga dari sifat pelit maka sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(Al Hasyr: 9)

Orang yang pelit sesungguhnya menunjukkan bahwa keimanannya kepada hari akhirat dan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla kurang.

Dalam suatu hadits Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

وَلاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

“Tidak akan berkumpul sifat pelit dan keimanan dalam hati seorang hamba selama-lamanya.”

(HR Nasa’i: 3111)

Kenapa?

Karena kalau orang yang beriman dengan iman yang benar maka dia yakin bahwasanya harta yang dia keluarkan akan diganti oleh Allāh di dunia maupun di akhirat.

Jadi, kapan seseorang itu pelit? Yaitu tatkala dia kurang yakin.

Dalam Al Qur’an terlalu banyak Allāh memerintahkan, “Infaqlah,..,” “Bersedekahlah…,” banyak sekali.

Dalam hadits juga Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyeru untuk bersedekah.

Betapa banyak ayat-ayat dan hadits-hadits ini namun tidak menggerakkan hatinya untuk bersedekah, malah justru membuat dirinya pelit. Ini menunjukkan keimanannya kurang.

Kalau keimanannya kuat, dia akan yakin bahwa apa yang dikeluarkannya akan diganti oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sehingga seseorang bisa mengukur imannya dari sifat pelitnya. Kalau teryata dia pelit maka imannya kepada Allāh dan hari akhirat kurang.

Oleh karenanya dalam hadits Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

الصدقة برهان

“Bahwa sedekah itu adalah burhan (bukti).”

Maksudnya apa?

Maksudnya bukti tentang keimanan.

Anda, kalau mengaku beriman kepada Allāh harus ada buktinya, buktinya mana?

Buktinya yaitu anda mau bersedekah.

Maka paksakan anda untuk bersedekah, sebagai bukti bahwa anda beriman, bahwa sedekah yang anda keluarkan akan diganti oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

sumber : https://ilmiyyah.com/archives/5765#:~:text=%E2%80%9CJauhilah%20berbuat%20zhalim%20karena%20perbuatan,orang%2Dorang%20sebelum%20kalian.%E2%80%9D

Tidak ada komentar