Puasa dan Keikhlasan – Ibadah yang Hanya Diketahui oleh Allah
Puasa dan Keikhlasan – Ibadah yang Hanya Diketahui oleh Allah
Mukadimah
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Hadirin sekalian yang dirahmati Allah,
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang telah diberikan, terutama nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan suci Ramadhan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas "Puasa dan Keikhlasan: Ibadah yang Hanya Diketahui oleh Allah." Puasa adalah ibadah yang sangat istimewa, karena hanya Allah yang mengetahui apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak. Oleh karena itu, puasa menjadi ujian keikhlasan bagi setiap hamba.
1. Puasa sebagai Ibadah yang Paling Ikhlas
Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Rasulullah ﷺ:
"كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ"
"Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa memiliki keistimewaan dibandingkan ibadah lain, karena tidak ada yang mengetahui keikhlasan puasa seseorang kecuali Allah. Jika seseorang shalat, zakat, atau haji, orang lain bisa melihatnya. Tetapi puasa adalah ibadah yang tersembunyi—seseorang bisa saja berpura-pura berpuasa, padahal diam-diam ia makan dan minum.
Maka dari itu, puasa adalah ujian sejati keikhlasan seorang mukmin.
2. Makna Keikhlasan dalam Berpuasa
Keikhlasan berasal dari kata "ikhlas" yang berarti murni atau bersih dari riya’ dan keinginan duniawi. Orang yang ikhlas dalam berpuasa tidak berpuasa karena ingin dipuji atau sekadar mengikuti kebiasaan masyarakat, tetapi semata-mata karena ketaatan kepada Allah.
Allah berfirman:
"وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ"
"Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas dalam menjalankan agama dengan lurus."
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Orang yang ikhlas dalam berpuasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga hatinya dari niat selain karena Allah. Ia berpuasa bukan karena ingin menurunkan berat badan, bukan karena ikut-ikutan, tetapi karena mengharap ridha Allah semata.
3. Keikhlasan dalam Menjaga Puasa dari Hal yang Membatalkan Pahala
Puasa bukan hanya tentang menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga diri dari hal-hal yang bisa mengurangi atau bahkan membatalkan pahalanya. Rasulullah ﷺ bersabda:
"رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالظَّمَأُ"
"Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan haus."
(HR. Ahmad)
Apa yang menyebabkan puasa seseorang tidak bernilai?
1. Riya’ (ingin dipuji manusia) – Jika seseorang berpuasa agar dilihat orang lain dan dipuji sebagai orang yang taat, maka puasanya tidak bernilai di sisi Allah.
2. Ghibah (menggunjing) – Rasulullah ﷺ bersabda bahwa menggunjing bisa membatalkan pahala puasa, seperti seseorang yang makan daging saudaranya sendiri.
3. Dusta dan perkataan kotor – Rasulullah ﷺ bersabda:
"مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ"
"Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya."
(HR. Bukhari)
Oleh karena itu, jika kita ingin puasa kita benar-benar diterima, kita harus menjaga lisan, hati, dan perbuatan kita dengan penuh keikhlasan.
4. Cara Melatih Keikhlasan dalam Puasa
Agar puasa kita benar-benar menjadi ibadah yang penuh keikhlasan, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:
4.1 Memperbaiki Niat Sejak Awal
Niat adalah kunci utama keikhlasan. Rasulullah ﷺ bersabda:
"إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ"
"Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Setiap malam sebelum berpuasa, kita harus memastikan bahwa niat kita benar-benar hanya untuk Allah, bukan untuk tujuan duniawi semata.
4.2 Menjaga Kesendirian dengan Allah
Karena puasa adalah ibadah yang tersembunyi, kita harus memperbanyak amal ibadah yang juga bersifat pribadi, seperti:
Memperbanyak doa – terutama saat sahur dan menjelang berbuka.
Membaca Al-Qur’an dan merenungkan maknanya.
Shalat malam (qiyamul lail) untuk mendekatkan diri kepada Allah.
4.3 Menghindari Perbuatan yang Bisa Mengurangi Pahala
Jika kita benar-benar ingin puasa kita bernilai di sisi Allah, kita harus menjaga diri dari segala bentuk kemaksiatan, baik itu lisan, hati, maupun perbuatan.
4.4 Bersedekah dengan Ikhlas
Salah satu amalan yang bisa menyempurnakan keikhlasan puasa adalah bersedekah. Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, terutama di bulan Ramadhan. Dengan bersedekah, kita melatih diri untuk tidak hanya menahan diri dari makanan, tetapi juga berbagi dengan orang yang membutuhkan tanpa mengharapkan balasan dari manusia.
Penutup
Hadirin yang dirahmati Allah,
Puasa adalah ibadah yang penuh dengan keikhlasan, karena hanya Allah yang mengetahui apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak. Oleh karena itu, marilah kita memurnikan niat kita hanya karena Allah, menjaga puasa kita dari hal-hal yang mengurangi pahalanya, dan memperbanyak amal shaleh selama Ramadhan.
Semoga Allah menerima puasa kita dan menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan penuh keikhlasan.
وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالسَّدَادُ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Post a Comment