Akhlak Personal dalam Islam – Landasan, Perbandingan, dan Penerapannya
🕌 CERAMAH LENGKAP: PRIBADI AKHLAKUL KARIMAH
Akhlak Personal dalam Islam – Landasan, Perbandingan, dan Penerapannya
I. Pendahuluan Retoris
Jamaah yang dirahmati Allah…
Bangsa yang besar bukan hanya karena alutsista yang kuat, bukan pula karena gedung-gedung tinggi yang berdiri megah. Suatu bangsa akan mulia bila akhlaknya mulia. Dan agama kita – Islam – datang membawa misi besar:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus tidak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Imam Ibnul Qayyim berkata:
“Agama seluruhnya adalah akhlak. Barang siapa bertambah akhlaknya, maka bertambah agamanya.”
II. Pengertian Akhlak & Ruang Lingkupnya
1. Definisi Akhlak
Secara bahasa: khuluq berarti tabiat, karakter yang tertanam dalam jiwa.
Menurut Imam Al-Ghazali:
هِيَ صُورَةُ الْإِنْسَانِ الْبَاطِنَةُ
“Akhlak adalah keadaan jiwa yang darinya lahir perbuatan tanpa perlu dipikir dahulu.”
Di Indonesia, istilah akhlak identik dengan kebaikan.
III. Perbandingan Akhlak Islam dengan Norma, Adat, dan Filsafat Etika
1. Akhlak dalam Islam
Berasal dari wahyu: Al-Qur’an dan Sunnah.
Bersifat tetap, universal, dan tidak tergantung budaya.
➡ Dalil:
Allah berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sungguh engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Ibnu ‘Abbas berkata:
“Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an.”
2. Norma Sosial
Aturan masyarakat berdasarkan kebiasaan, dapat berubah dan berbeda tiap daerah.
3. Adat Istiadat
Kebiasaan turun-temurun. Selama tidak bertentangan dengan syariat, Islam menerimanya.
➡ Kaidah Fikih:
الْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ
“Adat dapat menjadi hukum (selama tidak bertentangan dengan syariat).”
4. Filsafat Etika
Dibentuk logika manusia, sering relatif & berubah sesuai zaman.
Perbedaan Inti
| Unsur | Sumber | Sifat | Ukuran Baik-Buruk |
|---|---|---|---|
| Akhlak Islam | Wahyu (Qur'an & Sunnah) | Tetap | Syariat |
| Norma | Masyarakat | Berubah | Kesepakatan sosial |
| Adat | Kebiasaan | Lokal | Tradisi |
| Filsafat Etika | Akal manusia | Relatif | Rasio/logika |
IV. Akhlak kepada Allah SWT
Ini adalah puncak akhlak manusia. Bila baik kepada Allah, maka baik pula kepada makhluk.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Bentuk-bentuk Akhlak kepada Allah:
1. Meyakini Keesaan Allah (Tauhid)
Dalil:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.”
(QS. Al-Ikhlash: 1)
Imam Ath-Thabari:
“Tauhid adalah fondasi seluruh akhlak. Barang siapa rusak tauhidnya, rusak seluruh amalnya.”
2. Meyakini Kekuasaan & Kesempurnaan Allah
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri.”
(QS. Al-Baqarah: 255)
3. Taat terhadap perintah Allah
Dalil:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ
“Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah…”
(QS. An-Nisa’: 59)
4. Menjauhi Larangan Allah
وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ
“Janganlah kalian mendekati perbuatan keji.”
(QS. Al-An’am: 151)
V. Akhlak kepada Sesama Manusia
Setelah kepada Allah, akhlak berikutnya adalah terhadap manusia.
Dalil utama:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Berkatalah kepada manusia dengan kata-kata yang baik.”
(QS. Al-Baqarah: 83)
Hadis:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Thabrani)
Allah memuji orang yang:
- Memberi harta kepada kerabat
- Menolong yatim & miskin
- Membantu musafir
- Memerdekakan budak
- Menepati janji
- Bersabar dalam kesulitan
Semua ini disebutkan dalam:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ …
“Bukan kebaikan itu menghadapkan wajah ke timur atau barat, tetapi beriman kepada Allah…”
(QS. Al-Baqarah: 177)
Imam Fakhruddin Ar-Razi:
“Ayat ini adalah ummul akhlak (induk akhlak), mencakup seluruh sifat mulia kepada manusia.”
VI. Akhlak kepada Makhluk Selain Manusia
Islam bukan hanya menjaga hubungan vertikal dan horizontal, tapi juga lingkungan dan ekosistem.
Dalil:
1️⃣ Larangan merusak bumi
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ
“Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi.”
(QS. Al-A’raf: 56)
2️⃣ Memberi makan hewan dicatat sebagai pahala
Nabi bersabda:
فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ
“Pada setiap makhluk yang bernyawa, ada pahala (jika engkau berbuat baik padanya).”
(HR. Bukhari)
3️⃣ Wanita pelacur diampuni karena memberi minum anjing
(HR. Bukhari & Muslim)
Imam Nawawi:
“Hadis ini menunjukkan bahwa rahmat kepada makhluk apa pun adalah bagian dari keimanan.”
VII. Kesimpulan Teologis Para Ulama
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyimpulkan:
- Akhlak kepada Allah: tauhid, cinta, takut, harap, syukur, dan taat.
- Akhlak kepada Manusia: adil, ramah, sabar, membantu, ikhlas.
- Akhlak kepada Makhluk: menjaga bumi, menyayangi hewan, tidak zalim.
Dan beliau berkata:
“Barang siapa baik akhlaknya, maka baik pula agamanya.”
VIII. Penutup Retoris
Jamaah sekalian…
Kita hidup di zaman di mana orang mengutamakan penampilan, tetapi melupakan kepribadian. Rumah semakin megah, tetapi hati semakin sempit. Ilmu makin banyak, tetapi akhlak makin hilang.
Karena itu, marilah kita kembali kepada inti ajaran Nabi:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Semoga Allah menghiasi kita dengan akhlak Nabi Muhammad ﷺ.
Post a Comment