Antara Peringatan, Kesabaran Nabi, dan Hati yang Bertahan Sampai Akhir
Antara Peringatan, Kesabaran Nabi, dan Hati yang Bertahan Sampai Akhir
PEMBUKAAN
Allahu Akbar…
Allahu Akbar…
Allahu Akbar…
Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn…
Kita puji Allah… bukan karena kita pantas dipuji…
tapi karena kita masih diberi kesempatan hidup… padahal dosa kita tidak terhitung…
Shalawat dan salam…
kepada Nabi yang rambutnya memutih…
bukan karena usia…
tapi karena beratnya amanah wahyu…
Rasulullah ﷺ bersabda:
شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا
“Surah Hūd dan saudara-saudaranya telah membuatku beruban.”
(HR. Tirmidzi)
Jamaah yang dirahmati Allah…
bukan ayat azab saja yang membuat Nabi beruban…
tapi tanggung jawab menyampaikan kebenaran kepada umat yang membangkang…
BAGIAN I — TAUBAT YANG DITUNDA (±15 MENIT | EMOSI MULAI NAIK)
Allah membuka Surah Hūd dengan panggilan lembut…
namun mengandung ancaman bagi yang menunda:
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, lalu bertobatlah kepada-Nya…”
(QS. Hūd: 3)
Bukan sekali…
tapi istighfar lalu taubat… lalu kembali…
Ibn Kathīr berkata:
“Istighfar membersihkan masa lalu, taubat menjaga masa depan.”
Tapi lihat kita hari ini…
Istighfar di lisan…
tapi maksiat masih direncanakan…
Kita berkata, “Nanti taubatnya…”
Padahal kubur tidak pernah bertanya: ‘kapan kamu siap?’
Ya Allah…
berapa banyak taubat yang kami tunda…
hingga hati kami terbiasa dengan dosa…
BAGIAN II — ALLAH MELIHAT HATI YANG BERSEMBUNYI (±15 MENIT)
Allah berfirman:
أَلَا إِنَّهُمْ يَثْنُونَ صُدُورَهُمْ لِيَسْتَخْفُوا مِنْهُ
“Mereka memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri dari-Nya…”
(QS. Hūd: 5)
Imam Al-Qurṭubī berkata:
“Mereka menutup tubuhnya, tapi lupa bahwa Allah melihat isi dadanya.”
Jamaah…
kita bisa menipu manusia…
kita bisa tersenyum di masjid…
tapi air mata palsu tidak menipu Allah…
Allah melihat:
- niat yang disembunyikan
- dosa yang dirahasiakan
- dan air mata yang tidak tulus
Ya Allah…
kalau Engkau buka aib kami malam ini…
tidak ada satu pun yang berani duduk di sini…
BAGIAN III — REZEKI, UJIAN, DAN HATI YANG RAPUH (±15 MENIT)
Allah berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Tidak satu pun makhluk di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.”
(QS. Hūd: 6)
Namun ketika rezeki sempit…
kita su’uzhan…
Ketika diberi nikmat…
kita sombong…
Allah mengingatkan:
إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ
“Ia bergembira berlebihan dan membanggakan diri.”
(QS. Hūd: 10)
Imam Hasan Al-Bashri berkata:
“Nikmat bukan tanda cinta, musibah bukan tanda benci.”
Ya Allah…
kami mencintai dunia lebih dari perintah-Mu…
kami menangis karena kehilangan harta…
tapi tidak menangis karena kehilangan iman…
BAGIAN IV — KEBENARAN SELALU DITOLAK
Allah berfirman:
فَلَا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ
“Janganlah engkau ragu terhadap Al-Qur’an…”
(QS. Hūd: 17)
Tapi manusia berkata:
“Ini berat…”
“Ini kuno…”
“Ini tidak cocok zaman sekarang…”
Padahal yang tidak cocok…
bukan Al-Qur’an… tapi hati kita…
Ya Allah…
kami lebih percaya pendapat manusia…
daripada firman-Mu…
PENUTUP KHUTBAH
Surah Hūd mengajarkan satu hal:
bertahan di jalan Allah sampai akhir…
Bukan yang paling cepat…
tapi yang paling istiqamah…
Kalau malam ini Engkau panggil kami…
apakah kami pulang sebagai hamba…
atau sebagai pendusta iman kami sendiri…
DOA PENUTUP
Allahumma…
Ya Allah…
kami datang bukan membawa amal…
kami datang membawa dosa… luka… dan hati yang retak…
Ya Allah…
jika bukan karena rahmat-Mu…
kami sudah binasa…
Ya Allah…
ampuni taubat yang kami tunda…
ampuni iman yang kami khianati…
ampuni shalat yang kami lalaikan…
Ya Allah…
jangan Engkau matikan kami dalam keadaan jauh dari-Mu…
jangan Engkau cabut iman kami di saat kami paling membutuhkannya…
Ya Allah…
jika Surah Hūd membuat Nabi-Mu beruban…
maka buatlah ayat-ayat-Mu melembutkan hati kami…
Satukan kami dalam iman…
kuatkan kami dalam istiqamah…
akhiri hidup kami dengan husnul khatimah…
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
Aamiin…
Aamiin ya Rabbal ‘ālamīn…
Post a Comment