Berdusta atas Nama Allah dan Rasul-Nya
📚 CERAMAH :
“Berdusta atas Nama Allah dan Rasul-Nya”
“Dosa yang menyeret manusia kepada jurang kehinaan, fitnah besar umat, dan kerusakan agama.”
MUKADIMAH
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.
من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
Amma ba’du…
Hadirin rahimakumullah…
Di antara dosa yang paling berbahaya…
Yang paling menakutkan…
Yang paling besar dampaknya terhadap agama…
Adalah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.
Dosa yang disebut oleh para ulama sebagai “pintu kerusakan agama umat dari masa ke masa.”
Sampai Ibnul Qayyim berkata:
أَعْظَمُ الْكَذِبِ: الْكَذِبُ عَلَى اللهِ وَرَسُولِهِ
“Sebesar-besarnya dusta adalah dusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.”
(I’lam Al-Muwaqqi’in 1/38)
Mengapa demikian?
Karena ketika seseorang berdusta atas nama Allah, ia mengubah agama, mengganti syariat, dan menipu manusia seakan-akan perkataannya adalah wahyu.
BAB I. DEFINISI & BENTUK DUSTA ATAS NAMA ALLAH DAN RASUL-NYA
1. Definisi Singkat
Para ulama menjelaskan:
الكذب على الله ورسوله هو: اختلاق قول أو حكم ونسبته إلى الله أو رسوله بلا علم
“Berdusta atas nama Allah dan Rasul adalah menciptakan ucapan, hukum, atau syariat, lalu menisbatkannya kepada Allah atau Rasul tanpa ilmu.”
Termasuk:
- Menghalalkan yang haram
- Mengharamkan yang halal
- Mengutip hadits palsu
- Menyebarkan riwayat yang tidak sahih
- Menafsirkan ayat sesuai hawa nafsu
BAB II. DALIL AL-QUR’AN TENTANG BESARNYA DOSA DUSTA ATAS NAMA ALLAH
1. Al-An’am: 144
النَّصُّ العَرَبِيّ
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ
(QS. Al-An’am: 144)
Terjemahan
“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?”
Penjelasan Ulama
Ibn Katsir berkata:
“Ayat ini mencakup setiap orang yang membuat-buat syariat, membuat hadits, atau menisbatkan ucapan kepada Allah padahal Allah tidak pernah mengatakannya.”
Al-Qurthubi menegaskan:
“Menisbatkan sesuatu kepada Allah tanpa dalil adalah bentuk kezhaliman terbesar.”
2. Al-Hajj: 78
النَّصُّ العَرَبِيّ
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
(QS. Al-Hajj: 78)
Terjemahan
“Dan Allah tidak menjadikan kesempitan dalam agama ini.”
Keterangan
Ayat ini menjadi dasar:
Jika seseorang keliru dalam ijtihad, dengan niat mencari kebenaran, maka Allah memaafkannya.
Namun jika sengaja memelintir ayat, maka itu dusta atas Allah.
3. Al-Baqarah: 286
النَّصُّ العَرَبِيّ
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Terjemahan
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.”
Keterangan ulama:
Orang yang salah karena ketidaktahuan yang wajar, bukan karena hawa nafsu, tidak termasuk pendusta.
BAB III. HADITS-HADITS NABI TENTANG DOSA BESAR INI
1. Hadits Mutawatir tentang Ancaman Neraka
النَّصُّ العَرَبِيّ
قال رسول الله ﷺ:
«إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ، فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»
(HR. Muslim)
Terjemahan
“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama seseorang. Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”
Catatan Ulama
Imam Nawawi berkata:
“Hadits ini mutawatir, diriwayatkan lebih dari 200 sahabat.”
2. Hadits tentang sifat orang beriman
النَّصُّ العَرَبِيّ
قال رسول الله ﷺ:
«يُطْبَعُ الْمُؤْمِنُ عَلَى كُلِّ خَلَّةٍ إِلَّا الْخِيَانَةَ وَالْكَذِبَ»
(HR. Ahmad 21149)
Terjemahan
“Seorang mukmin bisa memiliki watak apa pun, kecuali khianat dan dusta.”
3. Hadits tentang munculnya pendusta akhir zaman
النَّصُّ العَرَبِيّ
قال رسول الله ﷺ:
«سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ مَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ»
(HR. Muslim)
Terjemahan
“Akan ada di akhir umatku orang-orang yang menceritakan hadits-hadits yang tidak pernah kalian dengar dan tidak pula bapak-bapak kalian. Maka jauhilah mereka.”
4. Hadits Ibnu Majah
النَّصُّ العَرَبِيّ
قال رسول الله ﷺ:
«مَن رَوَى عَنِّي حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ»
(HR. Ibnu Majah 40)
Terjemahan
“Barang siapa meriwayatkan dariku satu hadits yang ia tahu itu dusta, maka ia termasuk salah satu dari dua pendusta itu.”
BAB IV. PENJELASAN ULAMA: BENTUK-BENTUK DUSTA ATAS ALLAH & RASUL-NYA
Syekh Ibn Utsaimin rahimahullah menjelaskan dua bentuk utama:
1. Mengatakan ‘Allah berfirman’ padahal Allah tidak berfirman
Contoh:
- Mengutip ayat palsu
- Mengubah lafaz ayat
- Menisbatkan syariat yang tidak Allah turunkan
Ini dusta terbesar.
2. Menafsirkan ayat tidak sesuai maksud Allah
Jika dilakukan:
- Dengan hawa nafsu
- Untuk kepentingan politik
- Untuk memutarbalikkan syariat
Maka ia termasuk pendusta besar atas Allah.
Namun jika karena ijtihad:
➡️ dimaafkan.
BAB V. BAHAYA-BAYA TERBESAR DARI DUSTA ATAS ALLAH DAN RASUL
- Mengubah agama
- Merusak aqidah umat
- Memunculkan bid’ah
- Menimbulkan perpecahan
- Menjadikan manusia anti hadits
- Membuat generasi tidak percaya ulama
- Menjerumuskan pelaku ke neraka
Ibnul Qayyim berkata:
"أصل كل بدعة وكفر: الكذب على الله ورسوله"
“Akar dari setiap bid’ah dan kekufuran adalah dusta atas Allah dan Rasul-Nya.”
BAB VI. CONTOH KASUS KONTEMPORER (REALITA MASA KINI)
1. Orang yang membuat hadits-hadits motivasi palsu
Seperti:
- “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” (lemah)
- Hadits tentang bulan-bulan tertentu dengan keutamaan palsu
- “Shalat Dhuha bisa melunasi hutang 100 juta dalam seminggu” (tidak ada!)
2. Penceramah yang memelintir ayat demi kepentingan politik
Tentu ini bentuk dusta atas nama Allah.
3. Pengobatan alternatif yang menggunakan kalimat ‘Allah berfirman’ padahal tidak ada sumbernya
Misal:
- Ayat yang diklaim untuk “penglaris dagang”
- Ayat yang diklaim “penarik jodoh”
- Ayat yang diklaim “untuk memanggil khodam”
Jika tanpa dalil → dusta atas nama Allah.
4. Akun medsos yang menciptakan hadits palsu demi viewer
Ini sangat bahaya, karena:
- Umat awam percaya
- Beredar cepat
- Sulit diperbaiki kembali
Imam Nawawi berkata:
“Menyebarkan hadits palsu adalah perbuatan yang paling besar bahayanya kepada agama.”
BAB VII. CARA SELAMAT DARI DOSA BESAR INI
1. Tidak berbicara tentang agama kecuali dengan ilmu
Allah berfirman:
النَّصُّ العَرَبِيّ
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
(QS. An-Nahl: 43)
Terjemahan
“Tanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.”
2. Cek kesahihan setiap hadits
Rasulullah ﷺ bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang disebut berdosa bila ia menceritakan semua yang ia dengar.”
(HR. Muslim)
3. Tidak menafsirkan Al-Qur'an dengan hawa nafsu
Para ulama berkata:
“Barang siapa menafsirkan Al-Qur'an tanpa ilmu, maka ia telah berdusta atas Allah.”
4. Mempelajari ilmu hadits dasar
Agar dapat:
- Membedakan shahih – dha’if – maudhu’
- Menghindari hadits palsu
PENUTUP CERAMAH
Hadirin rahimakumullah…
Dusta atas nama Allah dan Rasul-Nya adalah dosa yang mengubah wajah agama.
Dosa yang menyebabkan umat tersesat, fitnah menyebar, dan hati menjadi gelap.
Maka barang siapa menjaga lisannya, Allah akan menjaga agamanya.
Marilah kita memohon kepada Allah agar kita dijauhkan dari perbuatan ini.
DOA PENUTUP
اللهم إنا نعوذ بك من مضلات الفتن، ونعوذ بك من الكذب عليك وعلى رسولك، ونسألك الإخلاص في القول والعمل، والثبات على الحق حتى نلقاك.
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari fitnah yang menyesatkan. Jauhkan kami dari dusta atas nama-Mu dan atas nama Rasul-Mu. Berikan kami keikhlasan dalam ucapan dan amal, serta keteguhan di atas kebenaran hingga kami bertemu dengan-Mu.”
آمين يا رب العالمين.
Post a Comment