FIRAUNNYA UMMAT INI
CERAMAH : “FIRAUNNYA UMMAT INI”
Kisah Terbunuhnya Abu Jahal & Pelajaran Besar dari Badar
MUQADDIMAH RETORIK
الحمد لله رب العالمين، حمداً يوافي نعمه ويكافئ مزيده، والصلاة والسلام على سيد المجاهدين، قائد الغر المحجلين، محمد بن عبد الله، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Amma ba’du…
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Hari ini kita akan membuka lembaran sejarah yang tidak pernah pudar warnanya. Sejarah yang mengajarkan kepada kita:
Bahwa kezaliman tidak akan langgeng, bahwa keangkuhan pasti tumbang, bahwa kebatilan meski bersorak keras, akhirnya akan ditelan bumi atas izin Allah.
Kisah hari ini bukan sekadar cerita.
Bukan dongeng pengantar tidur.
Bukan sejarah bisu…
Ini adalah cermin hidup yang memantulkan wajah keimanan dan kekufuran.
Kita akan berbicara tentang Abu Jahal, lelaki yang Rasulullah ﷺ sendiri menyebutnya sebagai:
“Fir’aunnya umat ini.”
—
BAGIAN I – KEANGKUHAN ABU JAHAL DI BADAR
1. Teriakan Kesombongan Sebelum Ia Tumbang
Dalam riwayat sejarah disebutkan bahwa saat perang Badar, Abu Jahal berdiri dengan amarah, kesombongan, dan kebencian yang membara, lalu berteriak di tengah pasukan Quraisy:
“Demi Lata dan Uzza! Kita tidak pulang sampai Muhammad dan sahabat-sahabatnya kita tawan dan kita ikat dengan tali!”
Sombong!
Membusungkan dada seperti Firaun!
Seolah-olah bumi ini miliknya!
Lalu Allah tampakkan kehinaan itu tepat di padang Badar…
DALIL AL-QUR’AN: JANJI ALLAH MENGHANCURKAN PENDOSA
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ﴾
(QS. Al-Furqan: 31)
Terjemahan:
“Dan demikianlah, Kami jadikan bagi setiap nabi musuh dari kalangan orang-orang yang berdosa.”
Keterangan Ulama
Al-Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah ketetapan Allah:
“Tidak ada nabi kecuali memiliki musuh yang keras kepala, dan Abu Jahal adalah contoh terbesar pada zaman Rasulullah.”
BAGIAN II – TUMBANGNYA ABU JAHAL
Ketika pertempuran berkecamuk, dua bocah Anshar dari keluarga ‘Afraa, Mu’adz dan Mu’awwidz, berkata kepada Abdurrahman bin Auf:
“Wahai Paman, tunjukkan kepada kami Abu Jahal. Kami mendengar dia mencaci Rasulullah ﷺ, dan kami bersumpah membalasnya.”
Mereka masih sangat muda…
Tetapi api iman di dada mereka lebih besar daripada kekuatan pasukan Quraisy.
Mereka menerjang—
menebas—
menikam—
hingga akhirnya Abu Jahal terjatuh, terluka, terkapar…
Masih sombong, tetapi sudah tidak berdaya.
DALIL HADIS: PENCABUTAN NYAWA SANG FIR’AUN
نص الحديث
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
«أَتَيْتُ أَبَا جَهْلٍ يَوْمَ بَدْرٍ وَهُوَ مَجْدُوعٌ، فَقُلْتُ: أَنْتَ أَبَا جَهْلٍ؟ فَقَالَ: فَهَلْ فَوْقَ رَجُلٍ قَتَلَهُ قَوْمُهُ؟!»
(HR. Bukhari)
Terjemahan:
Ibnu Mas’ud berkata:
“Aku mendatangi Abu Jahal yang telah terkapar di Badar. Aku berkata, ‘Engkau Abu Jahal?’
Ia menjawab, ‘Adakah yang lebih mulia dari lelaki yang dibunuh kaumnya sendiri?’”
Kesombongannya bertahan sampai detik-detik terakhir.
Lalu Ibnu Mas’ud r.a. menyempurnakan ajalnya.
Ketika Rasulullah ﷺ mendengar berita itu, beliau bersabda:
“اللَّهُ أَكْبَرُ، هَذَا فِرْعَوْنُ هَذِهِ الأُمَّةِ.”
“Allahu Akbar! Inilah Fir’aun umat ini.”
(HR. Ahmad)
BAGIAN III – MENGAPA ALLAH TIDAK MEMATIKANNYA SEKETIKA?
Para ulama menyebutkan bahwa hikmah Allah membiarkan Abu Jahal terluka dulu sebelum mati adalah:
- agar ia melihat kehinaannya,
- agar ia menyaksikan kemenangan Islam dengan kedua matanya,
- agar dunia mengetahui bahwa orang yang menindas Bilal, Sumayyah, Ammar, Asma’, dan kaum lemah itu, akan diinjak oleh orang yang dulu dia hina.
Ibnu Mas’ud berdiri di atas dadanya, menjambak jenggotnya.
Dahulu Abu Jahal menampar Ummi Ammar.
Hari itu, Allah hinakan dia di depan seluruh malaikat.
BAGIAN IV – AYAT AL-ALAQ YANG TURUN UNTUK ABU JAHAL
النُّصُوصُ الْقُرْآنِيَّة
Allah berfirman:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ * عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ
(QS. Al-Alaq: 9–10)
“Tidakkah engkau melihat orang yang melarang seorang hamba ketika ia shalat?”
Imam Mujahid, Ath-Thabari, dan seluruh ahli tafsir menyatakan:
Ayat ini turun tentang Abu Jahal, ketika ia mengancam Rasulullah ﷺ agar berhenti shalat di dekat Ka’bah.
Lalu Allah menutup ayat itu dengan ancaman:
سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ
“Kami akan panggil malaikat Zabaniyah.”
Kata Ibnu Abbas r.a.:
“Seandainya Abu Jahal benar-benar mendekati Nabi saat itu, niscaya malaikat akan mencabut nyawanya seketika.”
BAGIAN V – SIKSA ABU JAHAL DI ALAM BARZAKH
النص الحديثي
عَنِ الشَّعْبِيِّ قَالَ: قال رجل للنبي ﷺ:
“مررت ببدر فإذا رجل يخرج من الأرض ثم يُضرَب بمِقْمَعَةٍ من حديد…”
فقال ﷺ:
“ذَاكَ أَبُو جَهْلٍ يُعَذَّبُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.”
(HR. Thabrani, sanad Hasan)
Terjemahan:
Seorang lelaki berkata kepada Nabi ﷺ:
“Aku melewati Badar dan melihat seseorang keluar dari bumi, lalu dipukul dengan tongkat besi berkali-kali.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Itu Abu Jahal, ia disiksa hingga hari kiamat.”
BAGIAN VI – UMAYYAH BIN KHALAF: SAUDARA KEJAHATAN ABU JAHAL
Jika Abu Jahal adalah otak permusuhan, maka Umayyah bin Khalaf adalah tangan penyiksa.
Dialah yang menindas Bilal bin Rabah r.a.
Yang menyeretnya ke padang pasir.
Meletakkan batu besar di dadanya.
Memaksanya kufur.
Tetapi Bilal tetap berkata:
أحد… أحد…
“Allah Yang Maha Esa… Allah Yang Maha Esa…”
Imam Ibnul Qayyim berkata:
“Bilal tidak hanya mengalahkan Umayyah, tetapi ia mengalahkan seluruh berhala Mekah dengan satu kata: Ahad… Ahad.”
BAGIAN VII – KEMATIAN UMAYYAH: BALASAN BAGI PENYIKSA BILAL
Di perang Badar, Allah membalas kejahatannya.
Saat ia berlari ketakutan, Bilal melihatnya lalu berteriak:
“لا نجوتُ إن نجا أمية!”
“Aku tidak akan selamat jika Umayyah selamat!”
Akhirnya ia dikepung kaum Anshar dan dibunuh.
Orang yang dulu menyeret Bilal ke pasir, kini diseret malaikat menuju azab.
BAGIAN VIII – HIKMAH BESAR BAGI UMAT
Para ulama mengambil pelajaran:
1. Kezaliman pasti ditumbangkan oleh Allah
Ibnu Taymiyyah berkata:
“Allah akan menolong hamba-Nya yang terdzalimi meski ia pendosa, dan menghancurkan orang yang zhalim meski ia kuat.”
2. Kesombongan adalah penyakit Abu Jahal
Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»
(HR. Muslim)
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.”
3. Allah meninggikan orang yang diinjak dunia
Seperti Bilal, Ammar, Sumayyah, Asma’.
PENUTUP
Wahai jamaah yang dimuliakan…
Kisah Badar bukan sejarah mati…
Ia adalah cermin bagi kita:
- Di dalam diri kita ada sedikit sifat Abu Jahal atau sifat Bilal;
- Ada kesombongan atau ada keikhlasan;
- Ada keras kepala atau ada keteguhan iman.
Maka pilihlah posisi kita hari ini,
karena Allah akan menempatkan kita di posisi itu kelak di akhirat.
اللهم اجعلنا مع الذين صدقوا، واجعلنا من أهل بدر، ولا تجعل في قلوبنا شيئاً من كبر ولا من حسد.
وصلى الله على نبينا محمد، والحمد لله رب العالمين.
Post a Comment