Ketika Iman Diuji oleh Dunia, dan Halal Ditinggalkan karena Ramai yang Haram

“Ketika Iman Diuji oleh Dunia, dan Halal Ditinggalkan karena Ramai yang Haram”

(Tafsir Al-Mā’idah 81–100)


PEMBUKAAN (lirih – perlahan)

Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn…
Segala puji hanya milik Allah,
yang masih memberi kita iman,
meski iman itu sering kita khianati dengan perbuatan kita sendiri.

Shalawat dan salam semoga tercurah
kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ,
kepada keluarganya, sahabatnya,
dan kepada kita semua yang masih berharap
dikumpulkan bersamanya di hari yang tiada lagi dusta…

Hadirin yang dimuliakan Allah…

Hari ini,
Al-Qur’an tidak sedang berbicara tentang orang lain
tetapi sedang menelanjangi hati kita sendiri.


BAGIAN 1: IMAN YANG DIUJI LOYALITASNYA

(Al-Mā’idah: 81)

Allah berfirman:

“Sekiranya mereka benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya mereka tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong…”

Saudaraku…

Ayat ini tidak mengatakan:
“Sekiranya mereka banyak ibadah…”
“Sekiranya mereka rajin ke masjid…”

Tetapi Allah berkata:
“Sekiranya mereka benar-benar beriman…”

Karena iman itu bukan di lisan,
iman itu di keberpihakan hati.

Berapa banyak orang yang shalat,
tetapi hatinya lebih tunduk kepada manusia
daripada kepada Allah…

Berapa banyak orang yang mengaku cinta Rasul,
tetapi lebih bangga meniru musuh agama
daripada meneladani akhlak Nabi ﷺ…

Hadirin…

Iman yang benar pasti memilih,
dan iman yang palsu selalu mencari pembenaran.


BAGIAN 2: HATI YANG LEMBUT ATAU MEMBATU

(Al-Mā’idah: 82–83)

Allah menggambarkan dua jenis hati…

Ada hati yang mendengar Al-Qur’an,
lalu menangis

“Engkau melihat mata mereka bercucuran air mata…”

Dan ada hati yang mendengar ayat,
tetapi tidak bergetar sama sekali.

Saudaraku…

Yang membuat seseorang dekat kepada kebenaran
bukan identitasnya,
tetapi kerendahan hatinya.

Air mata itu tidak turun
karena suara yang indah,
tetapi karena jiwa mengenali kebenaran.

Maka bertanyalah pada diri kita malam ini:

👉 Masihkah Al-Qur’an membuat hati kita bergetar?
👉 Ataukah ayat-ayat Allah sudah kalah oleh suara dunia?


BAGIAN 3: IMAN ITU HARAP DAN TAKUT

(Al-Mā’idah: 84–86)

Mereka berkata:

“Kami berharap Allah memasukkan kami bersama orang-orang saleh.”

Hadirin…

Orang beriman tidak merasa aman,
dan tidak putus asa.

Ia beramal sambil takut ditolak,
dan ia berdosa sambil berharap ampunan.

Tetapi Allah juga mengingatkan…

Ada surga bagi yang jujur,
dan ada neraka bagi yang mendustakan.

Neraka bukan dongeng,
surga bukan khayalan.

Keduanya lebih nyata
daripada dunia yang sedang kita genggam hari ini.


BAGIAN 4: JANGAN BERLEBIHAN DALAM AGAMA

(Al-Mā’idah: 87–88)

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian mengharamkan yang baik-baik yang Allah halalkan.”

Saudaraku…

Islam bukan agama menyiksa diri,
dan bukan pula agama menuruti hawa nafsu.

Islam adalah jalan tengah.

Beragama bukan soal paling keras,
tetapi paling taat.

Bukan paling tampak suci,
tetapi paling jujur di hadapan Allah.


BAGIAN 5: KHAMAR, JUDI, DAN RUSAKNYA AKAL

(Al-Mā’idah: 90–91)

Allah menyebut khamar dan judi sebagai:

“Perbuatan setan…”

Karena setan tidak selalu mengajak sujud,
setan cukup merusak akal,
lalu manusia akan sujud kepada hawa nafsunya sendiri.

Berapa banyak keluarga hancur,
bukan karena miskin,
tetapi karena akal hilang oleh maksiat…

Berapa banyak dosa besar,
berawal dari satu kelalaian kecil
yang dianggap biasa…


BAGIAN 6: HALAL TIDAK PERNAH KALAH OLEH JUMLAH

(Al-Mā’idah: 100)

Allah berfirman:

“Tidaklah sama yang buruk dan yang baik, meskipun yang buruk itu banyak.”

Saudaraku…

Hari ini yang haram ramai,
yang maksiat viral,
yang halal sering terasa asing.

Tetapi ingat…

👉 Banyak tidak berarti benar
👉 Ramai tidak berarti diridhai
👉 Sedikit tapi halal lebih diberkahi


PENUTUP MIMBAR (suara diturunkan)

Hadirin…

Jika malam ini hati kita gelisah,
itu tanda Allah masih memanggil kita.

Jika malam ini dada kita sesak,
itu tanda iman belum mati.

Mari kita pulang bukan dengan tepuk tangan,
tetapi dengan taubat yang sunyi.


DOA PENUTUP SUPER LIRIH

(dibaca perlahan, dengan jeda)

Allāhumma…
Yā Allāh…
kami datang kepada-Mu
dengan hati yang penuh noda…

Kami bersaksi,
sering kali kami tahu yang benar
tetapi memilih yang nyaman…

Kami tahu yang halal,
tetapi tergoda oleh yang ramai…

Yā Allāh…
jangan Engkau hukum kami
karena lemahnya iman kami…

Ampuni mata kami
yang kurang menangis karena ayat-Mu…

Ampuni hati kami
yang lebih mudah tergetar oleh dunia
daripada oleh Al-Qur’an…

Yā Allāh…
jangan Engkau palingkan hati kami
setelah Engkau beri kami hidayah…

Jadikan kami hamba-Mu
yang mencintai kebenaran walau sepi…
yang meninggalkan kebatilan walau berat…

Yā Allāh…
halalkan yang halal dalam hidup kami…
dan jadikan yang haram terasa pahit di hati kami…

Jika hari ini kami belum mampu menjadi hamba yang kuat,
maka jadikan kami hamba yang jujur meminta ampun

Tutup hidup kami dengan husnul khātimah…
bangkitkan kami bersama orang-orang saleh…
dan jangan Engkau pisahkan kami dari Rasul-Mu ﷺ…

Rabbana taqabbal minnā…
innaka Antas-Samī‘ul ‘Alīm…

Walhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn…



Tidak ada komentar