Manusia Antara Nasūt dan Lāhūt (Renungan Tasawuf dari Kitab Fīhī Mā Fīhī)


Manusia Antara Nasūt dan Lāhūt

(Renungan Tasawuf dari Kitab Fīhī Mā Fīhī)


1. Mukadimah (±7 menit)

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn. Segala puji bagi Allah, Tuhan yang menciptakan manusia bukan hanya dari tanah, tetapi juga dari cahaya ruh-Nya. Tuhan yang tidak hanya memberi jasad, tetapi juga akal, hati, dan rasa.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para tabi‘in, para ulama, para wali, dan seluruh umatnya yang setia berjalan di atas manhaj Ahlussunnah wal Jamā‘ah hingga akhir zaman.

Hadirin jamaah yang dimuliakan Allah… Malam hari ini, izinkan saya mengajak panjenengan semua bercermin ke dalam diri, bukan untuk menghakimi orang lain, tapi untuk mengoreksi hati kita sendiri.

Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata:

“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Karena sering kali kita rajin menilai orang lain, tetapi lupa menilai diri sendiri. Kita sibuk menyalahkan zaman, padahal mungkin yang rusak adalah hati kita.


2. Berhala Zaman Modern: Tidak Lagi Batu, Tapi Nafsu (±8 menit)

Dalam Kitab Fīhī Mā Fīhī, Maulana Jalaluddin Rumi menyampaikan kritik yang sangat tajam. Beliau berkata kurang lebih:

“Dahulu orang kafir menyembah berhala batu. Sekarang berhalanya bukan batu, tapi nafsu: rakus, iri, dendam, dan ambisi dunia.”

Hadirin yang dirahmati Allah, Hari ini hampir tidak ada orang sujud ke patung. Tapi coba kita bertanya jujur:

  • Apakah hati kita lebih takut kehilangan harta daripada kehilangan iman?
  • Apakah kita lebih patuh pada keinginan nafsu daripada perintah Allah?

Allah berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
(QS. Al-Jātsiyah: 23)

“Pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”

Imam Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan:

“Ayat ini tentang orang yang apa pun yang ia inginkan, itulah yang ia ikuti, tanpa peduli halal dan haram.”

Inilah syirik paling halus, yang sering tidak kita sadari.


3. Nasūt dan Lāhūt: Dua Dunia dalam Satu Tubuh (±8 menit)

Jamaah sekalian, Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa manusia hidup di antara dua alam:

  • Nasūt → alam jasmani, dunia, nafsu
  • Lāhūt → alam ruhani, cahaya, ketuhanan

Allah berfirman:

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ
(QS. As-Sajdah: 9)

“Lalu Allah menyempurnakan penciptaannya dan meniupkan ke dalamnya ruh dari-Nya.”

Artinya apa? Tubuh kita berasal dari tanah, tapi ruh kita berasal dari langit.

Makanya:

  • Tubuh ingin kenyang
  • Nafsu ingin senang
  • Ruh ingin dekat dengan Allah

Kalau hidup hanya mengikuti tubuh dan nafsu, maka ruh akan kelaparan.


4. Tiga Golongan Makhluk Menurut Rumi (±10 menit)

Maulana Rumi membagi makhluk menjadi tiga:

Pertama: Malaikat

  • Tidak punya nafsu
  • Hidupnya zikir dan taat

Allah berfirman:

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ
(QS. At-Tahrim: 6)

“Mereka tidak pernah mendurhakai Allah.”

Ketaatan malaikat bukan perjuangan, karena memang tidak ada godaan.

Kedua: Binatang

  • Punya nafsu
  • Tidak punya akal moral

Ketiga: Manusia

  • Punya akal
  • Punya nafsu

Inilah makhluk paling berbahaya sekaligus paling mulia.

Nabi ﷺ bersabda:

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ
(HR. Ahmad)

“Mujahid sejati adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya.”

Kalau akal mengalahkan nafsu → derajat lebih tinggi dari malaikat
Kalau nafsu mengalahkan akal → lebih rendah dari binatang


5. Orang Beriman Itu Gelisah, Bukan Nyaman (±7 menit)

Rumi mengatakan:

“Orang beriman sering merasa tidak puas dengan dirinya.”

Kenapa? Karena imannya hidup.

Allah berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
(QS. Yunus: 62)

Imam Al-Junaid رحمه الله berkata:

“Selama engkau masih merasa aman dengan dirimu, itu tanda engkau belum sampai.”

Kegelisahan dalam taat itu rahmat, bukan azab.


6. Usaha Manusia dan Rahmat Allah (±8 menit)

Jamaah yang dimuliakan Allah, Banyak orang putus asa karena merasa amalnya kurang.

Rumi mengingatkan:

“Jalan ini tidak akan selesai dengan kakimu yang lemah.”

Allah berfirman:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
(QS. An-Nashr: 1)

Lalu ditutup dengan:

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ
(QS. An-Nashr: 3)

Artinya: Setelah pertolongan datang, jangan bangga, tapi istighfar.

Imam Nawawi رحمه الله berkata:

“Amal adalah sebab, tapi rahmat Allah adalah penentu.”


7. Orang Saleh adalah Cermin (±6 menit)

Rumi mengibaratkan wali Allah seperti cermin.

  • Orang dunia melihat emasnya
  • Orang beriman melihat cahayanya

Allah berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ
(QS. Ash-Shaff: 8)

Tradisi NU mengajarkan:

  • Hormat ulama
  • Tawadhu’
  • Ngaji sampai mati

8. Nikmat Bisa Menjadi Azab (±4 menit)

Rumi berkata:

“Banyak orang disiksa dengan nikmat.”

Allah berfirman:

سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
(QS. Al-A‘raf: 182)

Harta, jabatan, dan pujian:

  • Bisa mengangkat
  • Bisa menenggelamkan

9. Penutup dan Doa (±5 menit)

Hadirin yang dirahmati Allah, Kita semua sedang berdiri di antara nasūt dan lāhūt. Tidak ada yang sempurna. Yang penting terus kembali kepada Allah.

Mari kita tutup dengan doa:

Allāhumma yā Muqallibal qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik.
Yā Allah, jadikan akal kami memimpin nafsu kami,
dan jadikan nafsu kami tunduk kepada-Mu.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.



Tidak ada komentar