Mengeluarkan Harta: Antara Harapan Pahala dan Ketakutan Hisab

“Mengeluarkan Harta: Antara Harapan Pahala dan Ketakutan Hisab”


PEMBUKAAN (±10 MENIT)

(Nada pelan, berat, penuh kesadaran)

Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn…
Segala puji bagi Allah yang memberi kita harta,
namun tidak menjamin keselamatan kita dengannya.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ,
yang mengajarkan bahwa banyak amal belum tentu selamat,
dan sedikit amal dengan rasa takut bisa menjadi sebab keselamatan.

Saudaraku…
Banyak manusia mengira:

“Aku sudah bersedekah… aku sudah berinfak… aku sudah membantu…”

Namun sedikit yang bertanya pada dirinya sendiri:

(jeda 3 detik)
👉 “Apakah sedekahku ini membebaskanku… atau justru menambah hisabku?”

(Nada turun)
Karena…
tidak semua yang dikeluarkan menjadi penyelamat
dan tidak semua yang halal menjadi ringan pertanyaannya.


BAGIAN I — KEKELIRUAN BESAR DALAM MEMAHAMI SEDEKAH (±15 MENIT)

(Nada peringatan)

Saudara-saudaraku!

Ada orang mengeluarkan harta dengan penuh harap
namun tanpa rasa takut.

Ia berkata dalam hatinya:

“Aku sedekah agar pahalaku berlipat…”

Padahal ia lupa…
setiap rupiah halal yang ia keluarkan akan ditanya dari mana dan ke mana.

Allah berfirman:

﴿وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ﴾
“Dan pada harta-harta mereka ada hak bagi orang miskin.”

(Nada ditekankan)
Allah tidak mengatakan: ‘ada keutamaan’,
tetapi Allah mengatakan: ADA HAK.

👉 Hak itu bukan sedekah sukarela!
👉 Hak itu adalah kewajiban yang menempel pada harta!

(Jeda)
Kalau hak itu tidak dikeluarkan…
maka harta itu akan datang pada hari kiamat sebagai penuntut.


BAGIAN II — SEDEKAH ADALAH TEBUSAN DIRI (±15 MENIT)

(Nada kisah, menyentuh)

Saudara-saudaraku…

Telah sampai kepada kita perumpamaan dari para nabi dan ulama:

Sedekah itu seperti tebusan seorang pembunuh.

Bayangkan…
Seorang manusia terancam hukuman mati.
Ia berkata:

“Aku akan menebus diriku… sedikit demi sedikit…”

Setiap koin yang ia bayar…
adalah penunda kematian.

(Nada meninggi)
Demi Allah!
Demikianlah kita!

Setiap dosa adalah pembunuhan terhadap diri kita sendiri.
Dan setiap sedekah halal adalah tebusan yang meringankan belenggu itu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ»
“Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.”

(Jeda panjang)
Tapi ingat…
air yang sedikit tidak memadamkan api yang besar.


BAGIAN III — AMAL YANG PALING BERBAHAYA: AMAL TANPA TAKUT (±15 MENIT)

(Nada serius, menekan hati)

Saudaraku…

Allah tidak berjanji menerima semua amal.
Allah hanya berjanji menerima amal orang yang bertakwa.

Allah berfirman:

﴿إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ﴾
“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”

(Nada menurun)
Hasan Al-Bashri berkata:

“Mereka beramal dan takut…
sedangkan orang munafik beramal dan merasa aman.”

(Tanya jamaah)
Wahai kaum Muslimin…
kita ini golongan yang takut atau yang merasa aman?

Karena merasa aman dari hisab adalah tanda kebodohan terbesar.


BAGIAN IV — HISAB YANG TELITI ADALAH AZAB (±10 MENIT)

(Nada tegas)

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ عُذِّبَ»
“Barang siapa yang dihisab dengan teliti, pasti diazab.”

(Nada diperlambat)
Demi Allah…
bukan hanya harta haram…
harta halal pun akan ditanya.

Allah berfirman:

﴿ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ﴾
“Kalian pasti akan ditanya tentang nikmat.”

(Jeda)
Tentang makanan…
Tentang pakaian…
Tentang uang…
Tentang mengapa disimpan…
Tentang mengapa tidak dikeluarkan…


BAGIAN V — CIRI ORANG BERTAKWA: MEMBERI DENGAN HATI GEMETAR (±10 MENIT)

(Nada lembut tapi menusuk)

Allah memuji orang-orang yang memberi…
namun hatinya takut.

﴿وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ﴾
“Mereka memberi, namun hati mereka takut.”

Ibnu Abbas berkata:

“Mereka shalat… mereka puasa… mereka sedekah…
tetapi takut tidak diterima.”

(Nada lirih)
Itulah orang yang mengenal Allah…
Semakin mengenal Allah…
semakin takut kepada-Nya.


BAGIAN VI — HALAL DIHISAB, HARAM DIAZAB (±10 MENIT)

(Nada peringatan keras)

Para ulama berkata:

“Dunia itu terlaknat…
yang halal akan dihisab…
yang haram akan diazab.”

(Nada meninggi)
Maka celakalah orang yang mengumpulkan halal tanpa takut
dan mengira sedekahnya cukup sebagai tameng.


BAGIAN VII — SUNNAH SEBAGAI PENYEMPURNA KEWAJIBAN (±10 MENIT)

(Nada pengajaran)

Allah berfirman dalam hadis qudsi:

“Tidaklah hamba mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada kewajiban.”

Sunnah bukan pengganti wajib.
Sunnah adalah penambal kekurangan.

(Nada tegas)
Orang yang sibuk sunnah
namun lalai hak Allah
adalah orang yang tertipu.


PENUTUP — SERUAN TAUBAT DAN DOA (±10 MENIT)

(Nada sangat pelan, penuh harap)

Saudara-saudaraku…

Keluarkanlah hartamu bukan karena bangga,
tetapi karena takut.

Keluarkanlah hartamu bukan karena berharap dilihat,
tetapi karena ingin bebas dari belenggu hisab.

(Jeda panjang)

Mari kita tundukkan hati…

“Ya Allah…
terimalah amal kami yang sedikit…
ampuni kekurangan kami yang banyak…
ringankan hisab kami…
sucikan harta kami…
dan jadikan kami hamba-Mu yang takut namun Engkau rahmati…”

Amin… Amin ya Rabbal ‘alamin.



Tidak ada komentar