Keinginan Memenuhi Kewajiban Ketika Mengeluarkan Harta dan Tanda Syukur kepada Allah SWT

MATERI CERAMAH

Keinginan Memenuhi Kewajiban Ketika Mengeluarkan Harta dan Tanda Syukur kepada Allah SWT


Pendahuluan: Hakikat Mengeluarkan Harta

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Banyak manusia mengeluarkan harta karena berharap pahala, namun sedikit yang mengeluarkannya karena takut hisab. Padahal, orang yang paling selamat di sisi Allah bukanlah yang paling banyak berharap, tetapi yang paling besar rasa takutnya kepada pertanggungjawaban.

Sedekah, zakat, infak, dan nafkah bukan sekadar amal kebaikan, tetapi kewajiban yang melekat pada harta, dan ujian bagi pemiliknya.


I. Mengeluarkan Harta sebagai Pemenuhan Hak Allah dan Makhluk

Dalil Al-Qur’an

﴿وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ﴾

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”
(QS. Adz-Dzariyat: 19)

Komentar Ulama

  • Ibnu Katsir:
    “Ayat ini menunjukkan bahwa harta seorang mukmin tidak murni miliknya, tetapi terdapat hak yang diwajibkan Allah untuk orang lain.”
  • Al-Qurthubi:
    “Hak ini mencakup zakat wajib dan kewajiban sosial lain yang dituntut oleh keadaan.”

👉 Makna penting:
Mengeluarkan harta bukan kemurahan hati, tetapi pembayaran utang kepada Allah.


II. Sedekah sebagai Tebusan Diri dari Dosa

Atsar Nabi-Nabi (Makna yang Diriwayatkan Ulama Salaf)

Perumpamaan sedekah seperti tebusan pembunuhan, di mana seseorang membayar sedikit demi sedikit hingga terbebas.

Dalil Sunnah

﴿الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ﴾

“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.”
(HR. Tirmidzi)

Komentar Ulama

  • Imam Al-Ghazali:
    “Sedekah bukan menambah kemuliaan harta, tetapi mengurangi beban dosa pemiliknya.”
  • Ibnu Rajab Al-Hanbali:
    “Sedekah yang disertai rasa takut lebih dicintai Allah daripada sedekah yang disertai rasa aman.”

III. Bahaya Beramal dengan Rasa Aman dari Hisab

Dalil Al-Qur’an

﴿إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ﴾

“Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 27)

Komentar Ulama

  • Hasan Al-Bashri:
    “Mereka beramal dan takut; sementara orang munafik beramal dan merasa aman.”
  • Sufyan Ats-Tsauri:
    “Takwa bukan banyaknya amal, tetapi rasa takut amal itu tertolak.”

👉 Pelajaran penting:
Amal yang disertai rasa aman dari penolakan adalah amal yang terancam tertolak.


IV. Hisab yang Mendalam adalah Azab

Dalil Sunnah

﴿مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ عُذِّبَ﴾

“Barang siapa yang dihisab dengan teliti, maka ia akan disiksa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan Aisyah r.a.

Yang dimaksud hisab ringan adalah sekadar diperlihatkan, bukan diteliti secara detail.

Komentar Ulama

  • Ibnu Hajar Al-Asqalani:
    “Hisab mendalam berarti ditanya satu per satu, dan itu adalah bentuk azab.”

V. Amal Orang Bertakwa: Memberi dengan Hati yang Takut

Dalil Al-Qur’an

﴿وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ﴾

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati yang takut, karena mereka yakin akan kembali kepada Tuhan mereka.”
(QS. Al-Mu’minun: 60)

Tafsir Ulama

  • Ibnu Abbas:
    “Mereka shalat, puasa, sedekah, namun takut tidak diterima.”
  • Imam Ath-Thabari:
    “Inilah puncak keikhlasan dan ma’rifat kepada Allah.”

VI. Harta Halal pun Akan Dihisab

Atsar Ulama

“Dunia itu terlaknat, yang halal akan dihisab, yang haram akan diazab.”

Dalil Pendukung

﴿ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ﴾

“Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.”
(QS. At-Takatsur: 8)

Komentar Ulama

  • Imam Ahmad:
    “Termasuk nikmat adalah makanan, pakaian, dan harta.”
  • Ibnu Qayyim:
    “Nikmat bukan alasan untuk bangga, tetapi alasan untuk takut.”

VII. Amalan Sunnah sebagai Penyempurna Kewajiban

Hadis Qudsi

﴿وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ﴾

“Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada kewajiban yang Aku wajibkan kepadanya.”
(HR. Bukhari)

Komentar Ulama

  • Ibnu Rajab:
    “Sunnah berfungsi menambal kekurangan wajib.”
  • Imam Nawawi:
    “Orang yang sibuk sunnah namun melalaikan wajib adalah tertipu.”

VIII. Inti Nasihat Moral

  1. Keluarkan harta bukan karena pahala, tetapi karena takut hisab
  2. Anggap sedekah sebagai pembebasan diri
  3. Takutlah amal tidak diterima lebih dari berharap balasan
  4. Tunaikan hak Allah sebelum menuntut hak dari-Nya
  5. Jadikan sunnah sebagai penyempurna, bukan pengganti

Penutup Doa

“Ya Allah, ringankanlah hisab kami, terimalah amal kami, sucikan harta kami, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang takut namun berharap dengan benar.”
Amin ya Rabbal ‘Alamin



Tidak ada komentar