RIDHA KEPADA ALLAH (Puncak Tazkiyatun Nafs dan Rahasia Ketenangan Hidup)
RIDHA KEPADA ALLAH
Puncak Tazkiyatun Nafs dan Rahasia Ketenangan Hidup
Pendahuluan (Mukadimah Ilmiah & Ruhani)
Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn,
segala puji bagi Allah yang mengatur kehidupan hamba-Nya dengan qadha dan qadar yang penuh hikmah, bukan kebetulan dan bukan kesia-siaan.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, manusia yang paling ridha hatinya, baik saat dimenangkan maupun saat disakiti.
Jamaah rahimakumullāh,
dalam ilmu Tazkiyatun Nafs, para ulama menjelaskan bahwa perjalanan jiwa seorang mukmin tidak berhenti pada sabar dan syukur saja.
Ada satu maqām yang lebih tinggi, lebih halus, dan lebih berat untuk dicapai, yaitu ridha kepada Allah.
Bagian 1: Pengertian Ridha Menurut Ulama
Definisi Ridha
Ibnu Qayyim rahimahullah mendefinisikan:
الرِّضَا سُكُونُ الْقَلْبِ إِلَى أَحْكَامِ اللَّهِ
“Ridha adalah ketenangan hati terhadap hukum dan ketetapan Allah.”
(Madarij as-Salikin)
Imam Al-Ghazali berkata:
“Ridha adalah buah dari ma’rifatullah. Barang siapa mengenal Allah dengan benar, ia akan ridha dengan perbuatan-Nya.”
👉 Artinya: ridha lahir dari iman yang dalam, bukan sekadar lisan.
Bagian 2: Dalil Al-Qur’an tentang Ridha
1. Ridha Allah dan Ridha Hamba
Allah Ta‘ala berfirman:
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang besar.”
(QS. At-Taubah: 72)
Komentar Ulama:
- Imam Ath-Thabari: “Ridha mereka kepada Allah adalah menerima seluruh perintah dan takdir-Nya tanpa keberatan.”
- Syaikh As-Sa‘di: “Ayat ini menunjukkan bahwa ridha kepada Allah adalah sebab terbesar masuk surga.”
2. Ridha sebagai Ciri Jiwa Tenang
Allah berfirman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.”
(QS. Al-Fajr: 27–28)
Penjelasan Ulama:
- Ibnu Katsir: “Rāḍiyah berarti ridha terhadap Allah, mardhiyyah berarti diridhai oleh Allah.”
- Al-Qurthubi: “Ini adalah panggilan kemuliaan tertinggi bagi seorang mukmin.”
3. Ridha terhadap Ketentuan Allah
Allah berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.”
(QS. At-Taghābun: 11)
Ibnu Abbas berkata:
“Allah memberi petunjuk kepada hatinya untuk ridha dan bersabar atas musibah.”
Bagian 3: Dalil Hadis tentang Ridha
1. Ridha dan Manisnya Iman
Rasulullah ﷺ bersabda:
ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ نَبِيًّا
“Telah merasakan manisnya iman orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Nabinya.”
(HR. Muslim)
Imam Nawawi menjelaskan:
“Ridha di sini adalah penerimaan hati secara sempurna, bukan sekadar ucapan.”
2. Hadis Qudsi tentang Ridha dan Qadar
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah berfirman:
مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلَائِي فَلْيَتَّخِذْ رَبًّا سِوَايَ
“Barang siapa tidak ridha dengan ketetapan-Ku dan tidak sabar atas ujian-Ku, maka carilah tuhan selain Aku.”
(HR. Thabrani – maknanya shahih)
Makna Ulama:
- Ini ancaman keras, menunjukkan bahwa menolak takdir bertentangan dengan tauhid rububiyah.
3. Ridha Mendatangkan Keridhaan Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا
“Besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Siapa yang ridha, baginya keridhaan Allah.”
(HR. Tirmidzi)
Bagian 4: Ridha Lebih Tinggi dari Sabar
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Sabar itu wajib, sedangkan ridha itu sunnah yang sangat agung dan lebih tinggi derajatnya.”
Perbedaannya:
- Sabar: menahan diri dari keluh kesah
- Ridha: hati merasa lapang dan damai
Bagian 5: Teladan Ridha Para Nabi
1. Nabi Ayyub ‘alaihis salam
Allah berfirman:
إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
“Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh dia sangat kembali kepada Allah.”
(QS. Shad: 44)
👉 Kesabaran Nabi Ayyub dipenuhi ridha, bukan protes.
2. Rasulullah ﷺ
Beliau bersabda saat musibah:
إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يُرْضِي رَبَّنَا
“Mata menangis dan hati bersedih, namun kami tidak berkata kecuali yang diridhai Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bagian 6: Cara Melatih Ridha dalam Kehidupan
- Meyakini Allah Maha Bijaksana
- Bertawakal setelah ikhtiar
- Husnuzhan kepada Allah
- Memperbanyak syukur dan istighfar
- Berhenti membandingkan takdir
Hasan Al-Bashri berkata:
“Siapa yang ridha dengan takdir Allah, Allah akan mencukupinya.”
Penutup dan Doa
Jamaah rahimakumullāh,
ridha tidak mengubah takdir,
tetapi mengubah hati kita saat menjalani takdir.
Mari kita berdoa:
Ya Allah, ajarkan hati kami untuk ridha kepada-Mu…
ridha dalam nikmat,
ridha dalam ujian,
ridha hingga kami kembali kepada-Mu
sebagai jiwa yang Engkau ridai.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Post a Comment