FARDHU-FARDHU SHALAT (Pilar Sahnya Shalat dan Penentu Diterima atau Tidaknya Ibadah)
FARDHU-FARDHU SHALAT
Pilar Sahnya Shalat dan Penentu Diterima atau Tidaknya Ibadah
MUKADIMAH
الحمد لله رب العالمين
نحمده ونستعينه ونستغفره
ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا
Jamaah rahimakumullah,
Shalat bukan hanya ibadah yang paling utama, tetapi juga ibadah yang paling ketat rukunnya. Dalam shalat terdapat fardhu-fardhu (rukun-rukun) yang menjadi hakikat shalat itu sendiri. Jika satu rukun ditinggalkan dengan sengaja atau lalai, maka shalat tidak sah, meskipun bacaan panjang dan sujud berkali-kali.
Imam An-Nawawi berkata:
“Rukun shalat adalah perkara yang tanpanya shalat tidak terwujud, baik ditinggalkan sengaja maupun lupa.”
1. NIAT
Dalil Al-Qur’an
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Dalil Hadis
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tempat Niat
Imam Ibnu Qayyim berkata dalam Ighatsatul Lahfān:
“Niat adalah maksud dan tekad. Tempatnya di hati, bukan di lisan. Tidak ada satu pun riwayat dari Nabi ﷺ dan para sahabat tentang melafazkan niat.”
Faedah penting:
- Melafazkan niat bukan sunnah
- Mengulang-ulang niat adalah was-was setan
- Niat cukup bersamaan dengan takbiratul ihram
2. TAKBIRATUL IHRAM
Dalil Hadis
مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
“Kunci shalat adalah bersuci, pembukanya adalah takbir, dan penutupnya adalah salam.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad – shahih)
Lafaz Takbir
اللَّهُ أَكْبَر
Imam Ibnu Qudāmah berkata:
“Tidak sah takbiratul ihram kecuali dengan lafaz ‘Allahu Akbar’.”
3. BERDIRI BAGI YANG MAMPU (DALAM SHALAT FARDHU)
Dalil Al-Qur’an
وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Dan berdirilah kalian untuk Allah dengan khusyu’.”
(QS. Al-Baqarah: 238)
Dalil Hadis
صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
“Shalatlah berdiri, jika tidak mampu maka duduk, jika tidak mampu maka berbaring.”
(HR. Bukhari)
Kesepakatan Ulama
Para ulama ijma’ bahwa berdiri adalah rukun shalat fardhu bagi yang mampu.
Faedah:
Dalam shalat sunnah, boleh duduk meski mampu berdiri, namun pahalanya setengah.
4. MEMBACA SURAH AL-FATIHAH SETIAP RAKAAT
Dalil Hadis
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak sah shalat orang yang tidak membaca Al-Fatihah.”
(HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud)
مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ
“Barang siapa shalat tanpa membaca Ummul Qur’an, maka shalatnya kurang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Penegasan Ulama
Imam Asy-Syafi’i:
“Wajib membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat, baik imam, makmum, maupun sendirian.”
Masalah Basmalah
Ringkasan pendapat ulama:
- Basmalah bagian dari Al-Fatihah (dibaca & boleh dijahrkan)
- Basmalah ayat tersendiri (dibaca sirr)
- Basmalah bukan bagian Al-Fatihah (pendapat lemah)
Ibnu Qayyim menyimpulkan:
“Nabi ﷺ terkadang menjaharkan basmalah, namun lebih sering mensirkkannya.”
Jika Tidak Mampu Membaca Al-Fatihah
Hadis Nabi ﷺ:
فَإِنْ كَانَ مَعَكَ قُرْآنٌ فَاقْرَأْ بِهِ، وَإِلَّا فَاحْمَدِ اللَّهَ وَكَبِّرْهُ وَهَلِّلْهُ
“Jika engkau mampu membaca Al-Qur’an maka bacalah, jika tidak maka bertahmid, bertakbir, dan bertahlillah.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi – hasan)
5. RUKU’ DENGAN THUMA’NINAH
Dalil Al-Qur’an
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, rukuk dan sujudlah kalian.”
(QS. Al-Hajj: 77)
Dalil Hadis
ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا
“Kemudian rukuklah sampai engkau benar-benar tenang.”
(HR. Bukhari)
Ancaman bagi yang Tidak Thuma’ninah
أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ
“Manusia paling buruk pencuriannya adalah yang mencuri shalatnya.”
(HR. Ahmad – shahih)
لَا تُجْزِئُ صَلَاةٌ لَا يُقِيمُ الرَّجُلُ فِيهَا صُلْبَهُ
“Tidak sah shalat orang yang tidak meluruskan punggungnya ketika rukuk dan sujud.”
(HR. Tirmidzi – shahih)
Hudzaifah berkata:
“Engkau belum shalat. Jika engkau mati, engkau mati bukan di atas sunnah Nabi.”
(HR. Bukhari)
PENUTUP
Jamaah rahimakumullah,
Shalat yang diterima bukan yang cepat, tetapi yang benar.
Bukan yang indah bacaannya, tetapi yang sempurna rukunnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
(HR. Bukhari)
Semoga Allah menjadikan shalat kita sah, khusyu’, dan diterima.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Post a Comment