Bahtera Iman dan Tangisan Seorang Ayah

“Bahtera Iman dan Tangisan Seorang Ayah”


PEMBUKAAN

الحمد لله الذي جعل الإيمان سفينة النجاة،
والكفر موجة الهلاك،
والصبر مفتاح العاقبة…

Segala puji bagi Allah
yang menjadikan iman sebagai bahtera,
dan kufur sebagai gelombang pembinasaan.

Shalawat dan salam
kepada Nabi Muhammad ﷺ,
yang menangis untuk umatnya
bahkan sebelum kita lahir…

Jamaah yang dirahmati Allah…

Hari ini,
kita tidak sedang membaca kisah lama.
Kita sedang bercermin.

Karena banjir Nabi Nuh belum berakhir.
Ia hanya berganti rupa.


BAGIAN I — BAHETRA IMAN (Ayat 41)

وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا

“Naiklah ke dalamnya dengan menyebut nama Allah saat berlayar dan berlabuh.”

Jamaah…

Bahtera itu tidak besar.
Tidak mewah.
Tidak megah.

Tapi di dalamnya ada nama Allah.

📌 Ibnu Katsir berkata:

“Keselamatan bukan pada bentuk bahtera, tapi pada siapa yang disebut di dalamnya.”

Hari ini kita punya:

  • rumah besar,
  • gelar panjang,
  • harta melimpah,

tapi apakah nama Allah masih disebut saat hidup kita berjalan?


BAGIAN II — AYAH YANG BERTERIAK, ANAK YANG MENOLAK (Ayat 42–43)

يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا

“Wahai anakku… naiklah bersama kami…”

Ini bukan seruan nabi.
Ini teriakan seorang ayah.

📌 Al-Qurthubi:

“Ini adalah ayat paling menyayat tentang kegagalan nasab tanpa iman.”

Anaknya menjawab:

سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ

“Aku akan berlindung ke gunung…”

Gunung itu:

  • logika,
  • kekuasaan,
  • jabatan,
  • koneksi,
  • teknologi.

💥 Jawaban Nuh menghancurkan semua ilusi:

لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ

“Tidak ada pelindung hari ini dari azab Allah!”

Jamaah…

Berapa anak hari ini
yang lebih percaya gunung dunia
daripada bahtera iman orang tuanya?


BAGIAN III — GELOMBANG MEMISAHKAN DARAH & AKIDAH (Ayat 43–46)

فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

“Maka ia termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”

📌 Imam Asy-Syafi’i:

“Allah mengajarkan bahwa iman lebih dekat daripada darah.”

Allah berfirman:

إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ

“Dia bukan dari keluargamu.”

💔 Bayangkan…
Seorang nabi…
ditolak permohonannya…
demi keadilan tauhid.


BAGIAN IV — TOBAT NABI NŪḤ (Ayat 47)

إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ

“Aku berlindung kepada-Mu dari meminta sesuatu yang tak aku ketahui hakikatnya…”

📌 Ibnu ‘Athoillah:

“Tobat para nabi adalah adab, bukan dosa.”

Kalau nabi saja takut rugi tanpa ampunan,
bagaimana dengan kita?


BAGIAN V — KAUM ‘ĀD: KEKUATAN TANPA TAUBAT 

Mereka kuat.
Mereka hebat.
Mereka berkuasa.

Tapi…

فَأُتْبِعُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً

“Mereka diikuti kutukan di dunia dan akhirat.”

📌 Al-Baghawi:

“Kekuatan tanpa tauhid adalah alasan kehancuran.”


PENUTUP 

Jamaah…

Siapa kita hari ini?

  • penumpang bahtera?
  • atau pembuat gunung?

Karena air sedang naik.
Dan waktu tidak menunggu.


DOA PENUTUP

اللهم…
إن كنا غرقى…
فليس لنا إلا سفينة رحمتك…

Ya Allah…
jika iman kami retak…
jangan Engkau biarkan kami memilih gunung dunia…

Ya Allah…
jangan pisahkan kami dari keluarga kami di akhirat
karena dosa yang kami remehkan di dunia…

Ya Allah…
ampuni kami…
sebelum air menutup dada…
sebelum gelombang menutup doa…

Ya Allah…
jadikan kami termasuk
الَّذِينَ نَجَّيْتَهُمْ بِرَحْمَتِكَ

Bukan yang kuat…
bukan yang pintar…
tapi yang selamat karena iman

آمين… آمين… آمين…



Tidak ada komentar