SERUAN TAUHID, UJIAN AKAL, DAN BATAS KASIH SAYANG ALLAH

“SERUAN TAUHID, UJIAN AKAL, DAN BATAS KASIH SAYANG ALLAH”

(Tafsir Surah Hūd: 61–80)


I. DAKWAH NABI SHĀLIḤ: TAUHID & AMANAH PEMAKMURAN BUMI (Ayat 61)

Teks Ayat

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

Terjemah

“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih. Ia berkata: ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagi kalian selain Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan menjadikan kalian pemakmurnya…’”

Penjelasan Ulama

📌 Imam Al-Qurthubi:

“Ayat ini menjadi dalil bahwa manusia diciptakan bukan sekadar hidup, tetapi bertanggung jawab memakmurkan bumi dengan ketaatan, bukan kesombongan.”

📌 Ibnu Katsir:

“Istighfar dan taubat adalah syarat turunnya keberkahan bumi dan kehidupan.”

Dalil Sunnah

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ طَيْرٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ»
(HR. Bukhari & Muslim)

“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman lalu dimakan manusia atau hewan, kecuali menjadi sedekah baginya.”

➡️ Makna: Memakmurkan bumi adalah ibadah, bukan sekadar aktivitas dunia.


II. PENOLAKAN KAUM TSAMUD: AGAMA DIANGGAP MENGGANGGU (Ayat 62)

Teks Ayat

قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَا

Terjemah

“Mereka berkata: ‘Wahai Shalih! Dahulu engkau adalah orang yang kami harapkan…’”

📌 Al-Baghawi:

“Ini adalah ciri kaum sesat: mereka memuji nabi sebelum dakwah, lalu memusuhinya setelah tauhid ditegakkan.”

➡️ Pelajaran: Agama sering ditolak bukan karena tidak benar, tapi karena mengganggu kebiasaan dan kepentingan.


III. NABI SHĀLIḤ DAN KETEGUHAN AKIDAH (Ayat 63)

Teks Ayat

أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي

Makna

“Apa pendapat kalian jika aku berada di atas bukti dari Rabbku?”

📌 Imam Fakhruddin Ar-Razi:

“Dakwah tidak dibangun di atas emosi, tetapi di atas bayyinah (dalil yang jelas).”

➡️ Pelajaran: Kebenaran tidak ditentukan mayoritas.


IV. UNTA BETINA: UJIAN KETAATAN (Ayat 64–65)

Teks Ayat

هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً

“Inilah unta betina Allah sebagai tanda…”

📌 Ibnu Katsir:

“Mukjizat sering tidak dibunuh oleh pedang, tetapi oleh kesombongan dan pembangkangan.”

Hadis Pendukung

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ»
(HR. Bukhari & Muslim)

“Yang membinasakan umat sebelum kalian adalah karena hukum ditegakkan tidak adil.”

➡️ Kaum Tsamud tahu kebenaran, tapi melanggar larangan dengan sadar.


V. AZAB: SATU TERIAKAN YANG MEMATIKAN (Ayat 66–68)

Teks Ayat

وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ

“Orang-orang zalim itu ditimpa suara keras yang mengguntur…”

📌 Al-Qurthubi:

“Azab datang bukan karena lemahnya Allah, tetapi karena habisnya hujjah dan kesempatan taubat.”


VI. TAMU IBRAHIM: ANTARA RAHMAT & AZAB (Ayat 69–76)

Pelajaran Penting

  • Adab memuliakan tamu (Ibrahim langsung menyajikan makanan)
  • Rahmat Allah mendahului murka-Nya
  • Doa dan syafaat orang shalih punya batas

📌 Ibnu ‘Athoillah:

“Kasih sayang tidak boleh melampaui batas ketetapan Allah.”


VII. KAUM LUTH: SAAT FITRAH DIRUSAK (Ayat 77–80)

Teks Ayat

أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ

📌 Ijma’ Ulama:

Perbuatan kaum Luth adalah dosa besar, menyelisihi fitrah, dan sebab kehancuran.

Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ»
(HR. Ahmad)

“Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.”


KESIMPULAN BESAR

  1. Tauhid adalah fondasi keselamatan
  2. Mukjizat tidak berguna bagi hati yang sombong
  3. Rahmat Allah luas, tapi tidak menabrak keadilan
  4. Penyimpangan fitrah membawa kehancuran sosial


Tidak ada komentar