ISTRI YANG MEMBAHAGIAKAN: PILAR TENANGNYA RUMAH TANGGA

ISTRI YANG MEMBAHAGIAKAN: PILAR TENANGNYA RUMAH TANGGA


PENDAHULUAN

Rumah tangga dalam Islam bukan hanya tempat tinggal,
tetapi tempat kembali jiwa.

Allah menjadikan pernikahan bukan sekadar akad lahir,
melainkan ruang sakinah, ladang ibadah, dan madrasah pertama.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”
(QS. ar-Rūm: 21)

Para ulama menjelaskan:

  • Sakinah: ketenangan jiwa
  • Mawaddah: cinta yang tampak dalam sikap
  • Rahmah: kasih yang bertahan saat cinta melemah

Dan aktor terbesarnya dalam rumah adalah istri.


I. ISTRI SEBAGAI IKON RUMAH TANGGA

Dalam tradisi Arab, istri disebut “Umm” (induk/tempat kembali),
karena:

  • Suami kembali kepadanya setelah lelah,
  • Anak kembali kepadanya saat takut dan rapuh.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.”
(HR. Muslim)

Ulasan Ulama:

Imam an-Nawawi رحمه الله berkata:

“Wanita shalihah disebut sebaik-baik perhiasan karena dialah sebab lurusnya agama suami, tenangnya hati, dan baiknya pengelolaan rumah.”


II. MENGETAHUI SKALA PRIORITAS (FIQH KEHIDUPAN RUMAH TANGGA)

Islam adalah agama tertib, bukan agama ambisi tanpa kendali.

Allah berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.”
(QS. at-Taghābun: 16)

Ayat ini menjadi kaidah besar dalam rumah tangga:

  • Tuntutan → sesuai kemampuan
  • Harapan → sesuai realita

Dalam konteks istri:

  • Mendahulukan kebutuhan primer daripada gaya hidup
  • Memahami keterbatasan ekonomi, waktu, dan energi suami
  • Tidak menjadikan rumah tangga ladang lomba dunia

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Sesungguhnya istrimu memiliki hak atasmu.”
(HR. al-Bukhari)

Dan sebaliknya, istri pun memiliki kewajiban untuk tidak memberatkan.

Komentar Ulama:

Ibnu Taimiyah رحمه الله:

“Keadilan dalam rumah tangga bukan memuaskan semua keinginan, tetapi menempatkan hak sesuai kadarnya.”


III. REALISTIS DALAM MENUNTUT (AKAL SEBELUM EMOSI)

Islam tidak melarang harapan,
tetapi melarang tuntutan yang mematikan ketenangan.

Allah berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya.”
(QS. al-Baqarah: 286)

Jika Allah saja tidak memaksa hamba-Nya,
mengapa istri memaksa suaminya melampaui batasnya?

Teladan Agung: Fatimah az-Zahra رضي الله عنها

Kisah Fatimah dan Ali bukan kisah kemiskinan,
tetapi kisah keagungan jiwa.

Ia menahan lapar bukan karena bodoh,
tetapi karena adab dan kasih kepada suami.

Hikmah Ulama:

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

“Wanita yang paling membahagiakan suami adalah yang paling sedikit tuntutannya dan paling banyak pengertiannya.”


IV. BERMENTAL KAYA (QANA’AH): KUNCI BAHAGIA

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kaya itu karena banyaknya harta, tetapi kaya adalah kaya hati.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Qana’ah melahirkan:

  • Syukur
  • Ketenangan
  • Keberkahan

Sebaliknya, mental miskin melahirkan:

  • Keluh kesah
  • Perbandingan sosial
  • Rumah tangga penuh tekanan

Allah berfirman:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.”
(QS. al-Ma‘ārij: 19)

Namun iman berfungsi menundukkan tabiat ini.

Kisah Nabi Ibrahim & Menantu Ismail

Para ulama menyebut kisah ini sebagai:

“Pelajaran bahwa syukur menjaga rumah, dan keluh kesah meruntuhkannya.”


V. DAMPAK ISTRI DALAM RUMAH TANGGA

🔹 Jika istri qana’ah → rumah terasa lapang
🔹 Jika istri syukur → suami kuat
🔹 Jika istri tenang → anak tumbuh sehat jiwa

Sebaliknya: 🔻 Jika istri suka mengeluh → rumah menjadi sempit
🔻 Jika istri membandingkan → suami tertekan
🔻 Jika istri bermental miskin → nikmat terasa nol

Ibnu Katsir رحمه الله berkata:

“Nikmat yang tidak disyukuri akan berubah menjadi bencana.”


PENUTUP NASIHAT

Istri yang membahagiakan bukan yang:

  • Paling banyak menuntut
  • Paling tinggi ambisi dunia

Tetapi yang:

  • Paling paham skala prioritas
  • Paling realistis
  • Paling qana’ah
  • Paling menenangkan

Dialah ratu rumah tangga,
bukan karena kuasa,
tetapi karena kebijaksanaan hatinya.



Tidak ada komentar