Ketika Ilmu Menangis di Hadapan Takdir: Pelajaran Abadi dari Musa dan Khidir


“Ketika Ilmu Menangis di Hadapan Takdir: Pelajaran Abadi dari Musa dan Khidir”


PEMBUKAAN 

Alhamdulillāh…
Alhamdulillāhilladzī anzala ‘alā ‘abdihil-kitāb,
wa ja‘ala fīhi nūran wa hudā…

Segala puji bagi Allah…
yang menjadikan ilmu sebagai cahaya,
namun menjadikan adab sebagai kuncinya.

Shalawat dan salam
kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ,
kepada keluarganya, sahabatnya,
dan siapa pun yang belajar untuk merendah,
bukan belajar untuk menang.

Jamaah yang dimuliakan Allah…

Malam ini…
bukan tentang siapa yang paling tahu,
tetapi tentang siapa yang paling mau tunduk.

Bukan tentang logika yang cerdas,
tetapi tentang hati yang mau sabar.

Karena…
ada ilmu yang tidak bisa dipahami dengan akal,
kecuali setelah air mata mengering.

Dan itulah…
kisah Musa dan Khidir.


BAGIAN I – KEJATUHAN HALUS SEORANG NABI 

Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
(QS. Al-Kahfi: 60)

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya:
‘Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua laut, atau aku berjalan bertahun-tahun.’

Jamaah…
ini Musa.
Nabi Ulul ‘Azmi.
Yang berbicara langsung dengan Allah.

Namun mengapa Allah mengajaknya berjalan jauh?

Karena…
kesombongan ilmu kadang tidak terasa.

Rasulullah ﷺ bersabda (HR. Bukhari):

“Ketika Musa ditanya: Siapa manusia paling alim?
Musa menjawab: Aku.
Maka Allah menegurnya…”

Bukan karena Musa berdosa…
tapi karena Allah ingin menyelamatkan hatinya.

Ibnu ‘Athaillah berkata:

“Dosa yang membuatmu tunduk lebih baik daripada amal yang membuatmu sombong.”


BAGIAN II – ADAB SEBELUM ILMU 

Ketika Musa bertemu Khidir, ia berkata:

هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
(QS. Al-Kahfi: 66)

“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkanku ilmu yang benar?”

Lihat adabnya…
seorang nabi berkata: bolehkah aku mengikutimu…

Imam Al-Qurthubi berkata:

“Ayat ini adalah dalil bahwa murid harus merendahkan diri, walau ia lebih mulia.”

Lalu Khidir menjawab:

إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا
(QS. Al-Kahfi: 67)

“Engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku.”

Ilmu takdir…
bukan untuk akal yang tergesa.


BAGIAN III – PERAHU YANG DILUKAI 

أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا؟
(QS. Al-Kahfi: 71)

“Mengapa engkau melubanginya? Apakah engkau ingin menenggelamkan penumpangnya?”

Berapa banyak di antara kita…
yang menyalahkan Allah
saat rezeki dilubangi?

Padahal…
lubang itu penyelamat.

Ibnu Katsir berkata:

“Kerusakan kecil kadang diturunkan Allah untuk mencegah kebinasaan besar.”

Tidak semua yang utuh itu selamat…
dan tidak semua yang rusak itu celaka…


BAGIAN IV – ANAK YANG DIAMBIL 

أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً؟
(QS. Al-Kahfi: 74)

“Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih?”

Ini bagian…
yang membuat hati orang tua hancur…

Namun Khidir berkata:

فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ
(QS. Al-Kahfi: 81)

“Kami ingin Allah menggantinya dengan yang lebih baik…

Kadang yang kita tangisi…
adalah yang akan mencelakakan iman kita.

Imam An-Nawawi berkata:

“Takdir Allah terkadang pahit di awal, namun manis di akhirat.”


BAGIAN V – DINDING TANPA UPAH 

فَأَقَامَهُ
(QS. Al-Kahfi: 77)

“Maka Khidir menegakkan dinding itu.”

Tanpa upah…
tanpa ucapan terima kasih…

Berapa banyak kebaikan kita…
yang tidak dibalas manusia,
namun dicatat langit?


PENUTUP 

ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا
(QS. Al-Kahfi: 82)

“Inilah penjelasan atas apa yang tidak mampu engkau sabari.”

Sabar…
adalah iman yang belum paham,
namun tetap percaya.


DOA PENUTUP 

Allāhumma…
ajarkan kami ilmu yang menundukkan,
bukan ilmu yang meninggikan kepala

Ya Allah…
jika Engkau melubangi perahu hidup kami…
jangan biarkan kami su’uzhan…

Jika Engkau mengambil sesuatu yang kami cintai…
jangan Engkau ambil iman kami bersamanya…

Ya Allah…
jadikan kami hamba yang sabar sebelum paham,
dan ridha sebelum mengerti

Rabbanā…
jangan Engkau hukum kami
karena kelancangan akal kami
di hadapan rahasia-Mu…

Ṣallallāhu ‘alā Nabiyyinā Muḥammad…
walḥamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn…


Tidak ada komentar