Ketika Keluarga Menjadi Saksi: Husnul Khātimah atau Penyesalan?

“Ketika Keluarga Menjadi Saksi: Husnul Khātimah atau Penyesalan?”

Tadabbur Surah An-Nahl Ayat 21–40


PEMBUKAAN 

Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn…
Segala puji bagi Allah…
Tuhan yang memberi kita hidup…
memberi kita keluarga…
memberi kita waktu…
namun tidak menjanjikan usia.

Shalawat dan salam semoga tercurah
kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ,
yang mengingatkan kita:

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan: kematian.”
(HR. Tirmidzi)

Hadirin yang Allah muliakan…

Setiap kita hidup di dalam keluarga.
Dan setiap keluarga sedang berjalan menuju satu akhir:
➡️ kematian
➡️ kebangkitan
➡️ pertanggungjawaban

Surah An-Nahl ayat 21–40 adalah cermin akhir kehidupan.
Allah tidak hanya berbicara tentang tauhid,
tetapi tentang bagaimana manusia MENUTUP hidupnya.


BAGIAN 1

BERHALA ITU MATI — NAMUN HATI YANG MENYEMBAHNYA LEBIH MATI 

Allah berfirman:

أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
“Berhala-berhala itu benda mati, tidak hidup, dan tidak mengetahui kapan mereka dibangkitkan.”
(An-Nahl: 21)

Hadirin…

Berhala di zaman kita tidak selalu berbentuk patung.
Berhala hari ini bernama:

  • uang
  • jabatan
  • gengsi
  • ketenaran
  • bahkan anak dan pasangan

Apa pun yang:

  • kita takut kehilangannya lebih dari Allah
  • kita bela meski melanggar perintah Allah
    ➡️ itulah berhala

📌 Refleksi keluarga
Berapa banyak rumah tangga hancur bukan karena miskin,
tetapi karena uang dijadikan Tuhan.
Berapa banyak anak rusak bukan karena kurang sekolah,
tetapi karena orang tua kehilangan arah iman.


BAGIAN 2

AKAR KEKAFIRAN: SOMBONG, BUKAN TIDAK TAHU 

Allah berfirman:

وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ
“…dan mereka sombong.”
(An-Nahl: 22)

Kesombongan tidak selalu terlihat kasar.
Kadang ia berwajah halus:

  • “Yang penting baik hati.”
  • “Semua agama sama.”
  • “Jangan fanatik.”

Padahal…

Kesombongan sejati adalah menolak tunduk,
padahal tahu itu kebenaran.

📌 Kesombongan dalam keluarga

  • Ayah yang enggan shalat karena merasa lelah bekerja
  • Ibu yang menunda taubat karena merasa “belum siap”
  • Orang tua yang menertawakan nasihat anaknya

Padahal mungkin…
anak itu kelak menjadi saksi di hadapan Allah.


BAGIAN 3

DOSA YANG MENURUN: WARISAN PALING BERBAHAYA 

Allah berfirman:

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً… وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُم
“Mereka memikul dosa mereka dan sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan.”
(An-Nahl: 25)

Hadirin…

Dosa tidak selalu berhenti di pelakunya.
Ada dosa yang mengalir lintas generasi.

📌 Orang tua yang meremehkan shalat
➡️ anak belajar meremehkan Allah
📌 Orang tua yang menormalisasi dusta
➡️ anak belajar hidup tanpa takut dosa


BAGIAN 4

KISAH NYATA 

Saya ingin menyampaikan kisah nyata
bukan untuk menghakimi…
tetapi agar kita bercermin.

Di sebuah kota kecil di Indonesia…
tinggallah seorang ayah…
pekerja keras…
disegani…
namun jarang shalat.

Ia berkata:

“Nanti kalau sudah tua…”

Anaknya tumbuh…
melihat ayahnya sukses tanpa masjid…
melihat ibunya diam tanpa nasihat…

Tahun demi tahun berlalu…

Sampai suatu malam…
ayah itu terkena stroke berat.
Di rumah sakit…
anaknya membimbing:

“Ayah… ucapkan lā ilāha illallāh…”

Sang ayah membuka mata…
air mata mengalir…
namun lisannya kaku.

Ia wafat…
dalam keadaan tak sempat menyebut nama Allah.

Beberapa tahun kemudian…
anaknya berkata dengan tangis:

“Seandainya dulu Ayah shalat…
mungkin aku lebih mengenal Allah…”

Hadirin…

Husnul khātimah bukan kejutan.
Ia adalah buah kebiasaan seumur hidup.


BAGIAN 5

DETIK WAFAT: DUA AKHIR YANG BERBEDA 

Allah berfirman:

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ
“Orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan baik…”
(An-Nahl: 32)

Bandingkan dengan:

ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ
“…dalam keadaan menzalimi diri mereka sendiri.”
(An-Nahl: 28)

📌 Ulama berkata
Husnul khātimah bukan karena banyak amal,
tetapi karena hati yang tunduk dan taubat yang jujur.


BAGIAN 6

TAKDIR BUKAN ALASAN — TAPI PERINGATAN 

Allah membantah:

لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا
“Jika Allah menghendaki, kami tidak akan menyekutukan-Nya.”
(An-Nahl: 35)

Takdir bukan tameng maksiat.
Takdir adalah ujian ketaatan.


PENUTUP 

Hadirin…

Jika malam ini adalah malam terakhir kita
apakah keluarga kita siap melepas kita?
apakah anak-anak kita bangga dengan iman kita?
apakah lisan kita terbiasa menyebut nama Allah?

Masih ada waktu…
selama dada masih bernafas.

DOA 

اللهم…
يا الله…
jika malam ini adalah malam terakhir kami…

jangan Engkau cabut nyawa kami
kecuali dalam keadaan Engkau ridha…

اللهم اختم لنا بخاتمة السعادة…
akhiri hidup kami dengan kebahagiaan iman…

اللهم ثبّت ألسنتنا عند الموت بلا إله إلا الله…
tetapkan lisan kami dengan kalimat tauhid…

Ya Allah…
jangan jadikan anak-anak kami
sebagai saksi yang menuntut kami…

jadikan mereka
penyambung doa kami di alam kubur…

Ya Allah…
ampuni dosa kedua orang tua kami…
jika mereka pernah lalai…
jika mereka pernah salah mendidik kami…

Ya Allah…
jika ajal kami datang tiba-tiba…
terimalah kami dalam keadaan Engkau sayang…

اللهم اجعل آخر كلامنا من الدنيا
لا إله إلا الله محمد رسول الله…

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا…
ولا تجعل الدنيا أكبر همنا…

آمـيـن… آمـيـن… آمـيـن…



Tidak ada komentar