Ketika Nikmat Menjadi Fitnah, dan Tauhid Ditinggalkan
“Ketika Nikmat Menjadi Fitnah, dan Tauhid Ditinggalkan”
PEMBUKAAN
الحمد لله…
الحمد لله الذي لم يتركنا سُدى…
الحمد لله الذي أنزل القرآن تذكرةً لا تعذيبًا…
Segala puji bagi Allah…
Yang masih memberi kita napas…
padahal dosa kita lebih banyak dari istighfar kita…
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ…
manusia paling lembut hatinya…
yang menangis bukan karena dunia…
tetapi karena takut umatnya jauh dari Allah…
اللهم صل وسلم على نبينا محمد…
Hadirin rahimakumullah…
Hari ini kita tidak sedang membaca kisah Bani Israil…
kita sedang bercermin.
Karena umat ini sedang mengulang dosa yang sama…
hanya patungnya berganti rupa.
BAGIAN 1 – NIKMAT YANG MENJADI PETAKA (Ṭāhā: 81)
Allah berfirman:
كُلُوا۟ مِن طَيِّبَـٰتِ مَا رَزَقْنَـٰكُمْ وَلَا تَطْغَوْا۟ فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِى…
Makanlah dari rezeki yang baik…
dan jangan melampaui batas…
nanti kemurkaan-Ku turun…
Hadirin…
Bani Israil tidak kekurangan…
mereka justru kebanyakan nikmat.
Manna turun dari langit…
air memancar dari batu…
naungan awan menaungi mereka…
Tapi apa yang terjadi?
Nikmat tidak membawa mereka sujud…
nikmat justru membawa mereka durhaka.
Apakah ini tidak mirip kita…?
- Makan enak → lupa shalat
- Hidup lapang → lupa zakat
- Ilmu tinggi → lupa tunduk
Nikmat tanpa syukur…
adalah undangan kemurkaan Allah.
BAGIAN 2 – PINTU TAUBAT MASIH TERBUKA (Ṭāhā: 82)
وَإِنِّى لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحًا ثُمَّ ٱهْتَدَىٰ
Allah tidak berkata:
“Aku mengampuni yang suci…”
Tapi Allah berkata:
“Aku mengampuni yang kembali.”
Bukan yang tak pernah jatuh…
tapi yang bangkit dan istiqamah…
Masalah kita hari ini bukan dosa…
tapi menunda taubat.
BAGIAN 3 – KETIKA PEMIMPIN BENAR PERGI, SAMIRI MUNCUL (Ṭāhā: 83–88)
Musa pergi sebentar…
untuk bermunajat…
Kaum yang baru diselamatkan dari Firaun…
langsung terseret kesesatan…
Kenapa?
Karena iman yang tidak matang akan goyah
saat figur kebenaran tak terlihat.
Lalu muncullah Samiri…
Samiri bukan orang bodoh…
ia cerdas, manipulatif, dan paham psikologi umat.
Ia tidak berkata:
“Tinggalkan Allah!”
Ia berkata:
“Ini juga Tuhanmu."
Begitulah syirik akhir zaman…
tidak frontal…
tapi dibungkus agama, logika, dan simbol suci.
ILUSTRASI AKHIR ZAMAN
Hari ini…
Anak lembu itu bernama:
- uang
- jabatan
- popularitas
- hawa nafsu
- tokoh yang tak pernah sujud
Kita tahu itu tidak bisa menolong…
tapi kita tetap menyembahnya…
Kita tahu dunia tidak menjawab doa…
tapi kita tetap mengejarnya…
Apakah kita lebih baik dari Bani Israil…?
BAGIAN 4 – KEBENARAN SUDAH DIINGATKAN, NAMUN DITINGGALKAN (Ṭāhā: 89–91)
Harun sudah mengingatkan…
“Sesungguhnya ini hanya ujian…”
Tapi apa jawaban mereka?
“Kami akan tetap menyembahnya.”
Hadirin…
Ini penyakit paling berbahaya:
tahu salah…
tapi tetap jalan.
Bukan karena tidak tahu…
tapi karena tidak mau tunduk.
BAGIAN 5 – AKHIR SAMIRI & KEMENANGAN TAUHID (Ṭāhā: 95–100)
Samiri diasingkan…
patung dihancurkan…
dan Allah menutup kisah ini dengan tauhid:
إِنَّمَآ إِلَـٰهُكُمُ ٱللَّهُ
Seolah Allah berkata:
“Semua akan hancur…
kecuali Aku.”
PENUTUP
Hadirin…
Jika hari ini Allah cabut nyawa kita…
anak lembu apa yang masih kita peluk…?
DOA
اللهم… يا الله…
jika bukan karena rahmat-Mu…
kami sudah lama binasa…
Ya Allah…
kami mengaku…
kami sering mengenal-Mu dengan lisan…
tapi menduakan-Mu dengan perbuatan…
Ya Allah…
hancurkan anak lembu di hati kami…
sebelum Engkau hancurkan kami…
Ya Allah…
jangan Engkau jadikan nikmat sebagai fitnah…
jangan Engkau jadikan dunia sebagai Tuhan kami…
Ya Allah…
jika hari ini Engkau tanya kami…
“Siapa Tuhanmu?”
jangan biarkan hati kami ragu menjawab-Mu…
Ya Allah…
tutup hidup kami dengan tauhid…
bukan dengan kesesatan…
Ya Allah…
ampuni dosa orang tua kami…
pasangan kami…
anak-anak kami…
dan umat Nabi-Mu yang lemah ini…
اللهم لا تجعلنا من الهالكين…
ولا من المفتونين…
ولا من الذين ضلوا بعد البيان…
Rabbana taqabbal minna…
innaka Antas-Sami’ul ‘Alim…
آمين… آمين… آمين…
Post a Comment