Ketika Nikmat Menjadi Fitnah, dan Kebenaran Ditinggalkan
“Ketika Nikmat Menjadi Fitnah, dan Kebenaran Ditinggalkan”
PENDAHULUAN TEMATIK
Hadirin rahimakumullah,
Surah Ṭāhā ayat 81–100 bukan sekadar kisah Bani Israil,
tetapi cermin umat akhir zaman:
- Nikmat melimpah → lupa syukur
- Pemimpin pergi sebentar → umat goyah
- Muncul “Samiri” → umat terseret
- Kebenaran sudah dijelaskan → tetap membangkang
Inilah pola kehancuran iman kolektif.
I. FITNAH NIKMAT & AWAL KEJATUHAN (Ṭāhā: 81)
Ayat
كُلُوا۟ مِن طَيِّبَـٰتِ مَا رَزَقْنَـٰكُمْ وَلَا تَطْغَوْا۟ فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِى ۖ وَمَن يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِى فَقَدْ هَوَىٰ
Terjemah:
“Makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan jangan melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Barang siapa ditimpa kemurkaan-Ku, sungguh ia telah binasa.”
Penjelasan Ulama
- Imam Al-Qurṭubi: “Melampaui batas nikmat bukan hanya haram, tetapi juga kufur nikmat.”
- Ibnu Katsir: “Nikmat yang tidak disyukuri akan berubah menjadi azab.”
Korelasi Akhir Zaman
- Banyak umat makan halal tapi lupa Allah
- Nikmat → lalai
- Fasilitas → mematikan zuhud
📌 Pelajaran:
Nikmat tanpa syukur adalah awal kemurkaan.
II. PINTU TAUBAT SELALU TERBUKA (Ṭāhā: 82)
Ayat
وَإِنِّى لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحًا ثُمَّ ٱهْتَدَىٰ
Terjemah:
“Dan sungguh Aku Maha Pengampun bagi siapa yang bertobat, beriman, beramal saleh, dan tetap istiqamah.”
Komentar Ulama
- Al-Ghazali: “Taubat bukan hanya meninggalkan dosa, tapi menetap di jalan taat hingga mati.”
- Imam Nawawi: “Istiqamah adalah bukti kejujuran taubat.”
📌 Akhir zaman:
Banyak orang menunda taubat, padahal pintu masih terbuka.
III. PEMIMPIN TAAT, UMAT MENYIMPANG (Ṭāhā: 83–85)
Ayat
قَالَ فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنۢ بَعْدِكَ وَأَضَلَّهُمُ ٱلسَّامِرِىُّ
Terjemah:
“Kami telah menguji kaummu sepeninggalmu, dan Samiri telah menyesatkan mereka.”
Makna Fitnah
- Fitnah terbesar bukan kekurangan, tapi ketiadaan pemimpin benar
- Samiri muncul saat Musa pergi
📌 Akhir zaman:
Ketika ulama wafat → muncul pendusta agama.
Hadis
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا…»
“Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama.”
(HR. Bukhari)
IV. SYIRIK DIBUNGKUS LOGIKA & SIMBOL (Ṭāhā: 87–88)
Ayat
هَـٰذَآ إِلَـٰهُكُمْ وَإِلَـٰهُ مُوسَىٰ فَنَسِىَ
Terjemah:
“Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa lupa.”
Analisis Ulama
- Ibnu Taimiyah: “Syirik paling berbahaya adalah yang diberi dalih ilmiah dan spiritual.”
📌 Akhir zaman:
- Patung = diganti tokoh, ideologi, materi
- Tuhan = diganti nafsu & rasionalisme
V. KEBENARAN SUDAH JELAS, NAMUN DITOLAK (Ṭāhā: 89–91)
Ayat
أَفَلَا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلًا
Terjemah:
“Tidakkah mereka memperhatikan bahwa patung itu tidak dapat memberi jawaban?”
📌 Penyakit umat:
Melihat tapi tidak mau berpikir.
Hadis
«تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ»
“Celakalah hamba dinar.”
(HR. Bukhari)
VI. KONFLIK DAI & REALITAS UMAT (Ṭāhā: 92–94)
- Musa marah → karena iman
- Harun menahan → demi persatuan
📌 Pelajaran dakwah:
- Tegas ≠ kasar
- Lembut ≠ kompromi akidah
VII. SAMIRI: TOKOH SESAT AKHIR ZAMAN (Ṭāhā: 95–97)
Ciri Samiri
- Klaim ilmu khusus
- Mengaku “melihat yang tak dilihat orang”
- Memakai simbol agama
- Menggoda hawa nafsu umat
📌 Hukuman Samiri
- Terasing
- Dijauhi
- Azab dunia & akhirat
Hadis
«مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»
“Setiap bid’ah dalam agama tertolak.”
(HR. Muslim)
VIII. TAUHID
Ayat
إِنَّمَآ إِلَـٰهُكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ
Terjemah:
“Tuhanmu hanyalah Allah, tiada Tuhan selain Dia.”
📌 Penutup Ilahi:
Semua kisah → kembali ke tauhid.
KESIMPULAN
- Nikmat → ujian
- Pemimpin hilang → Samiri muncul
- Syirik → dikemas logika
- Kebenaran → ditinggalkan
- Tauhid → satu-satunya keselamatan
Post a Comment