PEMUDA AKHIR ZAMAN: DOSA YANG DIPIKUL, DUNIA YANG HANCUR, DAN IBLIS YANG TAK PERNAH TUA
“PEMUDA AKHIR ZAMAN: DOSA YANG DIPIKUL, DUNIA YANG HANCUR, DAN IBLIS YANG TAK PERNAH TUA”
PEMBUKAAN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله الذي أيقظ القلوب بعد غفلتها،
وأرانا الدنيا قبل أن تخدعنا،
وأرسل إلينا القرآن قبل أن نندم…
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Terutama wahai para pemuda…
Kalian hidup di zaman:
- dosa bisa dilakukan tanpa keluar rumah
- maksiat bisa dilakukan tanpa ada yang melihat
- kesombongan bisa tumbuh tanpa disadari
Dan malam ini…
Al-Qur’an tidak datang untuk menghibur kita
tetapi untuk membangunkan kita
BAGIAN I – DOSA ITU DIPIKUL, BUKAN DIHAPUS WAKTU (AYAT 101)
Allah berfirman:
خَالِدِينَ فِيهِ ۖ وَسَاءَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِمْلًا
“Mereka kekal di dalamnya, dan amat buruklah dosa itu sebagai beban pada hari kiamat.”
Wahai pemuda…
Dosa tidak hilang karena:
- sudah lama
- sudah lupa
- sudah biasa
Dosa itu menunggu hari dipanggul
Bayangkan…
📌 setiap video haram
📌 setiap chat gelap
📌 setiap shalat yang ditinggalkan
berubah menjadi beban di punggung
Banyak pemuda kuat di gym…
tapi tak sanggup berdiri di Mahsyar
BAGIAN II – TEROMPET KIAMAT & WAJAH PEMUDA YANG MEMBIRU (AYAT 102–104)
يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ وَنَحْشُرُ الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا
“Pada hari sangkakala ditiup, Kami kumpulkan para pendosa dengan wajah kebiruan.”
Wahai anak muda…
wajah yang dulu bersinar di layar…
akan pucat kebiruan
Mereka berbisik:
“Kita hanya hidup sepuluh hari…”
“Bahkan cuma sehari…”
Kenapa terasa singkat?
Karena akhirat terlalu mengerikan
hingga dunia terasa seperti mimpi
BAGIAN III – HANCURNYA GUNUNG, RUNTUHNYA KESOMBONGAN (AYAT 105–107)
فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا لَا تَرَىٰ فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا
“Gunung dihancurkan hingga rata tak bersisa.”
Wahai pemuda…
Gunung saja Allah hancurkan…
Lalu apa arti followers-mu?
Apa arti jabatanmu?
Apa arti nama besar keluargamu?
Jika gunung runtuh…
ego digital itu apa?
BAGIAN IV – HARI DI MANA SEMUA SUARA DIBUNGKAM (AYAT 108)
وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَٰنِ
“Semua suara tunduk, tak terdengar kecuali bisikan.”
Hari itu:
- tak ada pembelaan
- tak ada klarifikasi
- tak ada story penyangkalan
Yang dulu vokal membela maksiat…
hari itu diam seribu bahasa
BAGIAN V – SYAFAAT TIDAK UNTUK SEMUA PEMUDA (AYAT 109)
لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ
Syafaat bukan otomatis
Ia hanya untuk:
- yang bertauhid
- yang tidak mempermainkan iman
Berapa banyak pemuda berkata:
“Nanti juga ada syafaat…”
tapi tak pernah shalat
BAGIAN VI – WAJAH-WAJAH TERTUNDUK, KEZALIMAN TERBUKA (AYAT 110–112)
وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ
Semua wajah tunduk…
Yang rugi hanya:
orang zalim
(syirik, maksiat, menunda taubat)
BAGIAN VII – AL-QUR’AN TURUN UNTUK MEMPERINGATKAN PEMUDA (AYAT 113–114)
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Wahai pemuda…
Ilmu bukan sekadar gelar
tapi penjaga iman
Al-Qur’an bukan hiburan
tapi peringatan keras
BAGIAN VIII – DOSA PERTAMA MANUSIA & POLA DOSA PEMUDA (AYAT 115–120)
Adam jatuh bukan karena bodoh…
tapi karena:
- lupa
- tertipu janji iblis
هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ
“Keabadian…”
Bukankah itu yang diburu pemuda hari ini?
- awet muda
- viral
- kuasa
- kebebasan tanpa batas
Iblis tidak pernah mati
dan pemuda adalah target utamanya
DOA
اللهم يا الله…
di hari di mana dosa dipikul…
jangan Engkau jadikan punggung kami runtuh…
Ya Allah…
di hari wajah membiru ketakutan…
jadikan wajah pemuda kami bercahaya…
Ya Allah…
saat gunung Kau hancurkan…
hancurkan kesombongan dalam hati kami…
Ya Allah…
di hari suara dibungkam…
biarlah lidah kami sibuk dengan لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ
Ya Allah…
jangan Engkau serahkan pemuda kami kepada syafaat palsu…
tapi hidupkan mereka dalam tauhid sejati…
Ya Allah…
Engkau Maha Mengetahui bisikan iblis…
selamatkan anak-anak muda kami dari tipu daya keabadian palsu…
Ya Allah…
jangan Engkau matikan kami kecuali dalam iman…
dan jangan Engkau bangkitkan kami kecuali bersama orang-orang yang Engkau ridhai…
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً
آمِين… آمِين… آمِين…
Post a Comment